Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Perilaku, Motivasi dan Pengetahuan

Perilaku, Motivasi dan Pengetahuan
Ilustrasi: Album Koleksi Lusius Sinurat
Melakukan identifikasi atas perilaku, motivasi dan pengetahuan yang kritikal terhadap suksesnya sebuah pekerjaan tertentu merupakan hasil akhir yang kritikal dari sebuah kegiatan Competency Analysis.

Ketiganya merupakan persyaratan kerja yang paling kritikal, mengingat pemegang posisi harus memahami apa yang dikerjakan, hal-hal apa saja yang dapat memuaskannyaserta pengetahuan apa yang dibutuhkan untuk dapat sukses dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya.

Sebagai contoh, seorang kandidat tidak akan direkrut untuk menjadi seorang sopir truk bila ia tidak memiliki cukup pengetahuan yang diperlukan tentang aturan hukum yang harus ditaati serta ketrampilan teknis yang memadai untuk mengemudikan kendaraan besar. 

Kecuali kandidat yang bersangkutan akan dilengkapi dengan serangkaian pelatihan penting yang harus diikutinya. 

Hal yang sama juga berlaku pada kasus prosedur pembedahan, dimana seorang dokter bedah dianggap sudah memenuhi syarat untuk menjadi ahli bedah, bila sudah berhasil lulus dari pendidikan kedokteran dari universitas ternama serta surgical residential program secara intensif pada rumah sakit ternama.

1. Perilaku (Behavior)


Perilaku mengacu pada serangkaian tindakan yang dilakukan oleh pemegang posisi (incumbent) untuk dapat sukses melakukan tugas dan tanggungjawabnya dalam menghadapi situasi nyata tertentu. 

Menulis laporan, mengendarai truk, mengoperasi pasien atau memimpin pertemuan kelompok, merupakan contoh yang dapat diambil dari berbagai perilaku. Perilaku akan menginformasikan tentang apa yang memang sebenarnya dilakukan oleh incumbent dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawab sehari-hari.

Sebagian besar pekerjaan dapat diamati melalui serangkaian perilaku, terutama ketika incumbent menghadapi situasi dan orang tertentu dimana incumbent tersebut memang seharusnya berinteraksi. Sebagai contoh, seorang salesman yang sedang berbicara dengan customer melalu telpon.

Lebih jauh lagi, ketika seluruh pola komunikasi dengan berbagai tipe customer yang dihadapi oleh salesman yang bersangkutan dikumpulkan, maka akan terlihat kecenderungan perilaku salesman tersebut dalam berkomunikasi.

Dengan demikian, muncul kebutuhan organisasi untuk melakukan pengelompokkan terhadap serangkaian perilaku yang muncul tersebut, untuk berbagai kebutuhan analisa tertentu.

2. Motivasi (Motivation)

Motivasi menggambarkan aspek dari pekerjaan yang dapat membawa individu pada kepuasan dan komitmen kerja maupun turn-over (tingkat keluar/masuknya orang dalam sebuah organisasi). Berbagai riset secara konsisten membuktikan bahwa ikatan yang kuat antara kepuasan kerja dengan turn-over dan antara rendahnya komitmen kerja dengan turn-over. 

Keterkaitan yang terbangun kemudian adalah antara motivasi kerja dengan tingkat keinginan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan organisasi, untuk mencapai perkembangan tertentu. Dengan demikian, mulai teridentifikasi bahwa motivasi kerja merupakan hal yang kritikal dalam proses kerja itu sendiri.

Upaya untuk mengidentifikasi komponen yang terkait dengan motivasi akan banyak membantu untuk meyakinkan bahwa hanya para kandidat yang dapat dipuaskan dan bertahan dengan tugas dan kewajibannyalah yang ditarik, dipilih dan direkrut oleh organisasi untuk menjadi bagian dari organisasi tersebut. Hal ini berarti bahwa komponen motivasi dapat dibedakan menjadi
  • Job Fit – aspek motivasi kerja yang mampu menarik orang untuk bertahan dan merasa tepat (fit) dengan tugas, pekerjaan dan tanggungjawab yang diberikan, seperti kesulitan pencapaian sasaran kerja, jadwal yang fleksibel atau struktur penugasan kerja
  • Organizational Fit – aspek motivasi kerja yang terkait dengan berbagai kondisi yang disediakan secara khusus oleh organisasi tertentu, misalnya besaran gaji/upah, iklim kerja, struktur upah atau kesempatan promosi
  • Geographical Location Fit – aspek motivasi yang terkait dengan letak dan posisi secara geografis, termasuk iklim (panas atau dingin), lingkungan budaya, harga rumah atau kesempatan rekreasi dengan keluarga. Keinginan untuk relokasi karena menerima tawaran kerja di organisasi baru sangat memperlihatkan besarnya pengaruh aspek motivasi ini terhadap tingkat kecocokan dengan lokasi geografis tertentu.

3. Pengetahuan (Knowledge)


Pengetahuan mengacu pada serangkaian informasi teknis dan atau professional yang dibutuhkan untuk dapat sukses dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab yang terkait dengan posisi yang diduduki. 

Rangkaian informasi ini memperlihatkan jenis dan kedalaman informasi yang minimum dibutuhkan oleh individu, baik ketika baru menduduki posisi yang diberikan dan ketika harus mengembangkan dirinya agar dapat lebih efektif dalam mengerjakan tugas dan tanggungjawabnya di posisi yang bersangkutan.

Contoh, seorang sopir truk harus memiliki SIM yang masih aktif masa berlakunya dan sesuai dengan kelas kendaraan yang dikendarainya. Jenis SIM menunjukkan bahwa sopir yang bersangkutan telah lulus program ketrampilan tertentu yang mengajarkan “aturan dasar di jalan”.

Tingkat pendidikan merupakan hal yang penting untuk disyaratkan, hanya kalau jenis dan tingkat pengetahuan yang diperlihatkan merupakan syarat kritikal dari sebuah posisi. Ijazah SMA dapat digunakan sebagai persyaratan untuk posisi kritikal kalau para kandidat yang melamar, yang tidak memiliki ijazah tersebut, akan dipertanyakan kemampuannya untuk dapat sukses dalam melakukan pekerjaan di posisi tersebut.

Tidak semua jenis pengetahuan dapat dibuktikan dengan gelar, ijazah atau diploma maupun sertifikat atau lisensi. Seringkali satu jenis pengetahuan tertentu dibutuhkan untuk menguji kemampuan seseorang untuk menyelesaikan atau mengatasi sebuah peralatan teknis tertentu dan proses kerja yang harus dilakukannya dalam menghadapi peralatan tersebut. 

Hal ini juga terbukti sangat berguna untuk melihat kemampuan individual dalam melakukan pembagian kerja (job sharing) dalam kelompok, dimana setiap orang dalam kelompok tersebut harus mampu melakukan tugas dan kewajiban yang diberikan agar kelompok, secara keseluruhan, dapat sukses dalam mencapai sasaran kerja yang diberikan.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter