-->

Ad Unit (Iklan) BIG

Perekrutan Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes

Posting Komentar
Matius 4:18:22 mengisahkan tentang pertemuana Yesus dengan empat orang nelayan, yang merupakan calon murid Yesus. Mereka adalah Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Kisah ini juga dapat ditemui dalam Mrk 1:16-20; Luk 5:1-11)

Bila rabbi Yahudi mengharapkan agar pengikutnya mencari mereka, hidup secara pasif sebagai murid untuk kemudian menjadi juga menjadi rabbi, sama seperti guru mereka atau mungkin lebih hebat dari guru mereka, maka Yesus justru menerapkan model yang sebaliknya.

Yesus mengambil inisiatif untuk memilih murid-muridNya. Ia tak membiarkan murid-muridNya hidup secara pasif. Ia justru mengharapkan agar mereka mendampingiNya berkeliling Palestina dan menjadi bagian dari tim yang akan mengubah dunia.

Untuk menjadi pengikut Yesus, mereka harus meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan tugas mereka. Mereka juga diharapkan untuk membawa orang lain menjadi murid-murid, sama seperti mereka.

Yesus juga mengutamakan kualifikasi yang samasekali berbeda dengan apa yang diterapkan para rabbi Yahudi. Kualifikasi Petrus dkk, misalnya hampir pasti tidak mengesankan. Mereka hanyalah nelayan yang saban hari menangkap ikan.

Mereka tidak pernah masuk ke sekolah Alkitab. Bahkan sangat mungkin pengetahuan Alkitab mereka tidak lebih dari pada orang-orang lain. Memang mereka ini orang-orang baik, jujur dan pekerja keras. Namun tidak lebih dari itu. 

Anehnya, Yesus menuntut mereka untuk meninggalkan:

1.  Usaha kecil mereka sebagai nelayan.
  • Pada zaman itu, usaha perikanan di danau Galilea, salah satu tempat perikanan yang paling baik dalam kerajaan Romawi, adalah pekerjaan keras dan menghasilkan banyak. Artinya, Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes adalah orang-orang sibuk ketika Tuhan memanggil mereka.
  • Usaha mereka tergantung pada campur tangan mereka secara pribadi dalam usaha tsb. Anda yang sudah pernah bekerja untuk diri sendiri tahu banyaknya waktu dan tenaga yang dibutuhkan.
  • Sepertinya Yesus menuntut terlalu banyak dari orang-orang yang sudah sibuk luar biasa ini.
2. Ketergantunan banyak orang kepada mereka 
  • Petrus memiliki istri, bahkan mungkin anak-anak. Perjanjian Baru memberitahukan kita mengenai ibu-mertua Petrus yang tinggal bersama dengan dia. 
  • Yakobus dan Yohanes berkerja untuk ayah mereka, Zebedeus, yang usianya semakin lanjut dan makin bergantung pada anak-anaknya. Di zaman sebelum ada jaminan hari tua, Yakobus dan Yohanes ini adalah Social Security and Medicare bagi Zebedeus. Bagi anak-anaknya, memelihara dan merawat orangtua mereka yang berusia lanjut adalah suatu kewajiban dan sukacita.
  • Pendek kata, bagi keempat calon murid ini terdapat orang-orang yang tergantung pada mereka. Bukankah orang-orang yang sudah berkeluarga tidak boleh diharap untuk memikul beban hingga mengorbankan keluarga mereka?
3. Unsur-unsur kepribadian mereka yang mengganggu 
  • Yakobus dan Yohanes adalah dua sosok pemarah, sehingga mereka digelari “anak-anak guntur.” Bisa jadi kata-kata yang akan mereka pakai saat frustrasi karena ikan kurang mungkin tidak pantas bagi seorang murid Tuhan Yesus.
  • Begitu juga Petrus yang dikenal sebagai orang yang buru-buru dan tidak konsisten. Dia termasuk orang yang tidak bisa menjadi mulutnya, hingga ia sering mendapat masalah. Orang-orang yang mengenal Petrus akan mengatakan bahwa dia terlalu kurang berdisiplin untuk menjadi seorang murid.
Namun, Yesus seakan tidak peduli dengan latarbelakang keempat calon muridNya itu. Ia memanggil keempatnya dan berkata, ”Mari, ikutlah Aku!" 

Benar saja, keempatnya taat dan mengikuti Yesus. Mereka meninggalkan jala, perahu dan keluarga mereka, dan menjadi “penjala-penjala jutaan manusia”. Apa yang Yesus lihat dalam diri mereka yang tidak kita lihat?


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter