Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Pemimpin Mentel

Pemimpin Mentel
Kata "MENTEL" jamak digunakan oleh orang Medan dalam percakapan sehar-hari. Tak jarang juga kata ini dikatikan dengan kata "MENGKEK" (manja) dan MENTIKO (belagu, merasa paling hebat dan suka cari masalah).

Berdasarkan penggunaannya, kata mentel berarti:

(1) Genit berlebihan - Contoh: "Mentel kali Bos kami di kantor. Dikit-sikit minta dipijitin si Surti cantik."

(2) Sok keren - Contoh: "Mentel kali mama kau itu. Dandan aja pun pake lama kali."

(3) Manja berlebihan - Contoh: "Mentel kali cowok satu ini, ke toilet pun minta ditemeni."

(4) Sok cute (cewek):  - Contoh: "Boru siampudan (putri bungsu) dari si Romelu Malau ini mentelnya minta ampun deh. Namu akun Fesbuknya pun sok kute A So Kha Ma La U; belum lagi PP-nya yang norak dan postingan-postingannya dengan foto sok cute.

(4) Cemen, suka merengek, bersikap kemayu (cowok) - Contoh: "Jadi cewek kok kementelan kali, ngaca melulu. Pecah pula kaca itu nanti."

(5) Kegenitan, over acting, pecicilan - Contoh: "Mentel kalilah pun kau dek. Mau beli baju burjer ke Pajak Melati aja pake lipstik segala."

*****

Persoalannya, tak hanya kalangan muda. Para pejabat publik, pejabat gereja atau pemimpin agama pun banyak juga yang mentel. Maka ada saja wakil ketua DPR-RI yang super mentel, pendeta genit dan pastor mentel, boss mentel di kantor, dst.

Para pejabat atau pemimpin yang mentel ini biasanya suka mengumbar kehebatannya yang sebetulnya tak ada. Tak hanya itu, ketika dikiritik mereka akan mengumumkan ke publik bahwa mereka sengaja dibully oleh lawan politiknya: untuk menghancurkan karirnya.

Singkat kata, politisi, pemimpin agama, pemimpin perusahaan, dan sejenisnya yang sering diklasifikasikan sebagai bos mentel adalah pemimpin yang selalu berusaha menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian, tak peduli apakah mereka itu punya potensi jadi media darling atau tidak. Selain itu, mereka sering tak menyadari bahwa mereka itu hanya jadi pusat perhatian justru karena ketololan mereka. 

Tanpa bermaksud menyebutkan nama, kita bisa melihat betapa banyak politisi dan para pemimpin yang selalu tampil mentel, mengkek, pun mentiko di negeri ini. Untuk mengetahuinya mudah saja. Biaanya mereka berpura-pura menangis dengan wajah memelas, merasa difitnah dan penangkapannya sudah disetting saat mereka tertangkap tangan melakukan korupsi.

Anehnya, para politisi dan pejabat publik yang  mentel ini biaanya justru punya banyak teman, tetapi nyaris tak punya sahabat. Jelas sekal, mereka dengan mudah membeli teman, tapi tak pernah berhasil mendapatkan sahabat sejati.

*****

Pemimpin Mentel yang suka Mengkek dan Mentiko biasanya sih tak disukai banyak orang. Yang dimaksud adalah pemimpinan yang merasa dirinya paling ganteng atau cantik hingga selalu berusaha tampil super lebay. Gaya bicarnya pun sering dibuat-buat dan gesture tubuhnya bahkan tak simetris dengan bibirnya. Tentu saja, karena si mentel itu biasanya hidup dalam kegelisahan dan serba tak nyaman..

Di satu sisi si mentel adalah orang yang asyik dan lucu. Namun, sebaliknya si mentel juga mereupakan orang yang paling menyebalkan karena tak tampil orisinal.

Politisi mentel, misalnya selalu minta afirmasi eksistensinya, "Cok' ko tengok. Aku hebat kan?" Atau saat ia satu kali blusukan, langsung minta konferensi pers, "Seorang pemimpin harus dekat dengan rakyat. Sebagai orang yang dipercaya rakyat, saya pun selalu memberi yang terbaik kepada mereka."

Ketua BEM UI Zaadat Taqwa juga termasuk mahasiswa super-mentel saat mengacungkan buku berwarna kuning ke araha Presiden Jokowi yang sedang menyampaikan pidato di kampus UI.  Peristiwa itu terjadi di Balairiung UI, Depok, Jumat (2/2/2018) pagi, saat Jokowi menghadiri Dies Natalis ke-68 UI.

Tak berhenti di situ. Sifat mentel dan mengkeknya si Zaadat malah semakin menjadi-jadi. Presiden membalas kartu kuningnya jadat dengan "tekel manis": si bodat, eh maaf, si Zadat malah menolak saat diutus ke Asmat melihat situasi nyata di sana.

Gue bilang juga apa... Janganlah sok mentel kali jadi orang
Hahaha...

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter