Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jiwa dan Semangat Ekaristi (4)

EKARISTI MENJADI SUMBER DAN PUNCAK HIDUP UMAT BERIMAN (SC 10)
SIAPAKAH YANG MERAYAKAN EKARISTI?


Kristus yang bertindak merayakan Ekaristi bersama dengan Gereja-Nya. Gereja itu persekutuan umat beriman: para kudus yang sudah mulia di surga, dalam api pencucian, dan masih hidup di tengah dunia. Karena itu Kristus mengucap syukur kepada Bapa atas karya keselamatan. Dialah yang berdoa kepada Bapa dalam persekutuan dengan Roh Kudus. 

Kristus, yang bersekutu dengan Gereja-Nya, ditampilkan oleh imam, yang bertindak sebagai in persona Christi. Karena itu imamatnya adalah imamat jabatan demi kepentingan pelayanan kepada umat yang dipercayakan. Sementara itu, imamat orang beriman adalah imamat umum, artinya berpartisipasi dalam tugas imamat Kristus: menyerahkan diri kepada Allah dengan melibatkan Allah dalam hidupnya (pengudusan dunia). 

Itulah sebabnya Kristus membutuhkan orang beriman untuk merayakan Ekaristi bersamanya.(Apakah kita mau diam saja?) Konsekuensinya, seorang imam dituntunt untuk makin hidup menyerupai Kristus yang dihadirkannya dalam peayaan itu. Karena itu: Doa Syukur Agung tidak lagi dilaksanakan dalam bentuk dialog melainkan dalam bentuk presidensial. 

VI. KOMUNI / Communio

Komuni (communio: cum-unire bersama untuk bersatu. Bersatu: bukan seperti pasir di pantai atau ajer ajur seperti beras menjadi bubur tetapi kesediaan untuk mengundang orang lain terlibat dalam hidupku, sebaliknya akupun mau menyediakan diri terlibat dalam hidup orang lain, terutama mereka yang menderita. 

Komuni: tanda kesediaan kita untuk mati bersama Kristus, dan kesediaan untuk berbagi kehidupan dengan sesama sebagaimana Kristus berbagi kehidupan dengan kita. 
Karena itu “komuni” menjadi “jembatan” yang menghubungkan “perayaan iman” dengan “perwujudannya”, antara Ekaristi dan “hidup di dunia”. 

VII. BERKAT (Luk 24:32)

32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"

Makna:
  • Berkat bukan sekedar tanda salib yang dibuat oleh imam, in persona christi, melainkan sebuah peneguhan iman, engkau kuterima dalam seluruh hidup-ku. engkau sungguh menjadi bagian hidup-ku. peneguhan ini membuat hati orang berkobar-kobar. 
  • Konkretnya: “siapapun dirimu tanpa syarat apapun, aku tetap mau menerima engkau sebagai saudaraku, isteri, suami, anak, sahabat, temanku….

VIII. PENGUTUSAN (Luk 24:33-35)

33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." 35 Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Makna:
  • Hati yang berkobar-kobar mengggerakkan orang untuk bercerita tentang kegembiraannya. Karena itu orang akan mudah tergerak untuk memperhatikan sesamanya karena dirinya merasa gembira telah diterima tuhan.
  • Orang yang gembira dengan sendirinya akan mudah untuk berinisiatif untuk memelihara hidup, mengampuni, menjadi tanda harapan bagi sesama.
  • Bagaimana orang akan tergerak untuk menerima orang lain kalau ia belum mau mengalami “diterima dan diistimewakan Allah?”

Dari ungkapan menuju perwujudan iman:

Setelah menyantap tubuh dan darah Kristus, orang beriman memiliki kesempatan penuh rahmat untuk “hidup menurut gaya Kristus, yakni mengasihi seperti Allah mengasihi. Kita semua bisa jadi tahu dan berkehendak mewujudkannya, namun di tengah jalan kerap kali “macet” atau “tidak berbuat apapun juga”. Ada apa di balik kemacetan itu?

Itulah “kuasa dosa” yang kerap kali mengganggu “arah dan keputusan hidup kita”. Gangguan itu dapat kita atasi dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Daging memang lemah tetapi kita boleh meminta terus agar Roh Kudus hadir menegaskan arah hidup kita. (bdk Yoh 16). 

Dalam gangguan kita lemah dalam pengambilan keputusan, itulah sebabnya, lebih baik kita mengakui keterbatasan, dan putuskanlah untuk memohon Roh Kudus hadir dan menguasai hidup kita Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Luk 11:13) 

Ciri Khas Tindakan Moral
Tindakan itu diputuskan dengan pertimbangan: 
  • sungguh tau segala resiko dan menanggungnya 
  • dengan kesadaran sungguh dibuat dengan kehendak baik 
  • dilaksanakan dengan bebas atas keputusannya sendiri, tanpa paksaan orang lain 
Tindakan moral mewujudkan kasih terhadap sesama yang bercirikan keadilan. Keadilan itu bercirikan:
  • Menghormati martabat manusia, laki-laki dan perempuan, yang sama-sama diciptakan menurut citra Allah
  • Memperjuangkan terwujudnya hak asassi orang lain, terutama orang KLMT agar berkuranglah tindak perampasan hak asasi oleh orang atau kelompok yang lebih kuat.
  • Perjuangan hak asasi orang miskin menuntut tindakan solidaritas (memberikan diri untuk berkanjang bersama dalam kesulitan hidup, bahwa hidup itu tidak sendiri melainkan ditanggung bersama)
Kasih Allah itu Trinitaris:

  1. Menciptakan dan memelihara hidup (Allah Bapa Sang Pencipta) 
  2. Mengampuni: memberikan kesempatan orang lain untuk tumbuh dan berkembang, karena itu dibutuhkan “disiplin” untuk berpikir positif (tidak menilai dan menghakimi)-√† Yesus Sang Putera Allah yang menebus dosa manusia melalui misteri Paska 
  3. Menjadi tanda pengharapan dalam keputusasaan, penderitaan, kekecewaan√† Roh Kudus yang diutus Allah untuk menjadi penghibur dan penolong manusia dalam menjalani peziarahan hidupnya di tengah dunia agar terarah demi kemuliaan Tuhan. 
  4. Hidup Yang Ekaristis ialah hidup yang diwarnai dengan inisiatif dan prioritas, untuk membangun keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan, sehingga Kerajaan Allah sungguh hadir di tengah dunia. Baca Kembali dari Awal!
Rirang-rirang gumpari, rirang meruah-ruah 
Sirang kita gundari, sirang kita mejuah-juah

Rekoleksi_Paskah K3BS
Grha ILSKI – Pratista, Cisarua, 17 Mei 2011

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter