Ad Unit (Iklan) BIG

Bisnis "Akhir Zaman"

Bisnis "Akhir Zaman"


Istilah di atas sering dipakai dalam konteks marketing agama. Biasanya ungkapan ini menjadi tagline untuk mengajak orang lain bergabung dengan kelompok atau sekte mereka.

"Akhir zaman telah dekat. Bertobatlah dn percayalah kepada Tuhan!" kata seorang mahasiswa UPI Bandung ke saya tahun 2001 silam, sembari mengajak saya masuk sektenya.

"Satu-satunya agama Alloh adalah Agama Islam, dan Muhammad adalah satu-satunya nabi junjungan kita. Jadi, siapa pun yang tak percaya kepada Allaih dan Muhammad SAW akan mengalami siksa kubur setelah kematiannya," teriak pengkotbah di sebelah kos-kosan saya di Ciumbuleuit Bandung pada tahun 2007 silam.

Baik Agama Kristen maupun agama Islam, dan tampaknya sama saja untuk semua agama,
SURGA adalah tawaran bagi mereka yang belum bergabung ; dan  NERAKA adalah ancaman bagi mereka ragu atau ingkar untuk bergabung.

Secara langsung maupun tidak langsung, agama di zaman now telah berhadil menjadikan dirinya sebagai senjata mematikan, termasuk dalam hal rebutan lahan bisnis/pekerjaan.

Bayangkan, dengan label agama, seseorang bisa dimiskinakn secara tiba-tiba hanya karena ingkar agama atau mengkritisi ajaran dan simbol sucinya; sebaliknya seseorang juga akan dengan mudah meningkatkan pendapatannya hanya karena berpindah keyakinan dan dengannya ia mulai terlihat lebih suci.

Tak jarang juga ketika orang-orang yang ingkar agamanya justru kehilangan pekerjaannya, bahkan ketika pekerjaan itu tak ada hubungannya samasekali dengan agama apa pun. Ini berarti, agama telah menjadi hakim yang menjamin tingkat kesejahteraan hidup setiap orang.

Tak hanya pekerjaan. Perpindahan keyakinan itu bahkan terbukti telah merusak pertalian darah dalam satu keluarga. Tapi, aneh. Ketika orang yang telah berpindah agama tadi selalu mencerca dan meludahi agama yang ia anut sebelumnya sembari memuja agama barunya, maka ia akan segera menjadi superstar di televisi atau di media sosial tempat ia numpang terkenal secara gratis. Ini berarti agama menjadi gerbang untuk menjadi orang kaya, hebat atau terkenal.

Lalu lintas kesemrawutan saat berebutan umat dan lahan pekerjaan yang terjadi antara penganut agama dalam sebuah negara tak ayal lagi telah merusak tatanan hidup bernegara. Misalnya, ketika jabatan Presiden, Gubernur, Bupati, Lurah, Kepala Desa hingga ketua RW pun justru menggunakan syarat agama, dan bukan syarat UU sebuah negara.

Faktanya, sejauh ini, agama telah terlalu jauh mencampuri urusan pemerintah, bahkan seakan tak tahu diri berterimakasih kepada pemerintah yang telah memfasilitasi hidup mereka. Jabatan-jabatan di atas, pun jebatan lain yang strategis dan mendatangkan uang yang sangat banyak lainnya malah diperebutkan oleh orang yang mengaku beragama tadi.

Apa yang terjadi di atas justru semakin meyadarkan kita bahwa agama tak lagi berarti "antai kacau balau", melainkan "hantu blau" atau setan yang mengatasnamakan Tuhan untuk merebut kekuasaan dari sebuah negara.

Beberapa negara pun mulai menyadari hal ini, bahkan tak peduli agama apa pun yang dianut masyarakatnya. Sebab, bila hal ini dibiarkan, perlahan-lahan negara dan agama tak lagi bisa berjalan bersama. Lebih jauh, sebuah negara tak mungkin lagi dihuni dua atau lebih agama berbeda.

Jadi, jangan heran ketika pemerintahan dalam satu negara mulai menetapkan berbagai kebijakan-kebijakan ketat dalam hal kehidupan umat beragama di wilayahnya. Ada negara yang terang-terangan melarang semua agama semitik atau agama-agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam) memengaruhi negaranya, seperti yang terjadi di Korut dan Cina.

Di Korea Utara, posisi dan fungsi Tuhan yang oleh orang beragama Samawi disebut sebagai Penyelamat, justru digantikan oleh presidennya. Itu juga baru-baru ini yang terjadi di Cina. Lewat lembaga pendidikan Dasar dan Menengah, Pemerintahan Cina menerapkan kembali konsep Mao Zedong: mengawasi seluruh aktivitas masyarakatnya yang beragama Kristen dan Islam dan mengganti lambang-lambang agama tadi dengan foto Presiden China.

Di sisi lain, ada juga negara yang secara terang-terangan hanya mengakui agama tertentu dan sangat keras terhadap agama lain. Di India yang mayoritas Hindu, orang kristen semakin tak nyaman karena sering diteror.

Begitu juga di Bangladesh orang Kristen bahkan tak boleh bertambah sebiji pun umatnya. Di Malaysia telah lama berlangsung ketika kata "Allah" pun tak boleh digunakan dalam liturgi orang Kristen. 

Ada banyak persoalan yang sama, yang tak hanya dialami orang Kristen tetapi juga semua agama, termasuk Islam. Pendeknya, agama yang tak mengenal batas-batas negara tadi sering dianggap sebagai momok menakutkan yang bisa merusak tatanan sebuah negara.

Lihatlah di Indonesia, ketika orang radikal memaksakan diri merebut NKRI menjadi negara milik mereka dan mendirikan Khilafah, justru disaat negara-negara di Eropa dan Amerika, bahkan baru-baru ini diikuti oleh Kerajaan Arab Saudi membuka diri pada perbedaan keyakinan.

Di sisi lain, negara memang tak berdaya. Spirit nasionalisme dan patriotisme nyatanya semakin luntur oleh janji-janji surga dari para kurir-kurir agama yang didoktrin lewat instansi-instansi pendidikan yang justru dibiayai oleh negara.

Faktanya, agama-agama yang tak sanggup menyediakan lapangan kerja bagi umat yang telah memberi zakat, perpuluhan atau kolektenya, justru merebut secara paksa kekuasaan negara dari orang-orang yang telah berbagi pendapatan dengan warganya.


#Refleksi
Kenikmatan itu memang menggiurkan, tetapi juga tak gratis. Tak hanya super mahal, tetapi juga banyak saingan di sana. Dengan jalur normal, Anda pasti kesulitan bersaing dan memenangkannya,

Mumpung semakin banyak orang yang "takut akhir zaman akan segera tiba" dan takut akan "siksa neraka", maka, sebagai orang beragama, silahkan Anda tawarkan "Nikmat Surga Tiada Tara" kepada mereka. Dijamin laku keras. Mahal pun tak jadi soal. #MariBerbisnisDenganWaras

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Subscribe Our Newsletter