Ad Unit (Iklan) BIG

Pasar Offline

Pasar Offline
Di perkotaan, pasar masih diminati, terutama masyarakat urban yang butuh tempat berinteraksi sekaligus bertransaksi disaat mereka berbelanja. Tentu, karena, terutama ibu-ibu yang belanja kebutuhan dapur bisa melakukan tawar menawar harga.

Terjadinya proses tawar-menawar ini menjadi pembeda bagi mereka saat belanja di mall, supermarket atau minimarket. Di pasar-pasar modern ini setiap barang bahkan sudah dilabeli harga. Sebaliknya, dengan tawar menawar di pasar, baik si penjual maupun si pembeli ternyata masih punya kesempatan untuk saling kenal. Bahkan, bila beruntung, si penjual yang ramah dan mau memberi harga lebih murah akan dijadikan langganan oleh si pembeli.

Itu lantas berarti kebutuhan sosial juga terpenuhi bersamaan dengan kebutuhan ekonomis mereka. Lambat lain, mereka pun akan lebih saling mengenal satu sama lain.

Maka selalu mengagumkan melihat ibu-ibu tua yang masih hafal di mana tempat beli daging, sayur mayur, buah-buahan, telur, dst dan siapa nama penjualnya yang ada di Pajak Sukaramai (di Medan Pajak adalah sebutan untuk Pasar).

Dengan model komunikasi orang pasar, yang ceplas-ceplos dan straight to the point, ibu-ibu itu saling kenal satu sama lain, dengan para pedagang maupun dengan sesam pembeli.

Di pasar, antara "pedagang yang bisa dipercaya" dan "pedagang yang tidak bisa dipercaya" itu jelas. Bila disurvei, maka indikatornya adalah tingkat kepuasaan pembeli, baik dari segi harga, kualitas barang dan keramahan si pedagang.

*****

Pasar emang luarbiasa. Disaat supermarket dan mall yang semakin sepi pengunjung, pasar tradisional masih saja seperti dulu: tetap ramai pengunjung, kendati jalanan dan gang-nya becek dan penataannya semrawut.

Bisa saja saya pesan alat cukur elektronik via Lazada, tetapi tak lantas pisau cukur merek cina nan murah meriah di pasar lantas tak diminati. Jangan lupa, sayur-mayur di pasar tradisional jauh lebih segar dan tentu saja laris manis dibanding sayuran yang dipajang di etalase Hypermart sana.

Hakikat purba masyarakat kita memang masyarakat sosial: menyukai perjumpaan. Itu sebabnya banyak bisnis di berbagai bidang justru lebih banyak bermula dari pertemanan, perjumpaan.

Konsekuensinya, pelaku business online di negeri ini tak pernah sungguh online. Lihatlah driver transportasi daring yang diskusi, bukan pertama-tama karena ongkosnya murah, tetapi pertama-tama jusru karena, baik si penumpang maupun si driver bisa saling curhat selama perjalanan.

Ya, masyarakat kita memang masih jauh lebih percaya kepada "orang yang asyik diajak ngobrol saat  melayani pembeli" daripada "mereka yang berbisnis secara robotik alias membiarkan pembeli melayani diri sendiri (swalayan)".

Fakta ini juga menjadi alasan mengapa masyarakat kita banyak yang memilih menjadi agen multi level marketing, agenn asuransi, kurir koperasi simpan pinjam, bahkan menjadi rentenir. Ya itu tadi, karena mereka lebih suka berbisnis sambil ngobrol tentang khasiat dari produk yang mereka jual.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter