@5iu5 luciusinurat@gmail.com sinurat_lucius@yahoo.com luciusinurat@outlook.com

"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

2.7.09

Tanda Salib dan Maknanya

"Doa Kristiani dilakukan seturut teladan doa Yesus sendiri. Sama seperti doa-Nya, doa kristiani harus berasal dari hati. Ketika sedang berdoa, Yesus menggunakan kata-kata, tanda dan kadang-kadang seruan, sebagai ungkapan hati-Nya. Demikian juga kita, ketika kita berdoa; kita juga mencari cara untuk mengungkapkan isi hati kita." (Katekismus Gereja Katolik 1077 - 1109)

Pengantar

Kata-kata dan tanda-tanda yang Yesus gunakan ketika Ia berdoa sering kali berasal dari tradisi Yahudi, yang Ia pelajari dari keluarganya dan dari yang lain. Sementara kita, kita berpegang pada Tradisi Gereja sebagai pedoman dalam berdoa. Kita percaya bahwa Doa Kristiani adalah tradisi yang diilhami oleh Roh Kudus, yang juga merupakan perkembangan lebih lanjut dari tradisi doa Yahudi yang telah memberi santapan rohani bagi Yesus sendiri. Tradisi Gereja mengenai doa memiliki kebijaksanaannya sendiri, dengan berbagai ragam bentuk dan ekspresi yang berbeda. Namun demikian, doa-doa dasar dari Tradisi Gereja mendapat tempat istimewa. Tanda Salib adalah salah satu contohnya. 

Dalam gereja Katolik dan gereja-gereja Kristen lainnya, Tanda Salib merupakan bagian penting dalam doa pribadi maupun doa bersama. Tanda Salib berasal dari masa Gereja Kristen Perdana dan karenanya keberadaannya sudah berabad-abad lamanya.Tanda Salib adalah tanda pertama yang kita terima yaitu pada saat kita dibaptis dan tanda terakhir yang kita terima yaitu saat kita meninggalkan dunia ini menuju kehidupan abadi. Tanda Salib merupakan bagian yang amat penting dalam doa liturgis dan sakramen-sakramen. Dengan Tanda Salib kita mengawali serta mengakhiri doa kita.


Berkat dari Allah Tritunggal

Kita menyebutnya berkat. Kita mengatakan kita “memberkati diri kita.” Membubuhkan tanda salib dengan tangan kita di kening, di dada serta di pundak kita, kita memberkati diri kita: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin. Tanda Salib menyatakan berkat. Tanda Salib melambangkan Tuhan memberkati kita, Tuhan melimpahi kita dengan berkat-berkat-Nya. Dan dengan tanda yang sama kita menyatakan kepercayaan kita kepada Tuhan, yang daripada-Nya semua berkat berasal. Dengan Tanda Salib kita memeluk Allah kita yang baik dengan segenap pikiran, hati serta kekuatan kita. 

Tuhan memberkati. Kitab Suci Yahudi menggambarkan Tuhan sebagai, di atas segalanya, Dia yang memberkati. Tuhan memberkati Nuh dan menyelamatkan dunia dari air bah. Tuhan memberkati Abraham dan Sara dengan berkat yang lebih banyak dari bintang-bintang di langit. Tuhan memberkati bangsa Yahudi, membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Hidup itu sendiri dan segala ciptaan adalah karunia Tuhan.
Oleh karena itu, tradisi doa Yahudi selalu menyebut Tuhan sebagai Dia yang memberkati. “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu,” demikian kata pemazmur. Sama seperti kita diberkati oleh Tuhan, demikian kita hendak memuji Tuhan.

Tradisi Gereja mengikuti pola yang sama, tetapi sebagai tambahan, doa umat Kristiani memuji Dia yang mengaruniakan kepada kita suatu berkat lain yang tidak ada bandingnya: berkat Yesus Kristus. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Ef 1:3) Ia adalah “Firman yang menjadikan segala sesuatu, Juruselamat yang diutus untuk menebus manusia.” Dalam diri Yesus Kristus, Tuhan datang kepada kita sebagai Sahabat dan Saudara. Bersama dengan Bapa, Ia mengutus Roh Kudus ke atas kita “untuk menggenapkan karya-Nya di bumi dan membawakan kepenuhan rahmat bagi kita.” Dalam diri Yesus, Allah telah menyatakan kepada kita sumber segala berkat. Saat kita memberkati diri kita dengan Tanda Salib, kita ingat akan Dia yang memberkati kita: Alah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus.


Berkat Salib

  1. Dengan tanda Salib kita mengingat kembali secara istimewa hidup, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kita membubuhkan Tanda Salib pada diri kita, Salib Yesus. Wafat-Nya di kayu Salib adalah curahan kasih-Nya kepada kita. Tanda Salib mengingatkan kita akan cinta-Nya, cinta yang tidak hanya ditemukan di masa lampau, tetapi di sini dan di saat ini, sementara kita membubuhkan Tanda Salib di tubuh kita, karena cinta Yesus Kristus kekal abadi selamanya. Tanda Salib adalah ungkapan sehari-hari yang mengagumkan akan hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan adalah Dia yang memberkati. Tanda Salib mengingatkan kita bahwa setiap hari, di saat suka maupun duka, dalam bahaya dan penderitaan, kasih setia Tuhan serta berkat-berkat-Nya tidak pernah jauh dari kita. Dengan membubuhkan Tanda Salib di kening, dada dan pundak kita, kita ingat bahwa kita diberkati dalam pikiran, hati dan keberadaan diri kita sepenuhnya. Kita dapat menghadap Tuhan dengan penuh kepercayaan melalui Yesus Kristus yang kasih setia-Nya dinyatakan oleh tanda suci ini. “Datanglah kepadaku,” demikian kata Tuhan lewat Tanda Salib, “jangan takut. Sebelum engkau melakukan apa-apa, Aku telah menyongsong untuk memelukmu dengan limpahan berkat di tangan-Ku.”
  2. Dengan tanda Salib kita mengingat kembali secara istimewa hidup, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kita membubuhkan Tanda Salib pada diri kita, Salib Yesus. Wafat-Nya di kayu Salib adalah curahan kasih-Nya kepada kita. Tanda Salib mengingatkan kita akan cinta-Nya, cinta yang tidak hanya ditemukan di masa lampau, tetapi di sini dan di saat ini, sementara kita membubuhkan Tanda Salib di tubuh kita, karena cinta Yesus Kristus kekal abadi selamanya.
  3. Tanda Salib adalah ungkapan sehari-hari yang mengagumkan akan hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan adalah Dia yang memberkati. Tanda Salib mengingatkan kita bahwa setiap hari, di saat suka maupun duka, dalam bahaya dan penderitaan, kasih setia Tuhan serta berkat-berkat-Nya tidak pernah jauh dari kita.
  4. Dengan membubuhkan Tanda Salib di kening, dada dan pundak kita, kita ingat bahwa kita diberkati dalam pikiran, hati dan keberadaan diri kita sepenuhnya. Kita dapat menghadap Tuhan dengan penuh kepercayaan melalui Yesus Kristus yang kasih setia-Nya dinyatakan oleh tanda suci ini. “Datanglah kepadaku,” demikian kata Tuhan lewat Tanda Salib, “jangan takut. Sebelum engkau melakukan apa-apa, Aku telah menyongsong untuk memelukmu dengan limpahan berkat di tangan-Ku.”
  5. Apa sesungguhnya makna Tanda Salib dan mengapa kita melakukannya? Bilamana dan bagaimana praktek ini berasalTanda Salib merupakan suatu gerakan yang indah, yang mengingatkan umat beriman pada salib keselamatan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus. Secara teknis, Tanda Salib merupakan sakramentali, suatu lambang sakral yang ditetapkan Gereja guna mempersiapkan orang untuk menerima rahmat, dan yang menguduskan suatu saat atau peristiwa. Seiring pemikiran tersebut, gerakan ini telah dilakukan sejak masa Gereja Perdana untuk memulai dan mengakhiri doa serta Misa.

Para Bapa Gereja awali menegaskan penggunaan Tanda Salib. Tertulianus (wafat 250) menggambarkan kebiasaan membuat Tanda salib: “Dalam segala kegiatan dan gerakan, setiap kali kami datang maupun pergi, saat mengenakan sepatu, saat mandi, saat makan, saat menyalakan lilin, saat berbaring, saat duduk, dalam segala apapun yang kami lakukan, kami menandai dahi kami dengan Tanda Salib” (De corona, 30).

St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386) dalam Pengajaran Katekesenya menyatakan, “Jadi, marilah kita tanpa malu-malu mengakui Yang Tersalib. Jadikan Salib sebagai meterai kita, yang dibuat dengan mantap menggunakan jari-jari di dahi kita dan dalam segala kesempatan; atas roti yang kita makan dan cawan yang kita minum, saat kita datang dan saat kita pergi; sebelum kita tidur, saat kita berbaring dan saat kita terjaga; saat kita bepergian, dan saat kita beristirahat” (Katekese, 13). Lama-kelamaan, Tanda Salib dimasukkan dalam berbagai tindakan dalam Misa, misalnya menandai diri tiga kali di dahi, bibir dan hati saat Injil hendak dibacakan atau saat menyampaikan berkat dan saat menandai roti dan anggur persembahan yang dimulai sekitar abad kesembilan.

Cara resmi paling awal dalam membuat Tanda Salib muncul sekitar tahun 400-an, yaitu saat munculnya bidaah Monophysite yang menyangkal adanya dua kodrat dalam pribadi ilahi Kristus, dan dengan demikian menyangkal persekutuan Tritunggal Mahakudus. Tanda Salib dibuat dari dahi ke dada, dan kemudian dari bahu kanan ke bahu kiri. Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah ditangkupkan sebagai lambang Tritunggal Mahakudus - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Di samping itu, ketiga jari ditangkupkan sedemikian rupa hingga melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter, Yesus Kristus Juruselamat): jari telunjuk yang lurus melambangkan I; jari tengah saling bersilangan dengan ibu jari melambangkan X; dan jari tengah yang bengkok melambangkan C. Jari manis dan jari kelingking dilipat ke arah telapak tangan, melambangkan kesatuan kodrat manusia dan kodrat ilahi, kehendak manusia dan kehendak ilahi dalam pribadi Kristus. Cara membuat Tanda Salib seperti ini umum dilakukan di kalangan seluruh Gereja hingga sekitar abad keduabelas, tetapi hingga sekarang masih tetap dipraktekkan dalam Gereja-gereja Katolik Ritus Timur dan Gereja-gereja Orthodox.

Suatu instruksi dari Paus Inosensius III (1198 - 1216) membuktikan adanya tradisi praktek tersebut, sekaligus menunjukkan adanya perubahan dalam praktek Gereja Katolik Ritus Latin, “Tanda Salib dibuat dengan tiga jari, sebab penandaan diri tersebut dilakukan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus…. Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, sebab Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya kepada kaum kafir (kiri).” 

Sembari memperhatikan kebiasaan membuat Tanda Salib dari bahu kanan ke bahu kiri, yang dilakukan baik oleh gereja-gereja barat maupun timur, Paus Inosensius melanjutkan, “Namun demikian, yang lain, membuat Tanda Salib dari kiri ke kanan, sebab dari sengsara (kiri) kita harus beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus beralih dari mati menuju hidup, dan dari Tempat Penantian menuju Firdaus. [Sebagian imam] melakukannya dengan cara ini, sehingga mereka dan umat menandai diri mereka dengan cara yang sama. Kalian dapat dengan mudah membuktikannya - bayangkan imam menghadap umat untuk menyampaikan berkat - ketika kami membuat Tanda Salib atas umat, kami melakukannya dari kiri ke kanan…” Karenanya, sejak saat itu umat beriman mulai meniru imam dalam menyampaikan berkat, dari bahu kiri ke bahu kanan dengan tangan terbuka. Lama-kelamaan, praktek ini menjadi cara yang biasa digunakan dalam Gereja Barat.     

Dalam karya klasik, “Upacara-upacara Ritus Romawi” tulisan Adrian Fortescue dan J. B. O'Connell, Tanda Salib dibuat dengan cara berikut: 
“Letakkanlah tangan kiri dengan telapak terbuka di bawah dada. Tangan kanan terbuka juga. Pada saat menyerukan Patris [Bapa] angkatlah tangan kanan dan sentuhkan kening; saat menyerukan Filii [Putra], sentuhlah dada agak ke bawah, tetapi di atas tangan kiri; saat menyerukan Spiritus Sancti [Roh Kudus], sentuhlah bahu kiri dan kanan; saat menyerukan Amin, tangkupkan kedua tangan jika perlu.” 
Meskipun praktek ini telah berkembang dari bentuk asalnya dan kini masih dipraktekkan dalam Ritus Timur, tetapi telah menjadi praktek yang biasa dilakukan pula dalam Gereja Ritus Latin selama beberapa abad.

Tak peduli bagaimana orang secara teknis membuat Tanda Salib, gerakan haruslah dilakukan dengan khidmat dan salehUmat beriman haruslah menyadari kehadiran Tritunggal Mahakudus, dogma inti yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai “Kristen”. Juga, umat beriman haruslah ingat bahwa Salib adalah tanda keselamatan kita: Yesus Kristus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia, yang mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa-dosa kita di atas altar salib. Tindakan sederhana namun mendalam ini membuat setiap orang beriman sadar akan betapa besar kasih Allah bagi kita, kasih yang lebih kuat daripada maut dan akan janji-janji kehidupan abadi. Demi alasan-alasan yang tepat, indulgensi sebagian diberikan kepada mereka yang menandari dirinya dengan Tanda Salib dengan khidmat, sambil menyerukan, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Enchirdion of Indulgences, No. 55). Oleh sebab itu, marilah setiap kita membuat Tanda Salib dengan benar dan khidmad serta tidak dengan sembarangan ataupun ceroboh.


Doa Kristiani dilakukan seturut teladan doa Yesus sendiri

Sama seperti doa-Nya, doa kristiani harus berasal dari hati. Ketika sedang berdoa, Yesus menggunakan kata-kata, tanda dan kadang-kadang seruan, sebagai ungkapan hati-Nya. Demikian juga kita, ketika kita berdoa; kita juga mencari cara untuk mengungkapkan isi hati kita. Kata-kata dan tanda-tanda yang Yesus gunakan ketika Ia berdoa sering kali berasal dari tradisi Yahudi, yang Ia pelajari dari keluarganya dan dari yang lain. Sementara kita, kita berpegang pada Tradisi Gereja sebagai pedoman dalam berdoa. Kita percaya bahwa Doa Kristiani adalah tradisi yang diilhami oleh Roh Kudus, yang juga merupakan perkembangan lebih lanjut dari tradisi doa Yahudi yang telah memberi santapan rohani bagi Yesus sendiri.

Tradisi Gereja mengenai doa memiliki kebijaksanaannya sendiri, dengan berbagai ragam bentuk dan ekspresi yang berbeda. Namun demikian, doa-doa dasar dari Tradisi Gereja mendapat tempat istimewa. Tanda Salib adalah salah satu contohnya. Dalam gereja Katolik dan gereja-gereja Kristen lainnya, Tanda Salib merupakan bagian penting dalam doa pribadi maupun doa bersama. Tanda Salib berasal dari masa Gereja Kristen Perdana dan karenanya keberadaannya sudah berabad-abad lamanya.Tanda Salib adalah tanda pertama yang kita terima yaitu pada saat kita dibaptis dan tanda terakhir yang kita terima yaitu saat kita meninggalkan dunia ini menuju kehidupan abadi. Tanda Salib merupakan bagian yang amat penting dalam doa liturgis dan sakramen-sakramen. Dengan Tanda Salib kita mengawali serta mengakhiri doa kita.



Tanda Salib menyatakan berkat 

Tanda Salib melambangkan Tuhan memberkati kita, Tuhan melimpahi kita dengan berkat-berkat-Nya. Dan dengan tanda yang sama kita menyatakan kepercayaan kita kepada Tuhan, yang daripada-Nya semua berkat berasal. Dengan Tanda Salib kita memeluk Allah kita yang baik dengan segenap pikiran, hati serta kekuatan kita.


Tuhan memberkati 

Kitab Suci Yahudi menggambarkan Tuhan sebagai, di atas segalanya, Dia yang memberkati. Tuhan memberkati Nuh dan menyelamatkan dunia dari air bah. Tuhan memberkati Abraham dan Sara dengan berkat yang lebih banyak dari bintang-bintang di langit. Tuhan memberkati bangsa Yahudi, membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Hidup itu sendiri dan segala ciptaan adalah karunia Tuhan.Oleh karena itu, tradisi doa Yahudi selalu menyebut Tuhan sebagai Dia yang memberkati. “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu,” demikian kata pemazmur. Sama seperti kita diberkati oleh Tuhan, demikian kita hendak memuji Tuhan.

Tradisi Gereja mengikuti pola yang sama, tetapi sebagai tambahan, doa umat Kristiani memuji Dia yang mengaruniakan kepada kita suatu berkat lain yang tidak ada bandingnya: berkat Yesus Kristus. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Ef 1:3) Ia adalah “Firman yang menjadikan segala sesuatu, Juruselamat yang diutus untuk menebus manusia.” Dalam diri Yesus Kristus, Tuhan datang kepada kita sebagai Sahabat dan Saudara. Bersama dengan Bapa, Ia mengutus Roh Kudus ke atas kita “untuk menggenapkan karya-Nya di bumi dan membawakan kepenuhan rahmat bagi kita.” Dalam diri Yesus, Allah telah menyatakan kepada kita sumber segala berkat. Saat kita memberkati diri kita dengan Tanda Salib, kita ingat akan Dia yang memberkati kita: Alah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus.


Bacaan :

Fr. Victor Hoagland, C.P., Praying in Words and Signs: The Sign of the Cross.
No comment

1.7.09

Eucharistia: Fons et Culmen

Gereja hidup dari Ekaristi

Kebenaran ini mengungkapkan bukan hanya pengalaman iman sehari-hari tetapi juga menegaskan hakikat misteri Gereja. Dengan pelbagai cara Gereja mengalami selalu dalam sukacita pemenuhan janji Tuhan: “Lihatlah, Aku akan beserta kamu sampai akhir zaman” (Mt 28: 20). Justru dalam Ekaristi Kudus, lewat pengubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhan, Gereja bersukacita atas kehadiran-Nya yang mahapekat. Sejak Pentakosta, tatkala Gereja, sebagai Umat Perjanjian Baru, memulai peziarahannya menuju tanah air surgawi, Sakramen Ilahi ini telah menandai penyeberangannya, sambil meneguhkan mereka dengan kepasrahan pengharapan yang tangguh.

Tepatlah penegasan Konsili Vatikan II bahwa kurban Ekaristi “adalah sumber dan puncak setiap hidup Kristiani”. “Sebab dalam Ekaristi Kudus ini terkandunglah seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri, Roti Paskah kita yang hidup. Lewat tubuh-Nya sendiri, yang kini dijadikan hidup dan pemberi hidup oleh Roh Kudus, Ia menawarkan hidup-Nya kepada manusia.” Dernikianlah Gereja selalu mengarahkan pandangannya kepada Tuhan-nya, yang hadir dalam Sakramen Altar. Di sanalah Gereja menemukan kepenuhan pernyataan kasih-Nya yang tak terbatas. Paus Yohanes Paulus II, “Ecclesia de Eucharistia”, 2003 menandaskan,“Ketika kalian berada di depan altar di mana Kristus hadir, jangan lagi beranggapan bahwa kalian berada di antara manusia; tetapi yakinlah bahwa bala tentara malaikat serta malaikat agung berdiri di sampingmu, dan dengan gemetar karena hormat berada di hadapan Pencipta Langit dan Bumi yang Mahakuasa. Oleh sebab itu, ketika kalian berada dalam Gereja, hadirlah di sana dalam keheningan, dengan khidmad dan khusuk.”  ~ St. Yohanes Krisostomus


RITUS PEMBUKA 


Perarakan Masuk 
Pada awalnya Perayaan Ekaristi atau Misa berlangsung di rumah-rumah orang Kristen perdana. Tentu saja, di tempat semacam itu tidak mungkin ada perarakan segala. Pada masa-masa setelahnya, orang-orang Kristen perdana itu dijauhi orang-orang Yahudi dan dikejar-kejar oleh penguasa Romawi. Makin bersembunyilah mereka, sampai-sampai harus mengadakan Misa di katakombe-katakombe, ruang-ruang bawah tanah.Masa cerah baru datang pada abad keempat ketika Kaisar Konstantinus  Agung menyatakan agama Kristen sebagai agama negara. Orang Kristen kini bebas. Agama mereka tidak dilarang. Cara beribadat pun berubah. Dipakailah basilika-basilika, aula-aula kekaisaran, sebagai tempat untuk Misa. Maka, muncul liturgi yang meriah, anggun. Di situlah lahir kebutuhan untuk berarak secara meriah memasuki tempat Perayaan Ekaristi. Apalagi, letak sakristi ada di bagian depan gereja, jadi memungkinkan gerak maju dari bagian tengah depan menuju altar. 
Perarakan Meriah  
Perarakan meriah itu sendiri mulai berkembang sejak tahun 701, khususnya di Roma dalam perayaan yang dipimpin Paus. Tradisi perarakan ini sempat hampir hilang dalam praktek Misa Romawi, khususnya sejak ada penggabungan Ibadat Harian dengan Misa dan munculnya kebiasaan Misa Pribadi, serta sakristi yang dibangun di samping panti imam. Oleh gerakan pembaharuan liturgi modern tradisi ini dihidupkan kembali. Kini, Perarakan Masuk sangat dianjurkan. Sebaiknya jangan diabaikan begitu saja. Asal tahu saja. Liturgi Gereja makin terbuka pada budaya-budaya setempat. Unsur-unsur budaya lokal ada yang dimasukkan dalam liturgi Gereja Katolik. Pada kesempatan-kesempatan khusus acara Perarakan Masuk dibuat sedemikian rupa hingga menampilkan citarasa kedaerahan. Boleh-boleh saja. Asalkan jangan sampai sebagian besar jemaat malah merasa asing, risih, senyam-senyum atau malah ketawa-ketiwi saja karena mengingatkan mereka akan sesuatu yang lucu.




LITURGI SABDA



Mendengarkan Sabda Allah 
Teks bacaan untuk Misa sebenarnya tidak persis sama dengan teks Kitab Suci (misalnya terbitan Lembaga Alkitab Indonesia). Teks Kitab Suci yang dikutip untuk Misa itu sudah diedit atau disesuaikan untuk keperluan liturgis. Ada yang ditambahi bagian awalnya. Ada yang dikurangi ayat-ayatnya. Selama pembacaan kita memang tidak diharapkan untuk menyimak teks Kitab Suci itu. Kalau memaksa diri, mungkin kita akan kebingungan karena menemukan beberapa perbedaan. Yang lebih baik dan penting adalah bagaimana kita “mendengarkan” Sabda Allah yang sedang dikumandangkan. Pembaca Bacaan itu sedang menghadirkan Allah atau Kristus Sendiri yang berbicara lewat suara pembaca. Jika Allah sedang berbicara kepada kita, masak kita malah menyimak tulisan. Pandanglah dan dengarkanlah. Itulah cara terbaik untuk “menyimak” kata-kata Allah. Jadi Kitab Suci yang tebal itu tidak perlu dibawa ke Perayaan Ekaristi. Bahkan selebaran mingguan pun tak mampu memenuhi fungsi liturgis ini. Selebaran yang berisi bacaan dan doa-doa Misa itu sebenarnya hanyalah untuk persiapan sebelum Misa. “Aku tidak suka orang mulai membaca langsung, sementara Sabda dibacakan dari mimbar kudus. Oh, jangan! Apakah gunanya kata-kata manusia saat Tuhan Sendiri berbicara?” (St Yohanes Maria Vianney).
Para Petugas Pelayan Sabda 
Tugas pelayanan ini pertama-tama bukanlah tugas presidensiil atau tugas imam selebran. Petugas-petugas khusus ditunjuk atau bahkan dilantik untuk keperluan pelayanan itu. Di kalangan kita sudah dikenal istilah “lektor” untuk para petugas Bacaan Pertama dan Kedua. Ada yang memunculkan istilah “lektris” untuk perempuan. Istilah ini tak dikenal di negara mana pun kecuali di Indonesia. Apa masih mau dipertahankan? Khusus untuk pembaca Injil, istilahnya berbeda, yakni “diakon”. Diakon mendapat tahbisan khusus. Memang, pembaca Injil dalam Misa hanyalah orang-orang yang sudah ditahbiskan. Dalam suatu perayaan liturgis, jika ada diakon yang bertugas melayani imam selebran, diakonlah yang paling berhak membaca Injilnya. Baru, jika imam selebran tidak didampingi diakon, imam sendiri boleh mengambil alih tugas diakon. 

Injil dan Homili

KITAB INJIL DIANGKAT DAN DIKECUP. Mengangkat dan mengecup Kitab Injil yang dilakukan oleh pembaca Injil setelah membacakannya sebenarnya adalah satu rangkaian tindakan simbolis yang sekali lagi mau menghormati Kristus sendiri. Untuk mengecup Kitab Injil memang perlu mengangkatnya terlebih dulu, agar bibir pembaca bisa mendarat dengan sempurna. Namun, sering kali kita menyaksikan bahwa satu tindakan simbolis ini seolah dipisahkan satu sama lain. Ada pembaca Injil (biasanya para imam) yang secara berlebihan mengartikannya sebagai penunjukkan Sabda Kristus. Maka. Kitab Injil itu diangkat tinggi-tinggi atau diperlihatkan kepada jemaat, bahkan secara teatrikal. Masih untung kalau itu memang benar-benar Kitab Injil, terkadang malah cuma selembar kertas Bacaan yang sama sekali jauh dari kesan keanggunan. Sebenarnya tindakan ini malah mengaburkan makna kehadiran Kristus Sendiri yang berbicara, bersabda secara langsung, tidak sekedar sebagai dokumen tertulis yang seolah menjadi tanda bukti. Kitab Injil memang menjadi simbol Kristus, namun simbol Kristus yang bersabda sebenarnya sudah ditampilkan sejak Bacaan Pertama.
TANDA SALIB SEBELUM DAN SESUDAH HOMILI? Tidak perlu, karena homili bukanlah doa yang biasanya dibuka dan ditutup dengan Tanda Ssalib. Ada juga imam yang kreatif, menutup homilinya dengan suatu doa. Masih perlukah? Jika nantinya akan ada Doa Umat Permohonan, kiranya menutup homili dengan doa jadi kelihatan berlebihan. Toh sudah tersedia Doa Umat.


LITURGI EKARISTI
Persembahan 
APA SAJA YANG DIPERSIAPKAN? Bahan-bahan persembahan dan segala sarana untuk ritus persembahan dan Liturgi Ekaristi secara keseluruhan. Bahan utamanya adalah roti hosti dan anggur. Sarana penunjang utamanya adalah piala, sibori, ampul (tempat anggur dan air), korporal, purifikatorium, palla, dan Buku Misa (Missale). Bahan-bahan lain yang menyertai bahan utama adalah hasil-hasil bumi (seperti buah-buahan, bunga), uang, atau benda-benda lain yang dapat dimaknai sebagai simbol persembahan karya jemaat. Bahan-bahan dan sarana-sarana itu dibawa ke altar oleh petugas. Mengapa altar? Karena di altarlah kegiatan Liturgi Ekaristi ini akan berlangsung. Ingat, kalau Liturgi Sabda berpusat pada mimbar, maka Liturgi Ekaristi berpusat pada altar. 
PERARAKAN PERSEMBAHAN. Bahan-bahan persembahan memang harus dibawa ke altar. Dianjurkan agar jemaat sendirilah yang mengantar bahan-bahan itu ke altar. Tindakan jemaat yang mengantar bahan persembahan menuju altar ini dilukiskan dalam tata gerak berupa suatu perarakan. Perarakan dapat berupa dua bentuk: yang sederhana dan yang meriah. Yang sederhana adalah jika hanya misdinar atau putera altar yang membawa roti dan anggur menuju altar, bisa juga dengan iringan nyanyian atau musik Sedangkan yang meriah adalah jika beberapa petugas persembahan, wakil jemaat, secara khusus mengantar bahan-bahan persembahan itu ke altar, dengan diiringi nyanyian musik atau bahkan tarian. Usaha menampilkan unsur-unsur budaya setempat seringkali mengambil waktu atau mengisi ritus ini. Seluruh proses ini mau melambangkan secara jelas bentuk keterlibatan aktif jemaat dalam kurban Kristus di altar. 
IMAM SELEBRAN TIDAK MEMBERKATI PESERTA PERARAKAN. Di banyak tempat masih terjadi bahwa Imam Selebran yang menerima bahan-bahan persembahan memberi berkat kepada para pembawanya. Ini tidak perlu. Berkat untuk public jemaat hanya diberikan pada akhir Misa. Pemberian berkat pada saat ini dapat disalahartikan sebagai tanda pengistimewaan para peserta perarakan itu. Hal ini justru harus dihindari dalam Misa Kudus. Jika perlu, Imam Selebran dapat mengucapkan terima kasih kepada mereka.
DILETAKKAN DI MANA? Bahan-bahan persembahan diletakkan di tempat yang semestinya. Roti dan anggur dibawa ke altar; namun, hasil-hasil bumi dan kolekte jangan diletakkan di atas altar. Sebaiknya disediakan tempat khusus di dekat altar. Suatu tempat yang dianggap cukup pantas untuk menjadi tempat bagi persembahan karya dan diri jemaat. Maka, sebaiknya janganlah diletakkan di lantai begitu saja.
Konsekrasi
TATA GERAK UNTUK JEMAATNYA? Ketika Tubuh (hosti) atau Darah (piala) ditunjukkan oleh Imam Selebran, jemaat seharusnya melihatnya. Memang Tubuh dan Darah dipertunjukkan kepada jemaat untuk dilihat, bukan diabaikan (misalnya, malah dengan menundukkan kepala). Apakah harus dengan menyembah (gaya budaya Jawa: mengatupkan kedua telapak tangan dan mengangkat ke depan wajah)? Kita tidak diminta menyembahnya. Maka, tidak ada keharusan itu. Nah, setelah mengangkat Tubuh atau Darah, Imam memang memberi penghormatan dengan berlutut. Kiranya sikap menyembah ataupun menundukkan kepala oleh jemaat dapat disetarakan dengan sikap Imam ini, yakni sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan. 

Ritus Damai 
Ritus Damai mempunyai dua unsur utama: Doa Damai dan Salam Damai. 
DOA DAMAI (“Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah bersabda kepada para rasul … jangan memperhitungkan dosa kami....”) sebenarnya dibawakan oleh Imam Selebran saja. Ini masih tergolong doa imam presidensial yang kristologis. Doa presidensial adalah doa yang hanya dibawakan oleh Imam Selebran, sang pemimpin (presiden) liturgi. Jemaat tidak diperkenankan ikut mengucapkan doa-doa semacam ini, selain bagian-bagian yang memang dikhususkan bagi mereka (misalnya: seruan aklamatif “Amin”). Nah, masih adakah yang melanggar aturan ini ? Hendaknya jangan berdalih “demi keterlibatan aktif jemaat”, maka mereka diajak membawakannya. Partisipasi aktif jemaat tidak boleh menabrak fungsi-fungsi peran pelayan liturgis yang ada. 
SALAM DAMAI. Ritus ini diawali dengan ucapan Salam Damai oleh Imam Selebran: “Damai Tuhan bersamamu.” Dijawab jemaat: “Dan bersama rohmu.” Kemudian dilanjutkan dengan ajakan Diakon atau Imam Selebran yang mengundang jemaat untuk saling memberi salam. Ajakan atau undangan ini tentu saja diikuti dengan acara saling memberi salam. Jika tidak ingin mengadakan acara saling bersalaman, maka tidak perlulah ajakan itu. Cukup dengan Salam Damai oleh Imam seperti di atas. Biasanya ada beberapa Imam yang memberi pengantar khusus sebelum menyampaikan Salam Damai. 
AWAS, JADI RAMAI DAN KISRUH! Acara Salam Damai pada bagian Ritus Komuni sering kali malah dirasakan mengganggu atau bahkan merusak suasana kudus-khusuk yang sudah terbangun sejak Doa Syukur Agung. Ketika jemaat saling bersalaman, tak jarang malah tercipta suasana gaduh, tidak khidmad. Maka, pikirkanlah dengan baik jika ingin mengadakan acara bersalam-salaman pada bagian ini. Jika memang diinginkan acara itu (yang mungkin cenderung menjadikan suasana tidak sesuai dengan harapan), dapatlah acara Salam Damai dipindah ke sebelum Persiapan Persembahan atau setelah Doa Umat. Bisa juga setelah Ritus Tobat. Inspirasi biblisnya ada: “… tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan berdamailah dulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:24). Memindahkan ritus Salam Damai ini ke bagian lain, selain tiga kemungkinan di atas, rasanya tidak tepat. 

Penerimaan Tubuh (dan Darah) Kristus 
JEMAAT MENERIMA! KONSELEBRAN MENGAMBIL SENDIRI. Jemaat menerima komuni dari Imam atau petugas lain. Jadi, mereka tidak mengambil sendiri-sendiri. Jemaat menerima, karena Imam memberikan. Yang berhak mengambil sendiri hanyalah para Imam Konselebran. Tepatnya pada Ritus Pemecahan Roti, sebelum Imam Selebran menunjukkan Tubuh (dan Darah) Kristus (“Inilah Anak Domba Allah....”) kepada jemaat. 
BAGAIMANA MENYAMBUT KOMUNI SUCI? Instruksi dalam Redemptionis Sacramentum menyatakan: “`Ketika menyambut komuni, umat hendaknya berlutut atau berdiri, sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Konferensi Uskup', yang keputusannya diberi recognitio oleh Takhta Apostolik. `Tetapi jika komuni disambut sambil berdiri, maka hendaklah umat memberi suatu tanda hormat sebelum menyambut Sakramen, seturut ketetapan yang sama.'” (No 90). 
DENGAN LIDAH ATAU TANGAN? “Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat, dengan recognitio oleh Takhta Apostolik yang telah mengizinkannya, maka hosti harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni; sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan.” (Redemptionis Sacramentum, No. 92). 
TANGAN KIRI ATAU TANGAN KANAN? Hal ini juga sering ditanyakan umat. Tertulianus, Siprianus, dan Sirilus pernah menyebut (telapak) tangan kiri bagaikan suatu tahta bagi (telapak) tangan kanan, yang akan menerima Tubuh Kristus, Sang Raja. Kini kita mempraktekkan dengan cara (telapak) tangan kiri di atas (telapak) tangan kanan, supaya tangan kanan dapat mengambil Tubuh Kristus.

RITUS PENUTUP
Berkat dan Pengutusan 
Ritus ini diawali dengan Salam oleh Imam Selebran: “Tuhan sertamu,” dijawab jemaat: “Dan sertamu juga.” Lalu Imam memberi Berkat kepada jemaat dengan menggerakkan tangan dalam bentuk tanda salib. Jemaat pun membuat tanda salib besar pada dirinya dan akhirnya menjawab “Amin”. Pemberkatan diikuti dengan Pengutusan. Seorang diakon yang bertugas atau Imam Selebran sendiri menyatakan bahwa misa telah selesai, “Saudara sekalian, Perayaan Ekaristi sudah selesai,” “Ite missa est”. Jemaat menjawab,”"Syukur kepada Allah,” “Deo gratias”. Begitulah rumusan resmi Berkat Sederhana dalam buku Misale Romawi. Berkat dan Pengutusan ini bisa dihilangkan jika setelahnya segera dilanjutkan dengan kegiatan liturgis lainnya. Alangkah indahnya jika rumus Berkat dan Pengutusan ini dinyanyikan baik oleh Imam, Diakon, maupun oleh jemaat, sesuai dengan peran masing-masing. 
BAGAIMANA BERKAT MERIAH ITU? Berkat meriah disertai dengan tata gerak Imam yang mengulurkan kedua tangan ke arah jemaat. Kemudian diikuti tiga kali pernyataan tentang penyertaan Allah (biasanya berkaitan dengan misteri yang dirayakan pada saat itu) yang masing-masing dipertegas dengan jawaban jemaat, “Amin”. Setelah itu diakhiri dengan berkat tanda salib atas jemaat, “Semoga Saudara sekalian dilindungi, dibimbing, dan diberkati oleh Allah yang Mahakuasa (+) Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” Jemaat sekali lagi menjawab “Amin”. Jadi, ada empat kali “Amin” dalam Berkat meriah. Lebih banyak daripada Berkat Sederhana yang hanya memiliki satu kali “Amin”. “Apabila tepuk-tangan membaha dalam liturgi karena suatu keberhasilan manusia, itu merupakan suatu pertanda pasti bahwa hakekat liturgi telah sama sekali lenyap dan digantikan dengan semacam entertainment rohani.” (Paus Benediktus XVI, "The Spirit of the Liturgy"). 
BAGAIMANA MERAYAKAN EKARISTI DENGAN PANTAS? “Vox Patris” Nasehat-nasehat Rohani St Paulus dari Salib: Sebelum perayaan: “Biasakanlah dirimu merayakan Misteri Mahakudus dengan persiapan yang mendalam dan terus-menerus berkat hidup yang suci.” Selama perayaan: “Biasakanlah dirimu merayakan Ekaristi dengan sikap hormat yang sangat luhur serta memenuhi petunjuk-petunjuk [liturgis] dengan tepat.” Sesudah perayaan: “Bila engkau merayakan Ekaristi, engkau menyambut Yesus, bukan? Lalu, setelah perayaan selesai, mengapakah tidak membiarkan diri disantap Yesus supaya kamu diubah dalam DiriNya serta dinyalakan dengan cinta-Nya yang berkobar di dalam hati-Nya.” Buah Ekaristi: “Hasil perayaan Ekaristi adalah bahwa seluruh dirimu akan dihiasi oleh Yesus Kristus dengan rahmat keutamaan-keutamaan-Nya serta kemudahan mempraktekkannya.” Komuni Batin: “Sambutlah komuni batin minimal tujuh kali sehari. Sebenarnya aku anjurkan lebih dari itu, karena aku ingin kamu membawa Yesus di altar hatimu terus-menerus. Untuk menyambut komuni secara batin, cukup hanya satu kerinduan penuh cinta kepada-Nya, dengan keinginan hangat untuk memiliki-Nya dalam hati…. ”


PENUTUP


Bunda Maria, Bunda Ekaristi


Dalam arti tertentu, Maria menghidupi iman Ekaristinya bahkan sebelum pendasaran Ekaristi, oleh kenyataan bahwa dia mempersembahkan rahim perawannya kepada Penjelmaan Sabda Allah. Ekaristi, sebagai peringatan sengsara dan kebangkitan, adalah juga kelanjutan penjelmaan. Pada Kabar Gembira, Maria mengandung Putra Allah dalam kenyataan fisik tubuh dan darahnya, sehingga, pada tingkat tertentu, ia mendahului dalam dirinya, yang terjadi secara sakramental dalam diri setiap umat beriman, yang menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, dalam tanda roti dan anggur. Akibatnya terdapatlah kemiripan yang mendalam antara Fiat yang dikatakan oleh Maria menjawab malaikat, dan Amin, sebagai jawaban umat beriman waktu menyambut Tubuh Tuhan. Maria diminta mempercayai Dia yang dia kandung “oleh Roh Kudus” adalah “Putra Allah” (Lk 1:30-35). Melanjutkan iman sang Perawan terhadap misteri Ekaristi, kita juga diundang untuk percaya, bahwa Yesus Kristus yang sama, Putra Allah dan Putra Maria, hadir dalam kepenuhan kemanusiaan dan keilahian-Nya dalam tanda roti dan anggur.

“Berbahagialah dia yang percaya” (Lk 1:45). Maria juga telah memulai, dalam misteri penjelmaan, iman Ekaristi Gereja. Tatkala ia, dalam Kunjungan, dalam rahimnya mengandung Sabda yang telah menjadi daging, dalam arti tertentu, ia menjadi “tabernakel” - tabernakel perdana dalam sejarah. Di sana Putra Allah, yang masih belum terlihat oleh mata manusia, membiarkan diri-Nya disembah oleh Elisabeth, memancarkan terang-Nya lewat mata dan suara Maria. Dan bukankah pandangan terpukau dari Maria, tatkala merenungkan wajah Kristus yang baru lahir dan yang mengasuh-Nya dalam ayunan tangannya, model kasih yang tiada tara, pantas mengilhami kita setiap kali kita menyambut komuni Ekaristi? Paus Yohanes Paulus II, “Ecclesia de Eucharistia”, 2003


_____
Sumber:
  • “Perayaan Ekaristi: Apa Ini? Apa Itu?”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia)
  • “Perayaan Ekaristi: Apa Ini? Apa Itu?”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia); 2. “Redemptionis Sacramentum”
  • YESAYA: www.indocell.net/yesaya
  • Ambil Bagian dalam Misa: Penjelasan Tahap demi Tahap oleh Rm Thomas Richstatter, O.F.M
  • Mengagumi Keagungan Misa Kudus oleh Rm William P. Saunders
  • Kurban Misa Kudus dalam Penglihatan Broeder Kostka
  • Artikel-Artikel mengenai Ekaristi Kudus & Perayaan Ekaristi
No comment