Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

Malaikat Pembuka Jalan

Malaikat Pembuka Jalan
Ada orang-orang yang sering kita abaikan saat memasuki tempat-tempat umum. Mereka adalah petugas jaga atau satpam yang membukakan pintu bagi kita. Memasuki bank, unit tertentu di rumah sakit, atau mal dan kantor-kantor, kita akan menjumpai mereka yang digaji dengan sekedar upah kerja paling minimum.

Sebuah ironi tersendiri, karena kesetiaan pengunjung ditentukan oleh keramahan mereka ini, dan bukan oleh atasan mereka yang bekerja di ruangan dalam dengan gaji berpuluh kali lipat lebih besar. Bukankah itu ide sangat sederhana, sekedar 'membukakan pintu' untuk orang lain? 

Tapi tidakkah seharusnya itu adalah bantuan yang sungguh bermakna bagi kita? Sayangnya, kita hanya melewati mereka, membalas dengan senyum pun tidak.

Dalam Perjanjian Lama, malaikat bukanlah sekedar 'penampakan'. Malaikat juga bukan hanya pembuka jalan bagi Tuhan, tapi lebih dahsyat lagi, malaikat 'adalah' Allah sendiri yang hadir. 

Maka orang Israel selalu ketakutan untuk memandang malaikat Tuhan, sebab itu berarti memandang Allah sendiri dan mereka yakin akan mati kalau sampai berani memandang Allah. 

Kalau benar Tuhan pun masih hadir di dalam para malaikat-Nya di zaman ini, sebaliknya, ternyata begitu sedikit manusia yang melihatnya apalagi menghargainya.

Malaikat-malaikat itu ada di mana-mana, berpakaian dan berpenampilan sebagai orang sederhana, berkali-kali membuka jalan bagi Tuhan, tetapi tidak banyak dikenali, dan tidak banyak mengubah hati dan hidup siapapun.

Yohanes Pembaptis memang luar biasa. Sedikit kata-katanya, namun orang-orang "dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem" berdatangan kepadanya, mengaku dosa mereka, dan dibaptis di sungai Yordan! 

Yohanes tidak mempertobatkan orang dengan kata-kata. Ia mengubah hati orang dengan hidupnya sendiri! Semua orang yang melihat cara hidupnya, pendirian dan keyakinannya, tergerak dan berubah sejak saat itu. 

Dia yang mengenal Yesus sejak mereka berdua masih dikandung ibunya masing-masing, hidup semata-mata untuk membukakan jalan bagi Yesus.

Begitu mengesankan hidup Yohanes itu sampai-sampai Yesus menyebutnya yang terbesar di antara yang pernah dilahirkan (Mat 11:11). Namun Yohanes tetap juga melihat dirinya hanya seorang 'portir'. Ia hanya membukakan pintu. Yang datang sesudah dia, adalah Tuhan sendiri. Membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun ia tidak layak. 

Ia tahu persis, siapapun yang datang kepadanya dan mau dibaptis dengan air, akan dimurnikan lagi oleh Yesus dengan api. Dan memang benar, 'api' cinta, belas kasihan, kabar gembira, pengampunan, pengorbanan, salib, dan kebangkitan akan membakar siapapun yang menerima Yesus masuk ke dalam hidupnya.

Tapi sebelum semuanya itu, kita harus punya rasa hormat terhadap para 'malaikat' pembuka jalan di hidup kita. Tahukah kita, kurangnya rasa hormat itu, adalah karena kita menyangka Tuhan selalu datang 'langsung' pada kita?

Tentu saja Tuhan Mahakuasa untuk melakukan hal itu! Tetapi kalau itu terjadi, mungkin sudah terlambat. Kita tidak akan kuat menghadapi Tuhan secara langsung. Itu sebabnya Ia selalu menggunakan orang lain untuk membuka jalan bagi diri-Nya masuk ke dalam hati kita. 

Lalu kita sudah tahu ceritanya ketika kita berkali-kali mengabaikan atau menolak mereka yang sekedar mau membukakan pintu bagi kita.

Yesaya punya bahasa yang sangat figuratif. Ia mengajak kita untuk 'melihat' Tuhan Allah datang, dan Ia datang bersama orang-orang yang dipilih-Nya untuk mempersiapkan jalan yang rata bagi kedatangan-Nya. 

"Lihat, itu Tuhan Allah, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya!" 

Perhatikan. Tuhan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa orang-orang yang dipilih-Nya sendiri dan yang selalu mendahului-Nya untuk membawa perubahan di hati kita.

Apakah kita berubah karena orang-orang ini? Apakah kita menjadi lebih baik, hidup kita makin damai, pikiran kita makin bijaksana, kata-kata kita makin memberkati, 'karena' orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menyapa kita itu?

Mereka ini orang-orang yang riil, senyum mereka tidak palsu, sapaan mereka kita dengar langsung, wajah mereka tidak menipu! Betapa arogan hati kita saat tindakan sederhana orang-orang ini justru kita curigai, kita anggap mengganggu, kita sangka 'udang di balik batu'. 

Mungkin kita terlalu 'pusing' dengan apa maksud mereka menyapa dan menolong kita, sampai-sampai tak mampu melihat dengan jelas bahwa itulah jalan yang dipersiapkan untuk Tuhan.

Kalau kita bermimpi ada perubahan dalam hidup kita, jangan pernah menunggu dunia ini atau orang lain berubah. Kita sendiri harus berubah. Orang lain sudah membukakan pintu bagi kita. Dan begitu banyak orang menawarkan alternatif, kemudahan, kesempatan, dukungan dan doa, semata-mata supaya kita mencoba lagi, bangkit kembali, bersemangat lagi. 

Perhatikanlah, tidak pernah satu hari pun terlewatkan oleh Tuhan untuk mengirimkan para pembuka jalan yang selalu datang bersama-sama dengan-Nya. Apakah kita 'melihat' mereka dan mau berubah karena hidup mereka itu? Amin.

*Bacaan: Yes 40:1-5.9-11; 1Ptr 3:8-14; Mrk 1:1-8


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter