Ad Unit (Iklan) BIG

Tuhan, Ajari Kami Mencinta

Tuhan, Ajari Kami Mencinta
'Mencintai' itu sulit? Anak-anak muda yang sedang pacaran pasti tidak setuju. Mencintai itu menyenangkan, mengharu-biru, memabukkan.

Tanyakan pada mereka yang sudah berkeluarga, apalagi yang sudah bertahun-tahun menjalaninya, dan jawabannya akan berbeda. Tanyakan pada orang-orang yang pernah mengalami trauma dalam hidupnya, maka akan dijawab, bukan hanya sulit; hampir tak mungkin. 

Percayalah, sementara orang sudah tidak berani mencintai lagi, takut mendengar kata-kata cinta, benci terhadap orang lain yang sedang jatuh cinta, muak dengan ungkapan sayang dan afeksi dari orang lain.

Alasan bagi mereka yang terakhir ini bukan mengada-ada. Berkali-kali 'ungkapan cinta' itu menjadi salah sama sekali. Orang yang ditolak cintanya, misalnya, cenderung melukai diri sendiri atau orang lain, larut dalam kesedihannya atau memaksa orang lain. Orang yang sudah berkeluarga dan mulai merasa 'bosan' kini mencari-cari kesalahan pasangannya. 

Semakin kita dekat dengan seseorang, semakin curiga, cemburu, dan sulit percaya kita terhadapnya. Semakin sayang pada seseorang, kita pun semakin sering mengecek ke mana ia pergi, dengan siapa, siapa yang diteleponnya, seperti apa 'bahasa'nya kepada orang lain, dst. 

Kita merasa yakin, selalu bisa mencintai Tuhan dalam doa dan hidup rohani, tapi makin putus asa dalam hal mencintai orang lain.

Yesus menghadapi orang-orang yang banyak 'gagal' dalam mencintai sesama. Ia tidak meragukan cinta orang-orang Farisi, Saduki, dan ahli Taurat itu terhadap Tuhan. Mereka ini patut diacungi jempol dalam hal mengikuti hukum Tuhan, mempersembahkan korban dan doa-doa sepanjang hari. 

Cinta mereka kepada Tuhan adalah nomor satu di kalangan orang Israel. Itu sebabnya mereka bertanya kepada Yesus, 'hukum manakah yang paling utama'. Mereka sudah tahu, dan sudah merasa nomor satu dalam hal itu. Yang tidak pernah mereka duga ialah, bahwa Yesus menunjukkan hukum kedua "yang sama dengan itu"!

Jadi, yang mengejutkan bukanlah kedua perintah yang disampaikan Yesus itu. Keduanya berasal dari Kitab Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18. Yang mengejutkan ialah bahwa Yesus mengatakan keduanya 'sama', tak terpisahkan, saling mengandaikan. 

Tentu saja ini sebuah tusukan di hati mereka yang merasa 'cukup' mencintai Allah dengan berdoa dan mempersembahkan korban saja. Ini tusukan atas diri mereka yang merasa yakin sudah berhasil mencintai sesama seperti diri sendiri. Kita pikir, mencintai itu mudah. Kita pikir, cara kita sudah benar.

Tidak satupun kata-kata Yesus mengatakan supaya kita mencintai dengan cara 'meminta', mencari tahu, menunggu respons orang lain, menyelidiki hidup mereka, mengecek keberadaan mereka, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencintai mereka. 

Hukum cinta kasih yang kita dengar hari ini menunjukkan betapa mencintai itu hanya 'satu arah', dengan segenap hati, jiwa, dan budi kita! Artinya, kita tidak berhak apapun atas hati, jiwa, dan budi orang lain. Kita tidak bisa mengatur, memaksa bagaimana orang lain harus merespons cinta kita.

Dan di situlah letak kegagalan kita mencintai. Seorang suami memukuli istrinya sendiri. Seorang ibu menyiksa anak kandungnya sendiri. Seorang anak menyebarkan cerita buruk tentang ayahnya sendiri. Seorang tetangga suka mengamat-amati dan membuat gosip tentang penghuni rumah sebelah. Seseorang justru senang kalau memergoki kelemahan dan kesalahan temannya sendiri. 

Dari semuanya, yang adalah kenyataan di sekitar kita ini, mengapa begitu sulit untuk mencintai orang lain? Mengapa kita tidak bisa hidup dengan tenang, mengasihi saudara kita dengan tenang? Mungkin kita gagal karena tidak tahu, bahwa 'cara' mengasihi sesama itu mestinya sama dengan cara Allah mencintai.

Sebuah frase terakhir dari bacaan pertama (Kitab Keluaran), menggambarkan bagaimana seharusnya kita mencintai: "...sebab Aku ini pengasih." Allah, yang digambarkan di sana, ialah Allah yang selalu siap membela orang-orang tertindas dan lemah. 

Ia akan segera bangkit, bahkan dengan murka-Nya, untuk membela mereka yang tidak kita kasihi dengan adil. Ia menyebut diri-Nya sendiri 'Pengasih' karena melindungi yang lemah dan kalah. Kasih-Nya adalah "membela serta meindungi yang lemah"! 

Betapa terbalik pikiran kita tentang mengasihi selama ini. Kita pikir mengasihi itu menguasai, mengontrol dan mengatur hidup orang lain supaya 'sesuai' dengan kemauan kita. Mengasihi, mencintai, itu melindungi, membela, berjuang demi.

Sekarang harusnya ada rasa malu dalam diri kita sendiri. Kedua hukum Cinta Kasih yang dikatakan Yesus hari ini, jangan dianggap enteng. Kita tidak mau terlalu yakin bahwa setiap hari kita sudah 'cukup' mencintai. 

Tidak pernah ada kata cukup dalam hal mencintai. Kita tahu bahwa menyediakan makanan dan pakaian untuk anak-anak kita pun tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kita sudah mencintai mereka. Memberi hadiah, menelepon, mengantar-jemput, memeluk, mengucapkan 'sayang' kepada seseorang pun tak pernah cukup.

Soalnya ialah, apakah kita 'membela' mereka yang kita cintai? Apakah kita 'melindungi' mereka, juga terhadap nafsu kita sendiri, terhadap keinginan kita menguasai hidup mereka? Mari kita berdoa setiap hari: "Tuhan, ajarilah kami mencintai, seperti Engkau." Amin.

*Bacaan: Kel 22:21-27; 1Tes 1:5c-10; Mat 22:34-40


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter