Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Laporkan & Perkarakan

Kaesang Pangarep
Foto Kaesang Pangarep dala IG @kaesangp
Ketika Polisi semakin mampu mereformasi diri dari "institusi yang dulu dituding suka merepotkan" menjadi "institusi yang rela direpotkan, maka setiap orang semakin suka mendatangi polisi.

Tak hanya berkunjung ke kantor polisi, tetapi juga ada yang datang untuk melaporkan. Hebanya, bukan saja korban atau keluarga korban kekerasan yang melapor ke polisi, tetapi seringkali justru laporan sepela dan remeh temeh.

Seperti pernah kutulis di blogku "Pembela Bala" di http://www.lusius-sinurat.com/2017/06/pembela-bala.html di jaman ini semua orang seakan ingin disorot satelit, jadi obyek kamera televisi, bahkan jadi bahan obrolanwarganet di jagad maya.

Sebetulnya wajar saja seseorang ingin dikenal atau ingin jadi orang terkenal. Tapi hari-hari ini cara orang jadi orang terkenal bahkan sangat tidak masuk akal.

Ada yang merasa akan terkenal setelah mati bersama bom di tubuhnya, merekam tragedi bunuh dirinya, menjelek-jelekkan orang lain, memposting kontek privat orang lain, dst.

Lebih aneh lagi - dan ini tampaknya sedang musim: melaporkan artis atau pesohor yang tidak dikenalnya kepada polisi dengan tuduhan ganjil.

Sebut saja yang baru-baru ini terjadi di Afrika: seroang Kristen Karismatik melaporkan Bangsa Yahudi karena telah menyalibkan dan membunuh Yesus. Ia membuat laporannya ke polisi. Tentu tak hanya polisi yang terbahak, tetapi juga kita semua warganet atau pemirsa televsi yang
mengetahuinya.

Begitu juga yang terjadi tanggal 2 Juli lalu. Seorang yang samasekali tak kita kenal menjadi terkenal hanya karena laporan bodohnya membuat para jenderal polisi harus jumpa pers.

Dialah Muhammad Hidayat yang melaporkan Kaesang, putera bungsu Presiden Joko Widodo ke polisi dengan nomor laporan LP/1049/K/VII/2017/SPKT/Restro Bekasi Kota.

Katanya Kaesang melakukan ujaran kebencian dalam Vlog-nya. Isi lengkap ujaran kebencian yang dimaksud adalah ".....Mengadu-adu domba dan mengkafir-kafirkan, nggak mau menyalatkan padahal sesama muslim karena perbedaan dalam memilih pemimpin, apaan coba, dasar ndeso...." dalam video #BapakMintaProyek

Jadi, pembaca cerdas akan tahu kalau ini bukan soal laporan. Ini soal keinginan menjadi orang 'terkenal' tadi. Sadar atau tidak, kini nama Muhammad Hidayat sudah dicatut di media cetak, diberitakan oleh televisi bahkan jadi tranding topic di media sosial.

Artinya, ini bukan soal kata "ndeso" yang selalu diucapkan Tukul di acara yang dipandunya, "(Bukan) Empat Mata" itu, melainkan soal si Muhammada Hidyayat yang ingin jadi orang terkenal.

Selain bom bunuh diri, menebar gosip, memelintir ucapan orang seperti yang dilakukan Buni Yani, dan cara-cara negatif lainnya, cara yang dilakukan Muhammada Hidayat ini adalah cara terburuk untuk menjadi orang terkenal.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter