Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Gitar

gitar dan masyarakat batak
Foto: Koleksi Pribadi Lusius Sinurat
Saat SD kelas 2, satu-satunya alat musik yang bisa kumainkan itu cuma gitar. Lagu gereja "Ave Maria" dari Madah Bakti adalah lagu pertama yang bisa kuaminkan dengan nada dasar A (Do=A).

Di Indonesia, gitar memang tak bisa dilepaskan dari orang Batak (Toba). Di perkampungan Batak setapa lelaki sepertinya bisa main gitar.

Seiring dengan itu, masyarakat Batak juga lekat dengan tradisi bernyanyi. Aku beberapa kali perhatikan di beberapa Huta (desa, Batak) di Samosir, saat berjalan pulang dari sekolah tak sedikit anak-anak SD bernyanyi.

Tak hanya itu, lomba-lomba seperti menyanyi secara solo, vokal grup dan kor hampir selalu diadakan di lingkungan-lingkungan masyarakat Batak.

Di tempat lain yang lebih tenar, di lapo tuak, lagu-lagu Batak berirama caca, pop ballad (andung-andung), atau irama dangdut selalu hadir di sana. Di sinilah peran pentingnya gitar. Saat lomba bernyanyi gitar selalu menjadi pendamping utama, disamping alat-alat musik daerah seperti hasapi, taganing, uning-uningan, sarune, sulim, dst.

Di Lapo Tuak apalagi, gitar tak pernah absen. Lagu seperti "Si Togol, Anak Naburju, Sai Anju Ma Au, O Tao Toba, Samosir Tanah Kepingan Surga, dan beberapa lagu hits berbahasa nasional atau internasional hampir selalu diiringi dengan gitar.

Senior saya di FF Unpar, Mario Tamba yang pernah bertugas beberapa tahun di Brasil bahkan pernah bilang kalau "kelekatan gitar dan orang Batak" sudah nyaris menyamai kelekatan gitar dan orang Brasil.

Tak ada informasi resmi yang mengatakan kapan persisnya gitar "memasuki" wilayah Batak. Hanya saja, gitar yang merupakan alat musik tradisional Spanyol dan dipercaya sudah ada sejak zaman Babilonia itu kini tak mungkin bisa dipisahkan dengan gitar.

Anehnya, banyak sekali pemain gitar di tanah Batak yang justru tak pernah belajar gitar secara khusus. Tentu bakat bernyanyai secara alami sangat membantu mereka bisa memainkan gitar.

Tetapi bagi mereka yang tak bisa bernyanyi seperti aku, memainkan gitar justru tak sesulit dari mereka yang jago bernyanyi.

Mengapa? Karena bagiku, bermain gitar sama dengan bernyanyi, bahkan dua kali dari bernyanyi. Sebab kebebasan memetik ke-6 dawai gitar justru lebih memberi ruang secara kreatif untuk menciptakan harmoni sendiri. Ha ha ha.

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter