Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Makna Bahasa Simbolis dalam Ritus Mangulosi

Makna Bahasa Simbolis dalam Ritus Mangulosi
Upacara Perkawinan Adat Batak Toba Febri Sinurat & Kim Young Feel di Cimahi, 14 Mei 2011 | Foto: Lusius Sinurat
Dalam ritus mangulosi, umpasa atau umpama adalah unsur yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan mutlak digunakan. Umpasa adalah sebuah karya sastra berupa pantun bersajak yang terdiri dari dua, tiga atau empat baris.

Baris pertama atau baris kedua berupa sampiran, dan baris ketiga atau keempat berupa isi. Di dalam setiap umpasa termaktub makna tertentu, misalnya filsafat hidup, nasihat, ucapan-ucapan berkah, dll. [EH. Tambunan, op. cit., hlm 77]

Nah, dalam setiap upacara adat umpasa ini selalu muncul dan selalu digunakan, terutama dalam ritus mangulosi. Menurut Vergouwen, 
“Umpama atau umpasa adalah perangkat ungkapan yang layak diperhatikan, karena seringnya ia dipakai dan karena bentuknya yang agak menarik diperhatikan. Walaupun tidak memiliki watak normatif yang ada pada suatu kaidah undang-undang, namun ia telah menjadi bentuk hukum yang mantap, karena suatu konsep hukum tertentu telah masuk di di dalamnya….Umpama dapat dianggap sebagai butir-butir yang sedikit banyak telah mapan di dalam suatu masyarakat yang sangat dinamis.” [JC. Vergouwen, op. cit., hlm. 171]
Pada umumnya, bentuk umpasa mencerminkan kearifan rakyat, kendati demikian, makna hukum dari banyak umpasa itu lebih besar dari yang dapat diduga. 

Dari pengertian ini, umpasa dapat dibagi kedalam 2 (dua) kelompok, yakni umpasa hukum dan umpasa non hukum. Kelompok kedua disebut umpasa non hukum, karena ia diramu begitu rupa sehingga seseorang hampir tidak mungkin langsung memahami makna hukum yang terkandung di dalamnya. 

Umpasa itu baru akan memiliki kekuatan hukum ketika digunakan pada peristiwa yang tepat. Misalnya, 
"Molo memet binanga, na metmet do dengke; molo godang binanga, godang dengke." [Jika sungai kecil ikannya pun kecil, jika sungai besar ikannya pun besar, JC. Vergouwen, ibid hlm. 171]
Umpasa ini mengandung prinsip bahwa ganjaran orang yang aktif dalam suatu perkara hukum harus sebanding dengan bobot perkara yang dipermasalahkan. 

Dengan kata lain, penerapan umpasa ini terbatas pada hukum adat saja. Masih banyak kelompok atau bentuk umpasa yang lain, namun penulis tidak akan menguraikannya di sini, mengingat tulisan ini berfokus pada ritus perkawinan adat, maka umpasa yang akan penulis telaah hanyalah umpasa yang digunakan dalam ritus perkawinan, khususnya dalam ritual adat mangulosi
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter