Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

Sedikit Saja Harus Disyukuri

Sedikit Saja Harus Disyukuri
Penolakan, pasti sangat mengecilkan hati. Kadang yang ditolak bukan keinginan kita, tapi hasil perjuangan kita. Apalagi, kalau bukan hanya satu kali. Terlalu sering gagal bisa membuat kita kita takut, kecil hati, malas.

Kalau mau mematikan kreativitas seseorang, tolaklah idenya. Cukup dengan kata-kata yang baik dan sopan. Seperti apa rasanya saat aplikasi kerja kita ditolak dengan kata-kata manis? "Dengan sangat menyesal kami beritahukan bahwa bakat Anda belum memenuhi tuntutan perusahaan kami." Sopan, tapi tetap menyakitkan.

Akhirnya, kita sering berkomentar, bahwa di dunia ini ada orang yang terus-terusan 'hoki', dan lebih banyak lagi yang terus-terusan 'sial'. Ada yang selalu berhasil dalam usahanya, tapi banyak yang selalu rugi. 

Ada yang cepat punya gelar di usia muda, tapi banyak yang 'sampai berkarat' pun tak kunjung lulus. Ada yang cepat kaya, kariernya melejit, tiba-tiba terkenal, tapi lebih banyak lagi yang hidupnya sangat pas-pasan, tak pernah dapat jabatan, dan seperti 'bukan siapa-siapa'. 

Sungguh, kita ini sudah jatuh dalam penilaian dunia yang sangat mengecilkan hati, merendahkan upaya kita yang merasa diri 'tak punya banyak bakat'. Dunia yang menyedihkan, hanya menguntungkan segelintir orang yang dianggap 'hoki' karena pandai atau kaya.

Perumpamaan Yesus hari ini, seperti kurang menyemangati. Tentu saja, Yesus bicara tentang keberanian menggandakan talenta, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun soalnya agak sulit dipahami ketika 'hukuman' dan 'kertak gigi' ditimpakan pada hamba yang menerima satu talenta itu, hamba yang ketakutan dan menyembunyikan talentanya. 

Mengapa orang yang 'susah' malah dicampakkan dalam kegelapan? Mengapa tidak ada belas kasihan dan 'kesempatan kedua'? Kita tidak bisa menyembunyikan rasa gundah ketika mendengar perumpamaan ini. Apakah hamba itu memang 'sejahat' itu?

Mari kita lihat segala sesuatu sebagai 'pemberian'. Dalam hal pemberian, mau tak mau kita suka 'melirik' teman-teman kita, berapa banyak yang mereka terima dibandingkan yang kita terima sendiri. 

Nah, kita menerima sesuatu, dan betapa sering yang kita lihat bukan apa yang kita terima, tapi yang diterima oleh orang lain! Lalu kita mulai 'menilai' si pemberi. Karena kita menerima sedikit, kita merasa bahwa si pemberi itu pelit, pilih kasih, dan kejam. 

Perhatikan kata-kata itu: "Aku tahu tuan adalah manusia kejam, yang menuai di tempat tuan tidak menabur, dan memungut di tempat tuan tidak menanam!"

Iri hati? Bukan hanya itu! Ini mentalitas orang yang tidak pernah bisa bersyukur atas apapun yang diterimanya! Berat mulut untuk sekedar mengatakan 'terima kasih', cepat menghakimi dan menilai buruk orang lain, dan, yang lebih jahat lagi, menganggap Tuhan itu tidak adil. 

Orang demikian tidak akan mampu melihat kebaikan dalam hidupnya, tidak percaya bahwa Roh Kudus, Roh Allah, ada di dunia ini. Kita sangka ini berlebihan? Tidak. Hidup kita yang semata-mata 'pemberian' ini, hanya diukur dengan rasa syukur, ungkapan 'terima kasih'!

Dan hanya orang yang bisa mengucapkan 'terima kasih' dalam segala kekurangannya disebut 'beriman'. Orang yang demikian, yang beriman, tidak suka 'melirik' apa yang orang lain terima, melainkan bertanggung jawab dengan penuh cinta apa yang diterimanya setiap hari. 

Hidupnya tidak membanding-bandingkan, melainkan bangga dan bersyukur atas apapun yang masih bisa dilakukan dan diupayakannya. Ia tidak tergantung pada penilaian, atau penolakan orang lain; ia berjuang dan kreatif sebisa mungkin! Ia tidak mau diam meratapi 'nasib'.

Gambaran seorang istri yang "senang bekerja dengan tangannya" di Kitab Amsal merujuk pada seorang beriman yang benar-benar bersyukur karena diberi tangan yang terampil untuk bekerja. 

Ia sungguh-sungguh tak bisa diam, mengerjakan apa saja, dan semuanya itu dengan senang hati, dengan tertawa, berkata-kata hikmat, dan membahagiakan semua orang di rumahnya (kalau kita baca seluruh ayat 10-31). Berapakah talenta yang diterimanya dari Tuhan? Bukan lima.

Bukan dua. Hanya satu, dirinya sendiri apa adanya. Dan itu pun 'lebih dari cukup' untuk menghasilkan begitu banyak buah yang baik!

Semoga kita menangkap sisi lain perumpamaan Yesus tadi. Semua yang ada pada kita sekarang ini, adalah 'pemberian'. Di sana, tidak ada banyak atau sedikit, tidak ada 5 atau 1 talenta, tidak ada pandai atau bodoh, tidak ada kaya atau miskin. 

Sungguh, ada sesuatu yang harus kita lepaskan dari pikiran kita, sesuatu yang meracuni dan membunuh kita perlahan-lahan, yakni 'mentalitas mengeluh'! Kita terlalu banyak mengeluh atas pemberian Tuhan yang kita katakan sedikit, tidak cukup, terlalu pas-pasan, dan ala kadarnya.

Sungguh tidak sopan mengomentari sebuah pemberian 'tidak sesuai harapan'.Demi Tuhan yang Mahamurah, ini pemberian!

Kalau kita mau tahu seperti apa bersyukur, mulailah dengan berhenti mengeluh. Kalau kita sudah belajar berterima kasih untuk 'apa saja' yang kita terima, tidak ada apapun yang akan mengecilkan hati kita, sekalipun itu penolakan dan penilaian orang lain. 

Kita masih punya otak, mata, telinga, tangan, kaki. Itu sudah lebih dari cukup untuk tetap bekerja dengan senang, dengan hikmat dan tertawa. Amin.

*Bacaan: Ams 31:10-13.19-20.30-31; 1Tes 5:1-6; Mat 25:14-30


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email j[email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter