iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Sabda dan Pengalaman Praktis

Sabda dan Pengalaman Praktis
Antara sabda dan peristiwa terdapat praksis atau pengalaman. Manusia mendapat sabda dari Tuhan dan menjalankannya dan kemudian, perlahan atau cepat menemukan banyak hal yang tak semula diduganya.

Dalam menjalankan sabda itu tak semua kejadian atau kasus sesuia dengan yang kita kehendaki. Misalnya pembantaian, kekerasan dan nafsu, kekuasaan—yang menunjukkan bahwa dunia juga bisa berisi sesuatu yang mengerikan, yang menyedihkan, bahkan menjijikkan kita—ikhwal yang terkadang merupakan tindakan orang yang menyatkan (diri) berasal dari satu sabda dengan kita.

Sabda itu tidak bisa kita hindarkan. Sabda—yang diturunkan kepada manusia—betapa pun akhirnya diterima, dan dilaksanakan oleh manusia sebagai mahluk yang diciptakan dari debu tanah dan sebab itu berada dalam ruang dan waktu (Kejadian 1). 

Di “dunia” itu ia punya darah, daging, selera, tabiat dan entah apa lagi yang tak bisa dielakkannya, walaupun terkadang bisa diatasinya dalam satu tindakan transendensi. Walau begitu, sejauh mana bisa mengatasi, sejauh mana pula kita bisa melakukan kompromi?

Gereja Katolik punya institusi pertapaan, juga biara-biara sebagai salah satu cara melakukan perjuangan melampaui sebagian dari keduniaan manusia. Tapi toh tak semua orang bisa melakukannya, dan tak mungkin pertapaan dan biara menjadi satu-satunya alterntif dalam hidup. Biarbagaimana pun seorang biarawan bisa mengakui: “Kami tak lebih suci ketimbang orang orang awam hanya karena kami datang kemari dan menutup diri di antara tembok.” 

Di antara tembok kokoh biara, penolakan terhadap kompromi memang bukan hanya tanda ke arah kesucian. Dan, penolakan terhadap kmpromi juga suatu tanda kekuatan, sebab keyakinan yang teguh bisa menciptakan keajaiban. Tapi pilihan ini pada sisi lainnya bisa kurang “manusiawi” (humane): “Kami kurang tersentuh oleh kemajemukan dan kejatuhan manusia.”

Sikap seperti itu dengan demikian cenderung untuk tegar mengabaikan rumit dan rapuhnya struktur manusia di-dunia. Bahkan tiap tendensi untuk kompromi dicurigainya sebagai isyarat lembek, semangat, mungkin hianat. 

Tak heran bila karena itu pula dengan gampang tersingkir orang-orang yang disebut “moderat” di antara tembok itu, yakni mereka yang melihat kebajikannya berkompromi karena sadar bahwa posisi kita adalah berada di-dunia-dan-bersama-orang lain. 

Mengapa? Karena moderat itu mungkin akan mengingatkan bahwa bagaimanapun asal kita adalah debu tanah dan karena itu kita harus “mencari” pemaafan; lain dari setan yang terbuat dari api justru “mencari” kesombongan diri.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.