Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Menuju Usia Perak Probatorium 1993

Probatorim 1993
Baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 23-25 Juni 2017 yang lalu, saya dan teman-teman alumni angkatan 1993 Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar mengadakan reuni di RPF Nagahuta.

Kami menamai diri Probatorium 1993. Sebagai informasi saja, kami menjalani masa SMA selama 4 tahun Seminari Menengah kami, yang dimulai dari kelas percobaan 1 tahun (probatorium). Bila lulus kelas Probatorium kami boleh melanjut ke kelas berikutnya, yakni Grammatica (Kelas 1 SMA).

Demikian selanjutnya, bila Grammatica lulus, kami boleh menikmati kelas 2 SMA atau kelas Syntaxis. Begitu seterusnya hingga melanjut ke kelas akhir, yakni kelas Poesis (kelas 3 SMA).

Saya menggunakan kata "bila lulus", karena nyatanya Seminari Menengah tak mengenal istilah tinggal kelas. Di Seminari, seorang seminaris (sebutan untuk siswa seminari) hanya boleh memilih "naik kelas" atau "keluar" (istilah kami 'ekkes') dan pindah ke sekolah lain.

Dalam olah raga, sistem seperti ini lazim disebut sistem gugur. Artinya, hanya orang "terbaik"-lah (sesuai kategori yang ditetapkan Seminari) yang boleh menikmati masa pendidikan 4 tahun penuh di Seminari.

Probatorim 1993
Maka tak mengherankan bila kelas kami, angkatan 1993 masuk Probatorium pada Tahun Ajaran (TA) 1993/1994 sebanyak 70 orang. Di tahun kedua, Kelas Grammatica kami tinggal 57 orang (tahun 1994/1995) dan di tahun ketiga (T.A. 1995/1996) hanya 48 orang yang boleh melanjut ke Kelas Syntaxis.

Akhirnya, di kelas empat (kelas 3 SMA), tepatnya di Kelas Poesis kami hanya berjumlah 36 orang (T.A. 1996/1997) untuk 2 jurusan, yakni IPS 24 orang dan IPA 12 orang.

Hingga kini, 24 tahun kemudian, dari 70 orang yang masuk kelas percobaan itu, satu orang telah meninggal (pada tahun 1998), dan ke-69 orang tersebar ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri.

Dari 69 orang tadi, ada 7 orang yang menjadi imam, dan sebagian lagi menjadi katekiss, polisi, pengusaha, jurnalis/penulis, konsultan, katekis, pedagang, guru, PNS, dan lain sebagainya.

Maka tak mengherankan bahwa di antara kami ada yang bahkan belum bertemu setelah lulus Seminari pada tahun 1997, bahkan 1-3 tahun sebelumnya (khususnya mereka yang sudah di-ekkes sebelumnya).

Di titik inilah reuni begitu penting bagi kami, yakni untuk mengenang masa lalu (refreshing), berbagi pengalaman masing-masing pribadi (sharing), mengevaluasi persahabatan antar-pribadi (evaluating), serta bersama-sama dan saling membantu dalam membangun masa depan dalam wahana persahabatan (re-planning), hingga akhirnya membangun kesepakatan untuk membantu almamater kami, Seminari Menengah Pematangsiantar.

Reuni Probatorim 1993
Jelas sekali reuni ini sangat bermanfaat bagi kami semua, terutama yang berkesempatan hadir. Sebab, sebagaimana dirilis oleh http://manfaat.co.id/manfaat-reuni-alumni, dalam reuni ini, kami, murid-murid Seminari Menengah Probatorium 93.....


  1. Kembali merasakan masa sekolah di Seminari - Bagaimana tidak, kami kembail mengingat nama-nama julukan teman-teman yang sangat lucu dan unik; juga berbagai pengalaman menyenangkan sepanjang 1-4 tahun di sekolah berasrama Seminari Menengah. Memperbincangkan hal manis yang pernah kita lalui ini merupakan salah satu terapi hati yang efektif
  2. Merasa bertambah umur - Penelitian di Brigham Young University dan University of North Carolina (UCLA), Amerika Serikat mengungkapkan bahwa teman dan keluarga yang selalu mendukung turut memudahkan seseorang menghadapi masalah, sehingga kebahagiaan selalu tercipta dan membantu seseorang mengurangi beban masalahnya. Maka, orang-orang yang memiliki kehidupan sosial yang baik, rata-rata hidupnya bertambah hingga 3,7 tahun. Kami sungguh merasakan bahwa kumpul bersama sahabat (lama) sejujurnya menimbulkan rasa kegembiraan. Rasanya umur kami terasa lebih panjang.
  3.  Menghilangkan Stres dan Depresi - Di reuni ini antar-kami begitu terbuka saling mencurahkan berbagai masalah masing-masing. Beban dan masalah yang awalnya ditanggung sendiri-sendiri oleh kami hingga berujung pada stres dan depresi, kini, setelah saling bertukar-pikiran masalah tadi terasa ringan, dan kami larut dalam keceriaan. Bahkan, menurut seorang professor medis Teresa Ellen (lih. https://en.wikipedia.org/wiki/Teresa_Ellen_Dease), dukungan dan hubungan sosial seseorang mampu membuat tekanan darah, gula darah, metabolisme, dan stress hormonnya lebih stabil.
  4. (4) Semakin terkoneksi satu sama lain - Jelas sekali, setelah reuni, koneksi antar kami justru semakin intim. Bukan saja bertutur tentang diri tetapi juga ada sharing bisnis di sana. Bahkan teman yang bekerja di asuransi justru mendapatkan nasabah/klien baru. Begitu juga dengan jenis bisnis/pekerjaan lain.
  5. Terjalin tali silatuhmi dan saling bertukar informasi - Setelah 24-26 tahun tak bersua, kini, dalam reuni akhirnya bisa bersua dan bertegur sapa, maka kami merasa mendapat informasi lebih banyak dari teman-teman lama.
  6. Mengembalikan eksistensi individu - Bertahun-tahun yang sudah berlalu mungkin telah mengubah kehidupan dan citra seseorang. Saat seseorang menjadi idola di masa sekolahnya bisa jadi sekarang malah bernasib sebaliknya. Adapula yang ketika sekolah prestasinya biasa-biasa saja malah kini menjadi orang sukses. Hal ini menjadi perbincangan hangat saat acara reuni kami. Bagi mereka yang biasa-biasa aja ketika sekolah dan saat ini sudah menjadi sukses, ajang reuni menjadi tempat untuk eksistensi dirinya.
  7. Menjadi ajang untuk bakti sosial - Ajang reuni banyak dimanfaatkan oleh para anggotanya untuk melakukan hal yang positif, seperti penggalangan dana untuk amal, melaksanakan seminar-seminar, dan lain-lain.

Akhirnya, karena reuni tahun ini (usia ke-24 tahun pertemanan antara kami), maka di reuni pada tahun depan (2018), kami akan merayakan 25 tahun pertemanan kami dengan reuni yang lebih besar, di mana setiap anggota Probatorium 93 akan membawa istri dan anak dan akan melibatkan para guru yang pernah mengajar kami.

Semoga, khusus bagi guru yang pernah mengajar kami tahun mendatang akan menjadi ajang penghormatan kami kepada para guru, karena rata-rata dari kami masih ingat guru-guru kami di Seminari. Semoga juga reuni tahun depan melahirkan kebahagiaan bagai istri dan anak-anak yang diajak orangtuanya.

Semoga.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter