Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Menuju Samosir Maju

Menuju Samosir Maju Karena nama grup ini adalah "Menuju Samosir Maju", maka postingan setiap anggota grup hendaknya fokus pada kemajuan Samosir, antara lain menawarkan stragegi terbaik bagi pejabat pubik untuk memajukan pertanian, parawista dan pengembangan budaya, pendidikan, pelestarian lingkungan, dst.

Dalam kaitannya dengan Pilkada (Pilbup) 2020, masyarakat Samosir, khususnya anggota grup ini harus fokus pada stragegi seperti apa yang ditawarkan oleh para calon bupati Samosir.

Kita harus berani keluar dari getho dalam berpolitik, terutama dalam memilih (calon) bupati yang bakal memimpin kemajuan Samosir itu.

Sah-sah saja memilih calon bupat berdasarkan marga / punguan marga / tutur, huta, alumni sekolah, rekan bisnis.. tetapi jauh lebih baik bila tahun depan kita memilih calon bupati secara obyektif: dikenal, disukai dan dipilih.


(1) DIKENAL

Dikenal bukan karena pertama-tama ia pesohor atau artis. Bisa jadi orang yang akan kita pilih adalah orang yang tidak tinggal di Samosir, tetapi asal Samosir. 

Tentu setiap orang punya cara agar ia dikenal, entah lewat prestasi, prestisius, atau bahkan karena kebutuhan pragmatis saja: konteksnya hanya untuk pilbub 2020. Yang jelas, tujuan mereka dikenal masyarakat Samosir tak lebih dari tujuan untuk "memajukan Samosir".

Di titik ini kita harus mampu "membaca" kebutuhan Samosir: pemimpin seperti apa yang sungguh dibutuhkan untuk tujuan "Menuju Samosir Maju" tadi.


(2) DISUKAI 

Seseorang bisa saja disukai karena ia baik, berprestasi, atau malah karena kejahatannya. Persoalannya, dalam rangka memilihi bupati, kita hanya butuh orang yang dikenal baik dan berprestasi, minimal di bidang tertentu.


Biasanya, pensiunan pejabat publik (TNI, ASN), pengusaha, atau tokoh masyarakat lah yang berani menacalonkan diri. Ini mengadaikan bahwa mereka sudah "pernah berhasil" dan keberhasilannya itu telah membantu banyak orang.

Tentu, ini menjadi dasar bagi mereka untuk menjadi pemimpin publik dan berani mengambil tanggung jawab yang lebih besar dibanding di tempat usaha / kerja mereka sebelumnya. Kata Ahok, "menjadi pejabat publik adalah kesempatan yang paling berharga karena punya kesempatan membantu leibih banyak orang".


(3) DIPILIH
Sekali lagi, hanya orang yang kita kenal dan kita sukai yang kita pilih. Itu sebabnya, sebagai orang Batak kita tak pernah dipaksa untuk menikahi pariban kandung kita.

Budaya Batak itu berasaskan demokrasi, dan kita selalu suka berdiskusi. Pada dasarnya kita suka berbicara (dibanding membaca apalagi menulis), entah di rumah (saat datang tamu), di lapo tuak/kopi (sehari-hari), bahkan di ulaon adat yang memang dipenuhi "hata" itu.

Sudah dari sananya kita bangsa yang betah berbicara, bahkan saat bekerja. Kebiasaan ini bahkan menular pada kemampuan orang batak menguasai bidang hukum, terutama di bidang advokat. Ya, begitulah kita menjalani dan menikmati hidup.

Hanya saja, di saat bersamaan kita juga tak menyukai orang yang terlalu banyak bicara daripada berbuat (teal), membual dan membicarakan kelemahan orang lain (late) dan juga menjauhi mereka yang larut dalam iri hati hingga inign menjatuhkan yang lain (elat).

Calon Bupati yang ingin kita pilih adalah calon bupati yang hidupnya tak didominasi late, teal dan elat tadi. Toh kita ingin bupati yang fokus pada kemajuan Samosir, dan tak bukan yang fokus pada kesejahteraan dan kemajuan diri dan keluarganya saja.

Kita ingin bupati yang sedikit mirip (kalau bisa siah sama) seperti Jokowi yang baru saja mengunjungi bona pasogit kita. Ia adalah sosok yang tulus dan fokus pada kemajuan dan keungguhaln SDM Indonesia.

Bupati yang kita inginkan bukanlah raja yang hanya peduli pada orang semaraga, sependeritaan jaman dulu, rekan bisnis atau keluarganya.

Bupati yang kita ingin pilih adalah bupati yang telah "bebas dari dirinya sendiri", yang tak lagi terikat kontrak bisnis/politik dengan keluarga yang mendanai kampanyenya, yang telah bebas dari hasrat untuk memenuhi rengekan istri dan anak-anaknya yang ingin dibagi roti kekuasaan, dan tentu bupati yang memberi dirinya menjadi milik warga Samosir.

Saya percaya, tak hanya mirip Jokowi, lebih dari Jokowi pun ada juga di Samosir. Hanya saja kita tak pernah memberi mereka kesempatan seperti warga Solo memberi kesempatan kepada Jokowi menjadi walikota tanpa money politic.

Harapan kita semua, kalau mau mendapatkan bupati seperti ciri di atas kita harus mengingat kembali alasan mengapa "lebih dari 97% warga Samosir memilih Jokowi tanpa money politic"?

Bisa enggak tahun depan kita memilih calon bupati seperti memilih Jokowi jadi presiden? Pileg 17 April 2019 menjadi bukti betapa harga suara di Samosir sangatlah mahal, begitu juga pada pemilu dan pilbup sebelumya.

Sukses untuk warga Samosir yang tinggal di negeri "satahi saoloan" dan bukan negeri kepingan surga seperti didendangkan. Samosir adalah surga yang sebenarnya, kalau kita ingin membangunnya dengan filosofi "satahi saoloan" itu !


*) Catatan kecil menjelang pilbup 2020
Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter