Latest Post

Njleb

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 28 Sep 2016 | 16.00

Ahok dan Kompetitornya
Kata ini digunakan orang-orang (di) Jawa untuk mengungkapkan betapa sindiran atau hinaan seseorang sangat mengena di hatinya ibarat ditikam hingga lukanya dalam hingga kehabisan darah!

Ini juga terjadi di politik, khususnya menjelang pilgub DKI. Ketiga calon dan pendukungnya saling sindir dan saling beradu ide dan program. Kendati yang disebut terakhir, yakni adu program belum terjadi sebagaimana diharapkan petahana.

Contoh, cara bicara Ahok yang straigth to the point sering disindir oleh lawan politiknya.

Sebut saja Sandiaga Uno (yang tadinya cagub tapi digeser Prabowo jadi Cawagub) yang menyebut Ahok orangnya kasar dalam memimpin. Tak hanya Sandiaga, balon-balon gubernur / wakil gubernur sebelumnya juga sering mengatakan hal yang sama, Tapi mereka enggak usah dibahas lagi, toh sudah hilang dari peredaran.

Yang menarik adalah jawaban Ahok. Ia justru menggunakan jurus Tai Chi, menggunakan 'kesantunan' Sandiaga dalam penuturannya, "Saya berharap, siapa pun yang maju cagub silahkan laga program, bukan malah pencitraan dan fokus untuk menyerang calon lain!"

Njleb!

Sandiaga saat cuma bisa diam. Ia bahkan merintih di kalangan pendukungnya sendiri, hingga sebagian pendukungnya menangis tersedu-sedu saat Sandiago diturunkan jadi cawagub oleh Mang Wowo.

Anies, yang telah berhasil menggusur Sandiaga dari posisi cagub Gerindra, baru-baru ini juga menyindir Ahok dengan mengatakan "Pendidikan di Jakarta lebih jelek dibanding pendidikan Jogjakarta!".

Bukan Ahok namanya kalau tidak punya jurus Tai Chi. Ahok membalas Anies dengan 'bahasa lembutnya' Anies, "Tergantung dari sudut mana kita melihat. Indikatornya apa?" kata Ahok sambil membeberkan fakta yang telah dilakukannya.

Lagi-lagi Njleb! 
Cara Ahok menyindir Anies sangat cerdas. Ia tak mengatakan secara gamblang mengapa Anies gagal sebagai mendikbud. Ahok justru menyadari bahwa emosinya sedang dipancing oleh klubnya mang Wowo dkk. Nyatanya, Anies dan Sandiaga tak berhasil memancing emosi Ahok, dan jawaban Ahok justru membuat persaan mereka bak ditikam: njleb!

Lain lagi dengan kubu Demokrat dan partai pembantu-pembantunya yang mencoba menggerogoti kekuatan Ahok dengan mengangkat anak sulung sang mantan presiden dengan iklan "berkorban demi rakyat Jakarta" sekaligus juga mengambil bawahan Ahok, Sylvia Murni yang diharapkan akan mengumbar kesalahan Ahok karena ia berpengalaman sebagai deputi gubernur di bidang budaya dan parawisata di erah Ahok.

Lalau bagaiman reaksi Ahok? Ia justru membalas dengan gaya prihatin ala SBY, "Agus? Dia bagus. Bapaknya aja sudah pengalaman 10 tahun memimpin negara ini!" Selanjutnya soal Sylvia Murni Ahok justru memberangkatkan dan mendoakan agar Sylvia sukses.

njleb!
Di sini Ahok ingin mengatakan bahwa jabatan gubernur itu tak diberikan oleh raja, tetapi harus diraih dengan kekuatan dan kerja keras. Intinya, Ahok mau bilang, negara kita ini sudah tak laku politik dinasti. Tak hanya jawaban itu, Demokrat justru kehilangan dua orang penting di partainya, Ruhut Sitompul dan Hayono Isman yang justru menjadi "pengganti" Sylvia Murni yang diambil sang politisi prihatin itu.

***

Di politik, banyak pemimpin yang suka menyindir, bahkan menjelek-jelekkan lawan politiknya. Tetapi sebaliknya seorang politisi cerdas seperti Jokowi dan Ahok takkan begitu mudah terpancing, atau membela diri dengan cara yang sama.

Berbeda dengan gaya politik sang mantan, yakni "Politik Prihatin!" Rumusan gaya berpolitik prihatin ini sederhana, "Saya sudah pernah jadi pemimpin, dan saya tak merasa pernah melakukan kesalahan selama saya memimpin.

Bila ada pun kesalahan, itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang merasa lebih baik dari saya. Atas keberhasilan itu, rakyat pasti menyukai siapa pun yang kurekomendasikan sebagai kepada daerah. Tak terkecuali DKI Jakarta!"

Menganggapi berbagai ungkapan keprihatinan sang mantan, Presiden Jokowi pernah melakukan beberapa hal yang juga "njleb!" 

Sebut saja saat SBY mulai mengumpulkan masa di kampung halamannya di Jawa Timur dan menyampaikan kritik kepada pemerintah, mulai dari harga kebutuhan pokok dan persoalan ekonomi lainnya.
Tahu apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi? Beliau justru berkunjung ke Hambalang dan mengatakan proyek itu harus dilanjutkan.

Sang mantan pun keok, njleb!


***

Banyak peristiwa menarik dan lucu di dunia perpolitikan kita. Kita htau bahwa semua itu hanyalah salah satu bagian dari "seni meraih kekuasaan" dan "seni mempertahankan kekuasaan".

Hanya saja kita harus menyadari, bahwa siapa pun yang didukung dan dicintai rakyat tak akan pernah merasa njleb saat disindir dan dihina lawan politiknya. Sebab rakyat ada diubelakangnya.

Nyatanya, nafsu pada kekuasaan tak bisa diraih hanya dengan melecehkan lawan politik. Bukankah demokrasi selalu mengamini bahwa "kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat"?

Faktanya, rakyat tak suka dipimpin oleh orang yang terlalu bernafsu, yang mengatai lawan sebagai asu padahal ia yang sedangn bernafsu. Tentu saja tak ada rakyat yang ingin diperkosa oleh pemimpin jenis itu.


Lusius Sinurat

Ketika Tuhan Ditawarkan Dalam Bentuk Sachet dan Paket

Kritik Terhadap Kaum Agamawan
ilustrasi: Tumblr
Dunia memang sedang kebalik-balik. Itu kata beberapa orang yang menyempatkan diri memaknai hidupnya dan memikirkan nasib semesta.

Dalam pemahaman terbatas, terdapat dua jenis orientasi manusia dalam hidupnya, yakni "mereka yang berorientasi pada dunia" (selanjutnya disebut orang duniawi) dan "mereka yang berorientasi pada surga" (selanjutnya disebut orang surgawi).

Bahwa ada orang memiliki kedua orientasi ini secara bersamaan bisa saja, tetapi toh selalu ada kecenderungan yang lebih dominan.

Nah, keberadaan dua orientasi ini adalah demi menjaga keseimbangan semesta. Ibarat Yin dan Yang dalam filsafat Konfusianisme. Baik Yin maupun Yang adalah dua eksistensi yang saling bertentangan, tetapi serentak keduanya tak terpisah. Artinya, orang duniawi tak akan pernah seiring sejalan dengan orang surgawi, tetapi baik yang duniawi maupun yang surgawi itu justru tak terpisahkan. Lagi-lagi, relasi ini terjalin demi menjaga keseimbangan.

Keterpisahan dan kesatuan antara Yin dan Yang itulah yang mewarnai, bahkan membentuk kehidupan kita. Namun, apa yang terjadi ketika orang surgawi tadi malah ingin menjadi seperti orang duniawi, dan sebaliknya?

Apa pula yang akan terjadi ketika mereka yang tak pernah berdoa justru tiba-tiba jadi pendoa, dan ketika pendoa justru ingin menikmati cara hidup si pendosa? Faktanya, hal ini terjadi hic et nunc. Saat ini dunia sedang timpang dan tak seimbang. Dunia sedang terbalik. Bagaimana tidak, mereka yang menyebut diri sebagai orang surgawi malah bekerja persis seperti orang duniawi.

Ketidakseimbangan itu pun semakin tak terjaga disaat orang duniawi berpura-pura menjadi orang surga disaat orang surgawi telah merampas pekerjaan mereka. Maka, kepada siapa lagi kita mengadu dan berbagi pengalaman akan Tuhan disaat mereka yang berwewenang mendoakan dan menyucikan diri kita justru melacurkan diri sebagai penjual Tuhan? Atau, kepada siapa lagi orang-orang surga minta bantuan materiil ketika mereka justru tak percaya lagi pada dunia?

Di tataran praktis, keseimbangan semesta itu hanya terjadi ketika dalam pekerjaannya orang duniawi merusak semesta, maka orang surgawi justru berupaya melestarikannya. Misalnya, disaat hutan digundul habis oleh pengusaha yang juga penguasa demi membangun kerajaan bisnis yang lebih besar maka orang surgawi tadi harus melawan dan rela mati untuk mencegahnya.

Bukan malah sebaliknya, seperti yang terjadi belakangan ini, di mana orang surgawi malah menjual pertapaannya yang ada di tengah hutan kepada pengusaha dan selanjutnya membangun istana megah di pusat kota. Atau, ketika orang surgawi yang berkewajiban menjaga keseimbangan iklim lewat berbagai upaya dan doa justru merambah hutan demi usaha perkebunan sawit. Celakanya semua itu dibeli dari uang persembahan orang duniawi.

Juga jangan lupakan pula bahwa ketidakseimbangan itu justru terlihat pada saat orang surgawi menindas orang duniawi lewat berbagai kutipan dana demi memajukan lembaga agamanya, atau menjual rumah sakit dan sekolah dengan harga super mahal, bahkan lewat perselingkhuan dengan penguasa dan upaya membangun relasi intim dengan pengusaha demi mendapatkan uang.

Ketidakseimbangan itu terjadi disaat mereka yang saban hari mengatakan dirinya berkarya demi kebaikan (pro bono) dan demi Tuhan (pro Deo) justru merampas hak-hak orang duniawi lewat berbagai jenis usaha yang pro peccunia (demi uang).

Akhirnya, ketidakseimbangan itu pun semakin menjadi-jadi, ketika orang surgawi tadi justru memohon kepada orang duniawi untuk memaklumi seluruh tindakan mereka. Padahal kita semua berharap agar di saat kita, orang duniawi mengais-ngais eksistensi Tuhan ditengah kesibukan kita, ada orang surgawi yang membantu dan menuntun kita serta menunjukkan di mana Tuhan berada.

Inilah letak mulianya kedua orientasi itu, tepatnya disaat orang surgawi dan orang duniawi setia menjalani hidup masing-masing menurut hakikat dan tujuannya dalam rangka menjaga keseimbangan semesta.

Kita semua harus merasa malu, karena kita sering menjual "tuhan" dalam bentuk sachet dan paket.


Lusius Sinurat

Habiburokhman yang Eman-eman

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 25 Sep 2016 | 21.16

Selagi ada Ahok, Habiburokhman Selalunmerasa tak nyaman. Rupanya bukan hanya Haji Lulung yang begitu. KBanyak orang justru terkenal (kendati secara negatif) di media hanya karena "berantam" dengan gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Tak hanya politisi kacangan seperti Fadli Zon, politisi kawakan sejenis Amien Rais (yang berhasil mengangkat dan melengserkan Gus Dur di awal Era Reformasi) pun turut terkenal karena "menghina" ahok, bahkan disampaikan dari mimbar suci di salah satu Mesjid.

Tentu masih banyak politisi lain yang memproklamirkan diri dan kelompoknya sebagai geng "Anti-Ahok" atau "Asal Bukan Ahok" yang turut menikmati ketenaran hanya gara-gara melawan Ahok.

Ada juga sih yang akhirnya berakhir di penjara gara-gara ketahuan berseberangan dengan Ahok demi membentengi kebiasaan korupsinya. M.Sanusi, adik kandung M. Taufik hanyalah salah satu contoh jadi "selebritas" kasus tangkap tangan ala KPK.

Saya tak bermaksud mendata siapa saja mereka. Hanya saja, saya tertarik membicarakan "lawan Ahok" yang paling oon, yakni Habiburokhman. Kita tahu bahwa orang ini yang mengatakan akan terbang dari ujung monas bila Ahok melenggang maju sebagai calon independen berkat 1jt KTP.

Tentu, karena mereka semua punya alasan pribadi mengapa memposisikan diri mereka sebagai lawan Ahok. Maka jangan heran, kalau orang-orang "anti-ahok" ini akan selalu mengupayakan berbagai cara agar Ahok yang selalu berani menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan di DKI Jakarta.

Bagi Habiburcokhman, yang selalu diamini oleh para budak partai Gerindra, Ahok itu 'tidak waras' dalam memimpin Jakarta. Habiburokhman tidak sadar, bahwa mayoritas masyarakat Jakarta mendukung Ahok juga akan tersinggung dengan ucapannya ini:

"Kita sangsi apakah Ahok punya standar menjadi pemimpin. Itu yang kita ingin tahu. Selama ini tidak dipersoalkan. Makanya, kita ingin tahu betul. Ini terkait dengan jutaan rakyat Jakarta yang memilih."

Habiburokhman menyatakan isi hatinya sesaat sebelum test psikologi 3 pasang calon gubernur/wakil gubernur di mana hasilnya Ahok-Djarot, Agus-Silvi, dan Anies-Sandiaga sehat-sehat saja. Konsekuensi dari ocehan Habiburokhman di atas justru menunjukkan betapa dirinya tak mampu memaksimalkan logika pemikirannya

Sebab, ketika RS yang memeriksa kesahatan para cagub/ cawagub mengatakan "Ahok sehat secara fisik, psikologis dan rohani" maka Habiburokhman akan menuduh RS yang memeriksa para calon tidak profesional, bahkan menuduh pihak RS sebagai 'relawan bayaran' Ahok.

Begitulah logika zig-zag ala Habiburokhman yang menggiring opini agar warga DKI Jakarta ukutan oonnya seperti dirinya. Inilah ajakan bocah si loba bacot itu....
"Kita sangsi apakah Ahok punya standar menjadi pemimpin. Itu yang kita ingin tahu. Selama ini tidak dipersoalkan. Makanya, kita ingin tahu betul. Ini terkait dengan jutaan rakyat Jakarta yang memilih."

Tentu saja standarnya Habiburokhman beda dengan standar warga Jakarta. Itu pasti. Namun begitulah Habiburokhman selalu gerah disaat cuaca dingin, kedinginan disaat mentari begitu menyengat, dan merasa kudisan di saat tak ada setitik luka pun ditubuhnya....dan semua itu terjadi hanya karena dia tahu Ahok masih saja "hidup dan berkeliaran" di DKI Jakarta, tempat ia cari makan.

Maka, selagi Ada Ahok, Habiburokhman tak akan pernah merasakan hidup nyaman. Ia selalu merasa dirinya sebagai pengawas Ahok, tetapi sesungguhnya jauh di lubuk hati terdalamnya ia malah selalu merasa diawasi oleh Ahok.

Entah karena kepatuhan kepada sang raja di Hambalang atau karena sedang menutupi kebodohannya, nyatanya Habiburokhman tak pernah terlihat menikmati hidupnya sebagai politisi.Bisa jadi ia tak seberani Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul dan Anggota Dewan Pembina Demokrat Hayono Isman yang rela dipecat partainya demi mendukung calon terbaik untuk ibukota, Ahok.

Habiburokhman... Habiburokhman...tampangmu preman tapi wajahmu eman-eman

Lusius Sinurat

Ahok, Si Gila Yang Tahan Dicela

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 23 Sep 2016 | 15.30

Si Gila Yang Tahan Dicela
Ahok emang "gila".

Bagaimana tidak? Ia dihujat sana-sini: dituduh pemimpin jumawa penggusur rakyat biasa, tukang marah hingga kerjanya tak terarah, bahkan ia juga dituding nihil prestasi oleh lawan-lawan politiknya.

Ahok sih santai saja menanggapi hal itu. Toh sudah biasa. Sesekali Ahok mengaum bak singa, atau hanya berkicau bagai rajawali, atau menyeringai sambil melotot bak seekor banteng.

Karena dipancing oleh media pemburu berita, tak jarang juga Ahok seperti harimau yang langsung menerkam lawan. Hanya sesaat kemudian ia segera memuntahkannya, karena omongan lawannya dianggap bau amis.

Ahok memang gila. Bukan pertama-tama karena kata-katanya selalu menohok (http://www.lusius-sinurat.com/2013/11/aku-ahok.html), atau karena kehadirannya yang membuat bawahannya langsung gemetaran bila tak becus bekerja karena ketegasannya (http://www.lusius-sinurat.com/2015/05/ahok-tetap-menohok.html).


Bukan itu..... tapi... ini dia....

Sejak isu Pilkada DKI digulirkan, Ahok mengubah gambaran parpol di mata masyarakat, dengan mengatakan ia akan maju lewat jalur independen ( bersama TEMAN AHOK , dan bukan dengan Dukung Ahok Gubernur DKI (DAG-DKI) hahahaha).

Tetapi ketika beberapa partai mulai kasak-kusuk seraya menginstrospeksi diri untuk menciptakan pembuktian terbalik, Ahok justru 'menaikkan' kualitas omongannya, "Agar lebih praktis, saya akan maju lewat partai saja."


Lalu bagaimana tanggapan musuh-musuhnya?

Yusril Ihza Mahendra, orang yang sama-sama asal Belitung dan juga ketua partai bulan bintang yang tak lolos pada pemilu 2014 lalu langsung merasa tersinggung. Yusril bahkan menyebut Ahok terlalu sombong dan tak santun.

Tapi bukan Ahok namanya kalau bukan menohok. Ia justru menguji kemampuan Hukum Tata Negaranya Yuzril lewat gugatannya tentang UU Pilkada, khususnya soal cuti petahana saat pilkada berlangsung.

Nyata dihadapan kita. Yusril yang profesor hukum tata negara itu justru tak mendapatkan kendaraan politik dan mengakhiri pencalonannya dengan rintihan ini, "PDI-P memberikan harapan palsu kepada saya!"

Itulah Ahok, orang gila yang dicintai banyak orang dari semua golongan itu, bahkan nun jauh diluar DKI Jakarta.

Tak hanya Yusril sang mantan menhunkam dan sekretaris kabinet, tetapi juga ada mantan Presiden SBY , mantan Kopasus Prabowo, mantan Mendikbud Anies Baswedan, mantan Menko Maritim Rizal Ramli, dan mantan-mantan pejabat lainnya tiba-tiba kudisan dibuatnya.

Tragisnya lagi, si 'Sengkuni' Amien Rais yang memproklamirkan dirinya pahlawan reformasi dan mantan Ketua MPR itu juga terpaksa harus menodai isi dakwahnya saat Hari Raya Kurban di salah satu mesjid di Jakarta, dengan memfitnah Ahok.

Tapi, lagi-lagi Ahok tak gentar. Bagaimana mau gentar? Urat takutnya sudah putus. Begitu pengakuannya saat penulis berjumpa di Balai Kota Jakarta tanggal 14 Agustus 2015 silam, dan ia sering mengatakan hal yang sama di media.

Kini, Ahok justru bermain di level tertinggi seorang politisi. Bila di satu sisi ia seakan asbun (asal bunyi) dihadapan para pencari berita, maka di sisi lain justru melakukan lobi tingkat tinggi dengan ketua partai besar.


Itu karena Ahok seorang politisi hebat dan sungguh cerdas. 

Bayangkan, ketika Djarot, wakilnya mengkritiknya di media, ia mengujinya dengan menggadang-gadang Heru sebagai balon wakilnya. Dengan tindakannya, Ahok menguji kesetiaan Djarot dan menguji daya tahannya, terutama menjelang Pilgub. Sebab jamak terjadi wakil gubernur petahana seringkali meninggalkan gubernurnya demi mencalonkan diri sebagai Cagub.

Benar saja. Ahok berhasil. Djarot pun luluh. Ia lulus sekolah kepribadian yang diciptakan sang bosnya. Ia tak tergila-gila jadi gubernur, tetapi ia yakin bahwa kerjasama dengan Ahok adalah keharusan yang tak boleh dihindarkan, kendati 'hanya' sebagai orang nomor dua di DKI Jakarta.

Jangan juga lupakan omongan Hasto Kristanto, Sekjen partai berlambang Banteng moncong putih itu. Hasoto berkali-kali menduduh Ahok sebagai cagub yang kepedean. Belum lagi omongan Yoyok dan Risma yang sempat digadang-gadang melawan Ahok bahwa "Ahok itu fitnah!" saat mengeluh soal mahalnya mahar politik saat melamar jadi balon pejabat daerah dari partai tertentu.

Tapi inilah endingnya... 

Dengan hak veto sang ratu, Megawati Soekarnoputri, PDI-P pun justru dengan mantab mengusung Ahok-Djarot. Lantas gimana dong dengan suara sumbang sebelumnya dari aktor PDI-P? 

Kita tahu bahwa politik tak boleh dikelola dengan ingatan. Justru sebaliknya, seorang politisi harus bisa cepat melupakan omongannya untuk melompat ke fase berikutnya. Kata Hasto, "politik itu seni meraih kekuasaan."

Begitulah politik tak selalu terkait dengan tingkat kewarasan seseorang. Sebab, bagi politisi, waras atau tidak waras itu justru tergantung pada kuantitas dan kualitas kepentingan yang diinginkan partainya.

Kenyataannya, kini, sang singa gila itu justru berpelukan dengan banteng (PDI-P), setelah sebelumnya sudah terbang bersama rajawali (Nasdem) seturut nuraninya (Hanura) sembari di saat lelah ia pun berteduh dibawah rimbunnya pohon beringin (Golkar).


Kembali pada pencalonan Ahok-Djarot. Kini "perlengkapan perang" untuk kembali menduduki tahta DKI-1 telah cukup, bahkan lebih dari cukup. Bahkan Ahok tak gentar siapa pun lawannya.

Saat Cikeas (Demokrat) sibuk mendemonstrasikan aksinya mencalonkan Agus-Silviana, Ahok-Djarot cukup mengirim sang Rajawali (Nasdem) untuk menggiring opini agar sang mantan memaksakan putra sulungnya jadi cagub.

Begitu juga saat kuda-kuda lepas dari Hambakang menuju Jl. Kertanegara - Kebayoran Baru, maka Ahok cukup menyuruh Banteng memblokir jalan agar kuda-kuda tak membuat situasi menjadi geger (Gerindra), tepatnya setelah mencalonkan Anies-Sandiago.


Lalu gimana dong dengan lawan-lawan politiknya menggunakan simbol Agama, seperti PKS, PAN, PKB, atau PPP? Gampang! "Si gila" Ahok cukup mengandalkan suara hati rakyat (Hanura) yang memilihnya, karena kemurnian hati jauh melampaui ritual-ritual keagamaan mereka.

Akhirnya, semoga berbagai 'rangsangan' ide politis yang dimainkan oleh "si gila" Ahok semakin hari semakin memperkaya dinamika demokrasi di negara kita.


#BravoAhokDjarot


Lusius Sinurat

SBY, Sampeyan Bingung Ya?

Sampeyan Bingung Ya
Pak SBY, kasian Agus, anak Anda. Pangkatnya baru Mayor, tapi Anda memaksanya melampiaskan birahi kekuasaan Anda dengan mengorbankan anak Anda sendiri.

Lihatlah, dia cuma bisa mengulangi kalimat yang selalu Anda katakan, "Saya siap melayani masyarakat!"

Anda tahu itu bukan kalimat politisi? Seorang politisi kawakan seperti Anda biasanya selalu berteriak ke media, "Apabila rakyat membutuhkan saya siap!"

Tampaknya Anda bingung. Memang Anda terlihat sangat bingung. Anda tampil dengan lemak berlebih dengan pancaran mata yang syahdu saat pertemuan di rumah Anda sendiri untuk mencari tandingan Ahok.

Tentu saja Anda bingung. Sandiaga Uno yang ditawarkan Gerindra menurut Anda tak akan mampu melawan Ahok. Padahal Sandiaga sudah berlari-lari hinggal kolor kendor saat mempromosikan dirinya. Tapi Anda yang pernah dibantunya saat Pilpres 2004 dan 2009 justru tidak menganggapnya mampu.

Tentu saja Anda bingung. Karena tak mudah melawan Ahok-Djarot yang sudah terbukti memberi pengaruh positif bagi jakarta dan perpolitikan di negeri ini.

Anda pasti bingung, karena 10 tahun pemerintahan Anda seakan dilupakan orang, bahkan dlam sekejap pengaruh positif Jokowi telah menggeser pengaruh Anda ke tepi Indonesia. Anda tak usah berpura-pura dengan itu.

Bukankah Anda selalu curhat di Facebook Anda bahwa Jokowi hanya meneruskan keberhasilan Anda?

Sebetulnya Anda telah mempersiapkan figur agar pengaruh Anda mencuat lagi di perpolitikan nasional.

Bukankah Anda telah melatih Ibas, anak Anda yang suka mengenakan lengan panjang itu menjadi ketua partai dan siap menjadi gubernur, bahkan presiden RI ke-8 ?

Tak hanya itu. Istri Anda pun telah Anda latih selama ini. Ibu Ani selalu setia mendampingi Anda, bahkan beliau selalu memontret keberhasilan Anda nun jauh di sana lewat kameranya yang super mahal.

Lantas, mengapa bukan Ibas? Mengapa pula bukan Ani Yudhoyono yang Anda korbankan menjadi calon Gubernur DKI untuk mengalahkan Ahok dan mengurangi pengaruh Jokowi?

Sampeyan Bingung Ya?
Nda apa-apa, Pak Lik.
Itu biasa dalam politik keprihatinan...


#WeLoveYouSBY

**Tulisan ini terlebih dahulu diposting di Grup Dukung Ahok Gubernur DKI (DAG-DKI)

Lusius Sinurat

Bukan SIAPA tapi APA

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 21 Sep 2016 | 15.24

 Bukan SIAPA tapi APA
"OMG, itu loh Fr. Novem. Tampangnya gembel, tapi otaknya kayak rangkaian pembelajaran dalam sebuah model," kata dr. Juli kepda dr. Juni sesama peserta kepada seorang Novem yang mendampinginya.

"Itu emang orang gila sih. Kirain siapa, taunya Fr. Novem itu ikutan ngajar kita. Hihihi..padahal kita udah omongin kalau frater itu pecicilan, lasak dan tampangnya kayak orang sedang mau menggasak," celetuk Juni sambil tertawa.

Percakapan di atas terjadi di salah satu rumah pembinaan terbesar di Jawa, pada tahun 2002 silam. Saat itu fr. Novem yang baru lulus S1 Filsafat diminta membantu pastor mendampingi retret para dokter Katolik dari Jakarta.

Tentu saja Fr, Novem masih terlihat grogi, apalagi ini saat pertama kali diminta memberi retret untuk kelompok profesional. Jadilah dia menjadi bulan-bulanan para dokter, terutama dokter-dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin.

Tapi aneh. Rasa grogi dan perasaan Fr. Novem yang memang dekil itu tiba-tiba berubah saat dia pertama kali bicara di depan peserta. Pertama-tama dia menunjuk dirinya sendiri untuk memimpin doa, seraya nyeletuk, "Tuhan mendengarkan doa-doa orang yang dihina".

Grrr... tiba-tiba suasan riuh oleh tawa. Tapi si fr. Novem justru menahan tawa. Ia tiba-tiba memulai doa dengan tanda salib khas Katoliknya.

Tak lama setelah suasana hening, ia pun mulai komat-kamit memulai doanya, "Tuhan, aku sangat senang hari ini karena untuk pertamakali diminta mendampingi retret untuk kelompok profesional. Itu yang pertama. Yang kedua, aku tak menyangka kalau kelompok pertama yang kudampingi ini adalah para dokter; belum lagi mereka sudah seusia orangtuaku. Nah, yang ketiga ini yang Tuhan harus dengarkan ya, jangan biarkan aku grogi. Yakinkau aku kalau para dokter ini hanya tahu penyakit fisik, sementara aku tahu penyakit psikologis dan spiritual. Maka, karena ini retret, jangan biarkan kami terlalu banyak bicara penyakit fisik tetapi tuntun kami, terutama para dokter ini agar fokus menyembuhkan penyakit spiritual kami. Bukankah mereka mau retret? Itu aja, Tuhan. Selebihnya aku akan coba berupaya sendiri agar tidak grogi. Amin"

Suasana grrrr lagi. Setelah kata "amin" semua peserta malah tertawa dan suasana pun menjadi cair hingga perjalanan retret pun berjalan lancar. Maka tak heran ketika dievaluasi, Fr. Novem malah menjadi pendamping favorit mereka.

Entahlah, apa karena doa atau karena Fr. Novem memang pinter mengatasi rasa groginya, sehingga para dokter itu pada akhirnya ada dalam kendalinya.


Lusius Sinurat

Provokasi Tanpa Reaksi

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 20 Sep 2016 | 15.32

Seekor kucing disalib di Afrika dan dibawah gambar ditulis "juruselamat umat manusia". Bahkan Bunda Maria dan Yesus Kristus dijadikan gambar sendal jepit oleh orang tertentu.

Masih banyak bentuk provokasi lain, terutama kepada umat Kristen. Dua hari lalu Tabernakel di Gereja St. Paulus Paroki Kleca, Solo, Keuskupan Agung Semarang dicuri.

Saya teringat analisa penulis dan wartawan, Denny Siregar yang mengulik sikap umat Kristen yang seolah tak terprovokasi. Denny mengatakan sikap "dingin"-nya umat kristen terhadap segala bentuk provokasi itu justru membuat jengah para provokator.

Dalam kamus Bahasa Inggris, memprovokasi juga berarti memancing (provoke), menimbulkan (give rise to), membangkitkan (evoke), menyebabkan (cause), merangsang (agitate), menghasut (stir up), menggusarkan (rile), memarahkan (disgruntle), menjengkelkan (spite).

Begitulah orang-sang provokator selalu menginginkan orang atau kelompok lain yang diprovokasi bangkit amarahnya dan membalasa perbuatannya. Pasti si provokator membutuhkan perang untuk memuaskan nafsu kejahatannya.

Ada banyak bentuk provokasi, mulai dari provokasi gambar atau foto, rekaman suara, kotbah di tempat-tempa publik atau tempat ibadah, bahkan dengan mengurai panjang lebar tentang kesesatan sekelompok (beragama) orang tertentu dalam bentuk tulisan.

Bagiku tak penting segala bentuk provokasi tadi. Aku tak mencintai kelemahan hingga bersebadan dengan berbagai bentuk kelemahan dan ketololan segelintor orang yang kita sebuat provokator tadi.

Adalah jauh lebih penting menonjolkan kekuatan, terutama disaat provokator menabuh genderang perang. Maaka, sejalan dengan uraian bung Denny Siregar, sikap dingin atas berbagai agitasi dari orang/kelompok tertentu dengan menghina dan merendahkan berbagai simbol keagamaan Kristen justru telah berhasil membuat provokator mati lemas dan pusing sendiri.

Sebagai tambahan, di kalangan alumni Seminari Menengah dan Seminari Tinggi memperbincangkan kekuatan dan kelemahan Kitab Suci, bahkan menjadikan Yesus dan ajarannya sebagai candaan adalah hal biasa.

Ternyata hal yang sama juga terjadi di kalangan alumni pesantren Gontor di era Gus Dur, mereka menjadikan kisah nabi dan rasul sebagai bahan candaan.

Jadi, mengapa orang Kristen, terutama Katolik begitu kuat menahan amarah dan tak mudah menanggapi provokasi. Bayangkan, gereja dibom dan pastor hendak dibunuh, eh uskupnya bilang memaafkan.

Begitu juga dengan berbagai tindakan provokatif lain dengan motif yang sama di berbagai daerah selalu ditanggapi secara dingin: "Kita doakan agar mereka segera bertobat!" atau "Kepada seluruh umat Katolik, jangan sampai terprovokasi!"

Beberapa sahabat yang beragama lain lantas bertanya kepada saya, "Kalian kok tenang-tenang aja saat Yesus dihina dan simbol keagamaan dilecehkan?"

Aku hanya bisa menjawab singkat, "Karena sesungguhnya bukan kita yang memiliki Tuhan, tapi Tuhan yang memiliki kita. Lalu, ngapain juga kami harus marah terhadap orang yang merasa memiliki Tuhan?"


Lusius Sinurat

5 Kiat Mencuci Jaket Dengan Benar

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 17 Sep 2016 | 23.03

Ilustrasi 
Bukan hanya pria saja, wanita juga suka mengenakan jaket kulit. Menggunakan jaket kulit bisa membuat wanita tampil casual. Banyak wanita yang gemar mengkoleksi jaket.

Semua koleksi jaket jeans terbaru wanita saat ini mudah ditemukan. Cukup kunjungi MahatariMall.com kamu bisa mendapatkan jaket terbaru wanita. MatahariMall menyediakan beragam jaket jeans wanita yang berkualitas dan harga yang murah.

Setelah kamu mendapatkan jaket yang kamu inginkan. Kini kamu harus bisa merawat jaketmu dengan seksama agar bahan jaket tidak rusak dan tahan lama. Caranya mudah hanya dengan mengikuti langkah-langkah sederhana berikut ini.

1. Hindari Menggunakan Mesin Cuci

Meskipun mesin cuci bisa mempermudah urusan cuci mencuci pakaian anda, tidak semua pakaian cocok dicuci menggunakan mesin cuci termasuk jaket kulit. Mencuci Jaket kulit menggunakan mesin cuci bisa merusak serat-serat dan tekstur kulit sehingga bisa membuat jaket kulit mudah sobek.


2. Keringkan Secara Alami


Jika jaket anda terkena air hujan atau terkena tumpahan air, jangan menggunakan pengering mesin cuci atau menggunakan hairdryer untuk mengeringkannya. Panas dari alat pengering bisa membuat jaket kulit anda rusak dan warnanya akan mudah pudar. Lebih baik gantungkan jaket kulit anda pada tempat yang sedikit terkena cahaya matahari dan berangin. Akan tetapi jangan menggantungkan jaket kulit di tempat yang terkena cahaya langsung karena bisa membuat warna jaket kulit anda cepat pudar dan bisa merusak kulit jaket.


3. Pakai Alkohol


Untuk menghilangkan noda-noda yang membandel pada jaket kulit, anda bisa menggunakan alkohol. Caranya tuangkan alkohol di kapas, dan tempelkan kapas tersebut pada bagian jaket yang terkena noda. Alkohol bisa membuat noda-noda tersebut memudar. Namun hindari pemakaian alkohol pada kancing jaket anda, karena bisa membuat warna kancing jaket anda ikut memudar.


4. Masukkan Freezer

Lebih baik masukkan Jaket ke dalam freezer lemari pendingin (kulkas) anda. Cara ini dilakukan untuk menghilangkan bau jaket dan menghilangkan bakteri. Langkahnya masukan jaket pada sebuah plastik dan masukkan ke dalam freezer semalaman saja.


5. Pakaikan Kondisioner Khusus

Sama halnya dengan rambut anda, jaket kulit pun perlu perhatian khusus untuk menjaga bahan kulitnya tetap lembut dan elastis. Anda bisa menggunakan kondisioner khusus agar jaket kulit tidak kering dan mengelupas.


6. Simpan Jaket Anda


Simpan jaket anda ke tempat yang sejuk dan kering agar jaket kulit tidak berjamur dan tidak lembab.

Ajakan Gereja Kepada Guru Agama Katolik

Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 13 Sep 2016 | 12.07

Gereja mengajak para guru agama katolik menghidupi Spiritualitas Katolik Gereja menegaskan bahwa ada 3 komunitas yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak dan kaum muda, yaitu: keluarga, masyarakat/ negara, dan Gereja. 

Gereja wajib menyelenggarakan pendidikan, supaya seluruh hidup mereka diresapi oleh semangat Kristus. 
"Pendidikan merupakan sumbangsih gereja bagi semua bangsa, untuk mendukung penyempurnaan pribadi manusia seutuhnya, juga demi kesejahteraan masyarakat dunia, dan demi pembangunan dunia sehingga menjadi makin manusiawi."  --PIUS XI, Ensiklik Divini illius Magistri: AAS 22 (1930) hlm. 53.
Pendidikan Agama Katolik, yang utama ialah pendidikan kateketis seharusnya
  1. menyinari dan meneguhkan iman, 
  2. menyediakan santapan bagi hidup menurut semangat kristus, 
  3. mengantar kepada partisipasi yang sadar dan aktif dalam Misteri Liturgi, dan 
  4. menggairahkan kegiatan merasul.
Sedangkan Tujuan Pendidikan Agama Katolik adalah:
  1. Agar mereka yang telah dibaptis langkah demi langkah makin mendalami misteri keselamatan, dan dari hari ke hari makin menyadari kurnia iman yang telah mereka terima; supaya mereka belajar bersujud kepada Allah Bapa dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:23), 
  2. Agar mereka yang telah dibaptis dibina untuk mengahayati hidup mereka sebagai manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati (Ef 4:22-24); 
  3. Agar mereka yang telah dibaptis mencapai kedewasaan penuh, serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:13), dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh Mistik. --KONSILI VATIKAN II, Konstitusi dogmatis tentang Gereja, art. 36.
Gereja menyadari sangat beratnya kewajibannya untuk mengusahakan pendidikan moral dan keagamaan semua putera-puterinya. Maka Gereja harus hadir dengan kasih-keprihatinan serta bantuannya yang istimewa bagi sekian banyak siswa, yang menempuh studi di sekolah-sekolah bukan katolik.
"Kehadiran Gereja itu hendaklah dinyatakan baik melalui kesaksian hidup mereka yang mengajar dan membimbing siswa-siswi itu, melalui kegiatan kerasulan sesama siswa, maupun terutama melalui pelayanan para imam dan kaum awam, yang menyampaikan ajaran keselamatan kepada mereka, dan yang memberi pertolongan rohani kepada mereka melalui berbagai usaha yang tepat guna dengan situasi setempat dan semasa." --PIUS XII, Amanat kepada perserikatan Guru-Guru Katolik di Bayem, tgl. 31 Desember 1956: Discorsi e Radiomessagi 18, hlm. 745 dst.

Refleksi
Menjadi Guru Agama Katolik adalah panggilan dan pilihan, maka yang terpenting adalah bagaimana Anda mau dan mampu bersikap konsisten dan konsekuen terhadap panggilan dan pilihan tersebut.

Sebagai pendidik, seorang guru Agama Katolik dituntut untuk memberi ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai tata-nilai (akhlak) dan pengembangan akal budi (kecerdasan pikiran) berdasarkan nilai-nilai Katolik. 

Dalam tugasnya itu seorang guru Agama Katolik berupaya mengubah cara bertindak dan cara berpikir siswa-binanya menjadi pribadi-pribadi yang dewasa seutuhnya.

Untuk mencapai tujuan di atas dibutuhkan kerjasama, yang pada tingkat keuskupan, nasional maupun internasional dari hari ke hari makin mendesak dan makin tepat guna, sangat perlu juga di dunia persekolahan. 

Akhrinya seluruh guru Agama Katolik hendak mengusahakan kerjasama tersebut sedapat mungkin, supaya antara Guru Agama Katolik di sekolah-sekolah katolik koordinasi makin dipererat, begitu pula dikembangkan kerja sama antara Guru Agama Katolik sekolah-sekolah katolik dan sekolah-sekolah lainnya. Sebab, kerja sama itu dibutuhkan demi kesejahteraan segenap masyarakat. 

Selengkapnya: 
1  |  2  |  3  |  4  |  5  

Guru Agama Katolik dan Upaya Transformasi Nilai-nilai Pedagogis Pendidikan Agama Katolik

Guru Agama Katolik
Siapa Guru Agama Katolik ? Guru Agama Katolik adalah awam yang terlibat untuk ambil bagian dalam tugas kenabian Yesus Kristus yang hidup di tengah masyarakat dan terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat.

Sementara misi Guru Agama Katolik adalah (1) mewartakan kabar gembira dan menyampaikan ajaran katolik yang berpusat pada pribadi Yesus Kristus, khususnya di sekolah; dan  (2) berjuang agar warta keselamatan ilahi tersebut dipahami dan dihayati oleh para peserta didik demi pengembangan iman mereka.

Selanjutnya, nilai-nilai pedagogis pendidikan agama katolik yang diajarkan di sekolah merupakan Nilai Profetis. Nilai-nilai Profestis yang dimaksud ialah nilai-nilai Kerajaan Allah sebagai orang beriman Katolik.

Konsekuensinya, seorang guru agama katolik harus memiliki (1) sikap mau menerima tugas dan tanggung jawabnya sebagai panggilan, (2) tindakan rela berkorban dan melayani dengan kasih, dan (3) kesediaan menjadi nabi dan rasul Kristus (pewarta).

Secara praktis, nilai-nilai profetis itu harus tampil secara nyata dalam keterlibatannya dalam:
A. Pewartaan di Sekolah: Guru agama Katolik harus bisa menjadi idola dan teladan bagi para muridnya di sekolah dengan mengembangkan sikap penuh kasih, sabar dan murah hati.

B. Pewartaan di Gereja
Guru agama Katolik hendaknya terlibat aktif dalam hidup menggereja. Bentuk keterlibatannya adalah sebagai berikut:
1. Mengajar sekolah minggu
2. Mengajar sakramen inisiasi
3. Menjadi pemandu dilingkungan
4. Mendampingi kelompok-kelompok kategorial
5. Menjadi Asisten Imam, dsb.

C. Pewartaan di Masyarakat
Guru agama Katolik harus mampu menjadi tokoh masyarakat yang hormati dan disegani. Bentuk keterlibatan dalam hidup bermasyarakat adalah: Aktif di lingkungan RT, RW, ikut menciptakan suasana rukun dan damai (dialog antar umat beragama), serta memberikan contah dan keteladanan hidup di tengah masyarakat.
Agar praksis nilai-nilai di atas tercapai, maka ia harus memiliki:
  1. Percaya diri 
  2. Hidup rohani yang mendalam 
  3. Nama baik sebagai pribadi maupun keluarga (prilaku dan moralnya) 
  4. Pengetahuan yang memadai (latar belakang pendidikannya) 
  5. Ketrampilan (kreatif, inovatif) 
dan potensi terpenting dari segalanya adalah dapat menjadi teladan, bukan malah menjadi batu sandungan bagi masyarakat, sekolah, bahkan parokinya. >> Lanjut Baca

Selengkapnya: 
1  |  2  |  3  |  4  |  5  
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lusius Sinurat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
184334688410108
badge