Latest Post

Kursi dan Meja

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 30 Agt 2016 | 00.25

Kursi dan Meja
Kita lebih menyukai kursi dibanding meja. Ya, karena keberadaan kursi erat terkati dengan tingkat kenyamanan kita saat duduk. 

Sebaliknya, kita sering tak terlalu peduli dengan meja, sebab meja kerpa dipandang perlu hanya ketika kedua tangan kita butuh sandaran ketika melakukan aktivitas tertentu.

Di dunia sosial, budaya dan politik,  "kursi" kerapa dijadikan simbol kekuasaan (yang nyaman dan menyenangkan); sementara "meja" sendiri menyimbolkan pekerjaan (manus).

Saat kita sekolah dan kuliah, di ruang kelas atau ruang perkuliahan kita diberi kursi lipat, yang tak terlalu nyaman untuk diduduki, dan sangat tidak nyaman dijadikan alas buku atau laptop saat mencatat.

Tak hanya itu, para guru dan dosen malah seringkali tak kebagian meja di ruang kantor yang bisa mereka jadikan sebagai tempat untuk mempersiapkan matapelajaran/matakuliah di kelas. Kalaupun ada, biasanya mereka hanya diberi meja kecil, yang bahkan tak muat menampung lembaran hasil ujian anak-anak didik yang akan mereka periksa.

Lain halnya dengan para kepala sekolah atau rektor. Mereka memiliki kursi empuk dan meja yang luas seperti yang digunakan oleh presiden, gubernur, bupati, camat dan lurah, bahkan kepala desa yang kini dimintain Pusat menghabiskan 1 milyar bantuan desa. Kursi dan meja berukuran lebih besar juga digunakan oleh bos-bos perusahaan.

Lantas mengapa bos-bos tadi harus menggunakan kursi empuk dan meja berukuran lebih luas? Yang pasti sih, kursi dan terutama meja kerja tadi pertama-tama adalah demi mempermudah mereka mengerjakan sesuatu di sana. 

Emangnya apa yang mereka lakukan di sana? Biasanya sih, di atas meja-meja tadi diletakkan timbunan arsip berupa proposal, laporan, dan berbagai arsip administratif lain. Dengan kursi empuk dan meja yang luas tersebut mereka hanya bisa mengerjakan 2 aktivitas. 

Pertama adalah menandatangani atau memberi assessment untuk proposal, laporan dan sejenisnya, dan kedua, adalah memanggil bawahan untuk menjelaskan perihal berbagai arsip tadi.

Nah, bentuk, ukuran dan kualitas kenyamanan sebuah kursi dan meja ternyata juga  bertautan dengan pengklasifikian golongan atau status para pekerja. Artinya, semakin keren kursi seseorang, maka ia adalah bos bergaji tinggi, tetapai kerjanya cuma duduk dan membubuhkan tanda tangan. Sebaliknya, bila kursinya biasa saja, apalagi hanya berukuran kecil, maka ia hanyalah manager atau staf biasa yang kerjanya sering ke lapangan.

Lain lagi dengan kualitas meja. Semakin bagus dan luas meja kerja seseorang, maka ia adalah seorang pemalas berstatus raja yang kerjanya duduk di kursi empuk dan menaruh kakinya di atas meja. Ya, kerjaan mereka, seperti telah disingguh di atas, tak lain hanya membubuhkan tandan tangan dan menulis memo. 

Sebaliknya, semakain kecil meja kerja seseogan, maka pekerjaanny adalah merport semua yang terjadi dalam perusahaan dan selanjutnya, hasil reportnya tadi akan ia tumpuk di meja yang lebih luas milik bosnya.

Begitulah yang terjadi, di mana bentuk, ukuran, ornamen dari meja dan kursi biasanya terkait dengan jenis jabatan seseorang dan seberapa besar lembaga yang ia pimpin. Maka, seseorang tak semestinya bangga ketika ia punya ruang kerja sendiri yang dilengkapi dengan meja yang luas dan kursi empuk, karena sesungguhnya hal itu akan membuat dia sebagai manusia paling tidak kreatif. 

Bagaimana tidak? Ia telah melewati masa studi secara formal selama kurang lebih 20 tahun, tetapi selaksa ilmu yang ia dapatkan tadi tak sempat ia praktikkan. Ya ialah... kerjanya aja cuma memeriksa dan menandatangani arsip-arsip yang bersifat administratif tadi. Paling-paling ia sesekali dan secara rutin memimpin rapat.

Makanya, seseorang tak punya alasan untuk berbangga diri punya ruangan yang dilengkapi kursi dan meja bermotif ukiran jepara di dalamnya, disaat ia hanya bisa melakukan tindakan yang sama seperti robot di dalamnya: menandanga tangani arsip dan memimpin rapat. Kecuali, dengan kursi dan meja tadi bisa melahirkan ide-ide kreatif yang bisa Anda ajarkan kepada bawahan sehingga Anda masih punya waktu untuk melakukan hal lain.

Bukankah dalam teori kepemimpinan dikatakan bahwa pemimpin ideal itu adalah pemimpin-pelayan? Ya, ia harus melakukan kewajibannya sebagai pemimpin, antara lain membubuhkan tanda tangan dan memimpin rapat untuk menentukan arah lembaga yang dipimpinnya, tetap serentak ia harus berani berbagi tugas dan tanggung jawab kepada bawahannya. 

Untuk apa? Tentu saja agara sang pemimpin tadi masih punya waktu melihat, menyapa dan bergaul dengan  customer / klien / pasukan / rakyat yang berada dibawah kepemimpinannya. Hanya dengan cara itulah ia menolong institusi, perusahaan atau negara yang dipimpinnya.

Target Presiden vs Target Menteri

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 29 Agt 2016 | 03.00

Target Presiden vs Target Menteri
"Kita Langsung Kejar target!" adalah kalimat yang sering keluar dari presiden kita. Kalimat itu selalu diucapkan saat pembangunan infrastruktur di mana pun, termasuk dalam hal pengembangan parawisata.

Dalam logika pemikiran orang normal, orang tak mungkin langsung menuju target. Bahkan dalam penelitian ilmiah saja, target yang sesungguhnya baru bisa ditetapkan setelah melalui berbagi hipotesa.

*****

Lantas bagaimana memahami diksi sang presiden ini? Para menteri tak satu pun yang berhasil menterjemahkannya dengan baik. Mereka bahkan terpkasa diotak-atik, berganti posisi, bahkan harus dikeluarkan dari lingkaran kabinet kerja.


Mengapa bisa terjadi?


Jawabannya sederhana. Kalimat "langsung menuju target" dari presiden adalah bahasa marketing, dan oleh karenanya bisa diterjemahkan dengan ungkapan "jemput bola". Artinya, "segeralah mulai bekekerja!" atau "Ya sudah, langsung kerjakan saja!"

Sementara para menteri yang kebanyakan berasal dari kalangan akademisi malah menterjemahkan target sebagai hasil. Mereka pun berlomba menuntaskan pekerjaan di departemen masing-masing. Ada yang langsung menembaki kapal asing yang masuk ke perairan RI. Ada juga yang mulai meributi Freeport karena pembagian laba yang tak adil.

Selain itu, ada juga menteri yang malah ingin mereduksi pendidikan keluarga sepenuhnya dalam pendidikan sekolah formal. Jangan lupakan Mendagri, yang juga tak mau ketinggalan kejar target. Dia sibuk dengan target e-KTP yang dulu ditentang dan dipersoalkan partainya PDIP.

Kebetulan juga Cahyo Kumolo, sang mendagri itu politisi murni, hingga melupakan kasus korupsi pengadaan e-KTP dijaman Gamawan, sang pendahulunya. Cahyo bahkan belum bisa menjelaskan secara gamblang apa bedanya e-KTP dibanding KTP biasa. Ia hanya tahu kalau dengan e-KTP seseorang lebih mudah dilacak, terutama ketika ia tak menaati tax amnesty dari bos-nya.


Pertanyaannya, seperti itukah maksud presiden?

Dugaan saya tidak seperti itu. Sebab, kita semua tahu bahwa Jokowi bukanlah seorang akademisi yang terbiasa menulis jurnal atau melakukan penelitian.

Jokowi itu orang lapangan yang terbiasa menyapa siapa saja, karena ia yakin bahwa setiap manusia yang ditemui/dikenalnya adalah potential market atau potential customer.

Di titik inilah para menteri sering salah hingga di-ekkes (istilah anak-anak Seminari Siantar yang artinya 'dikeluarkan'). Sekali lagi, Jokowi tak bermaksud target (Anda harus menghasilkan sesuatu!) itu hasil, melainkan start (mulailah bekerja sekarang!).

Itu style-nya presiden, yang memang tak memiliki perbendaharaan kata sebanyak para menterinya yang lama bergaul dengan buku dan terbiasa mengajari orang lain.

Jadi, yang harus segera dilakukan para menteri adalah memahami presiden alias pemimpinnya... bukan malah menjalankan instruksi berdasarkan kebiasaan mereka.

Mengutip Cak Lontong, para menteri, gubernur, bupati, camat hingga kepala desa sudah semetinya "MIKIR!"


Lusius Sinurat

Bukan Sekedar Sampul

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 27 Agt 2016 | 03.43

 Bukan Sekedar Sampul
Menurut wikipedia berbahasa Indonesia, FACEBOOK adalah sebuah web jejaring sosial yang didirikan oleh Mark zuckerberg, diluncurkan pada tanggal 4 Februari 2004.

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.



Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Menyimpulkan Secara Salah 

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.


Lusius Sinurat

Saat Anak Digegas Untuk Segera Meretas

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 25 Agt 2016 | 13.39

Saat Anak Digegas
“Memang beda kalilah anakku yang satu ini. Di usianya yang baru 2 tahun saja sudah jago bermain game online. Padahal belum bisa baca loh,” kata Nai Unggul kepada teman akrabnya, Nai Harapan.

“Betul sekali, eda. Si bungsu kami juga begitu. Gak bisa silap sikit pun hape bapaknya. Ia pasti langsung menyambarnya dan mulai mengotak-atik game yang ada di dalamnya,” jawab Nai Harapan yang juga merasa bangga tetapi sekaligus bingung dengan ‘kehebatan’ anak-anak jaman ini.

Opung Sangap yang dari tadi secara samar-samar mendengar perbincangan kedua sahabat itu tak sabar untuk ikutan nimbrung, “Eee, molo dakdanak nuaeng on do ai so tarpodai be. Najoloi, tikki dakdanak be hamu holan mangatuk demban do iboto hamu. Hape molo nuaeng on demban pe so ditandai dakdanak i be (Anak-anak sekarang sudah enggak bisa dibilangin apa-apa. Padahal, dulu di masa kalian masih anak-anak hanya meracik sirih saja yang kalian tahu. Tapi sekarang ini anak-anak bahkan sudah tidak kenal apa itu sirih),” tambah Opung Sangap yang selalu dikerjain sama cucu-cucunya.


Anak-anak Digital

Jaman telah berubah, dan dunia pun turut berubah karenanya. Memang tak adil juga membanding jaman dulu dan jaman sekarang. Sebab cara berada manusia selalu terkait dengan ruang dan waktu. Demikianlah Pola hidup orang jaman dulu sangat berbeda dengan sekarang, tak terkecuali cara mendidik anak-anak dalam keluarga ditengah ‘dunia’ anak yang semakin semarak.

Di titik inilah keresahan orang tua tentang anak-anak mereka harus dikalahkan dengan kesadaran akan perubahan jaman yang terjadi. Tujuannya agar mereka tak sesat mempersiapkan anak-anak mereka menjadi manusia yang berguna di masa depan.

Orang tua harus menyadari bahwa genitnya perkembangan teknologi komunikasi saat ini telah melahirkan dunia penuh energi, bukan energi semesta tetapi energi hasil ciptaan manusia bernama smartphone atau ponsel pintar dengan gadgetnya yang seakan tak pernah habis untuk diunduh anak-anak.

Saat berulang tahun, atau saat menjadi juara kelas di sekolah, anak-anak jaman ini hampir tak mungkin meminta hadiah berupa buku komik kesenangannya. Mereka justru minta dibelikan telepon pinter yang kaya dengan gadgetnya. Anak-anak bahkan tak peduli tingkat perekonomian orangtuanya saat meminta dibelikan telepon pinter untuk mainan mereka.


Gadget, Teman Setia Anak

Di rumah, anak-anak jarang bertemu orangtua yang sangat sibuk bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi membelikan ponsel pintar untuk anak-anaknya.

Di lingkungan pergaulan, anak-anak, terutama di daerah perkotaan, bahkan anak-anak sudah terbiasa ngobrol tentang gadget terbaru dengan teman seusianya.

Di sekolah, anak-anak juga telah dibiasakan akrab dengan teknologi. Maka tak heran saat seorang guru Kelas IV SD Katolik di Medan ini tega memberikan PR “membuat profil lengkap seluruh negara di dunia” kepada siswanya. Si guru beranggapan bahwa semua siswanya telah mengerti internet dan mahir menggunakannya.

Dengan memberi PR sesulit itu kepada anak usia 10 tahun, guru guru tadi justru merasa sedang menerapkan kurikulum pendidikan berbasis teknologi informasi yang dicanangkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Demikianlah pengaruh kecanggihan teknologi melahirkan “anak-anak jaman ini”, yakni mereka yang hidupnya digegas agar bertumbuh cepat hingga mentas menjadi anak canggih. Hal inilah yang tampak dalam percapakan antara Nai Unggul, Nai Harapan dan Opung Sangap di atas. Kenyataannya anak-anak telah menjadi korban dari kecanggihan produk teknologi, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Atas dasar kecanggihan teknologi itulah banyak orangtua memaksa anak-anak mereka menjadi mesin baru yang hidupnya tergantung dari jumlah pulsa yang ada di ponsel pinter mereka, mudah dikontrol dengan chip bernama google-map yang tersedia di ponsel pintar anak-anaknya, hingga fasilitas itu membuat anaknya betah di rumah.

Ini terjadi karena pola pikir orangtua jaman ini juga mengalami pergeseran (shift paradigm). Lihatlah paham yang dianut sebagian besar keluarga di perkotaan tentang konsep pintar dan cerdas yang erat melekat dengan sarana teknologi.

Bagi mereka, semakin seseorang pinat memainkan fitur komputer dan memainkan game di ponsel android mereka, maka anak itu akan segera digolongkan sebagai anak-anak cerdas. Maka memiliki ponsel pintar adalah sebuah keharusan bagi mereka dan tentu saja bagai nak-anak mereka.


Ponsel Pinter Sebuah Keharusan?


Disaat anak-anak begitu gesit menangkap godaan menarik dari iklan ponsel cerdas di televisi, orang tua mereka justru sudah lebih dahulu terperangkap pada anggapan bahwa menggunakan ponsel cerdas itu sebuah keharusan saat ini. Banyak orang tua justru merasa takut kalah bersaing dengan anak-anak mereka hingga mereka pun mulai bergaul intim dengan ponsel pintar, lengkap dengan gadget-gadgetnya.

Ini lantas berarti bahwa baik orangtua maupun anak-anak harus memiliki ponsel pintar tersebu. Tak peduli seberapa mahalnya! Mau keluarga kaya, keluarga dengan tingkat ekonomi menengah, bahkan orang yang hidup didalam kemiskinian sekalipun punya kehendak yang sama: harus “memiliki ponsel cerdas agar anak-anak mereka menjadi cerdas.”

Banyak orang tua beranggapan bahwa ponsel Android harus dimiliki anak-anak mereka, sebab bila sebaliknya, maka anak-anak mereka akan selalu merengek minta dibelikan, apalagi teman-temannya di sekolah sudah terlebih dahulu memilikinya.


Merampas masa Kanak-kanak

Begitulah masa kanak-kanak yang semestinya diramaikan dengan bermain bersama teman sebayanya justru telah dirampas oleh orangtua yang memberinya “teman baru” bernama ponsel pintar dan oleh sekolah yang membebaninya dengan segudang pekerjaan rumah.

Segala aspek kehidupan anak-anak nyatanya telah digerogoti oleh kecanggihan alat cerdas ciptaan manusia itu, hingga para orangtua mulai sadar bahwa mereka sesungguhnya tak punya anak-anak, sebagaimana juga anak-anak berpikir bahwa mereka sesungguhnya tak punya orangtua.

Bila hal ini dibiarkan, bukan tak mungkin anak-anak merasa orangtua tak lebih dari seorang majikan yang baik, yang bekerja keras demi memenuhi permintaan mereka. Atau, bagi orangtua, anak-anak mereka tak lebih dari anak buah yang selalu meminta dibelikan hape baru.

Banyak orangtua yang gagal paham tentang pendidikan anak yang sebenarnya. Mereka bahkan tak mampu menjadi model “manusia ideal” bagi anak-anak mereka. Di pihak lain, negara yang selalu mendendangkan kebutuhan akan generasi penerus yang mumpuni justru turut larut dalam sistem pendidikan instan, yang menciptakan generasi robot yang mentas dengan gegas lewat kurikulum yang berbasis online dengan penerapan seragam itu.

Betul bahwa apa pun yang dihidangkan oleh negara, berupa kurikulium pendidikan berbasis teknologi di sekolah hanyalah pelengkap dari pendidikan keluarga, tetapi perlakuan sekolah yang merampas hak-hak anak lewat beban pelajaran yang segudang itu justru menambah beban anak-anak.

Kita sadar bahwa siapa pun yang merasa terjepit dan terjebak dalam gua gelap akan mencari jalan keluar. Persoalannya justru jalan keluar seperti apa yang ia pilih: “jalan sempit” yang menyelamatkan atau “jalan lebar” yang justru menjerumuskannya?

Negara, masyarakat dan keluarga justru kerap memilih “jalan lebar” sebab mereka tak menyadari bahaya yang siap menghadang dan membahayakan anak-anak mereka. Teriakan para pemerhati anak, sindirian para pengkotbah di mimbar-mimbar saat mengikuti ritual keagamaan, ajakan dari para pemerhati pendidikan anak, dan iklan-iklan pendidikan di televisi justru sering tak dihiraukan.

Situasi ini sangat menyulitkan anak-anak, terutama setelah mereka remaja dan beranjak dewasa. Dalam kesulitan-kesulitan yang dihadapi, mereka pun mencari jalan keluar yang “instan dan memuaskan”, yakni memilihi jalan lebar dan membahayakan.

Kasus-kasus kenakalan dan kejahatan remaja, seperti pemerkosaan yang dilakukan gerombolan remaja, penggunaan narkoba, tawuran hingga mengakibatkan kematian, dst adalah ekses langsung dari kesalahan orangtua dalam pendidikan anak-anak mereka.


Kepedulian pada Keluarga dan Anak-anak

Hari Anak Nasional dirayakan setiap tanggal 23 Juli dengan penekanan pada pentingya memperjuangkan hak-hak anak. Biasanya, pada peringatan ini pemerintah dan para pemerhati anak selalu mengajak para orantua untuk pertama-tama mengutamakan pola pendidikan yang terbaik dalam keluarga, khususnya dalam hal mendidik anak.

Kita yakin bahwa pendidikan yang baik akan menghindari anak kelak dari mentalitas tak tahan banting dan mudah menyerah, kurang memiliki hati dan empati, soliter dan egois (berorientasi pada diri sendiri), mengutamakan hasil tanpa peduli proses, tak punya skala prioritas, mudah kehilangan konsentrasi dan tak bisa fokus, serta krisis identitas dan keteladanan.

Konsekuensinya, anak-anak tak harus bersekolah di PAUD, TK hingga SD berbasis teknologi yang supermahal hingga anak-anak tak lagi punya waktu bermain. Itu bukan kebutuhan utama mereka. Selanjutnya, anak-anak jangan dipaksa mengikuti kursus kepribadian kilat (demi memenuhi hasrat orang tua) agar mereka bisa memenangkan lomba penyanyi cilik, model cilik, ilmuwan cilik dan berbagai jenis prestasi cilik lainnya.


Penutup

Anak-anak butuh rumah sebagai tempat mengekspresikan dirinya sebagai anak-anak. Di rumah ia bisa bermain bersama adik, kakak dan orangtuanya. Di rumah pula ia bisa belajar memperbaiki hidup saat memecahkan gelas secara tidak sengaja, atau saat mencubit pipi adiknya hingga menangis.

Hanya di rumah. Sekali lagi, hanya di rumah lah anak-anak belajar nilai-nilai etis secara praktis yang kelak bisa ia kembangkan ditengah teman-teman bermainnya, di sekolah dan di lingkungan lainnya. Sebab, energi dan denyut kegairahan anak-anak selalu bermula dari rumah. Dari rumah lah anak-anak itu belajar memahami betapa sopan santun itu penting dan kehangatan orang tua itu adalah segalanya. Akhirnya, seluruh prestasi dan keajaiban yang diciptakan oleh anak-anak selalu bermula dari rumah, dari keluarga.

Rumah yang dimaksud ialah rumah yang dihuni oleh ayah dan ibunya, bukan sekedar rumah tempat ayah-ibunya “singgah” di malam hari, tepat di saat anak-anak telah terlelap. Juga bukan di rumah di mana anak-anak berangkat sekolah tak pernah diantar, bahkan mendapat salam dan peluk cium dari ayah-ibunya. Di sinilah letak pentingnya kesadaran para orang tua bahwa anak-anak mereka tak perlu digas dan digegas agar cepat mentas demi memuaskan hasrat mereka sendiri. Maka, kembalilah menjadi keluarga yang normal !

Kalau Anda merasa tidak mampu memenuhi hak-hak anak berdasarkan Child Rights, yakni menghindarkan anak-anak dari abuse (diperlakuan secara kejam/disiksa), neglect (diabaikan), dieksploitasi dan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak lainnya, maka ada Yesus Kristus yang selalu merindukan mereka, “Biarkan anak-anak itu datang padaku....” (Mrk 10:14).


(diterbitkan di majalah MENJEMAAT edisi Juli 2016)

Ketika Orang Kristen Alergi Kotbah

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 17 Agt 2016 | 12.25

Risalah “Homili Paus Fransiskus”
Jumat pagi, 13 Desember 2013
di Kapel Domus Sanctae Marthae Residensi di Vatikan,


Fokus perhatiannya pada sikap beberapa orang Kristen yang tampaknya “alergi” dengan para pengkhotbah dan terlalu bersifat mengecam mereka yang mewartakan Injil, yang menunjukkan bahwa mereka sering khawatir untuk membiarkan Roh Kudus ke dalam kehidupan mereka dan karenanya rentan terhadap kesedihan yang mendalam.
*****

Dalam Injil: Matius 11:16-19 Yesus menyamakan generasi angkatan-Nya dengan anak-anak yang selalu tidak bahagia, yang menjelaskan bahwa mereka [seolah], “tidak terbuka kepada Firman Allah.” 

Penolakan mereka, jelasnya, bukan terhadap pesan itu, melainkan terhadap si pembawa pesan: menolak Yohanes Pembaptis — yang tidak makan dan tidak minum dan dituduh kerasukan setan, serta menolak Yesus karena dan menuduhnya seorang pelahap, pemabuk, sahabat para pemungut cukai dan para pendosa.”

Mereka selalu punya alasan untuk mengkritik pengkhotbah, tetapi mereka lebih suka berlindung dalam sebuah agama yang lebih rumit:
  1. dalam prinsip-prinsip moral (orang-orang Farisi); 
  2. dalam kompromi politik (orang-orang Saduki); 
  3. dalam revolusi sosial (orang-orang fanatic) dan 
  4. dalam spiritualitas gnostic (orang-orang Essene). 
Kelompok ini senang dengan kebersihan mereka dan sistem mereka yang dipoles dengan baik. Sebaliknya Sang Pengkhotbah tidak mereka senangi. Maka Yesus pun mengingatkan mereka: ‘Nenek moyangmu melakukan hal yang sama dengan para nabi' (bdk. di masa kini, di mana umat Allah memiliki alergi tertentu terhadap para pengkhotbah Firman). 

Ciri-ciri orang yang dimaksud Yesus ialah mereka yang:
  1. menganiaya para nabi, [bahkan] membunuhnya
  2. mengaku menerima kebenaran wahyu, sementara Sang Pengkotbah tidak menerimanya.
  3. memilih hidup yang terkurung dalam ajaran-ajaran, kompromi-kompromi , rencana-rencana revolusioner atau dalam spiritualitas mereka.
Angkatan ini ialah orang-orang Kristen yang selalu tidak senang dengan apa yang para pengkhotbah katakan. Mereka juga tertutup, terjebak, menyedihkan, dan merasa tidak bebas., karena mereka takut kepada kebebasan Roh Kudus, yang datang melalui pengkhotbahan. Inilah yang disebut sebagai skandal pengkhotbahan, yang oleh St Paulus dikatakan akan berakhir dalam skandal Salib. 

Allah berbicara kepada kita melalui orang-orang dengan keterbatasan-keterbatasan, orang-orang yang penuh dosa, orang-orang dengan skandal, bahkan lebih dari sekedar skandal. Melalu mereka Allah berbicara kepada kita dan menyelamatkan kita dengan cara manusia (dalam diri Putera Allah). Seperti Yesus, akhir hidup-mereka pun diperlakukan bak seorang penjahat.

Dalam diri orang-orang Kristen terdapat juga ciri di atas, dan itu sungguh menyedihkan, sebab mereka:
  • tidak percaya pada Roh Kudus, 
  • tidak percaya pada kebebasan yang berasal dari pengkhotbahan yang mengingatkan, mengajarkan, bahkan menampar mereka. 
  • seperti anak-anak yang takut untuk menari, menangis, dan takut kepada segala sesuatu. 
  • selalu meminta kepastian dalam segala hal dan selalu mengkritik para pengkhotbah Kebenaran, tetapi serentak mereka khawatir membuka pintu (hati mereka) kepada Roh Kudus. 
Marilah kita berdoa bagi mereka, dan berdoa juga untuk diri kita sendiri, bahwa kita tidak menjadi orang-orang Kristen yang menyedihkan, yang memotong kebebasan Roh Kudus untuk datang kepada kita melalui skandal pengkhotbahan itu.”


*) Disadur dari www.news.va

Lusius Sinurat

Monitor Smartphone, antara PENCET, SENTUH dan USAP

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 11 Agt 2016 | 01.50

Monitor Smartphone
Tahun 90-an, saat NOKIA masih merajai pasar telepon genggam, kata yang paling kita sukai adalah PENCET alias TEKAN. 

Bukan sembarang pencet, karena untuk memunculkan satu huruf saja di layar ponsel kita dibutuhkan 3 kali pencetan.

Lalu datanglah Blackberry yang meringkas 3 kali pencet tadi menjadi cukup sekali pencet saja. Saat itu kita merasa lebih bebas ber-ponsel-ria sambil beraktivitas. Apalagi saat itu kata PIN menjadi kata goib, hingga orang tak sembarang berbagi PIN.Tak lama BB mendominasi pasar.

Android yang dimotori oleh Samsung mulai menggoda mereka yang selalu gagal mendapatkan PIN sang gebetan. Hadir dengan layar yang lebih lebar dan fungsinya mirip Laptop, Android juga memanjakan para penggunanya. Bagaimana tidak, kita tak usah menekan atau memencet tombol lagi saat hendak mengetik pesan. Cukup dengan MENYENTUH monitor, keyboard QWERTY akan muncul. Selanjutnya kita tinggal menyentuh layar sesuai huruf/angka/simbol yang kita inginkan.

Hingga saat ini, khususnya setelah Android semakin digilai oleh ratusan juta penggunanya, kata TEKAN/PENCET dan SENTUH semakin tak akrab lagi di telinga kita. Kini, kata-kata itu telah digantikan dengan USAP. Anda tinggal MENGUSAP alias MEMBELAI layar ponsel pintar Anda, maka Anda akan terlihat seperti orang cerdas saat bermain game atau sangat komunikatif saat ber-video-call dengan kekasih Anda.

***

Begitulah perkembangan alat telekomunikasi tak sekedar menggambarkan kemajuan di bidang IT, tetapi serentak juga menjadi gambaran nyata tentang semakin banyaknya relasi kita karena mudahnya berkomunikasi.

Genitnya para pemilik pabrik ponsel pintar telah berhasil menggoda kita para penggunanya lewat motto, "Kini, Dunia Ada di Genggaman Anda!" Mereka seakan mengatakan, Anda tak usah bersusah payah bercita-cita setinggi langit, karena hanya membeli smartphone produk pabrik mereka, "Anda telah menggenggam semesta."

Alat-alat canggih itu telah menjadikan komunikasi semakin mudah, tetapi serentak perjumpaan semakin sulit diwujudkan. Ibarat perkembangan ponsel pintar tadi, kita tak usah mengeluarkan banyak energi untuk mencarai teman, pacar, bahkan calon istri kita.

Sesuatu yang mudah diraih pasti juga akan mudah raib. Ini ibarat orang mendapat lotre dan mendadak kaya, tetapi tak menikmati kekayaannya. Maka, lewat alat-alat komunikasi tadi, kita bisa menambah relasi baru secepat kilat, tetapi juga kita akan kehilangan mereka bak uap. Dengarlah celotehan anak-anak Medan ini, "Kau beraninya di Fesbuk aja. Aku temui kau malah menghilang!"

Ya, bukan saja persahabatan yang semakin "tipis", tetapi juga intimitas suami-istri semakin hari semakin terkikis. Tentu saja, karena saban hari suami-istri lebih suka mengumbar kemesraan lewat telepon atau berkirim pesan di media sosial daripada ngobrol berdua saling bertatapan muka saat berada di rumah.

Tak hanya itu. Dalam bisnis pun orang bisa mengatakan "YA" saat saat bertukar pesan lewat ponsel pintarnya, tetapi tak lama kemudian kata "YA" tadi lantas menghilang ditelan sinyal dan jaringan internet. Tentu mereka tak salah, sebab aamereka sesungguhnya tak pernah berbicara lewat mulutny. Mereka hanya mengusap digit-digit di monitor ponsel pintarnya hingga terjadilah "komunikasi".

Mereka juga tak salah ketika mengirimkan pesan bernada "janji" tetapi tak lama kemudian, saat kita menagih janjinya, ia lantas menjawab lewa WA-nya, "Maaf, ternyata saya salah kirim. Soalnya Ponsel Androidku ini sangat sensitif banget!" ha ha ha.

Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Plus Hadasaon

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 19 Jul 2016 | 15.06

Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon
Semua harus dibagi. Kekayaan, kehormatan dan kesuksesan itu harus diperlakukan seperti jaring atau jala ikan, yang harus membawa serta orang-orang terdekat, terutama kerabatnya dari pihak dongan tubu, boru dan hula-hula.

Hanya saja, konsep ini tak sesuai dengan konsep bisnis modern. Cara seperti ini tak mungkin berjalan dalam konsep kapitalisme barat yang sudah kadung kita anut.

Masa aku yang capek, saudaraku sendiri yang menikmati? Masak aku sudah jumpalitan mencari uang tapi harus membangun rumah buat orangtuaku atau mendirikan tugu yang menjulang tinggi untuk leluhurku?

Sungguh tak mungkin. Ini melawan hukum berat massa-nysa Joule, mengesampingkan unsur invisible hand-nya Adam Smith, bahkan menentang habis tingkat kebutuhan yang dicatat oleh Mashlow.

Selain melawan berbagai traktat dan hukum bisnis kapitalisme modern, cita-cita orang Batak tadi juga terlihat sangat utopis. Mengapa ?

Sebab dalam konsep ekonomi masyarakat Batak tak jelas kriteria sukses, terhormat dan kaya di atas. Artinya, Luhut Binsar Panjaitan atau Nyonya GM Panggabean boleh kaya raya versi hitunga-hitungan bisnis kapitalisme, tetapi belum tentu kaya dalam pemahaman orang Batak.

Tergantung.. Ia mau membantu saudara atau kerabatanya atau tidak. Bila ya, maka ia akan dipuja dan dipuji sebagai orang yang tak saja kaya, sukses dan terhormat, melainkan juga akan dianggap sebagai orang Batak ori, bukan Batak KW seperti penulis ha ha ha.

Psikologi sosial orang Batak seperti ini semestinya cocok diterapkan dalam sebuah negara dengan konsep sosialis ala Tiongkok atau negara Monarkhi seperti Uni Emirat Arab sekalian yang dikuasai oleh para emir (termasuk memanjakan rakyatnya yang miskin).

Sementara di Indonesia konsep tri- cita-cita ideal ala masyarakat Batak itu tak akan cocok, selain saling membebani, konsep ini hanya mungkin diterapkan di kampung kecil dengan penduduku 100 KK, dan tak memiliki akses ke dunia luar.

Maka tak mengeherankan bila prinsi-prinsip relasional dalam kultur Batak sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Jangankan soal Dalihan Na Tolu, bahasa Batak sendiri pun bisa jadi akan segera punah.

Tentu bukan karena tuntutan untu berbagi Hagabeon (kesuksesan, Hamoraon (kekayaan) dan Hasangapon (kehormatan) yang harus dibagi, melainkan karena dalam melaksanakan "Instruksi" adat sendiri pun orang Batak tak punya satu kesepakatan yang bisa mereka jadikan pakem.

Sebab, semakin hari, seiring dengan era kemajuan teknologi komunikasi, masyarakat tak lagi memiliki Hasadaon (kesatuan). Seperti dalam permainan POKEMON GO, mana boru, dongan tubu dan hula-hula sudah bercampur aduk dan posisinya sudah semakin tak jelas.

Tak heran bila statement di dunia politik Sumatera Utara ini menjadi mashyur: "Kalau Gube rnur Sumut pengennya dari orang Batak, maka jangan sampai ada 2 atau lebih cabup dari orang yang punya marga Batak".

Sebab bila ada 2 atau lebih calon orang Batak maka suara akan terpecah dalam punguan marga (kumpulan orang dari marga serumpun). Sementara jumlah orang Batak 'ori' di Sumut makin harus justru semakin sedikit.

Begitulah gambaran masyarakat Batak saat ini, yang semakin hari semakin jauh dari konsep Hasadon (kesatuan) yang dicanangkan oleh leluhur kita.

Baca Sebelumnya : Ketika Hagabeon - Hamoraon -Hasangapon Diraih Tanpa Hasadaon

Lusius Sinurat

Dukung Ahok Karena Anda Ingin Mendukungnya

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 18 Jul 2016 | 23.15

Tak perlu menghabiskan waktu untuk mendeteksi siapa pendukung orisinal Ahok atau pendukung gelap atau pendukung yang tiba-tiba mengurusi sesuatu yang bukan urusannya.

Ahok tetap akan melenggang maju, entah menang atau kalah. Ia punya ketetapan dan kita pendukungnya diharapkan hanya konsisten.

Hanya saja, seperti yang sudah saya katakan berulang-ulang, para pendukung juga tidak boleh membabi buta memberi dukungan hingga melupakan logika berpikir normal.

Tuding menuding bahwa si X tak setia lagi mendukung Ahok, si Y kok tiba-tiba mendukung Ahok, dan si Z kok malah berhianat dan meninggalkan Ahok, dst. hanyalah permainan emosional yang menyita waktu Anda.

Bila memang Anda mendukung Ahok, sebagaimana juga nama grup ini adalah Dukung Ahok Gubernur DKI (DAG-DKI) dan fanpage Dukung Ahok Gubernur DKI maka Anda hanya boleh mendukung tetapi serentak tak boleh juga kehilangan akal sehat.

Juga sudah berkali-kali saya posting sejak awal tahun 2015 lalu, bahwa Ahok akan memiliki banyak musuh, entah musuh kita bersama Ahok, seperti koruptor, pengamal ketidakdilan, atau mereka yang saban hari mencari kesalahan Ahok.

Tetapi juga tak menutup kemungkinan bahwa musuh Ahok itu adalah ciptaan Ahok atau malah ciptaan kita sendiri. Bagian ini tak sulit untuk dijelaskan.

Kelemahan Ahok ada pada caranya mengatakan sesuatu dan terkadang mudah terpengaruh oleh situasi atau orang-orang di sekitarnya. Sementara kelemahan kita adalah mendukung Ahok hingga melupakan obyektivitas dalam berargumen.

Pengalaman mendukung Jokowi di media sosial hanyalah salah satu faktor yang selalu harus kita ingat. Apa itu? Semakin kita mendukung seseorang kita harus siap kehilangan orang lain.

Sebab, dalam konstelasi Pilkada, pilihan itu hanya terbentang pada satu orang. Artinya, memilih Ahok berarti harus siap dengan konsekuensi menang atau kalah, dihujat atau malah dipuji, ditemani atau malah dimusuhi oleh teman-teman kita di media sosial.

Untuk itu, jangan mudah terprovokasi, apalagi sampai tergiring oleh opini yang salah. Tautan berita harus kita seleksi. Jangan sembarang situs kita percaya. Kita harus mampu memilih sendiri situs berita atau siaran televisi mana yang paling obyektif mengenai PILKADA DKI.

Atau, bila Anda memiliki pendirian yang teguh dan sedikit agak cerdas, silahkan saja membaca berbagai pemberitaan tentang Ahok, tetapi itu Anda lakukan justru karena Anda sudah memiliki opini dan keteguhan pendapat sendiri.

Sebagai sesama pendukung Ahok, saya hanya berharap agar kita jangan sampai menghakimi si X, grup X, fanpage X, dst sebagai lawan Ahok sembari menuduh mereka sebagai antek-antek partai X, dst.

Bukankah model beginian biasanya dilakukan oleh Jonru, Ahmad Dani, Fadly Zon, Lius, Ratna Sarumpate, dkk ?

So, pilihlah Ahok karena Anda mendukungnya, bukan karena banyak orang mendukungnya, melainkan karena Anda memang merasa Ahok adalah calon terbaik menjadi Gubernur DKI periode 2017-2022 yang akan datang.


Lusius Sinurat

Ketika Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Diraih Tanpa Hasadaon

Hagabeon - Hamoraon -Hasangapon
Bila Hagabeon adalah kesuksesan, hamoraon itu kekayaan, dan Hasangapon itu kehormatan, maka hasadaon itu berarti kesatuan.

Orang Batak mengenal Tri Cita-cita Hidup di atas, yakni hagabeon, hamoraon, dan tentu saja hasangapon. Sementara hasadaon (kesatuan) bukanlah cita-cita, sebab hasadon diandaikan telah melekat erat dalam kehidupan sosial masyarakat Batak.

Terkait cita-cita di atas, beberapa orang Batak yang kritis pun bertanya: apakah ketiganya harus diraih secara bersamaan? Bisakah diandaikan bahwa dengan meraih salah satunya lantas berarti telah meraih ketiganya? AtauApakah satu dan yang lainnya justru saling mensyaratkan?

Misalnya, apakah dengan mendapatkan kehormatan seseorang secara otomatis akan dikatakan kaya dan sukses ? Atau sebaliknya dengan menjadi kaya seseorang otomatis akan sukses dan terhormat?

Saya bukan budayawan, apalagi batakologi sehebring AB Sinaga atau Togar Nainggolan atau seperti para batakolog terdahulu seperti Niessen, Vergowen, dst. Tetapi sejauh saya tahu, ketiga cita-cita hidup di atas harus digapai secara terpisah. Artinya, Anda tak tak lantas digolongkan orang terhormat hanya karena Anda kaya dan sukses (dalam bisnis).

Sebab, tri cita-cita ini erat terkait dengan Dalihan Na Tolu yang melambangkan kesatuan semesta: dunia atas yang putih (melambangkan relasi manusia dan Allah - dilambangkan sebagaai bubungan/atas rumah), dunia tengah yang merah (kehidupan sosial atau relasi antar-manusia - yang dilambangkan sebagai jabu/ruma atau bagian utama rumah yang dihuni), dan dunia bawah yang hitam (dunia kematian, wahana di mana manusia tak lagi hidup dalam tubuhnya, atau tempat di mana mahluk hidup lain selain manusia berada - disimbolkan dengan tombara dalam konsep rumah panggung Batak.

Demikianlah ketiga cita-cita itu juga terbentang dalam Dalihan Na Tolu dalam arti luas, terutama dalam upacara perkawinan adat, mulai dari hubungan dengan hula-hula (keluarga dari pihak ibu), boru (keluarga dari saudara perempuan pihak laki-laki), maupun hubungan dengan pihak dongat tubu (saudara laki-laki dari pihak laki-laki sendiri / biasanya sebagai penyelenggara pesta).

Bila membaca risalah kuno tentang relasi kekerabatan sosial masyarakat batak, tri cita-cita di atas semestinya tak pernah dicapai seseorang secara tunggal. Entah kekayaan, kesuksesan dah kehormatan harus diraih dalam konteks relasi vertikal dengan sang pencipta (Mulajadi Nabolon) dan relas horisontal dengan sesama.

Hagabeon-Hamoraon-HasangaponItu berarti (semestinya) tak ada orang Batak yang kaya secara personal. Ia tak boleh menjadi pemilik tunggal dari seluruh harta bendanya.

Bahkan kehormatannya di luar konstelasi adat Daliha Na Tolu pun tak ada artinya bila ia tak patuh pada relasi vertikal dan horisontal tadi.

Dalam persepsi inilah orang Batak suka menitip "anggota" keluarganya (abang/adik, anak/cucu, entah dari pihatk dongan tubu, boru atau hula-hula) kepada saudaranya yang sudah lebih dulu "sukses".

Pendeknya, kesuksesan harus dibagi, sebagaimana juga kehormatan dan kekayaan harus dibagi. Tidak boleh tidak! Tak boleh seorang Batak sukses sendirian, apalagi memiliki harta hingga 600 milyar lebih seperti Luhut Binsar Panjaitan, atau tak boleh punya museum agung sendiri seperti TB Silalahi, pun tak boleh terkenal sendirian seperti Ruhut Sitompul.

Tak hanya yang Batak ori, Batak KW seperti Pemain Timnas Belgia Radja Nainggolan pun tak boleh melenggang sukses sendiri di dunia sepak bola.

Baca Selanjutnya : Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Plus Hadasaon

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lusius Sinurat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
184334688410108