iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Donatur

Donatur
Ada satu gereja megah di propinsi Tangerang. Pembangunannya dilakukan sekitar pertengahan tahun 2000-an. Gereja itu kini sudah berdiri megah ditengah rumah-rumah dan sekolah elit dan di kompleks elit pula.

Dulu, keinginan membangun gereja semegah itu tak pernah terbayangkan oleh umat di sana. Melihat gedungnya saja kita tahu bahwa 10M tak cukup untuk membangun gereja semegah itu.

Uang kolekte mingguan memang cukup besar, dan dengar-dengar sudah sampai ratusan juta per misa. Artinya, kalau gereja yang mereka inginkan 'hanya' senilai 10 milyar maka mengumpulkan uang setahun sudah cukup.

Tapi umat tak mau menunggu selama itu. Mereka tak kuat mengikut perayaan misa di bedeng beratapkan seng dan tenda biru ala Desi Ratnasari. Maklum, panasnya udara Serpong bisa-bisa akan melunturkan bedak ibu-ibu saat misa berlangsung.

Pastor dan panitia pembangunan pun memutar otak. Menangkap "keresahan" umatnya, mereka lalu mereka sepakat mengumpulkan dana secara cepat dan efektif.

Caranya, setiap bagian dari gedung gereja mereka lelang kepada umat secara pribadi atau mewakili perusahaan mereka.

Sederhananya, panitia membuka kesempatan kepada umat (baca: donatur) untuk membeli lonceng, berbagai patung dan kelengkapan artistik gereja, meja persembaha, altar, bangku umat, kursi pastor dan petugas Misa, ambo, tabernakel, bunker untuk parkir, dst.

Sebagai feedbacak alias "upah rohani" bagi siapa yang bersedia akan dicantumkan nama pribadi/perusahaan mereka di bagian yang telah mereka "beli".

Apa yang terjadi? Sudah bisa kita duga, umat yang sebagian besar berduit di Stasi itu justru berlomba-lomba membeli "kapling-kapling" itu.

Hasilnya, tak sampai sebulan setiap "kapling" yang dilelang sudah "terjual". Mayoritas dari mereka adalah orang baik yang ingin bersumbangsih kepada gerejanya, tetapi sekaligus sangat senang bila jasanya itu dikenang dalam sejarah Stasi yang kini sudah menjadi paroki itu.

Itu sebabnya, di setiap kursi ada nama A, di altar nama D, di lonceng yang setiap enam jam dibunyikan itu terpatri nama D, di balkon ada nama F, di Sakristi ada nama G, dan seterusnya.

Lantas, apa tanggapan orang yang tidak berduit dan tidak ikut membeli "kapling"? Sebagian besar dari mereka justru senang karena kini sudah punya gereja besar dan megah.

Seorang bapak yang rajin ke Misa harian dengan motor bebeknya memberi jawaban yang melegakan,  "Tidak masalah uang pembangunan gereja dikumpulkan dengan cara itu, sejauh umat setuju. Toh masih ada bagian lain dari gedung gereja yang dananya bersumber dari umat yang namanya tak mau disebut. Saya percaya kalau bagian itu akan memurnikan bagian lain yang telah dipatri nama donatur."

Sebuah jawaban yang mungkin menyejukkan, tetapi juga sekaligus menyentil cara-cara gereja yang sering kali lebih hormat kepada "donatur" daripada aparatur gereja seperti katekis, petugas kebersihan, koster, tukang masak pastoran, dst.

Ini wajar, karena donatur adalah orang yang secara tetap memberikan sumbangan berupa uang kepada suatu perkumpulan dan sebagainya.

Donatur adalah penyumbang atau penderma tetap, dan dalam konteks gereja, donatur sesungguhnya adalah mereka yang setia memberi kolekte setiap minggu. Itulah arti kata "donatur" (Latin: donum; Inggris: donation) yang sesungguhnya.

Dan pada masa pandemi ini, ada banyak donatur yang memberi makan tetangga atau orang lain yang membutuhkan tanpa menulis nama dan foto dirinya di sampul beras, gula, minyak makan atau indomie yang disumbang.

Mereka tak tergoda seperti pejabat publik yang mengganti logo bansos kemensos jadi foto dirinya.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.