-->

Ad Unit (Iklan) BIG

e-Homang

Posting Komentar
e-Homang
Di Brasil ada legenda kuno tentang seekor kambing pengisap (darah) kambing. Mereka menyebut mahluk gaib ini dengan Chupacabra [baca: tʃupaˈkaβɾas], dari kata Spanyol chupar  (mengisap) dan cabra (kambing).

Penampakan pertama Chupacabra dilaporkan terjadi pada awal tahun 1995 di Puerto Rico, menyusul Meksiko, Amerika Serikat, hingga Chili (sumber). Di negara-negara itu Chupacabra dilaporkan menyerang dan mengisap darah ternak, terutama kambing. Diperkirakan makhluk ini seukuran beruang kecil. 

Chupacabra adalah binatang kriptid legendaris yang dikabarkan menghuni sebagian wilayah Benua Amerika. Kata kriptid berasal dari bahasa Yunani: κρύπτω— krypto = sembunyi. 

Jadi, binatang kriptid adalah makhluk atau tanaman yang konon ada namun tidak diketahui oleh konsensus ilmiah dan seringkali sangat sulit dipercaya. Istiliah lain untuk kriptid adalah UMA (Unidentified Mysterious Animals) alias Hewan Aneh Misterius. Ahli biologi  menganggap makhluk ini hanyalah makhluk legenda.

Nah, kalau di Brasil ada chupacabra, maka ada Yeti di Himalaya, monster Loch Ness di Skotlandia, dan tentu saja Homang di Tapanuli Utara yang seminggu terakhir ramai dibicarakan di Tapanuli Utara.

Menurut pengakuan warga Desa Pargompulan, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara (https://bit.ly/2CsIi57) sejumlah ternak mereka mati secara misterius: bebek, ayam dan babi yang berada di kandang besi ditemukan mati dalam kondisi kehabisan darah.

Warga panik, dan karena pelaku belum ditemukan, muncullah anggapan bahwa pelakunya adalah Homang atau Sigulambak, binatang legendaris yang bersembunyi di hutan dan "terlihat" pada saat-saat tertentu (kriptid).

Konon katanya, Homang bersembunyai di pedalaman hutan, dan sering meniru suara manusia hingga membuat orang tersesat di tengah hutan.

Kisah Homang memang sudah lama tak terdengar. Kisah itu bahkan nyaris dilupakan masyarakat Batak sejak masuknya agama Kristen ke Tapanuli.

Adalah kematian ternak warga Pargompulan yang "menghidupkan kembali" legenda si Homang. Tak berdasarkan pengakuan warga, seorang polisi bernama Aiptu Walpon Baringbing pun seakan menegaskan "peran" bintang legendari dalam mitologi Batak ini.

"Dari hasil penyelidikan kita di TKP, memang kita merasa curiga, bahwa kejadian tersebut bukan perbuatan manusia," kata Baringbing.

"Pada leher ternak yang mati itu terdapat bekas gigitan. Darahnya habis diisap, tetapi dagingnya utuh," tambah warga Pargompulan.

Benarkah ada Homang dan apakah ia pelaku pembunuhan ternak di Parogumpulan?

Di kalangan masyarakat Batak (Toba, Karo, dan Simalungun), profil dan karakteristik Homang berbeda-beda. 

Sebagian meyakini bahwa Homang berbadan tinggi, bertaring panjang, dan berbulu warna cokelat. Sebagian lagi mengatakan bahwa Homang berbulu hitam, berkuku panjang dan mampu melintasi sungai dengan sekali lompatan. 

Lebih aneh lagi, ada saja warga yang percaya bahwa saat berjalan, telapak kakinya si Homang justru mengarah ke belakang. - https://bit.ly/2V9i26l

Syukurlah bupati Taput, Nikson Nababan masih waras dan berpikir logis. Nikson menganggap Homang bukan pelaku dibalik pembunuhan ternak di daerahnya itu.

Nikson menduga serangan terhadap ternak itu dilakukan binatang buas, karena jejaknya ditemukan di sekitar lokasi. Nikson pun meminta TNI-Polri untuk memasang perangkap untuk memburu binatang buas tersebut.

Apa yang terjadi di Taput menunjukkan betapa ilmu pengetahuan telah gagal meruntuhkan mitos dengan logika berpikirnya; dan agama justru telah menyisakan ruang kosong dalam batin umatnya.
Walaupun kisah tragis di Pargompulan Taput ini bisa saja dibaca sebagai keberhasilan sains dalam membombardir keyakinan warga tentang hantu atau setan. 

Misalnya lewat kecanggihan teknologi, penggambaran visual sosok si homang dalam bentuk gambar animasi. Ya, sosok Homang bisa ditampilkan secara virtual dan seolah-olah sedang "menggorok lewer ternak warga".

Dengan penampakan virtual ini, tuduhan warga bahwa Homang adalah mahluk pembunuh ternak mereka akan semakin kuat. Bila ada e-kuntilanak, e-beguganjang, atau e-vampire, maka lewat teknologi, Homang versi digital alias e-Homang juga bisa diciptakan.

Di sisi sebaliknya, bisa jadi sosok e-Homang ini hanyalah ointu masuk bagi pencuri. Ketika warga sibuk mencari sosok e-Homang, mereka akan melancarkan misinya, mencuri ternak dan harta lain yang ada di rumah warga Pargompulan.

Tampaknya ide itu berhasil. Ketika warga kehilangan 100 ekor ternak dan 3 ekor diantaranya diisap darahnya oleh e-Homang, maka warga akan segera melupakan yang 97 ekor lainnya hingga fokus mencarai pelakunya ke hutan.

Ini zamannya serba digital. Jadi, tetaplah awas sembari berpikir logis. Jaganya ternak yang tersisa, dan jangan terlalu fokus berburu ke hutan.

Pasti bukan Humang pelakunya, tetapi para pencuri yang mampu mempresentasikan e-Homang alias humang elektronik yang sepertinya nyata, tapi taunya cuma virtual.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter