Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Spiritualitas Ekaristi

Spiritualitas Ekaristi
"Ekaristi menjadi sumber dan puncak hidup umat beriman" (SC 10).





Sungguhkah Ekaristi itu merupakan PUNCAK dan SUMBER kehidupan seluruh umat beriman? Lihatlah dua fenomena berikut ini :

Fenomena-1 :

Pada Misa pagi hari di sebuah paroki di kota Medan terjadi peristiwa lucu sekaligus mengejutkan berikut. Sembiring dan Tarigan yang tanpa diduga duduk berdekatan. Sembiring yang seksi liturgi itu memang rada berbakat datang telat.

Sementara Tarigan tergolong on time tiap perayaan Ekaristi, juga dalam rapat-rapat DPP. Sebenarnya si Tarigan ini rekan Sembiring di DPP. Tarigan itu seksi Pewartaan. Di luar itu mereka juga masih famili. Mereka itu kalimbubu satu sama lain.

Tapi entah kenapa, sejak Tarigan tidak datang pada upacara adat perkawinan putranya si Sembiring di jambur Silimakuta, Sembiring pernah bersumpah tidak akan memaafkan Tarigan sampai kapan pun. Sejak saat itu mereka tak pernah lagi bertegur sapa, bahkan ketika sama-sama rapat DPP di Paroki.

Permusuhan itu pun berlanjut hingga pada perayaan Misa. Dalam Misa pagi itu, sesudah Doa Damai, tibalah ritus “Salam Damai”. Sembiring yang duduk persis di depan Tarigan tiba-tiba berbalik hendak memberi salam damai. Apa yang terjadi?

Tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya dan mengalihkan uluran tangannya ke orang lain yang ada di sebelah Tarigan. Tarigan pun tersinggung dan merasa sakit hati karena dipermalukan di tengah umat lain; di dalam gereja lagi!

Secara tak sengaja, seorang ibu beru Tarigan yang menyaksikan peristiwa itu tiba-tiba teriak: “Oe Sembiring. Ula kam bage. Tiap minggu kam ertoto, tapi la banci kam memaafkan turangku enda.”

Sementara si Ginting yang sama-sama anggota K3BS yang kini sedang cuti di Medan malah bergosip dengan Barus diiringi lagu “Anak Domba Allah” yang menggema pada Misa itu. “Padahal mereka itu famili loh. Udah gitu, dengar-dengar, mereka bahkan sama-sama anggota DPP lagi. Wah wah…ternyata... segitunya ya?”

Fenomena-2 :

Seoang anak yang kini kelas 3 SMP, Herman Ginting sedang belajar mau ujian akhir (UN). Mamanya udah janji mau menemani. Tapi mamanya ingkar janji. Ibunya malah asyik nonton sinetron, sambil ikutan menteskan air mata saat menonton “Putri yang Tertukar” dan ikutan marah saat menonton “Cinta Fitri seri-150”.

Herman Ginting pun belajar tapi sambil menggerutu, “Katanya janji mau nemenin belajar. Katanya ingin mencintai anak-anak dan mendidiknya di dalam nama Tuhan. Mama seperti apa itu?” Yang membuat Herman makin kesal karena ia tahu sikap mamanya sama saja ketika ikut Misa tadi pagi di gereja. Mamanya malah cerita tentang bagaimana menjadi istri hebat seperti dalam sinetron “Suami-suami Takut Istri”.

Apanya mau diteladani kalau punya mama kayak gitu?”, gumamnya diiringi rasa kantuk... hingga ia tertidur di atas catatannya. “Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkandosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu….dst”…

Tapi tak lama berselang, pada saat menerima komuni berlangsung, Sapomalem Karo-karo malah jelalatan dan berbisik pada isterinya Celengan Perangin-angin, “Mi, tuh, katanya aktivis, tapi kok hutangnya gak dibayar-bayar sih?

Kok sempat-sempatnya ya? Tapi begitulah yang terjadi bila kita lebih berbakat menghitung dosa orang lain daripada dosa kita sendiri.


EKARISTI dan KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Ekaristi dan Kehidupan sehari-hari

  • Adakah kaitan antara Ekaristi dan dunia pendidikan di sekolah, di rumah, di tempat kursus? Adakah kaitan (hubungan) antara Ekaristi dan pekerjaan di kantor, usaha dagang di pasar, di rumah? 
  • Adakah kaitan antara antara Ekaristi dan urusan Rumah Tangga (dapur, Ekonomi RT, mencuci, membersihkan lantai dst)? Adakah kaitan antara antara Ekaristi dan “rekreasi”: badminton, sepakbola, ping-pong, jalan-jalan? Adakah kaitan antara antara Ekaristi dan tani lestari: pelestarian tanah melalui pupuk dan pestisida organik (bukan kimiawi)? ..... dan seterusnya….!!

Persoalan Mendasar Mengapa kita merayakan EKARISTI

Apa alasan sesungguhnya ?
  • Terpaksa, daripada tidak ada acara malam minggu! Kewajiban, mau ketemu seseorang, atau mau apa?
  • Siapakah sebenarnya yang merayakan Ekaristi? 
  • Perayaan Ekaristi itu kepentingan siapa? 
  • Manakah kepentingan Ekaristi untuk hidupku yang biasa-biasa saja ini (profan) di tengah dunia? 
  •  Bagaimanakah Ekaristi menjadi sumber dan puncak hidup umat beriman ? (SC 10)

Tinjauan Biblis: Lukas 24: 13-35
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.

15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.

17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"

19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. ž

20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. ž21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.

24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."

25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"

27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"

33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."

35 Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Ritus Ekaristi

1. Ritus Pembukaan-Pernyataan Tobat

"Tuhan, kasihanilah aku" (Luk 24:13-18)

  • Menyingkapkan kelemahan, kerapuhan, luka batin, trauma, persoalan hidupku, masa lalu, kini dan masa depan. Datang untuk bertobat bukan takut akan penghakiman allah melainkan karena percaya ia maharahim, menempatkan manusia “diperhatikan secara istimewa” seperti seorang bayi dalam rahim ibu.
  • Korban sembelihan kepada allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan kaupandang hina, ya Allah (mzm 51:19). Dengan bersedia menyingkapkan hati yang hancur di hadapan allah, kita berarti juga mempersiapkan diri untuk diperbaharui oleh allah yang hadir untuk bersabda.

Pengalaman “kehilangan” (Luk 24:19-24 )

  • Yesus itu Nabi, Dia sungguh Allah dan sungguh manusia ! 
  • Mengapa Yesus, Sang Nabi, itu mati dan dihukum mati oleh imam-imam kepala, padahal Ia berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami?Apalagi mayatnya pun hilang, tidak ditemukan lagi. Inilah sederetan peristiwa yang tambah mengecewakan dan membuat frustrasi kehilangan pijakan.

2. Liturgi Sabda (Luk 24:25-27)

  • Menyadarkan dan meneguhkan kembali bahwa Allah itu tidak pernah berhenti mengasihi manusia juga kalau manusia jatuh dalam dosa. Karya keselamatan itu dilaksanakan melalui penderitaan, bukan melalui jalan kekuasaan, popularitas dan kehebatan. 
  • Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:24)
3. Credo, Aku Percaya

  • Tinggallah bersama-sama dengan kami, ya Tuhan. Wajarkah seseorang mengajak mampir ke rumah dan menginap kepada orang yang baru saja ketemu dan berbincang-bincang dalam perjalanan? 
  • Murid Emmaus itu mulai mengajak “orang asing” itu tinggal bersama dengan mereka Manakah yang membuat mereka percaya kepada orang asing itu? Itulah pertanda bahwa tumbuhnya kepercayaan bukan sekedar usaha manusia, melainkan juga bersifat “Gratia”: rahmat. 
4. Persiapan Persembahan

  • Kepercayaan kepada Allah itu menggerakkan saya untuk tidak ragu-ragu menyerahkan seluruh hidup kepada Allah. Persembahan itu berarti “penyerahan diri” (English: to offer, Latin: offertorium), yakni mengubah pusat hidup dan jaminan masa depan kita dari diri sendiri menuju kepada Allah dengan segala resiko: membiarkan Allah berkarya. “Jadikanlah aku bola-Mu, yang bisa Engkau sepak ke sana kemari” (St. Teresia Kanak-Kanak Yesus). 
  • Dengan kata lain, “mengosongkan diri”: melepaskan segala sesuatu yang istimewa menurutku, dan mau mengikatkan diri kepada Tuhan. žRoti dan anggur yang dibawa oleh umat kepada imam yang berperan sebagai “Kristus” (in persona Christi) menjadi lambang persembahan hasil usaha dan hidup manusia seluruhnya. 
  • Karena itulah Roti dan Anggur, bukan uang, yang pertama-tama dibawa ke altar! žDoa persiapan persembahan mengajak umat untuk menyadari dirinya semakin tergerak untuk bersyukur yakni, mengakui kerapuhannya dan tidak mampu hidup tanpa Allah. Karena itu, semoga umat beriman menyerahkan dirinya untuk “dikuasai cinta Allah yang menghidupkan”.
5. Liturgi Ekaristi

  • Kenangan Penuh Syukur atas Wafat dan Kebangkitan Kristus. Transubstantiatio-perubahan roti anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dalam Doa Syukur Agung, Kristus yang hadir dalam diri imam, bersyukur kepada Bapa yang telah membangkitkan-Nya dari alam maut, seraya memohon Roh Kudus-Nya, agar mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan darah-Nya. 
  • Perubahan itu terjadi bukan hanya dalam DSA, tetapi dalam “Perayaan Ekaristi”. Apa yang berubah? Hakekatnya!! Rupanya tetap roti dan anggur, tetapi identitas dan jati dirinya adalah Tubuh dan Darah-Nya. 
  • Demikianlah juga fungsi dan maknanya pun menjadi berubah yakni berperan sebagai pemersatu antara hidup manusia yang rapuh dan hidup Kristus yang ilahi.
6. Doa Syukur Agung ( Luk 24:30-31 )

Kata-kata ini “mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkan dan membagi-bagikan kepada para murid-Nya” adalah sebuah ringkasan gaya hidup Kristus.
  • Mengambil roti - “diambil” itu menunjukkan peristiwa dipilih untuk diciptakan, diistimewakan oleh Allah. “Engkaulah Anak yang kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”. Sulit bagi kita untuk meng-“amini” kebenaran bahwa kita sungguh “dikasihi Allah” tanpa syarat karena kita terbiasa mendengarkan suara dunia: engkau kukasihi kalau engkau berprestasi, trampil, berdayaguna, dapat diandalkan karena kekayaan yang dimiliki, baik padaku dst. 
  • Mengucap berkat - “bersyukur” tidak lain adalah kesediaan untuk mengakui keterbatasan diriku; justru karena keterbatasan itulah, aku mengundang Allah untuk hadir dan terlibat aktif mengubah hidupku. 
  • Memecah-mecahkan roti - Orang yang mengalami dirinya diterima Allah, diistimewakan dan dicintai-Nya akan tergerak untuk menyerahkan hidupnya sebagai korban bagi kepentingan kerajaan Allah (kesediaan untuk mengosongkan diri: menyangkal diri, tidak mempertahankan nyawa, memanggul salib dst.) 
  • Membagi-bagikan roti - Orang yang mau “mengosongkan dirinya” (akan tergerak untuk memberikan dirinya bagi orang lain (waktu, tenaga, pikirannya, lebih suka mendengarkan daripada membela diri). Pengosongan diri itu berarti melepaskan ambisi untuk menjadi orang yang terkenal, popular, dan superman-superwoman, ambisi untuk berkuasa, ambisi untuk memiliki segala-galanya√† lihatlah peristiwa Yesus digoda di padang gurun oleh Iblis Mat 4:1-11)
Lantas, siapakah yang merayakan Ekaristi?

Kristus-yang bertindak merayakan Ekaristi bersama dengan Gereja-Nya. Gereja itu persekutuan umat beriman: para kudus yang sudah mulia di surga, dalam api pencucian, dan masih hidup di tengah dunia. 

  • Karena itu Kristus mengucap syukur kepada Bapa atas karya keselamatan. Dialah yang berdoa kepada Bapa dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Kristus, yang bersekutu dengan Gereja-Nya, ditampilkan oleh imam, yang bertindak sebagai in persona Christi
  • Karena itu imamatnya adalah imamat jabatan demi kepentingan pelayanan kepada umat yang dipercayakan. Sementara itu, imamat orang beriman adalah imamat umum, artinya berpartisipasi dalam tugas imamat Kristus: menyerahkan diri kepada Allah dengan melibatkan Allah dalam hidupnya (pengudusan dunia). 
  • Itulah sebabnya Kristus membutuhkan orang beriman untuk merayakan Ekaristi bersamanya.(Apakah kita mau diam saja?) Konsekuensinya, seorang imam dituntunt untuk makin hidup menyerupai Kristus yang dihadirkannya dalam peayaan itu. Karena itu: Doa Syukur Agung tidak lagi dilaksanakan dalam bentuk dialog melainkan dalam bentuk presidensial.
7. Komuni – Communio
  • Komuni (communio: cum-unire = bersama untuk bersatu). Bersatu: bukan seperti pasir di pantai atau ajer ajur seperti beras menjadi bubur tetapi kesediaan untuk mengundang orang lain terlibat dalam hidupku, sebaliknya akupun mau menyediakan diri terlibat dalam hidup orang lain, terutama mereka yang menderita.
  • Komuni: tanda kesediaan kita untuk mati bersama Kristus, dan kesediaan untuk berbagi kehidupan dengan sesama sebagaimana Kristus berbagi kehidupan dengan kita. žKarena itu “komuni” menjadi “jembatan” yang menghubungkan “perayaan iman” dengan “perwujudannya”, antara Ekaristi dan “hidup di dunia”.
8. Berkat ( Luk 24:32 ) 

  • Berkat bukan sekedar tanda salib yang dibuat oleh imam, in persona christi, melainkan sebuah peneguhan iman, engkau kuterima dalam seluruh hidup-ku. Engkau sungguh menjadi bagian hidup-ku. Peneguhan ini membuat hati orang berkobar-kobar.
  • Konkretnya: “siapapun dirimu tanpa syarat apapun, aku tetap mau menerima engkau sebagai saudaraku, isteri, suami, anak, sahabat, temanku….

9. Pengutusan ( Luk 24:33-35 ) 

  • Hati yang berkobar-kobar mengggerakkan orang untuk bercerita tentang kegembiraannya. Karena itu orang akan mudah tergerak untuk memperhatikan sesamanya karena dirinya merasa gembira telah diterima tuhan.
  • Orang yang gembira dengan sendirinya akan mudah untuk berinisiatif untuk memelihara hidup, mengampuni, menjadi tanda harapan bagi sesama. Bagaimana orang akan tergerak untuk menerima orang lain kalau ia belum mau mengalami “diterima dan diistimewakan Allah?”



Dari Ungkapan Menuju Perwujudan Iman

Setelah menyantap tubuh dan darah Kristus, orang beriman memiliki kesempatan penuh rahmat untuk “hidup menurut gaya Kristus, yakni mengasihi seperti Allah mengasihi. žKita semua bisa jadi tahu dan berkehendak mewujudkannya, namun di tengah jalan kerap kali “macet” atau “tidak berbuat apapun juga”. Ada apa di balik kemacetan itu?

Itulah “kuasa dosa” yang kerap kali mengganggu “arah dan keputusan hidup kita”. Gangguan itu dapat kita atasi dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Daging memang lemah tetapi kita boleh meminta terus agar Roh Kudus hadir menegaskan arah hidup kita. (bdk Yoh 16).

Dalam gangguan kita lemah dalam pengambilan keputusan, itulah sebabnya, lebih baik kita mengakui keterbatasan, dan putuskanlah untuk memohon Roh Kudus hadir dan menguasai hidup kita. Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Luk 11:13)


Ciri Khas Tindakan Moral

Tindakan itu diputuskan dengan pertimbangan:

  1. sungguh tau segala resiko dan menanggungnya,
  2. dengan kesadaran sungguh dibuat dengan kehendak baik, dan
  3. dilaksanakan dengan bebas atas keputusannya sendiri, tanpa paksaan orang lain. Pendeknya, tindakan moral - mewujudkan kasih terhadap sesama yang bercirikan keadilan”. 


Sementara keadilan itu bercirikan:
  1. Menghormati martabat manusia, laki-laki dan perempuan, yang sama-sama diciptakan menurut citra Allah. 
  2. Memperjuangkan terwujudnya hak asassi orang lain, terutama orang KLMT agar berkuranglah tindak perampasan hak asasi oleh orang atau kelompok yang lebih kuat. 
  3. Perjuangan hak asasi orang miskin menuntut tindakan solidaritas (memberikan diri untuk berkanjang bersama dalam kesulitan hidup, bahwa hidup itu tidak sendiri melainkan ditanggung bersama)

Kasih Allah itu Trinitaris

Menciptakan dan memelihara hidup (Allah Bapa Sang Pencipta). Mengampuni: memberikan kesempatan orang lain untuk tumbuh dan berkembang, karena itu dibutuhkan “disiplin” untuk berpikir positif (tidak menilai dan menghakimi).

Yesus Sang Putera Allah yang menebus dosa manusia melalui misteri Paska menjadi tanda pengharapan dalam keputusasaan, penderitaan, kekecewaanà Roh Kudus yang diutus Allah untuk menjadi penghibur dan penolong manusia dalam menjalani peziarahan hidupnya di tengah dunia agar terarah demi kemuliaan Tuhan.


Penutup

Inilah yang disebut dengan hidup yang Ekaristis, yakni hidup yang diwarnai dengan inisiatif dan prioritas untuk membangun keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan sehingga Kerajaan Allah sungguh hadir di tengah dunia.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter