Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

So Ise Iba (Aku Bukan Siapa-siapa)


"Siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku mengunjungi aku?" seru Elisabet saat Maria mengunjunginya. Saat itu kedua perempuan ini sama-sama berbadan dua. Perempuan yang satu, Elisabet sedang mengandung bayi Yohanes Pembaptis; sementara Maria, sedang mengandung bayi Yesus.

Elisabet sudah renta alias sudah oppung-oppung saat hamil; sebaliknya Maria malah masih remaja 15 tahunan saat mengandung bayi Yesus. Maria yang telah bertunangan dengan Yusuf mendapat "berkat" saat malaikan Gabriel meminta kesediaannya menjadi ibu bagi Yesus sang Juruselamat.

Sementara Elisabet, jauh hari sebelumnya justru sudah mendapatkan berkat yang sama saat malaika Gabriel memberinya bayi di masa tuanya bersama sang suami Zakharia.

Singkat kata, visitasi Maria ke Elisabet itu berlatarbelakang sama dan berlangsung antara dua wanita dengan yang mendapat berkat khusus dari Tuhan: "mengandung bayi ajaib". Anehnya, Oppung Elisabet yang duluan "mendapatkan rahmat" mengandung bayi Yohanes Pembaptis itu justru mengagumi edanya, Maria yang sedang mengandung bayi Yesus.

Tentu saja. Karena sebagaimana dijanjikan malaikat Gabriel kepada oppung Zakharia, suami Oppung Elisabet, bayi yang dikandungnya itu adalah nabi terakhir dalam tradisi agama Yahudi.

Sementara Maria mengandung Yesus yang kelak disebut Kristus, sang terurapi dan penyelamat dunia dari kegelapan dosanya. Di titik inilah kita memahami mengapa kalimat tanya sekaligus ungkapan kegembiraan dan kekaguman oppung Elisabet kepada edanya Maria: "Siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku mengunjungi aku?"

Elisabet dan Maria adalah dua saudara dalam iman. Keduanya sama-sama pendoa dan patuh pada perintah Tuhan. Kedua wanita yang selisih umurnya sangat jauh itu juga sangat dihormati di Nazareth karena kesalehannya.

Nyatanya Elisabet tak sendirian dalam sukacita saat Maria datang. Zakharia yang saat itu sengaja dibisukan Tuhan pun turut bersukaria dalam doa. Tak hanya itu, bayi Yohanes yang dikandungnya pun turut mengekspresikan kegembiraannya.

"..sebab, ketika engkau datang, bayi dalam kandunganku pun melonjak kegirangan," curhat oppung Elisabet kepada Maria yang wajahnya berseri-seri dan bercahaya. Menafsir kisah peziarahan iman kedua wanita ini memang harus kita baca dalam persfektif iman pula.

Keduanya "mengandung" secara biologis, tetapi 'isi' kandungannya justru teologis, yakni berasal dari Tuhan yang sama yang menghadirkan diri dalam Roh Kudusnya.

Pendek kata, saat itu, rahim kedua wanita saleh itu sedang "dipinjam" Tuhan untuk menginkarnasi dirinya menjadi manusia (dalam diri Yesus), dan untuk mewujudkannya, ia mengutus orang yang mempersiapkan momentum itu (dalam diri Yohanes Pembaptis).

Itu sebabnya oppung Elisabet menyebut edanya, Maria sebagai "ibu Tuhanku". Ia bangga sebagai ibu dari nabi yang mempersiapkan kehadiran Tuhan dalam rupa manusia, tetapi serentak, dalam iman ia justru telah melihat kehadiran Tuhan yang nyata dalam diri Maria, wanita pilihanNya.

Terminologi "ibu Tuhanku" oleh karenanya juga menjelaskan betapa Maria bukan wanita biasa yang hidupnya hanya berjalan dalam periodesasi kehidupan: lahir-bayi-anak-sekolah-kerja-kawin-punya anak-mati.

Sepanjang hidupnya, Maria telah memaknai hidupnya selama 15 tahun sebagai remaja plos dan hidup dalam kesalehan, + 9 bulan hidup dalam kekudusan, + 33 tahun hidup sebagai bunda yang turut dalam perjalanan anaknya Yesus sang Penyelamat + beberapa tahun hidup sebagai ibu dari murid-murid Yesus sendiri.

Akhirnya, "ibu Tuhanku" di atas hendak menunjukkan bahwa siapa pun yang dalam dirinya terkadung kebaikan Tuhan dan kebaikan itu terpancar dalam seluruh kediriannya adalah ibu Tuhan.

Kita semua memiliki potensi itu, dan Maria, juga Elisabet adalah dua contoh manusia yang mampu menampilkan kebaikan Allah itu secara nyata dalam hidup mereka.

Demikianlah kesucian diri itu adalah upaya terus-menerus dalam hidup kita. Tak cukup hanya diksi, tetapi juga harus dibarengi aksi setiap hari berlandaskan doa kepada sang ilahi.

Secara simbolik, upaya di atas kita rakasan juga saat mengumandangkan doa dengan bulir-bulir Rosario kita: sebab hidup kita berjalan dalam siklus yang abadi sebagaimana telah disinggung di atas: dari lahir hingg mati dan lahir kembali, dst.

Lewat Doa Rosario, pada akhirnya kita sungguh menyadari bahwa hidup yang bermakna itu adalah hidup yang diisi dengan kebaikan Tuhan. Selamat menutup #BulanRosario2017 bagi seluruh umat Katolik dan siapapun yang mengagumi kehidupan Bunda Maria yang menampilkan dirinya sebagai "ai so ise" (bukan siapa-siapa).


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter