Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Makna Teologis-Biblis "Sikap Pasrah"

Makna Teologis-Biblis "Sikap Pasrah"
Di jaman sekarang orang enggak gampang percaya, apalagi pasrah kepada sesamanya, termasuk kepada Allah. Ada berbagai alasan yang mendasari sikap ini:
  1. orang yang kita percayai sering kali berhianat, ingkar janji, enggak bisa pegang rahasia. percaya kepada Allah dan orang lain enggak menjamin hidup kita bahagia. Kalau gitu masih perlu enggak percaya dan pasrah kepada Allah dan sesama?

Mengapa Kita Takut Pasrah?

Dalam kehidupan nyata, di era kapitalisme modern ini istilah jaminan menjadi sangat populer dalam dunia bisnis, khususnya dalam pembelian barang dengan sistem kredit. Pada tahap ini istilah jaminan memang mengalami degradasi makna. 

Jaminan dipersempit maknanya menjadi identik dengan jaminan materiil: bikin kartu kredit butuh jaminan, KPR butuh jaminan, ngredit sepeda motor juga butuh jaminan. Dalam situasi semacam ini hidup ditaruh di atas jaminan, garansi. Kenyataannya, jaminan semacam itu malah membuat orang takut, khawatir akan hidupnya. 

Di saat kita mempercayai orang lain, praktis kita minta “jaminan” darinya. Jaminan itu berupa janji untuk tidak mengingkari kepercayaan yang kita minta....”Tolong ya loe jangan omong ke siapa-siapa. Cukup loe aja yang tahu !” Kata-kata ini hendak menunjukkan bahwa yang namanya “percaya” itu tidak mudah, tidak gampang dan butuh bukti. 

Nah, kalau percaya aja susah, apalagi untuk pasrah. Lebih jauh lagi, mengingkari janji berarti mengingkari kepercayaan yang diberikan oleh orang lain kepada kita. So, janji harus ditepati! Bukankah setiap orang membutuhkan jaminan dalam hidupnya, karena jaminan itu membuat orang nyaman, merasa dihargai, dan akhirnya tidak takut untuk percaya kepada sesama. 

Ketidakpercayaan kepada sesama bisa berimbas pada ketidakpercayaan kepada Tuhan. Kalau begitu mengapa sebuah “kepercayaan” harus dibayar dengan sebuah “jaminan”? .


Bunda Maria Pasrah Kepada Kehendak Allah

Bunda Maria juga manusia. Ia pun butuh jaminan dalam hidupnya. Tengok saja ketika ia menerima kabar dari Malaikat Gabriel. Bedanya, jaminan yang ia minta bukan rumah mewah, mobil mentereng. Pendeknya ia tidak minta barang atau materi sebagai jaminan. 

Bunda Maria meyakini satu hal, yakni bahwa Allah sendiri sudah menjamin hidupnya, seluruhnya lho! Tak heran ketika Gabriel, malaikat yang diutus Allah untuk memberikan kabar gembira bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. 

Ia tidak minta jaminan materiil, juga imbalan atas tugas perutusannya itu. Kendati jelas bahwa bapa sang calon bayi yang akan dikandungnya tidak jelas...wong baru bertunangan kok. Memang malaikat Gabriel sudah menegaskan bahwa Maria akan diberkati Allah dan Anak yang dikandungnya akan disebut Anak Allah. Itu sudah cukup bagi Maria. 

Sebagai manusia biasa kita tau bahwa dengan tugas ini, persoalannya berat, pelik, sulit, dan rumit akan menimpa Maria. Bayangkan seorang perawan berumur 15 tahun, belum menikah tapi harus mengandung. 

Pasti kalau di jaman ini kehamilan Maria akan dianggap sebgai perzinahan dan kehamilannya akan dianggap sebagai pernikahan mendadak. Bukankah itu sama saja dengan MBA (marriage by accident). 

Hebatnya lagi, jaminan itu bukan Maria yang minta, melainkan Allah sendiri yang menawarkan, memberikan, dan menjanjikan. Jaminan itu adalah “bayi yang akan dikandung Maria adalah Anak Allah. 

Sebetulnya Maria Bisa aja menolak, tapi anehnya tanpa tedeng aling ia tidak minta jaminan kecuali mengatakan “Saya tidak layak dan tidak pantas untuk tugas itu, tetapi karena Tuhan yang meminta, maka saya terima dengan pasrah. Fiat Voluntas Tua, terjadilah kehendakMu, ya Allah.” Ini berarti Bunda Maria sudah sejak awal tidak meminta jaminan kendati ia membutuhkannya (Luk 1:26-38; cf. Kej 3:9-15; Ef 1:3-6.11-12.).


Refleksi

Ungkapan kepasrahan penuh iman dari Maria memberikan hal yang sangat berharga bagi kita: 
  • arti sebuah pengorbanan di hadapan Allah. Maria masih belia, perawan, belum menikah, tapi kok mau aja diminta mengandung Anak Allah yang nota bene akan menjadi beban sosial dalam hidupnya? Bunda Maria bukannya tidak tahu kalau hal ini akan dipandang sebagai “aib” oleh masyarakat sekitarnya. 
  • arti kepasrahan Bunda Maria sesungguhnya bukan asal terima gitu aja tapi enggak berbuat apa-apa. Sikap pasrah itu harus diikuti usaha, tindakan konkrit. Dengan demikian mengandung bayi Yesus selama 9 (sembilan) bulan tanpa mengalami hal itu sebagai aib merupakan usaha dan tindakan yang benar-benar konkrit dan memiliki nilai yang sangat tinggi dari Bunda Maria. Nilai itu dia perjuangkan dalam intensi (maksud, tujuan): “turut serta dalam karya keselamatan”. 
Akhirnya, sebagai jaminan-nya, Allah mengangkat Maria sebagai Bunda yang terberkati, Bunda Allah, Bunda Yesus, Bunda Juruselamat, dan beberapa gelar kehormatan lainnya. Kiranya tindakan kepasrahan atas jaminan yang diberikan Allah bagainya mampu memberi jawaban di saat orang-orang bertanya “Mengapa harus pasrah?”


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter