Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Politik Jonaha: Kebiasaan Mencari Kambing Hitam

Politik Jonaha: Kebiasaan Mencari Kambing Hitam
Sebelumnya kita telah melihat kepolosan Jonaha dan logika terbalik Jonaha, kini kit masuk pada kebiasaan Jonaha mengkambing-hitamkan kuda milik Tulangnya.

Di lain kesempatan, sang Tulang hendak bepergian. Kali ini ia berniat meninggalkan Johana dan kudanya.

"Aku mau jalan sendirian tanpa kamu dan kuda,” katanya kepada Jonaha. Namun Jonaha bersikeras tak mau ditinggal.

"Aku tak mau. Aku mau ikut paman," rengek Jonaha.

"Ya, kamu boleh ikut, tetapi dengan satu syarat, kamu tak boleh berbuat kesalahan lagi.” Jonaha pun berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi.

"Oke kalau begitu. Kamu boleh ikut. Begitu juga dengan kudaku. Tapi setibanya di tempat judi, kamu harus “marmahan” (menggembalakan) kudaku ke tempat yang hijau dan subur. Setuju?" kata pamannya memberi syarat . Johana manggut saja.

Tapi, Anda tahu apa yang dilakukan Jonaha? Setibanya di tempat judi, Jonaha memang masih mengingat tugasnya, yakni “memarkirkan” kuda Tulang-nya di tempat yang luas dan dipenuhi rumput hijau. Ia teringat satu tempat yang sesuai dengan kriteria yang diminta Tulang-nya.

Sayangnya tempat itu agak jauh dari tempat judi sang paman. Tapi Jonaha sudah terlanjut sepakat agar melakukan tugas dari Tulangnya. Ia pun mememutuskan untuk pergi ke tempat itu. Jonaha pun menambatkan kuda kesayangan pamannya di sana.

Sembari menunggu kudanya kenyang, Jonaha pun merebahkan diri hingga pulas di bawah sebuah pohon. Tak lama kemudian, seorang ibu menghampiri Jonaha,

"Hei kau. Bangun. Kudamu telah merusak sawahku," bentak seorang ibu persis ke daun telinga Jonaha. Ternyata padang hijau nan luas yang ada di benak Jonaha tadi adalah sawah, milik sebuah keluarga yang tak jauh dari lokasi.

"Itu bukan kudaku, Inang (ibu). Itu kuda Tulang-ku," jawab Jonaha bermaksud menghindar dari jeweran. Tapi apa hendak dikata. Si ibu tadi sudah kadung murka saat melihat padinya habis dimakan kudanya Jonaha. Sembari menjewer telinga Jonaha dengan kuat, ibu tadi semakin keras berteriak,

“Apa? Bukan kudamu? Kalau begitu, Ayo, bawa aku ke Tulang-mu itu sekarang juga.”

Benar saja. Jonaha pun mengajak si ibu itu bertemu pamannya di tempat judi, Setibanya di sana, Tulang-nya bingung melihat Jonaha sedang bersama seorang ibu yang sedang marah.

"Kenapa, Jonaha?” tanya Tulang-nya ingin tahu. Ibu tadi langsung menyambar pertanyaan Tulang-nya Jonaha dengan berbagai tuntutan,

“Benarkah Anda paman dari anak ini?” tanya si ibu

“Benar, ibu. Apa yang sedang terjadi? “Begini, ito. Sawahku telah dirusak oleh kudamu. Aku mau minta ganti rugi!"

Ternyata dugaan si Tulang ini benar. ‘Jonaha pasti telah berbuat kesalahan fatal lagi,” pikirnya dalam hati.’

Tapi aneh, Jonaha justru berkelit, "Bukan aku yang merusak sawah itu, Tulang. Tapi Kuda Tulang,” teriak Jonaha dengan nada bergetar karena ketakutan.

Singkat cerita, Tulang-nya Jonaha pun harus membayar ganti rugi sebanyak 250 gulden. Tapi kali ini ia tak punya uang. Belum lagi ia sudah banyak utang kepada salah satu lawan mainnya di meja judi. Tapi demi menyelamatkan harga dirinya, juga karena kasihan pada bere (keponakannya), ia pun bermaksud meminjam uang temannya agar bisa membayar ganti rugi kepada si ibu itu.

“Lae, tolong pinjamkan lagi aku 250 gulden uangmu,” pinta si Tulang kepada mitra judinya.

“Begini, lae. Aku tak bisa meminjamkan uangku lagi kepadamu tanpa boroh (borot, jaminan),” kata temannya yang kebetulan berprofesi sebagai pedagang budak.

“Tak usah minta borot. Kau ambil saja si Jonaha ini untukmu.” jawab si Tulang masih dengan amarah.

Begitulah akhirnya rasa kesal Tulang-nya Jonaha memuncak. Temannya membayar 250 gulden sebagai bayaran untuk seorang Jonaha yang bisa akan ia jadikan sebagai budak.

*****

Di satu sisi, Jonaha ini bak soerang politisi yang tak pernah mengaku saat dituduh melakukan kejahatan seperti korupsi dan tindakan kriminal lainnya. Tak herang bila banyak kepala daerah yang selama ini berbuat jahat namun tak tersentuh, karena mereka pintar mengkambing hitamkan bawahannya.

Tak hanya itu, para politisi yang murah janji semasa kampanye hampir pasti sejajar dengan Jonaha. Bukankah mereka telah terbiasa bersembunyi dibalik seragama dinanya? Ada yang membangun panti asuhan dan rumah ibadah dari hasil korupsi, membantu masyarakat dengan menggunakan APBD dan sumber pemasukan lainnya. 
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter