Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Saat Jempolmu Menentukan Arah Hidupmu

Saat Jempolmu Menentukan Arah Hidupmu
Seturut perkembangan media sosial, gaya hidup (life style) orang mulai berubah. Ungkapan "mulutmu adalah harimaumu" sudah digantikan dengan "Jempolmu adalah sergalamu yang siap menerkam siapa saja."

Lihalha, hari-hari seluruh aspek kehidupan seakan cukup hanya ditampilkan dalam cuplikan-cuplikan digital. Sebut saja: damai-perang, baik-buruk, cinta-benci, sahabat-musuh, fakta-gosip, kemesraan-perpisahan, keharmonisan-keterceraiberaian, dst.

Begitu mudah menyulut perang hanya lewat sebuah postingan singkat, editan gambar yang kasar, unggahan video yang bahkan belum ditonton si pengunggah; tetapi serentak betapa mudah kita curiga disaat melihat postingan berisi kebaikan si miskin yang membantu si miskin lain.

Lincahnya jari-jemari memainkan huruf-huruf virtual tak ayal lagi memaksa kita ingin tahu siapa si X sebenarnya. Kita jadi mudah curiga, tetapi juga jadi mudah terharu dan mencintai hal/seseorang yang tak kita tahu/kenal.

Ya, kita mudah curiga, tak hanya pada musuh kita, tetapi juga pada orangtua dan keluarga, bahkan sahabt di masa kecil kita.

Cuplikan-cuplika digital tak ayal lagi telah memporak-porandakan rasa kita. Semua jadi tampil paradoks, hingga jawab "ya" dan "tidak" tak lagi pernah bersindiri.

Seperti beberapa teman pernah bilang, bahkan niat untuk meminta bantuan atau membantu orang swcara diam-diam pun yak ada lagi tempatnya di jaman ini.

Semua serba telanjang. Tak ada tempat bagi rahasia, kecuali di tempat-tempat yang tak terjangkau jejaring internet dan sulit mendapatkan sinyal telepon.

Lantas, apa asyiknya hidup bila semua hal tampak telanjang dan secara pasti kehilangan misterinya?

Faktanya, kemudahan-kemudahan itu selalu subyektif, dan nyatanya tak terbukti memperpanjang umur.

Bukankah orang di jaman ini lebih banyak mati muda daripada mati di usia tua? Bisa jadi Tuhan memang tak menciptakanhidup yang mudah dan serba ada. Tuhan ingin kita mencari dan berupaya menemukan kebahagiaan secara bertahap.

Selamat pagi, para sahabat digital.
Semoga hidup kita lebih berguna dengan content positif ya g kita ketik dan poating di sosial media kita.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

6 komentar

Posting Komentar

Komentar via email ke [email protected]






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter