Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

Wabah dan Kemiskinan Gereja

Wabah dan Kemiskinan Gereja
Ilustrasi: Katedral St. John Divide di Manhattan
Wabah Korona yang berkepanjangan telah memiskinkan banyak negara. Presiden Duterte pernah mengatakan bahwa ia sudah angkat tangan mengatasi Korona untuk masyarakat Filipina, karena negara sudah tidak memiliki dana.

Tampaknya Indonesia juga sudah melonggarkan PSBB dan memberi peluang umur 45 tahun kebawah untuk aktif kembali bekerja. Tentu dengan catatan tetap menjaga jarak dst. Tujuannya agar negara tidak segera bangkrut.

Hampir semua negara mengalami hal yang sama, termasuk warganya tak terpapar Korona. Beberapa negara maju di Eropa, seperti Italia, Perancis, Jerman, Spanyol, Denmark, Rusia, juga China yang tadinya menerapkan Lockdown, kini, secara perlahan sudah membuka diri bagi aktivitias perekonomian.

Amerika Serikat (AS) malah seakan tak peduli dengan wabah ini. Presiden Donald Trump justru lebih berfokus pada pengembangan ekonomi daripada keselamatan warganya. Belum lagi, atas nama kebebasan, warga AS lebih suka beraktivitas di luar rumah daripada mengisolasi diri di rumah. Hanya saja, beberapa negara bagian (Negara Federal) tetap tetap menerapkan lockdown atau penutupan secara terbatas. 

Setelah melewati 3-4 bulan hidup dalam bayang-bayang pandemi Covid-19, kondisi ekonomi global terperosok ke jurang paling dalam. "Ekonomi" dan "kesehatan" kini saling berhadapan dan harus Anda pilih: mau mati atau mau tetap seha?

Kalau negara terkena imbas ekonomi, maka agama juga akan mengalami hal yang sama. Gereja Katolik, misalnya selama ini sudah terbiasa "mudah" mendapat uang, kini malah mengalami sedang kesulitan, dan mungkin saja akan bangkrut.

Saya baca di situs Catholic Herald yang memuat sebuah tulisan tentang kebangkrutan Gereja Katolik di AS yagn sudah semakin terlihat. Dalam tulisan ini disebut betapa Keuskupan-keuskupan di AS mulai kesulitan membayar uang saku bulanan para pastor, biaya perawatan gedung (gereja, pastoran, rumah retret, sekolah, dll.) yang tak sedikit jumlahnya.

Arinya, kejatuhan ekonomi global berdampaknya secara dramatis pada Gereja. Sedemikian parah dampak itu, sehingga Gereja-gereja di AS sudah mulai membuka Misa Mingguan di keuskupan-keuskupan di Amerika, meskipun terbatas untuk sejumlah kecil umat. Tak hanya itu, sekolah dan universitas Katolik juga rencananya akan mulai dbuka kembali pada musim gugur nanti. Walaupun rencana ini masih diperdebatkan di kalangan umat Katolik.

Saat ini, beberapa keuskupan di AS sedang berupaya mencari cara efektif untuk terus mengumpulkan uang, mengingat krisis uang tunai sudah mulai terjadi. Bila sebelum pandemi sebagian besar Paroki punya pendapatan yang dapat diprediksi, yakni bersumber dari kolekte mingguan dari umat, kontribusi tambahan untuk biaya operasional dari dana abadi, dan harta warisan yang masih tersisa. 

Sementara proyek-proyek khusus, seperti konstruksi atau renovasi gedung, biasanya didanai oleh donatur andalan, atau melalui pinjaman lunak dari bank. Belum lagi, pada masa-masa biasa, umat Katolik umumnya terkenal dengan kemurahan hatinya untuk menyediakan makan para pastor, dan secara rutin berdonasi rata-rata $ 10 setiap minggunya untuk Paroki.

Dari $10 itulah Paroki biasanya membayar imam dan personal awam mereka, termasuk biaya asuransi dan pensiun, mendanai pendidikan agama dan pelayanan lainnya, memelihara gedung-gedung tua, dan subsidi operasi sekolah.

Sementara dari pendapatan Kolekte, Paroki juga berbagi pendapatan mereka kepada keuskupan mereka, dalam bentuk pajak tahunan. Meskipun pajak ini bukan tolok ukur penilaian langsung, dan jumlahnya juga cukup fleksibel.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak Paroki yang telah melakukan upaya untuk meningkatkan pendapatan online. Kendati jumlahnya kecil, tetapi sumbangan pendapatan ini rada bisa diprediksi. Sebut saja toko rohani online, website, dst.

*****

Di atas semua itu, akibat pandemi ini, hampir semua Paroki di AS terkena dampak yang signifikan secara ekonomi. Akibat lebih lanjut, Paroki-paroki mulai berpikir untuk memberhentikan karyawannya. 

Bagaimana tidak, terdapat dengan rata-rata 40.000 profesional pelayanan awam yang berkarya di sekitar 17.000 paroki di Keuskupan-keuskupan di AS. 

Untuk menghindari terjadinya PHK besar-besaran, beberapa uskup dan pastor mencoba meminta bantuan gaji dari negara Federal. Sayangnya, dana di beberapa Negara federal malah sudah habis, hingga mereka tak kebagian.

Pasar saham memang tak berdampak langsung pada Paroki-paroki, namun tingkat pengangguran secara umum, termasuk umat Katolik akan berdampak secara signifikan. Untuk itu,  beberapa Paroki berupaya mengutamakan gaji karyawan daripada pemeliharaan gedung yang justru semakin mahal setelah pandemi.Walaupun ini bukan tanpa resiko.

Artinya, kalau ada atap gereja yang bocor, maka paroki akan meminta bantuan keuskupan. Tapi, bukankah Keuskupan mereka juga lagi seret dana?

*****
Kini, banyak Keuskupan di AS yang berupa mencari cara untuk menyediakan dana bantuan darurat kepada Paroki dengan kebutuhan mendesak, seperti pemeliharaan darurat, penggajian, tetapi juga pembayaran pinjaman untuk pinjaman konstruksi dari luar yang sedang berjalan.

Sayangnya, hibah uang tunai yang selama ini menjadi dana cadangan Keuskupan, kini malah sudah tidak mencukupi di banyak tempat. 

Padahal mereka harus mengantisipasi pengurangan pendapatan yang signifikan pada saat ini dan mengantisipasi tahun berikutnya. Selama ini, Keuskupan didanai melalui pajak Paroki, disamping pendapatan dari portofolio investasi, kepemilikan real estate, yayasan pendidikan dan dana abadi, dan sumbangan-sumbangan lain.

*****

Maka langkah populer yang bisa diambil adalah mengurangi beberapa kegiatan yang telah dirancang untuk waktu mendatang, melakukan PHK dan cuti karyawan secara bertahap, menutup koran Keuskupan, pengurangan uang saku imam, dan membagikan biaya perawatan kesehatan para imam kepada karyawan keuskupan yang lebih membutuhkan.
Andai saja pandemi ini berlangsung lama dan kegiatan pelayanan masih harus dihentikan, maka harus ada langkah-langkah lain yang harus dipilih: 

Pertama, penghentikan semua proyek renovasi atau konstruksi baru di keuskupan atau Paroki, menjual properti, mengabaikan kewajiban jangka panjang seperti rencana pensiun imam, dst. Hasil pengurangan di atas dimaksud hanya untuk sementara, karena ketika kondisi membaik, mereka tetap harus dibayar.

Kedua, selama ini beberapa Keuskupan menjalankan koperasi simpan-pinjam kecil (di Indonesia misalnya ada CU), di mana mereka dapat menyimpan simpanan nasabahnya dan mendapat bunga. Nah, kalau biasanya uang tunai dipinjamkan ke paroki-paroki untuk konstruksi atau renovasi, atau nasabah yang membutuhkan, maka saat ini keuskupan berupaya menarik cadangan uang tunai mereka, dan menghentikan pinjaman. 

Memang langkah ini bukan tanpa resiko. Sebab menghentikan pinjaman mengalami berdampak pada:
  • kesulitan membayar bunga deposito, dan akan lebih kecil kemungkinan Keuskupan atau Paroki untuk untuk menambah deposito mereka di bank.
  • Bunga tabungan dan pinjaman nirlaba kemungkinan akan mengering, sementara proyek-proyek paroki di masa depan akan membutuhkan pinjaman bank dengan tingkat bunga yang jauh lebih tinggi, dan pasti dengan persyaratan yang lebih keras. Hanya akan ada lebih sedikit dari proyek-proyek yang diizinkan.
*****

Selama ini proyek-proyek besar yang dikoordinir di tingkat Keuskupan sebagian besar didanai melalui hibah dan sumbangan dari para donor utama. Kini, semasa pandemi, para donor telah kehilangan sebagian besar kekayaan mereka di tengah gejolak pasar saat ini. Hilangnya manfaat dari sumbangan ini akan berdampak pada:
  • dana beasiswa sekolah, 
  • pengembangan seminari, 
  • pelayanan kepada orang miskin, 
  • dana pensiun karyawan, dan 
  • kewajiban konstruksi yang masih kurang dari beberapa dekade sebelumnya.
Memang tidak semua keuskupan di AS yang terkena dampak yang sama. Hanya saja beberapa Keuskupan sudah mulai mengumumkan PHK dengan posisi keuangan yang mengkhawatirkan. Memelihara properti akan menjadi lebih sulit bagi Gereja, dan memenuhi utang serta kewajiban jangka panjang lainnya juga akan menjadi tantangan.

Kemerosotan ekonomi kemungkinan meramalkan kebangkrutan yang lebih di berbagai Keuskupan, sehingga penutupan dan penjualan properti paroki dan keuskupan harus dilakukan, para imam yang hidup lebih miskin secara finansial, dan jumlah staf pelayanan yang jauh lebih kecil di setiap tingkat.

Apa dampak yang signifikan?
  • Sebagian orang yang selama ini menjadi pelayan Paroki akan kehilangan mata pencaharian. Bisa jadi ini menjadi momentum bagi para imam untuk kembali pada kaul kemiskinannya dan kembali mendalami makna pelayanan Gereja.
  • Gereja tak mungkin tega meminta bantuan dari umatnya yang juga sedang jatuh dalam kehancuran secara ekonomi. Inilah saatnya bagi Gereja untuk kembali pada eksistensi rohaninya: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat. 11:29-30)
  • Beberapa umat akan merasa senang melihat pusat-pusat spiritual (rumah retret) dan sekolah tutup, agar gereja terhindar dari bisnis-bisnis megah yang tak perlu
  • Sebagian besar umat yang selama ini mengkritik kecenderungan Gereja yang sangat kental dengan bisnis dan birokrasi yang kaku akan merasa lega. Saat ini sangat tepat dijadikan oleh para uskup, imam dan para pelayan lain, sebagai kesempatan penting bagi Gereja untuk berefleksi: "Saya melayani Kristus dan Umat Allah, atau demi melayani demi investasi bisnis tertentu?"
  • Saat ini Gereja Katolik membutuhkan cara baru dalam menjalani kehidupannya, seperti pola hidup kaum borjuis dengan tampilan birokratnya. Kini saatnya Gereja kembali pada semangat Gereja Perdana dengan 'roh' martiria, diakonia, koinonia, kerygma, dan liturgia-nya.
  • Saat Gereja Katolik di AS merasa lebih miskin, maka inilah saatnya bagi para uskup dan para imam untuk menyadari bahwa ada yang lebih miskin dari mereka, terutama umatnya yang sedang menderita.
Bagaimana dengan keuskupan dan paroki Anda? Mungkin tak kena dampak ekonomi dari wabah Covid-19 ini, karena masih punya banyak bisnis seperti kebun sawit yang luas, pom bensin, yayasan pendidikan dan rumah sakit yang supermahal, dst.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter