Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Makna Teologis Ulos dan Mangulosi

mangulosi
"Upacara Perkawinan Adat Batak Toba" 
Febri Sinurat & Kim Young Feel
Cimahi, 14 Mei 2011 | Foto: Lusius Sinurat
Selain 3 (tiga) cita-cita tertinggi di atas, orang Batak—lewat pengaruh positif Kristianitas yang mereka terima secara terbuka hingga menjadi bagian dari kebudayaan Batak itu sendiri—meyakini dan mengimani bahwa cinta Allah (Holong ni Debata) jauh lebih penting dari pada semua hal itu. 

Orang Batak pada akhirnya menyadari bahwa ulos yang diberikan hulahula dalam ritus perkawinan adat itu akan lusuh dan rusak. Tetapi, “ulos” dari Allah kita tak akan pernah lusuh dan rusak, ia akan tetap abadi. 

Ulos yang dimaksud ialah “ulos haluaon“ (ulos keselamatan). “Orang Batak Toba menyadari bahwa hanya dengan “ulos haluaon” itulah manusia diselamatkan dari bencana, kelaparan, kematian, dan dari dosa-dosa kita; dan lebih jauh lagi memperoleh kehidupan abadi yang Ia janjikan. [1]

Inilah yang tampak dalam ritus perkawinan adat Batak Toba, yang nota bene sangat kental dengan pengaruh Kristen. Haluaon atau keselamatan itu tampak pada saat pihak laki-laki menerima ulos dan nasehat-nasehat dari hula-hulanya. 

Ulos dan nasihat-nasihat itu memberikan kebahagiaan mereka, sebab ulos tersebut diyakini sebagai ulos yang menyelimuti tubuh dan jiwa mereka (mangulosi badan dohot tondinami”). [2] Dan “ulos” itu jauh lebih penting daripada ulos yang mereka terima. 

Menyangkut “ulos haluaon” ini, pihak laki-laki (paranak), sebagai ungkapan terima kasih kepada pihak perempuan (parboru) dan hadirin, berseru: 
"Ima tutu amang ! Nunga tutu hujalo hami ulos on. Sai mangulosi anak ma on tutu mangulosi boru di hami, mangulosi badan dan tondi nami. Sai martanda songon adian (peristirahatan), marhinambor (menggemburkan, menyiangi) songon dolok ma ulos pinasahatmuna on. Horas ma hamu na manggabei, horas antong hami na ginabean. Naung sampulupitu ma, jumadi sampuluualu. Hata na uli hata na denggan i, sai ampe ma i di sambubu (ubun-ubun), tuak di abaranami Jala boanboannami ma i tu tonga ni jabu.  
Hadirin : Imma tutu." [3]
Menarik bahwa seluruh hadirin yang hadir dalam upacara itu mengungkapkan secara verbal persetujuan mereka terhadap perkawinan kedua mempelai. Mereka menyetujui bersama, mengamini karunia yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka. 

Hanya dengan demikianlah ulos akan membawa dampak positif, baik bagi si penerima maupun si pemberi, yakni tidak melahirkan rasa iri dan cemburu (late). Sebaliknya, semua orang yang hadir dalam upacara tersebut bersama-sama bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas “ulos haluaon” yang diberikan kepada mereka, khususnya kepada kedua mempelai. 

Di sini kita menemukan bahwa bahasa simbolis dalam ritus mangulosi tidak sekedar menggambarkan fakta-fakta yang dapat diteliti secara historis, sebaliknya ritus itu mengungkapkan makna yang tersembunyi dibalik fakta-fakta itu. 

Sebagaimana diungkapkan Anicetus Sinaga, ulos dalam ritus perkawinan adat adalah lambang kesuburan, hidup dan tata/hukum dunia; ulos juga merupakan lambang banua ginjang atau “tanah surgawi” (ulos jau) yang diperebutkan oleh para dewa; simbol penangkal setan, penyembuh rasa sakit, dan pemberi kesejahteraan dan kebahagiaan.[4]
__________

[1] Ibid., hlm 32, bdk. Yoh 3:16.

[2] Tondi, di sini, adalah forma tubuh, namun ia membentuk hidup sendiri disamping raga. Penyakit, musibah, dan lain-lain dianggap timbul karena tondi meninggalkan badan; dan kalau tondi terlalu lama meninggalkan badan, orang akan mati. Bila tondi seseorang dijerat oleh sombaon (kekuatan gaib) sehingga ia ia jatuh sakit, maka tondinya harus dipanggil pulang untuk menyembuhkan orang sikit itu. (Anicetus B. Sinaga [2004], hlm. 367). 

[3] Ibid., hlm 33. 

[4]  Anicetus B. Sinaga (2004), op. cit. hlm 135; 220-221 (bdk. Yoh 19:24, “Mereka membagi-bagi pakaianKu.”); dan hlm. 355.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter