iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Si Raja Batak

Dalam mitologi Batak Toba terdapat kisah penciptaan dunia dan kelahiran manusia pertama, Si Raja Batak. Kisah ini terkait dengan sistem religi Batak itu sendiri (Simbolon 1998:31). Masyarakat Batak Toba percaya bahwa Ompu Mulajadi Nabolon adalah pencipta Kosmos dan manusia (Loeb 1972:76). Ompu Mulajadi Nabolon (the High God) itu bersifat tansenden sekaligus imanen. Ia transenden karena adanya kekal, Ompung (the great Lord) dan samasekali lain (wholly-Other-Ness). Refleksi akan tondi adalah petunjuk transendensinya (Sinaga 1975: 136-137).

Kosmologi
Ompu Mulajadi Nabolon bersifat imanen melalui berbagai pengalaman numina dalam satu hidup yang dinamis dan kosmos yang kudus. Adat adalah ungkapan imanensinya. Dialah Debata (dewata, dewa, deva) atau Tuan Bubi Nabolon (penguasa bumi) dan dewa utama yang berada di atas dewata yang lain (Sinaga 1975: 139). Ompu Mulajadi Nabolon tinggal di langit ketujuh atau khayangan, dan dari sana ia menciptakan Debata Natolu, yakni Batara Guru, Soripada dan Manga-labulan yang berada di langit keenam. Ompu Mulajadi Nabolon adalah dewata pertama (bdk. Brahma dalam Hinduisme). Dialah yang menciptakan segala yang ada. Selanjutnya Ompu Mulajadi Nabolon mempersonifikasi dirinya kedalam Debata Natolu (dewa yang tiga) dan mendelegasikan tugasnya kepada tiga dewata tersebut. Merek adalah Batara Guru, Soripada dan Mangalabulan.

Batara Guru—adalah pancaran dan personifikasi dari perbuatan mencipta (the creative activity) dari Ompu Mulajadi Nabolon. Dialah tempat bertanya mengenai adat dan hukum. Tugasnya adalah mengamati apa yang diperbuat manusia di banua tonga. Dalam Dalihan Natolu Batara Guru adalah representasi dari hulahula. Batara Guru memiliki tiga putri, yaitu Si Boru Deang Parujar (yang kelak dijodohkan dengan Raja Ihat Manisia / anak dari Mangalabulan), Si Boru Sunde dan Si Boru Mangiring Omas.

Soripada—adalah pancaran dan personifikasi Ompu Mulajadi Nabolon dalam menjamin kebutuhan manusia dan melindungi ciptaan dari bahaya. Dialah representasi pemerintahan Ompu Mulajadi Nabolon (his governing activity) sekaligus sebagai lambang kesucian. Soripada bertugas sebagai penasihat yang datang ke banua tonga apabila ada yang salah. Dialah personifikasi dari dongan tubu dalam Dalihan Natolu. Soripada memiliki satu anak, yakni Ompu Bonangbonang.

Mangalabulan—adalah pancaran dan personifikasi Ompu Mulajadi Nabolon. Di satu pihak ia bertugas memberi berkat berupa kekayaan dan umur panjang, tetapi di pihak lain ia juga menjadi sumber kerusuhan dan peperangan. Dialah representasi Mulajadi Nabolon dalam hal pengadilan (the judical activity). Tugasnya adalah sebagai jurubicara ulung, karena ia memiliki pesona yang bersinar (Werneck 1909:26). Dalam Dalihan Natolu, Mangalabulan adalah personifikasi dari pihak boru. Mangalabulan memiliki satu anak yang diberi nama Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga/Raja Odap-odap (dikenal sebagai Si Raja Ihat Manisia, ayah dari si Raja Batak).

Debata Natolu dan Banua Natolu
Debata Natolu adalah personifikasi dari Ompu Mulajadi Nabolon, dan Ompu Mulajadi Nabolon adalah repersentasi kosmos dan aturannya. Kosmos yang diciptakan Ompu Mulajadi Nabolon mencakup Banua Natolu atau tiga dunia (Sinaga 1975: xxviii), yakni banua atas (dunia atas, khayangan), banua Tonga (dunia tengah, bumi) dan banua Toru (dunia bawah). Ompu Mulajadi Nabolon berkuasa atas ketiga dunia di atas. Nama Debata Natolu kerap tampil dalam tonggo-tonggo (doa-doa) orang Batak Toba. Misalnya dalam Tonggoni Harbue (Nainggolan 2021:138-175), "Asa turun debata di atas, manaek manjujung debata di toru, humundul jumojak debata di tonga (Turunlah dewata atas, naiklah dewata bawah dan datanglah dan duduklah bersama kami, dewata tengah)."

Banua Atas (dunia atas, khayangan)—adalah tempat tinggal Ompu Mulajadi Nabolon, Debata Natolu (Batara Guru, Soripada dan Mangalabulan), dan Debata Asiasi (dewata yang berbelaskasihan; bukan sosok, tetapi kesatuan dari Debata Natolu). Debata Natolu dianggap sejajar dan hampir tidak ada perbedaan. Ketiganya sering dipertukarakan begitu saja. Akan tetapi keberadaan Debata Asiasi juga kerap dibedakan dengan Debata Natolu. Debata Asiasi dipercaya sebagai kesatuan empat dewata, yakni Mulajadi Nabolon dan Debata Natolu (Warneck 1909:4.27-28; Nainggolan 2021: 22).

Banua Tonga (dunia tengah, bumi)—adalah tempat tinggal manusia, Sibaso Nabolon atau Silaon Nabolon (roh nenek moyang yang bersama manusia), Si Boru Deang Parujar, Si Raja Indapati, Burung Layang-layang Nagurasta dan Si Untunguntung Nabolon (the Great Beatle). Para dewata di banua tonga bertugas menyampaikan pesan dari dan kepada Ompu Mulajadi Nabolon. Tepatnya mereka ini adalah penghubung antara Banua atas dan Banua Tonga. Banua Tonga diperuntukan bagi manusia (Sinaga 1975:84). Banua Tonga dilambangkan dengan tano solam (tanah murni yang dibawa Si Boru Deang Parujar untuk membentuk banua tonga), 8 arah mata angina dan boraspati ni tano (cicak raksasa).

Banua Toru (dunia bawah)—adalah tempat bermukimnya Raja Naga Padoha (raja iblis versi Batak Toba), roh-roh orang yang sudah meninggal (the ghosts), setan-setan (the demons) dan Raja Padoha (Loeb 1972:75; Nainggolan 2021:6), Debata Idup (yang menolong pasangan suami-istri memperoleh keturunan), Boraspati Ni Tano (dewa kesuburan tanah), Boru Sainang Naga (roh yang hidup di dalam air dan memberkati nelayan dengan tangkapan ikan melimpah, tetapi serentak bisa mendatangkan maut dengan menghanyutkan orang atau menenggelamkan kapal), dan Boru Namora (dewata angin yang ganas). Jauh sebelum masuknya agama Kristen, orang Batak Toba percaya bahwa gempa bumi terjadi karena Raja Padoha yang sejak awal penciptaan diikat oleh Si Boru Deang Parujar bergerak (warneck 1909:6). Kecuali Debata Idup, masih ada dewata yang berdiam di Banua Toru dan merupakan personifikasi kekuatan alam. Banua Toru dilambangkan dengan Naga Hurma Jati (penyu yang ditanam di bawah tiang persemba-han) yang oleh orang Batak Toba sering dianggap sebagai naga, tepatnya sebagai naga padoha.

Si Raja Batak
Orang Batak Toba kuno percaya bahwa mereka adalah keturunan Si Raja Batak, manusia pertama versi Batak. Hal yang sama juga dipahami oleh pomparan Raja Sinurat. Orang Batak percaya bahwa si Raja Batak “diciptakan" oleh Mulajadi Nabolon melalui perkawinan agung antara si Raja Ihat Manisia (putra Mangalabulan) dan si Boru Deang Parujar (putri Batara Guru) seturut ketentuan Dalihan Natolu (Sinaga 1975:69-70), yakni:
“Sada suhu dohot harajaon sabutuha; dua suhu dohot harajaon boru; tolu, suhu dohot harajaon hulahula; na dos jala na rap manea di adat (patik dohot uhum) songon Dalihan Natolu. Anakni Bataru Guru ma mambuat, mangoli boruni Balasori, anak ni Balasori ma mangoli boru ni Balabulan, anak ni Balabulan ma mangoli boru ni Batara Guru.” 
(Satu, kelompok dan kerajaan dongantubu; dua, kelompok dan kerajaan boru; dan tiga, kelompok dan kerajaan hulahula; yang bersama-sama menunjung tinggi adat Dalihan Natolu. Anaknya Bataru Guru akan menikahi putri Balasori (Soripada), anaknya Balasori akan menikahi putri Balabulan (Mangala-bulan), dan anaknya Balabulan akan menikahi putri Batara Guru).

Itu sebabnya Si Boru Deang Parujar (putri Batara Guru) dijodohkan dengan putera Mangalabulan bernama Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga (Tampubolon 2004:36). Awalnya perjodohan itu tidak berjalan mulus. 

Saat diperkenalkan kepada Tuan Ruma Uhir, Si Boru Deang Parujar menolak. Ia bahkan terkejut saat pertamakali melihat tampang Tuan Ruma Uhir yang menurutnya sangat menyebalkan. Jelas, ia tak berminat samasekali dengan Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga. 

Si Boru Deang Parujar bahkan mendiskripsikan sosok si Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga sebagai "Si raja ilik, si raja odong, na songon tompa ni ilik, na songon tompa ni mindoran. Patna opat, ihurna songon punsu ni parbatu, matana na sapaluan ni ogung, tingko songon odap nabolon, alai agatna agat dairi, imbalona imbalo pege, hatana mapultak gambiri, patna so malo hehe." (Raja kadal penguasa arah, tampangnya mirip kadal, kakinya empat, ekornya seperti ujung batu, matanya sebesar pemukul gong, bulat seperti gendang berukuran besar, seukuran alat penyadap dari Dairi, perekatnya dari jahe, suaranya mirip suara kemiri yang pecah, dan kakinya tidak lincah saat berdiri.) (W.WM. Hutagalung 1991:31-32; Sinaga 1975:116; Warneck 1909:29; Sinaga 2009:4).

Melihat penampakan Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga, Si Boru Deang Parujar langsung menghindar. Ia segera beranjak pergi dari kediaman Tuan Ruma Uhir dan bersumpah tak mau menemuinya lagi. Untuk menghilangkan mimpi buruk saat mengingat tampang Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga, Si Boru Deang Parujar pun menyibukkan diri dengan bertenun sepanjang hari. Tak hanya itu, ia diam-diam menyusun rencaran untuk melarikan diri dari Banua Atas. Tak bisa ia bayangkan harus menikahi pemuda pilihan ayahnya itu.

Dari tingkap banua atas, Si Boru Deang Parujar memulai aksi pelariannya. Ia melemparkan benang tenun kebawah khayangan, dan selanjutnya menggunakan benang itu sebagai tangga untuk turun. Dalam perjalanan turun itu, tiba-tiba saja kakinya menyentuh permukaan air laut purba, laut lapaslapas. Tak hanya itu. Seekor gurampang nabolon (ketam raksasa) pun mendekat dan bersiap menerkamnya. Tubuhnya pun goyah oleh hempasan ganasnya ombak laut lapaslapas tersebut. Syukurlah Si Boru Deang Parujar selamat. Saat itu juga ia berdoa kepada Ompu Mulajadi Nabolon agar dikirimkan sampohul tano (segenggam tanah) kepadanya. Ompu Mulajadi Nabolon merasa iba. Ia meloloskan permintaan Si Boru Deang Parujar. Dalam sekejap segenggam tanah itu sudah berada di tangan Si Boru Deang Parujar. Ia lalu membentuk daratan di atas permukaan air laut sebagai tempat tinggalnya.

Inilah proses penciptaan Banua Tonga (bumi, dunia tengah) menurut kosmologi Batak Toba. Proses penciptaan itu berlangsung kilat, namun memikat, "Ditopai Si Boru Deang Parujar ma sian tano na sampohul i di atas ni aek lung i. Santopap dua topap dohot dihorus, rap ganda bolakna dohot hapalna. Molo sasogot manopa, dalanan sadari bidang na, molo sadari manopa, dalanan lima ari ma bidangnya. Songon i ma sai didatdati si Boru Deang Parujar na manompa tano i, asa tung mansai bidang.” (Tampubolon 2004:54).

Demikian Si Boru Deang Parujar harus berupaya keras untuk menciptakan daratan yang berikutnya disebut sebagai banua tonga atau bumi tempat kita berdiam. Bagaimana tidak, Si Boru Deang Parujar harus menaklukkan Naga Padoha, sang iblis raja Banua Toru terlebih dahulu. Ia tak mau apabila Naga Padoha sewaktu-waktu menghancurkan daratan yang sedang ditempahnya.

Hingga akhirnya, proses penciptaan banua tonga itupun tuntas, dan kini sudah siap ia tinggali. Daratan itu berada ditengah lautan lepas. Selanjutnya Si Boru Deang Parujar membentuk perbukitan yang tinggi dan dataran yang nyaman sebagai huniannya. Bukit itulah yang dinamai dengan Pusuk Buhit. Sementara dataran di antara bukit-bukit itu dinamai Sianjur Mulamula Sianjut Mulatompa. Tempat inilah yang dalam mitologi Batak Toba dipercaya sebagai porlak eden (taman firdaus)-nya orang Batak Toba. Hal ini dilukiskan secara puitis dalam umpama, “Sianjur Mulamula, Sianjur Mulatompa; parserakan ni manisia jala mula ni hita jolma, parmulaan ni huta dohot parmulaan ni somba.”

Di Sianjur Mulamula pulalah Si Boru Deang Parujar dan Raja Ihat Manusia bertemu, menikah hingga memiliki satu puterat yang dinamai Si Raja Batak. Bagaimana hal itu terjadi? Bukankah Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga tinggal di banua atas dan Si Boru Deang Parujar ada di banua tonga? Ternyata Raja Ihat Manusia sejatinya adalah Si Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga. Suatu ketika ia dikirim Ompu Mulajadi Nabolon ke banua tonga.

Ompu Mulajadi Nabolon mengikat tubuh Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga dan memasukkannya kedalam ultop (sumpitan) yang diluarnya ditulis “Si Raja Uhum Manisia” (raja hak asasi manusia). Kemudian ia dilemparkan ke banua tonga. Setelah tujuh hari tujuh malam berada di Banua Tonga, Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga terbangun. Saat terjaga, ia keluar dari sumpitan itu dan membaca tulisan nama barunya “Si Raja Uhum Manisia”. Singkat kata ia bertemua dengan Si Boru Deang Parujar dengan tampang yang sudah berubah. Si Boru Deang Parujar sendiri tidak tahu kalau si Raja Uhum Manisia atau Raja Ihat Manusia itu adalah pria yang pernah dihindarinya. Pendek cerita, keduanya pun saling mencintai dan memutuskan untuk menikah(Werneck 1909:31; Sinaga 2009:6). Dari pernikahan itu lahirlah si bursok (bayi laki-laki) yang dinamai Si Raja Batak. Beberapa tahun kemudian lahir bayi perempuan yang disebut si tatap (WM. Hutagalung 1991:31-32; Sinaga 1975:116; Sinaga 2009:6; Warneck 1909:29).

Sistem Kekerabatan
Kekerabatan menyangkut hubungan berdasarkan hukum antara seorang dengan yang lain dalam pergaulan sosial. Suku Batak Toba sendiri mengakui dua bentuk kekerabatan. Pertama, kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi); dan kedua, kekerabatan berdasarkan sosiologis. Bentuk kekerabatan genealogi tampil dalam tarombo atau silsilah marga yang dimulai dari Si Raja Batak hingga keturunannya saat ini berdasarkan garis keturunan ayah (agnate). Sementara kekerabatan berdasarkan sosiologis terbentuk berdasarkan hubungan Perkawinan (afinity) yang menganut perkawinan eksogami.

Perkawinan eksogami ini sudah berlangsung sejak awal. Itu sebabnya keturunan Lontung memberi wanita-wanita mereka kepada keturunan Sumba (Niessen 1985:114; Hutagalung 1991:34, 44-45, 137; Nainggolan 2012:65). Lebih jauh lagi, kekerabatan berdasarkan hubungan perkawinan ini sudah dimulai sejak lahirnya Si Raja Batak yang menikah dengan Tantan Debata dan memiliki dua anak, yakni Guru Tetea Bulan (Punguan Marga Lontung, Golongan Bulan) dan Raja Isumbaon (Raja yang disembah, Punguan Marga Sumba, Golongan Matahari).

1. Guru Tetea Bulan dan Keturunannya
Anak pertama Si Raja Batak dinamai Guru Tetea Bulan. Guru Teta Bulan menikah dengan Sibaso Burning, dan memiliki 5 anak dan 5 Boru. Kelima anaknya adalah Raja Uti (Raja Gumelenggeleng, Raja Biakbiak, Tuan Saribu Raja (lahir marporhas atau kembar dengan ito-nya Si Boru Pareme, yang kemudian hari dinika-hinya), Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Silau Raja (Malau, Manik, Ambarita, Gurning); sementara kelima boru-nya adalah Sibiding Laut, Siboru Pareme, Hatti Haomasan Si Boruparomas (Si Boru Anting Sabungan), Pungga Haomasan, dan Nan Tinjo Anak kedua Guru Tetea Bulan, yakni Sariburaja menikahi Siborupareme, saudari kembarannya sendiri (incest) dan memiliki satu anak laki-laki yang diberi nama Raja Lontung. Selanjutnya Sariburaja menikah lagi dengan istri kedua (tidak diketahui namanya) dan lahirlah Raja Borbor. Dari istri ketiga “na ginoaran ni halak tubu ni babiat” (yang disebut orang sebagai keturunan harimau), ia tidak memiliki keturunan.

2. Raja Isumbaon dan Keturunannya
Anak kedua si Raja Batak, Raja Isumbaon menikah dengan Nauli Basa dan memiiki 3 anak, yakni Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang. Hingga kini, informasi mengenai keturunan Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang belum diketahui secara pasti. Sedangkan keturunan Tuan Sorimangaraja tetap bermukim di Pusuk Buhit dan memiliki 12 anak dari 3 istrinya.

Istri pertamanya, Nai Ambaton (Si Boru Anting Malela atau Si Boru Anting Sabungan, nama perkumpulan Parna). Golongan keturunannya dinamai Tuan Sorbadijulu atau Raja Nabolon dan mencakup 6 marga, yakni Simbolon, Munte, Tambatua, Saragitua, Sinahampung dan Haro. Istri kedua, Nai Rasaon atau Si Boru Biding Laut. Golongan ini dinamai Tuan Sorbadijae atau Raja Mangarerak. Istri ketiga, Nai Suanon (Nai Tungkaon / Boru Parsanggul Haomasan, Si Boru Sanggui Haomasan). 

Golongan keturunan ini dinamai Tuan Sorbadibanua. Sorbadibanua memiliki 2 istri, yakni:

1. Nai Antingmalela Boru Pasaribu dan memiliki 5 anak, yakni Si Bagotni Pohan (memiliki 4 anak, yakni Tuan Sihubil, Tuan Simanimbil, Tuan Dibagarna dan Sonak Malela—bermukim di Balige); Si Paet Tua (memiliki 3 anak, yakni Pangulu Ponggok [Huahaen, Aruan, Hutajulu], Sipartano [Sibarani dan Sibuea] dan Pu Raja [Laguboti, Pangaribuan, Hutapea—bermukim di Laguboti); Silahisabungan (yang merupakan leluhur marga Sinurat yang bermukim di Huta Lahi); Si Raja Oloan (Naibaho, Sihotang, Bakkara, Sinambela, Sihite dan Manullang—bermukim di Bakkara); dan Raja Huta Lima.

2. Si Boru Basopaet memiliki 3 anak, yakni Raja Sumba (Simamora dan Sihombing); Raja Sombu (Sitompul dan Hasibuan); dan Raja Naipospos /Martua Same (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang dan Marbun (Lumbanbatu, Banjarnahor dan Lumbangaol).

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.