Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

Berjaga dan Tidak Tergesa-gesa

Berjaga dan Tidak Tergesa-gesa
Mereka yang biasa menyopir mobil punya kepekaan tertentu. Mereka tiba-tiba jadi 'awas' terhadap segala kemungkinan, memprediksi setiap kecenderungan orang lain di jalan yang tiap saat bisa melakukan kesalahan.

Kepekaan untuk mengantisipasi sebuah kejadian inilah yang membedakan antara seorang sopir sejati dan 'sopir tembak'. Yang terakhir ini adalah orang yang mungkin tidak punya kepekaan itu, sekedar menjalankan mobil, tahu semua fungsi peralatan kendaraan dan bisa memakainya. 

Tetapi kita semua tahu bahwa keberadaan 'sopir tembak' selalu membahayakan penumpang karena tidak bisa diandalkan kalau situasi lalu lintas menjadi tak terduga.

Para 'sopir tembak' itu senang ngebut, mencari penumpang sebanyak-banyaknya, menjejali kendaraan dengan penumpang. Tapi karena ngebut, mereka tidak lagi memperhatikan hal-hal yang lebih penting, yaitu keselamatan penumpang, kestabilan kendaraan, apalagi keamanan orang lain di sekitarnya. Maka, ada ungkapan 'kejar setoran' itu. 

Semuanya serba cepat-cepat, demi setoran dan juga upah besar. Sayangnya, di dalam gereja pun ada mentalitas seperti ini, mau cepat-cepat dan bergegas dalam segala hal, dan kita mulai melewati hal-hal yang penting dalam perjalanan iman kita itu. Yang seharusnya kita perhatikan, kita resapkan perlahan-lahan pada waktunya, terlewati.

Sampai empat kali Yesus menyebutkan kata "berjaga-jaga" dalam Injil hari ini yang hanya terdiri atas lima ayat itu. Kita ingat bahwa pengulangan-pengulangan Yesus dalam Injil itu 'selalu' berarti sesuatu yang sangat serius. 

Sesuatu itu sangat bisa jadi ialah apa yang selama ini kita lewati, kita anggap sudah biasa dan sehari-hari. Bagaimana kalau sebagian besar problem hidup kita itu berakar dari hal-hal buruk yang sudah kita anggap biasa juga? 

Bagaimana kalau kelemahan, kelalaian, sikap keras kepala, kemalasan, kekerasan, dan dosa, pun kita anggap 'biasa'? Tidak ada yang membahayakan begitu banyak orang daripada seseorang yang tertidur ketika seharusnya berjaga.

Gambaran tentang seorang penunggu pintu yang berjaga-jaga itu menunjukkan seseorang yang mau supaya tugas jaganya cepat selesai. Bisa saja ia bosan karena tuan rumah tak kunjung pulang. 

Tetapi di sisi lain ia juga seseorang yang 'tidak sabaran', ingin supaya lekas pagi dan tugasnya pun beres. Dan orang yang tertidur saat harusnya berjaga ialah orang yang tidak setia memperhatikan apa yang 'saat ini' sedang terjadi. Ia hanya membayangkan tugasnya sudah selesai.

Apakah kita punya sedikit ketenangan dalam hidup kita? Dari satu kejadian ke kejadian yang lain, pikiran kita seringkali sudah lari beberapa jam ke depan! Di saat kita sedang melakukan sesuatu, kita sudah cemas akan rencana kita nanti, atau besok, atau bahkan tahun depan. 

Saat waktu itu bergerak lambat, kita mau cepat-cepat. Saat waktu terasa cepat berlalu, kita terpontang-panting mengikutinya dan kelelahan. Apakah kita masih 'punya waktu'? 

Jangan-jangan kita hampir selalu tergesa-gesa melakukan apapun, dan akibatnya, kita kehilangan banyak hal yang indah dan menyenangkan di sepanjang jalan.Yesaya dalam bacaan I menggambarkan bagaimana Tuhan seakan-akan 'membiarkan' kita sesat dari jalan-Nya. 

Seakan-akan kita dibiarkan jalan terus padahal Tuhan menghendaki kita berbelok atau bahkan berhenti sejenak. Dan ketika ternyata jalan yang kita ambil itu buntu, kita baru sadar dan kesal karena merasa tidak diingatkan sebelumnya. 

Apakah benar tidak diingatkan? Nanti dulu. Banyak peringatan di sepanjang jalan tadi, tapi kita tidak melihatnya karena terlalu yakin dengan rencana kita sendiri, karena kita 'ngebut'.

Masa Adven adalah sebuah peringatan untuk mengganti gigi kendaraan kita. Mungkin kita perlu menurunkan kecepatan. Mungkin harus mencoba untuk lebih tenang menjalani apapun yang kita lakukan sekarang ini. Dengan begitu, kita akan sempat memperhatikan orang-orang yang terlibat di dalam segala peristiwa itu. 

Kejadian yang semula biasa dan sehari-hari, akan menjadi peristiwa yang luar biasa dan mungkin mengubah diri kita. Orang-orang yang terlalu sering kita 'lewati' karena kita ngebut, ternyata sedang berbicara dengan kita, sedang menawarkan banyak hal yang sebetulnya kita cari-cari sendiri selama ini dengan membabi buta. 

Kata-kata "Hati-Hati", "Awas", "Pelan-Pelan", "Perhatikan jalan", sekarang menjadi tafsiran atas kata-kata Yesus "Berjaga-jagalah" itu.

Jadi, kalau kita mau cepat-cepat dalam banyak hal, mungkin kita mau menghindari sesuatu, atau menutupi sesuatu yang akan kelihatan dan ketahuan di saat kita berjalan lebih pelan. Mari kita lihat betapa banyak kebiasaan buruk yang akhir-akhir ini kita anggap sudah biasa, kita anggap tidak ada dengan 'tertidur'. 

Kalau Yesus mengingatkan berkali-kali supaya kita 'berjaga', maka itu pasti peringatan yang keras untuk hidup kita saat ini.

Apakah kita juga mau mengejar 'setoran' tapi dengan mengorbankan orang-orang yang seharusnya kita perhatikan di sekeliling kita?

Semoga kita masih 'punya waktu' untuk berjaga, untuk 'awas' dengan keadaaan di sekitar kita. Jangan tergesa-gesa, supaya pesan-pesan penting Tuhan jangan sampai terlewati. Amin.

*Bacaan: Yes 63:16b-17, 64:1.3b-8; 1Kor 1:3-9; Mrk 13:33-37


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter