Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Hak Kaisar vs Hak Tuhan

Hak Kaisar vs Hak Tuhan
Ilustrasi: Malam Paskah di Gereja Katolik St. Ignatius Cimahi
"Berikanlah kepada kaisar apa yang telah menjadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang telah menjadi hak Tuhan."

Ungkapan Yesus ini selalu aktual hingga kini. Bukankah orang beragama selalu terjebak dalam distribusi uang?
Ketika Anda memberikan kolekte atau infaq, di pikiran Anda semestinya tak lagi pusing dengan laporan keuangan dari para imam dan bendaharagereja atau mesjid.
Begitu juga semesinya, disaat Anda membayar pajak, semestinya Anda tidah usah lagi mempersoalkan pengunaannya?
Bener demikian? Faktanya Unsur kepercayaan (trust) begitu mahal, dan bersamaan dengan itu, ilmu ekonomi dan keuangan juga bertumbuh pesat hingga mampu mendeteksi peruntukan segala bentuk dana yang dikumpulkan.

Aku teringat tahun 2011 saat tinggal di Cimahi. Seorang bapak bertanya, "Itu kolekte puluhan juta tiap hari minggu ke mana aja ya?"

"Bapak auditor keuangan?" Dia jawab singkat, "Bukan!"

"Lantas untuk apa bapak bertanya peruntukan kolekte?" tanyaku penasaran.

"Enggak gitu, bang. Soalnya pastor masih saja meminta umat mengumpulkan uang untuk beli kursi, sound system di luar, dll. Mengapa enggak pakai uang kolekte saja, bang?" Tanyanya seolah sedang mengajar ilmu Akuntansi.

"Bapak, jangan tersinggung ya. Setiap bapak memasukkan uang persembahan (kolekte), apa yang bapak pikirkan?" Tanyaku sembari menjelaskan.

"Ya, persembahan untuk Tuhan lah, bang." tukasnya ringan.

"Kalau begitu, mengapa bapak pusing dengan uang yang bapak dan umat lain berikan sebagai persembahan kepada Tuhan itu?" aku mencoba menggugat akal sehatnya.

"Bukan gitu, bang. Pastor juga kan manusia. Orang-orang di gereja juga kan tetap merah matanya melihat uang. Gitu loh, bang." Bapak tadi solh menjelaskan maksudnya.

Sambil tertawa, aku langsung menyimpulkan pembicaraannya, "Halahhhh.. Pak...Pak. Kayaknya bapak enggak percaya deh sama pengurus gereja kita he hehe."

Biarin aja mereka mempertanggung jawabkan uang persembahan kita itu kepada Tuhan. Toh saat kita memasukkan uang pesembahan ke kotak persembahan saat misa di pikiran kita cuma satu 'aku memberikan sedikit uangku untukmu Tuah.'

Jadi, bapak harus berpikir positif dong sama romo dan pengurus gereja kita. Lagipula kita juga yang memilih mereka sebagai pengurus, sementara romo itu ditugaskan di sini oleh bapak uskup karena ia mampu mengelola paroki ini. Gitu loh pak.

Berikanlah kepada kaisar apa yang telah menjadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang telah menjadi hak Tuhan." jawabku menutup perbincangan kami.

Tak lama kemudian kami berpisah, persis disamping kiri gedung heritage, Gereja Katolik St. Igantius Baros yang sangat antik itu.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter