Tahapan Ritus Perkawinan Adat Batak Toba

Tahapan Ritus Perkawinan Batak
Upacara perkawinan adat Batak-Toba terjadi dalam suatu proses panjang, mulai dari upacara inisasi kedewasaan, tahap berkenalan, peminangan, penentuan maskawin, pemberkatan (di Gereja), pesta adat perkawinan, hingga menjemput pengantin.

Dengan melihat tahap-tahap ini, tidak mengherankan apabila upacara perkawinan adat Batak-Toba tampak rumit dan memakan waktu yang begitu lama.

Sedemikian rumit, sehingga sulit mencari locus rei perkawinan dan ratum-nya ikatan perkawinan tersebut, baik ditinjau dari sudut pelaksanaan esensinya maupun aspek yuridisnya. Bahkan mengenai hal itu, para pakar adat Batak (Batakolog) tidak sanggup menunjukkan saat yang tepat.[1]

Bagaimana proses panjang itu berlangsung akan di diuraikan dalam tahap-tahap berikut ini. 


Tahap I - PERSIAPAN

Sebagaimana telah disebut di atas bahwa tujuan utama perkawinan dalam masyarakat Batak-Toba adalah untuk memperoleh keturunan laki-laki secara sah. Setelah syarat utama ini terpenuhi barulah dimulai tahap persiapan. 

Tahap persiapan ini mengandung beberapa tahap, dan masing-masing tahap tahap memiliki cakupan yang luas. Sebagian merupakan persiapan yang tak terabaikan, kendati jelas bagian ini tidak termasuk sebagai hakekat perkawinan. 

Selanjutnya terdapat serangkaian upacara (masih dalam lingkup ikatan perkawinan) yang mengikuti tahap-tahap perkawinan itu sendiri, hingga pada kelahiran anak (pertama) dan cucu. 

Tahap persiapan itu sendiri mencakup tahap inisiasi kedewasaan, peminangan (perkenalan, dan peminangan), penentuan mas kawin (marhusip dan marhata sinamot) dan upacara perkawinan itu sendiri.


(1) Inisiasi 

Tahap pertama ini menyangkut: masa transisi dari masa anak-anak ke masa remaja atau masa pubertas, seni berkenalan dan berpacaran, pembekalan pengetahuan bagi seorang remaja mengenai makna perkawinan dan bagaimana menjadi orang tua.

Tahap yang disebut terakhir bisa dikatakan semacam ‘sekolah pendidikan tradisional’ dimana setelah seorang anak beranjak dewasa atau puber, maka dia diterima ke dalam apa yang disebut oleh A.B. Sinaga sebagai “masa novisiat”. [2]

Dalam proses inisiasi ini kedua calon pengantin dibekali ilmu pengetahuan praktis. Prosesnya terdiri dari: 
  1. Pengajaran isi “iman” tradisional. Tahap ini mencakup: pengenalan akan dewa-dewi serta Allah dan norma-norma yang boleh atau dilarang oleh adat. Ajaran ini sering sangat moralistis dan dikandangi dengan bermacam tabu tanpa pendasaran jelas.
  2. Pembekalan kedua pasangan dengan pengetahuan dan latihan bidang-bidang khusus. Tahap ini mencakup pendampingan pada masa transisi pubertas, seni berkenalan dengan lawan jenis (termasuk seni bagaimana memikat hati), seni hubungan suami-isteri dan dikaitkan dengan seni berhubungan dengan mertua dan keluarganya, dan akhirnya diajarkan mengenai adat lengkap bagi seorang yang sudah kawin.
  3. Mempersiapkan kedua pasangan tentang seni membangun rumah, bercocok-tanam, berbicara adat, bertamu, dan seni berdagang atau usaha lain.
Hendaknya dimengerti bahwa yang terutama diajarkan bukan ketrampilan teknis melainkan kaidah-kaidah yang ditimba dan perangkat iman kedua pasangan. Bagi masyarakat Batak-Toba, semua tindakan bersifat sakral dan hampir tidak ada tindakan profan melulu. 

Kendati mereka berkumpul dalam “novisiat”, hanya waktu malam dan siangnya mereka bekerja dan bersatu dengan orang tuanya. Porsi pendidikan seringkali sudah cukup lengkap, karena mereka diberikan latihan-latihan yang bersifat praktis. 

Sesuai dengan proses kematangan usia, ada waktunya dimana kaum laki-laki dibenarkan untuk martandang (berkencan) dengan gadis-gadis di ‘rumah pendidikan’ tersebut. Sekawanan perjaka memasuki rumah untuk berkenalan dengan beberapa orang gadis. 

Mula-mula mereka menanyakan marga sang gadis (hal ini penting untuk mengetahui apakah sang gadis mempunyai marga yang sama dengan sang pemuda atau masih memiliki hubungan darah tertentu). 

Lantas di tempat yang sama masing-masing dari mereka mencari partner kencan. Tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebab mereka saling “mengawasi” dan dalam keadaan darurat, sang mistress berkuasa penuh untuk mengambil tindakan, termasuk mengadukan masalah ke dewan orang tua kampung.

Inisiasi kedewasaan ini ditandai dengan ritus mengihir ipon (memotong/mengikir gigi sampai rata). Setelah seorang remaja menurut fisik dan mental dewasa, dan seluruh persyaratan pendidikan “novisiat” sudah dilalui, maka dia menjalani inisiasi kedewasaan. Lewat upacara inisiasi agama dan juga pantang dan puasa, akhirnya acara penutupan dan augurasi (pertanda) kedewasaan dilakukan dengan memotong gigi. 

Kerumitan teknik dan keagamaan dalam upacara ini diperkalut lagi dengan sejenis kecenderungan religius untuk melakukannya di malam hari. Memang transisi misterius dalam hidup dilambangkan dengan baik oleh malam. 

Setelah menjalani semuanya ini: seorang jejaka atau gadis siap untuk menikah [3]; seorang gadis siap untuk dipinang; dan seorang jejaka siap untuk melakukan peminangan.


(2) Penentuan Calon Jodoh & Peminangan

Dalam tradisi Batak-Toba, masalah peminangan dilakukan dengan proses yang aneh. Prosesnya mencakup dua tahap, yakni: penentuan calon jodoh dan peminangan.

a. Penentuan Calon Jodoh

Bagi masyarakat Batak-Toba, seorang remaja akan dijodohkan pada waktunya. Tetapi dengan siapa dia dijodohkan adalah soal yang harus dirundingkan dalam suatu musyawarah keluarga yang bersifat tertutup.

Dikatakan “tertutup”, sebab siapa saja yang bisa hadir dalam rapat tersebut diatur dengan ketat. Biasanya, mereka yang terlibat di dalamnya adalah orang tua, saudara-saudari kandung bersama dengan suami atau isteri mereka. Mereka juga terikat oleh kewajiban untuk memegang rahasia, terutama sebelum adanya keputusan. 

Mula-mula yang mengungkapkan maksud musyawarah adalah pihak orang tua. Orang tua sendiri mengutarakan (beberapa) calon: par excellance adalah pariban atau boru ni Tulang. Sudah menjadi tradisi—entah karena keinginan ikatan harta warisan, entah karena kecocokan religius—orang-orang dari sub-kultur Batak-Toba pertama-tama dianjurkan kawin dengan pariban-nya. 

Bahkan bila mempunyai pariban sementara sang pemuda tidak bersedia, maka yang disebut terakhir harus minta ijin dari orang tua pariban-nya (Tulang kandungnya) sebelum meminang gadis lain. [4] 

Dalam perbedaan usulan calon inilah peranan saudara-saudari sang pemuda menjadi menonjol. Mereka membentuk sejenis “dewan pertimbangan” dengan membandingkan penampilan fisik dan argumentasi kedua-belah pihak terdahulu. Musyawarah seperti ini berlangsung lebih dan satu kali sebelum mengambil kesimpulan.

Ada dua alasan mengenai pentingnya musyawarah ini [5]:
  1. Kesepakatan orang yang yang harus direstui dewa-dewi: mereka berkonsultasi dengan seorang medium roh untuk mencari tahu apakah suatu rencana perkawinan bisa atau tidak bisa dilakukan.

    Salah satu cara yang ditempuh seorang datu (ahli, imam, dukun) adalah membandingkan nama calon pengantin, dimana dipercaya tondi (jiwa) mereka bertahta. Kalau “selaras”, maka rencana perkawinan dianggap akan sukses. Juga mimpi diteliti sebagai ungkapan jiwa. [6] Doa-doa kepada Roh-roh nenek moyang dan dewa-dewi pun dipanjatkan supaya memberi isyarat.
  2. Kebutuhan akan cadangan bila gadis pilihan pertama menolak peminangan. Menarik untuk disimak bahwa dalam debat-debat semacam ini, semua pihak diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat disertai alasannya.

    Ini membuktikan bahwa soal perkawinan bukanlah masalah pribadi, kendati dengan alasan cinta sekalipun. Dimensi komuniter ini akan membuat ikatan perkawinan menjadi tangguh. Maka tidak mengherankan bila angka perceraian di kalangan orang Batak sangat rendah. 

(b) Peminangan

Dicarikan seorang penghubung (rahasia) untuk menyampaikan kesepakatan tadi kepada pihak orang tua dari sang gadis terpilih. Penghubung ini dinamai “domu-domu” (perantara atau wali). 

Tugas seorang domu-domu didasarkan pada fungsinya, dalam arti dia diutus oleh pihak mana: apabila ia adalah domu-domu dari pihak si pemuda, maka ia bertugas menyampaikan lamaran si pemuda kepada si gadis. Sebaliknya, apabila ia adalah domu-domu dari pihak si gadis, maka ia bertugas menerima lamaran si pemuda lewat domu-domu-nya. 

Dengan bantuan para domu-domu tersebut diharapkan agar orang tua kedua belah pihak dapat mencapai persetujuan (padomuhon) mengenai jumlah mas kawin. Fungsi lain dari seorang domu-domu adalah membantu menyerahkan sinamot (mas kawin). 

Seorang domu-domu harus menjaga rahasia mengenai jumlah mas kawin yang akan diberikan oleh pihak orang tua si pemuda sebelum pihak orang tua gadis memberikan lampu hijau. [7]

Lantas bagaimana caranya pihak orang tua gadis memutuskan jawaban atas tawaran itu? Pertama-tama, orang tua (kandung) si gadis memanggil anak-anaknya merundingkan tawaran peminangan ini. 

Hanya ada dua kemungkinan sebagai jawaban yang mereka lontarkan, yakni antara menerima atau menolak tawaran tersebut (lengkap dengan keberatan yang mereka ajukan). Bila tawaran diterima, maka selanjutnya diadakan peminangan dan pertunangan. 

Menarik untuk dicatat bahwa upacara pertunangan ini dilihat sebagai urusan antar-calon pengantin, dan bukan antar-orang tua. Hutagalung [8] mengatakan: 
“Malamnya mereka berkumpul. Pihak pelamar membawa tiga orang gadis dan dua orang ibu. Pendamping si pelamar adalah guru setempat. Guru inilah yang memulai proses pelamaran. Selanjutnya narenta (mempelai wanita) menyerahkan sehelai ulos sitoluntuho yang bagus dan baru, belum pernah dipakai. Pemberian itu dibalas oleh pihak pelamar (pihak mempelai laki-laki) menyerahkan sejumlah uang. Upacara ini diakhiri oleh doa yang dipimpin oleh sang Guru. Sejak itu mereka bertunangan dan sang gadis tak boleh menerima lamaran orang lain. Apabila sang gadis mengingkarinya, maka ia harus mengembalikan tanda pertunangan dua kali lipat dan tak menerima kembali tanda pertunangan yang diserahkannya.”


(3) Marhusip dan Marhata Sinamot 

Disebut marhusip (berbisik), sebab hasil pembicaraan antara kedua belah pihak harus dirahasiakan sampai “Hari H” upacara perkawinan. 

Istilah marhusip juga menunjuk pada belum resminya pembicaraan kedua belah pihak (parboru dan paranak), dan oleh karenanya tidak perlu diketahui oleh umum. 

Demikian dikatakan Sihombing, 
“Umbahen na nidok pe songon i goar ni ulaon i, na mandok na so resmi dope pangkataion i jala ndang pola dope porlu botoon ni umum, ai hira songon holan na masidooan roha dope disi.” [9] 
Makna dari upacara ini terkandung dalam dua umpasa berikut ini: “manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobung” atau “jolo nidodo asa hinonong” Dari kedua umpasa ini adalah menekankan perlunya persiapan yang sungguh-sungguh untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara tersebut. 

Umpasa lain mengungkapkan agar setiap orang yang ingin menikah terlebih dahulu memperhitungkan kemampuan finansialnya: “jolo tinaha garungniba, niantan sulangat-niba.” 

Acara ini biasanya dilangsungkan di rumah pihak parboru (pengantin perempuan). Sebelum acara marhusip dimulai, pihak paranak sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu maksud kedatangan mereka dan jumlah mereka.

Setelah ritus marhusip selesai, lalu diadakan marhata sinamot (penentuan mas kawin atau mahar). Tata cara yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:

  • Paranak dan rombongannya berangkat pada waktu yang sudah ditentukan menuju kampung parboru untuk marhata sinamot (membicarakan perihal maskawin) dan segala sesuatu yang akan dilakukan sehubungan dengan pernikahan putera-puteri mereka. Pada saat itulah parboru menerima bohi ni sinamot (panjar maskawin) yang disebut tanda burju (simbol kebaikan).
  • Setelah itu paranak dan parboru memberikan uang ingotingot kepada semua pihak yang ikut serta dan terlibat dalam upacara ini. Dalam buku yang sama, Sihombing [10] menuturkan ritual ini sebagai berikut: 
“Borhat ma paranak dohot rombonganna di ari naung tinontuhon tu huta ni parboru marhata sinamot dohot sude siulaon na mardomu tu parbagasaon ni anak dohot boru. Di si ma dijalo parboru sian paranak “bohi ni sinamot” na ginoar huhut “tanda burju”. Dung i dilehon paranak dohot parboru ma hepeng “ingotingot” tu angka na dohot tu parhataan i.”

Kedua upacara ini diselenggarakan sesuai dengan konsep perkawinan menurut adat Batak-Toba, dimana setiap perkawinan adalah kesempatan untuk mengikat kekerabatan. [11] Kekerabatan baru ini dilakukan dengan membuat pesta dan tukar-menukar ‘pemberian’. ‘Siapa menerima dan membalas pemberian dengan apa’ diatur dengan rapi dalam adat.

Sekurang-kurangnya orang tua kandung mempelai wanita, saudara ibunya, saudaranya serta salah seorang yang diajukan sebagai sahabat dekatnya (todoan) mutlak harus mendapat bagian dari mahar.

Sebagai balasnya mereka juga harus menyediakan pemberian, umumnya berupa ulos, beras, ikan, ladang atau sawah. Sebaliknya dan pihak keluarga mempelai pria akan diserahkan uang, barang berharga (piso, pusaka), daging, ternak. 

Ritual marhusip ini harus lebih dahulu dirancang dan direncanakan dalam 'bahasa' tawar-menawar. Untuk merancang upacara ini, maka dengan membawa anggota keluarga dekat, pihak mempelai pria berkunjung ke rumah pihak mempelai wanita, yang juga sudah mengundang kerabat yang paling bersangkutan dengan adat perkawinan itu.

Besarnya mahar—baik seluruhnya maupun bagian-bagiannya—ditentukan pada saat itu, kendati penyerahannya akan dilakukan pada saat perkawinan. Juga ditentukan barang apa akan dibawa atau diserahkan oleh keluarga mempelai wanita, siapa membayar pesta dan kapan diadakan pesta perkawinan. Bila semuanya rampung, mereka pun pulang mempersiapkan hal-hal yang perlu untuk pesta perkawinan. 


(4) Akhir dari Tahap Persiapan 

Syarat pertama untuk persiapan ini adalah adanya kesepakatan antara paranak dan parboru tentang upacara yang akan dilangsungkan. Biasanya pihak yang mempersiapkan upacara adalah pihak parboru dibantu oleh dongan sabutuha-nya, dongan sahuta dan pihak-pihak lain yang sudah ditunjuk (tutur na asing). 

Sepertiga kerugian panjuhuti (biaya pesta) biasanya ditanggung oleh parboru dan dua per tiganya ditanggung oleh paranak. Di jaman sekarang, terutama di antara orang Batak Toba yang tinggal dan menetap di kota-kota besar, terdapat perbedaan dalam cara melakukannya.

Ada 3 (tiga) kemungkinan yang terjadi menengenai siap yang harus mempersiapkan upacara yang akan dilangsungkan: 
  1. Parboru yang keseluruhan pesta, namun semua kerugian pesta ditanggung oleh paranak.
  2. Paranak yang menyiapkan dan menanggung semua kerugian pesta. Cara ini disebut taruhon jual. Konsekuensinya, semua boras (beras, kado yang didapat dari pesta) hanya diterima oleh paranak.
  3. Pada waktu marhata sinamot, paranak menggabungkan kerugian pesta dengan sinamot tanpa membuat perincian. Cara ini disebut sitombolo. Kalau parboru setuju, maka merekalah yang mengadakan pesta sesuai dengan kemampuannya. Sesuai dengan kebiasaan dulu, dimana parboru mengadakan pesta dan sepertiga dari sipalahoon tu panjuhuti berasal dari parboru dan duapertiga dari paranak. 
_____

[1] Anicetus B. Sinaga, Permata Perkawinan Adat Batak Toba. dalam Jurnal SAWI (edisi No. 3. April 1990). Jakarta: KKI-KWI, 11 Desember 1976, hlm. 7-8. 

[2] Ibid., hlm. 9. 

[3] Ibid., hlm. 10 yang mengacu pada OL Tobing, The Structure of the Toba-Batak Belief in the High God. Amsterdam: Jacob van Campen, 1956 dan J. Winkler, Die Toba-Batak auf Sumatra in gesunden und kraneken Tagen: Ein Beitrag zur Kenntnis des animistischen Heidentums. Stuttgart: Chr. Belser AG., 1925, hlm. 155. 

[4] Pada masa kini dianggap kekolotan bila seseorang begitu saja menuruti kehendak orang tuanya termasuk dalam hal memilih jodoh, apalagi keharusan untuk menikah dengan boru ni Tulang atau pariban-nya . (Ibid., hlm 11). 

[5] Ibid. 

[6] SA. Niessen, Motifs of Life in Toba Batak Tests and Textiles. Dordrecht: Foris, 1985, hlm. 159. 

[7] Hadiah atas pekerjaan mereka disebut upa domu-domu (pembayaran atas tercapainya sebuah kesepakatan). Mereka menerimanya setelah perkawinan sudah dilangsungkan, dan maskawin sudah diserahkan. (JC. Vergouwen, op. cit., hlm. 214 - 215). 

[8]  Bdk. W. Hutagalung, op. cit., 1963, hlm.140. 

[9]  TM. Sihombing, op. cit., hlm. 45. 

[10] Ibid., hlm. 49. 

[11] SA. Niessen, op. cit., hlm. 127.


Lusius Sinurat
Diberdayakan oleh Blogger.