Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Makna Umpasa dalam Ritus Perkawinan

Makna Umpasa dalam Ritus Perkawinan
Umpasa-umpasa berikut ini adalah umpasa-umpasa yang digunakan pada saat mangulosi kedua mempelai. (TM. Hutabarat, op. cit., hlm 31-33. Lebih lengkapnya mengenai umpasa atau umpama ini lihat EH. Tambunan, op. cit., hlm. 77-78)
(1) 
Marsiaminaminan songon lampak ni pisang,
Marsitungkoltungkolan songon sahat di robean.
Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru,
Tong sahata saoloan. 
Sai marsinondang songon bulan,
marsinondang songon bulan,
marcahayo songon mata ni ari.
Tu domuna hamu antong sahundulan,
tu na marhula marboru,
songon i nang tu marhahamaranggi
Makna simbolis: Mengungkapkan perlunya cinta dan kesetiaan, baik dalam suka maupun dalam duka bagi kedua mempelai.
(2) 
Sinimbur ni pakkat ma sinimbur ni hotang,
Tu dia hamu mangalakka, sai tong dapotan.
Binanga ni Sihombing, binongkak ni Tarabungan,
Tu sanggar ma amporik tu lubang ma satua.
Sai sinur ma napinahan, gabe nang niulaonmuna”
Makna simbolis: Mengungkapkan hara-pan agar kedua mempe-lai dianugerahi kesejah-teraan yang ditandai dengan tanah penghasi-lan (tano pansalongan) yang luas untuk mencari nafkah.
(3) 
Niumpat padangtogu,
Mangihut simarbulu.
Tu lelengna hamu mangolu,
ro di na sarsar uban di ulu,
sahat tu na pairingiring angka pahompu
Makna simbolis: Mengungkapkan harapan akan panjang umur bagi kedua mempelai.

Ketiga umpasa di atas merangkum 3 (tiga) cita-cita tertinggi (baca: Dalihan Na Tolu) atau tujuan akhir hidup setiap orang Batak yang ingin menikah, yakni 
  1. Saling mencintai satu sama lain. Untuk mencapai tujuan ini, kedua mempelai diharapkan sahata-saoloan (seia-sekata), marsiurupan (saling membantu dalam untung dan malang), dan mardamedame (membangun hidup rukun). 
  2. Diberkati Debata Mula Jadi Na Bolon, dalam arti: [1] diberi keturunan: “Tubuan laklak, tubuan sikoru. Tubuan anak, tubuan boru” (semoga lahir putera dan puteri) dan [2] mendapatkan pekerjaan: “Sinimbur ni pakkat tu sinimbur ni hotang. Tu dia mangalangka, sai tong dapotan” (kemanapun pergi selalu mendapatkan pekerjaan yang layak).
  3. Dianugerahi umur yang panjang. Dalam pengertian orang Batak, panjang umur berarti apabila seseorang bertahan hidup hingga sarimatua (memiliki cucu dari putera dan puterinya). 
Penggunaan umpasa berhubungan dengan kebutuhan untuk memberikan kesan dan wibawa (melalu kata yang diucapkan) kepada prinsip yang diwariskan dan diakui secara umum. 

Kesan dan wibawa itu akan memperoleh nilai normatif serta suasana keramat yang diinginkan jika ia dituangkan dalam bentuk yang baik dan dengan bunyi yang enak didengar. Kekuatan umpasa itu tidak hanya terletak pada kiasan yang hidup; tetapi juga pada iramanya yang merdu. Orang yang tidak tahu bahasa Batak pun tidak boleh tidak akan memperhatikannya. 

Dalam umpasa, bunyi yang merdu sendiri sudah merupakan pembawa hal yang baik, oleh karenanya ia begitu penting sehingga jika umpasa tidak memilikinya, orang akan mudah menganggap umpasa itu hanya buatan orang yang mengucapkannya, sebagai pemalsuan yang dari yang asli.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter