Ad Unit (Iklan) BIG

Raja Sinurat: Sosok Sederhana yang Menginspirasi

Posting Komentar
Raja Sinurat: Sosok Sederhana yang Menginspirasi

SINURAT ADALAH SALAH SATU MARGA DALAM MASYARAKAT BATAK TOBA. Ini sebuah fakta ! Sebagai marga, SINURAT adalah jembatan konektivitas INTERNAL (antar-sesama marga Sinurat) sekaligus EKSTERNAL (antar Sinurat dengan marga lain serta masyarakat umum diluar Batak Toba) dalam bingkai Filsafat DALIHAN NATOLU.

Seturut pertumbuhan jumlah pomparan ni ompunta Raja Sinurat, maka dibutuhkan wadah pemersatu. Inilah alasan mendasar pembentukan PUNGUAN SINURAT DOHOT BORU INDONESIA (PSDB-INDONESIA). 

Berikut ini analisa hermenetik saya selama proses penelusuran data sekaligus penyusunan buku Sejarah dan Tarombo Raja Sinurat bersama bang Josua Sinurat.

*****
Pertama, marga Sinurat adalah pomparan ni ompunta Raja Sinurat. Dalam perkumpulan yang lebih besar, Sinurat termasuk pomparanni si Raja Bungabunga gelar Raja Parmahan hingga pomparanni si Raja Silahisabungan

Adapun sumber primer dalam menelusuri sejarah keterkaitan ini adalah hasil penelitian (ke) lapangan. Kami, misalnya sudah mendatangi Silalahi Nabolak, Sibisa, Lumban Pea, Lumban Lobu, Harangan Parik, Huta Joring, Buhit, Pangururan, Urat, Hatoguan, Simarbane, dll (selanjutnya kami akan ke Mandoge Simalungun, dan tempat lain yang mungkin harus kami teliti...). 

Di beberapa tempat yang kami teliti terdapat jejak historis Raja Sinurat dan/atau keturunannya. Sebut saja di Harangan Parik, Huta Joring, Lumban Pea, Lumban Julu, Bonan Dolok, Buhit - Pangururan, Hatoguan-Samosir, Urat, dst. Tetapi pernah juga kami tidak menemukan samasekali jejak historis Raja Sinurat di tempat yang kami datangni. Misalnya di Sibisa, termasuk di huta-nya marga Nadapdap, adik kandung Raja Sinurat.

Hasil wawancara dengan narasumber yang satu seringkali berkembang hingga mengharuskan kami mewawancarai narasumber baru yang direkomendasikan narasumber sebelumnya. Tak hanya itu, kami juga terkadang merasa perlu mewawancarai narasumber secara acak, di lokasi yang kami datangi. 

Tujuannya sama, yakni mendapatkan data-data obyektif mengenai sejarah ompunta Raja Sinurat. Saat mewawancarai narasumber di lapangan, sisi subyektif kami kerap lebih menonjil. Hal ini tak terlepas karena kami sendiri adalah bagian dari Raja Sinurat. 

Maka, untuk meminimalisir tafsir subyektif, kami menganalisa sumber primer dengan sumber sekunder, yakni data-data ilmiah yang termaktub dalam berbagai buku, jurnal, dan media cetak lain. memantu kami dalam menghindari opini yang liar, pargmatis, over-subyektif yang jamak di-posting di media-media sosial. 

Buku dan jurnal (lih. Bibliografi) bukan sekeadr alat pembanding, tetapi serentak menjadi alat uji unsur ilmiah dalam sejarah Raja Sinurat. Tentu, karena kita sedang menulis buku sejarah, dan bukan dongeng bernuansa  mitologis.

Dengan demikian, warisan lisan dari beberapa orangtua pinompar ni Raja Sinurat yang  concern pada sejarah leluhur kita, Raja Sinurat, insight yang 'hadir' dari mimpi, bahkan pesan magis dari hasandaran, khususnya hasandaran yang tampil tanpa syak wasangka, apalagi dimaksud untuk memecah-belah komunitas kita. 

Selain hal itu, cerita-cerita masyarakat lokal di bonapasogit tentang Raja Sinurat, serta hasil penelitian lapangan tersebut akan kita uji berdasarkan analis ilmiah yang berlaku secara umum. Di titik inilah pemikiran rasional (common sense) yang termaktub dalam buku-buku yang kita gunakan sebagai sumber sekunder akan memurnikan sumber primer di atas. Itu sebabnya, kami bentangkan isi buku dengan outline sbb.: 

Sambutan
1. Ketum Sinurat
2. Ponparan Raja Tano 
3. Pomparan Raja Pagi
4. Pomparan Ompu Gumbok Nabolon
5. Sambutan Raja Muha (?)  

Prakata 

Daftar Isi

Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Metode Penulisan
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Rumusan Masalah
1.5 Sistematika Buku

Bab 2 Si Raja Batak
2.1 Kosmologi
2.2 Kisah Penciptaan Dunia
2.3 Kelahiran Si Raja Batak
2.4 Sistem Kekerabatan 

Bab 3 Raja Silahisabungan
3.1 Silahi Sang Pengembara
3.2 Pinggan Matio Pilihan Cerdas
3.3 Silahisabungan Menikah Dengan Putri Raja Mangatur
3.3 Mengaku Salah Kepada Pinggan Matio
3.4 Poda Sagusagu Marlangan
3.5 Bonapasogit dan Pinompar Silahisabungan
3.6 Warisan Silahisabungan 

Bab 4 Sinabutar Raja Parmahan Silalahi 
4.1 Sondiraja (Rumasondi)
4.2 Raja Bungabunga Gelar Raja Parmahan
4.3 Sinabutar Raja Parmahan Silalahi 

Bab 5 Raja Sinurat
5.1 Raja Tano
5.2 Raja Pagi
5.3 Ompu Gumbok Nabolon
5.4 Raja Muha 

Bab 6 Penutup  
Bab 7 Refleksi dan Catatan Penulis

Profil ringkas Si Raja Batak (lih. Bab 2) yang dilanjutkan dengan kisah menarik profil ringkas Si Raja Silahisabungan (lih. Bab 3) dan perjalanan singkat Sinabutar Raja Parmahan (lih. Bab 4) menjadi gerbang pemahaman kita mengenai siapa Raja Sinurat, berikut keturunan, apa nama bonapasogit-nya, dan kemana saja keturunannya bersama, dst. (lih. Bab 5).

Jelas, karena sejarah Raja Sinurat tak mungkin dipisahkan dari sejarah Batak Toba, khususnya keterkaitannya dengan Raja Silahisabungan, Raja Bungabunga gelar Raja Parmahan hingga Sinabutar Raja Parmahan Silalahi.

*****
Kedua, sebagai marga Batak Toba, Sinurat juga patuh pada ruhut-ruhut Dalihan Natolu sebagai patik dohot uhum (titah dan hukum) dalam kehidupan mereka. Hal ini tampak dalam kehidupan sehari-hari pomparan ni ompunta Raja Sinurat, dan secara spesifik terlihat nyata saat mar-ulaon adat. 

Dalam kesehariannya, pomparan ni ompunta Raja Sinurat selalu berupaya memperlakukan sesama Sinurat dengan sangat hati-hati, sabar menghadapi saudarinya, dan hormat kepada keluarga pihak ibunya. 

Bagi pomparan ni Raja Sinurat, berlaku baik kepada sesama orang lain, khususnya sesama Batak Toba adalah sebuah keharusan, sebagaimana ditegaskan dalam filosofi Dalihan Natolu: "Somba marhulahula, manat mardongantubu, elek marboru."

Hal ini mengacu pada relasi intim antar Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan yang bertekad merawat kelestarian cinta antara Banua Atas sebagai tempat bersemayam Ompu Mulajadi Nabolaon dan dewata lain; Banua Tonga sebagai tempat bermukim manusia dan mahluk lainnya; serta Banua Toru sebagai tempat bermukimnya Raja Padoha dan roh-roh orang meninggal (lih. Bab 2).

*****
Ketiga, penghargaan dan penghormatan Raja Sinurat terhadap sesama manusia menjadi akar terbentuknya sistem sosial yang mumpuni, baik ke dalam (antar Sinurat), maupun keluar (antar Sinurat dengan marga lain) dalam tatanan masyarakat Batak Toba. 

Tatanan masyarakat ini didasarkan pada filosofi agung Dalihan Natolu. Dalihan Natolu sendiri berakar pada relasi tulus antara hulahula, boru dan dongantubu. Sistem kekerabatan ini lahir dari dua bentuk kekerabatan khas Batak Toba, yakni bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan wilayah pemukiman (teritorial). 

Kedua sistem kekebaratan ini tak dapat dipisahkan satu sama lain, "Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul." Di titik ini semua pomparan ni ompunta Raja Sinurat mengakui bahwa hubungan berdasarkan garis keturunan marga memang sudah seharusnya dekat, tetapi relasi dengan orang-orang yang sehari-hari bersama kita (dongan sahuta) seringkali lebih dekat.

*****
Keempat, pomparan ni ompunta Raja Sinurat adalah generasi ke-9 dari Si Raja Batak sebagai generasi pertama orang Batak Toba. Dalam Tarombo Batak Toba di sebutkan bahwa Si Raja Batak adalah manusia Batak pertama, yang lahir dari rahim Si Boru Deang Parujar, buah perkawinannya dengan Raja Ihat Manusia

Raja Ihat Manisia adalah anak dari dewata Mangalabulan, sementara Si Boru Deang Parujar adalah puteri dewata Bataru Guru. Dewata Batara Guru dan dewata Raja Mangalabulan adalah dua dari tiga anak Ompu Mulajadi Nabolon. Satu lagi adalah dewata Soripada.

Mengacu pada Tarombo Batak Toba, Si Raja Batak memiliki dua anak, yakni Guru Teta Bulan (golongan Bulan) dan Raja Isumbaon (golongan matahari). Raja Isumbaon memperanakkan Tuan Sorimangaraja. Akhirnya, Tuan Sorimangaraja memperanakkan Tuan Sorbadibanua

Tuan Sorbadibanua memperanakkan Raja Silahisabungan (lih. Bab 3) yang selanjutnya memperanakkan Sondi Raja (Rumasondi). Anak ketiga dari anak Sondi Raja adalah Raja Bungabunga gelar Raja Parmahan. 

Raja Bungabungabunga memperanakkan Sinabutar II atau Sinabutar Raja Parmahan Silalahi (lih. Bab 4), dan Sinabutar Raja Parmahan Silalahi memperanakkan leluhur kita, Raja Sinurat. (lih. Bab 5). 

Demikian selanjutnya Raja Sinurat memiliki 4 anak, yakni Raja Tano, Raja Pagi, Omou Gumbok Nabolon dan Raja Muha. Bagi kebanyakan marga Sinurat, menjalin relasi dengan pihak hulahula dan boru selalu lebih mudah dibanding merangkai relasi internal dengan sesama marga Sinurat itu sendiri (dongantubu). 

Upaya menjalin relasi internal sesama Sinurat ini memang sudah diupayakan sejak lama.  Kesadaran akan pentingnya parsadaan (persatuan) antar pinompar ni ompunta Raja Sinurat yang belum lama terbentuk secara legal formal.

Hasilnya, sungguh luarbiasa. Punguan Sinurat dohot Boru Indonesia (PSDB) terbentuk sejak tahun 2019, nama yang dipilih langsung bergerak mengajak sesama pomparan Raja Sinurat untuk bersatu padu memperkuat ikatan komunitas kultural bernama PSDB tsb. 

Sungguh tak mudah. Tapi para stakeholders PSDB tetap bahu membahu, saling mengingatkan visi-misi komunitas dan berupaya menghindari perpecahan. Misi pertama PSDB ini adalah menggali sejarah dan tarombo Raja Sinurat. 

Sejalan dengan itu, PSDB juga akan mengajak seluruh pomparan Raja Sinurat untuk bahu- membahu mendirikan monumen / tugu parsadaan di Bonan Dolok. Perlahan tapi pasti, dua rencana besar itu sudah on going process.

*****
Kelima, sejarah panjang peziarahan Ompunta Raja Sinurat dan pinomparna adalah hasil penelusuran tim Tarombo lewat empat tahapan penulisan, yakni heuristik, verifikasi atau kritik sumber, interpretasi dan historiografi. (lih. Bab 1). 

Ompunta Raja Sinurat adalah orang biasa, yang hidupnya sederhana, rendah hati, kendati secara politis tak diperhitungkan. Hal ini terlihat dari betapa kecilnya pengaruh Sinurat dalam sistem pemerintahan di masa hidupnya.

Ompunta Raja Sinurat tak memiliki harajaon  baik berupa huta sendiri dan/atau menjadi raja di huta-nya sendiri. Tentu ini kontras dengan leluhurnya Raja Silahisabungan yang punya huta dengan nama marga sendiri dan menjadi pemimpin politik di masanya. 

Fakta historis ini hendak mengajak kita, pinompar ni ompunta Raja Sinurat untuk memahami bahwa kelebihan dari ompunta Raja Sinurat ada pada kesederhanaan dan perannya ditengah masyarakat sebagai "jolma naburju". 

Nyaris tak pernah terdengar ada orang Batak Toba yang berbicara negatif tentang marga kita. Raja Sinurat memang tak punya harajaon yang diperhitungkan Belanda. Tentu saja hal yang sama juga dialami marga lain.

Dari fakta ini kita justru bersyukur betapa ompunta Raja Sinurat adalah warga biasa dengan sumbangsih yang amat sangat besar bagi perkembangan tanah Batak Toba. Tak pernah dicatat dalam sejarah bahwa ompunta Raja Sinurat menjadi sumber masalah bagi marga lain, atau sebagai pemberontak secara politis. 

Jauh di lubuk hati masyarakat Batak Toba, Sinurat adalah tabib yang menyembuhkan, cerdas secara intelektual, dan handal berbicara si depan publik. Raja Sinurat justru disukai dan dicintai banyak orang, paling tidak pihak hula-hulanya. Benar, bahwa Sinurat tak memiliki harajaon, tapi hal itu tidak membuatnya miskin. Raja Sinurat dan keturunannya malah sering mendaparkan tanah dari hulahulanya. 

Tak berhenti di situ, ketika anaknya, Raja Tano memilik tanah yang luas, mereka justru rela berbagi dengan pihak hulahulanya, bahkan marga lain yang datang ke huta mereka. 

Begitu juga dengan Raja Pagi (Ompu Bouta), satu-satunya anak Raja Sinurat yang menjadi Raja Bius, yang diraihnya dengan cara cerdik. Demikianlah Raja Pagi menjadi Raja Bius yang cerdik dan bijaksana pula. Tak heran ketika posisi sebagai Bius masih diteruskan kepada keturunannya, Raja Mangatur dan Rj Sondang di Bonandolok. Sayangnya Raja Sondang mendadak meninggal sebelum sempat diangkat.

Tentu tak dapat kita lupakan betapa berjasanya Ompu Gumbok Nabolon untuk warga Samosir di zamannya. Ia telah menyembuhkan banyak orang sakit di sana Bahkan ompunta yang satu ini seakan mewarisi kehebatan ompung kita, si Raja Silahisabungan. Ompu Gumbok Nabolon bukan sekedat tabib, tapi juga punya kemampuan spiritual. Buktinya adalah Aek Sitobu Sira yang di musim kemarau dianggap sebagai "air kehidupan" oleh warga Pardugul-Buhit 

Bagaimana dengan Raja Muha? Dikisahkan, anak dari Raja Muha yang bernama Raja Manorus, adalah pemburu yang handal. Dari kebiasaan berburunya itu pula ia sampai ke Mandoge, Tanah Jawa, Sinalungun. 

Awalnya ia memburu babi hutan yang tak lain adalah putri penguasa Raja Sinaga di Tanah Jawa, Simalungun. Raja Manorus yang berhasil menombak babi hutan jadi-jadian itu, menjadi satu-satunya pemuda yang berhasil mencabut tombak yang ia tancapkan ke tubuh babi hutan tersebut. 

Karena keberhasilannya, putri raja bisa diselamatkan. Sebagai imbalannya, Raja Sinaga menangkatnya menjadi anak raja dan berhak mendapat warisan sang raja. Hingga akhirnya, ia dan keturunannya menetap di Mandoge, Tanah Jawa, Simalungun. Dengan diangkatnya sebagai anak, nama Raja Manorus kemudian diganti menjadi keturunan Sinaga. Tentu saja kita semua, pomparan ni Raja Sinurat ingin menyatukan mereka kembali kedalam PSDB, hingga keturunan mereka kelak kembali memakai marga leluhur kita, SINURAT. 

*****
Warisan terbesar Raja Sinurat adalah kita, pinomparna, yang tetap eksis dan bertambah jumlahnya dari jaman ke jaman, dan semakin banyak yang berperan ditengah masyarakat.

Kita harus bangga menjadi pomparan ni ompunta Sinurat. Jangan sampai kita berkecil hati. Jelas, kita adalah keturunan Raja Silahisabungan yang amat terkenal dengan kesaktian dan leadership- nya yang tangguh. Kita juga banggga menjadi cucu dari Raja Bungabunga gelar Parmahan yang disegani karena kesaktiannya mendatangkan hujan ditengah kemarau. 

Kita juga harus berbangga menjadi pomparan dari Raja Sinurat yang memilih hidup sederhana sebagai warga biasa. Namun dari kesederhanaannya itu, ia tak pernah berkonflik dengan orangtua dan adiknya  Nadapdap. 

Tentu hanya orang baik yang disenangi dan disayangi orang di sekitarnya. Demikianlah Sinurat tetap abadi di dalam hati pomparan ni Tulangta dari keturunan Ompuni Unggul dari Sionggang. Mereka turut mendampingi kita dalam meluruskan sejarah ompunta Raja Sinurat dan keturunannya. 

Kita memang tidak mendapat informasi bagaimana kedekatan antara Sinurat dan keempat anaknya (Raja Tano, Raja Pagi, Ompu Gumbok Nabolon dan Raja Muha), dan sebaliknya.  Tetapi segala daya-upaya dari kita semua, pomparan ni ompunta Raja Sinurat, khususnya dalam mengupayakan kesatuan selama beberapa dekade terakhir adalah bukti ekspresi kecintaan kita kepada leluhur kita, Raja Sinurat dan keempat anaknya.

Tak terkecuali passion kita dalam menelusuri sejarah dan tarombo Raja Sinurat. Ini juga merupaka ekspresi cinta kita kepada leluhur kita, Raja Sinurat. Meskipun semua hal baik yang kita rencanakan dibawah bendera PSDB tak sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita sungguh sadar bahwa TUHAN akan menuntun kita ke tanah terjanji Raja Sinurat, yakni bonapasogit-nya kita. Namun, sekali lagi, semua ini hanya akan tampak nyata bila kita bekerjasama secara tulus dan dibagas hasadaan ni roha

Ingat, kita berasal dari leluhur yang sama, tetapi serentak kita semua adalah pribadi yang unik dengan potensi berbeda. Maka, dengan segaka kekuatandan kerapuh kita, mari kita hindari pertikaian. Tetapi, mari kita belajar dari pengalaman ompunta Raja Sinurat yang tetap berhasil menghantar keempat anaknya menjadi empat sosok yang mandiri. 

Kendati tak ada bukti bahwa keempat anaknya akhirnya kembali sebelum kematiannya. Inilah kerapuhan ompunta di masa lalu. Maka mari kita perbaiki kerapuhan itu. Jangan kita biarkan terjadi untuk kesekian kalinya, ketika ia dibarkan meninggal dalam rasa rindu mendalam kepada anak-anaknya. Begitu lama penantian itu, hingga tubuh renta keduanya berujung pada kematian raga mereka. 

Jadi, mari kita tuntaskan apa yang telah dimulai. Wujudkan semua rencana-rencana kita untuk menebus kesalahan luluhur kita yang belum sempat "membahagiakan" orangtuanya di masa hidup Raja Sinurat. 

Kita sudah sepakat, maka mari singsingkan lengan bajumu, abaikan rasa lelahmu demi membahagiakan sahala ni ompunta, Raja Sinurat. Sebab, apa yang aedang kita kerjakan sekarang adalah implikasi dari perintahkan TUHAN kepada kita, "Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu" (Ulangan 5:16). Selamat Tahun Baru !

Catatan Pinggir: 
Lusius Sinurat, SS, M.Hum
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter