Simbol dan Tindakan Simbolis Ritus Perkawinan Adat Batak Toba

simbol-simbol perkawinan adat batak toba
"Upacara Perkawinan Adat Batak Toba" 
Pasangan Febri Sinurat & Kim Young Feel
Cimahi, 14 Mei 2011 | Foto: Lusius Sinurat
(a) Simbol 

Pada dasarnya tidak dapat diciptakan, dan keberadaannya juga tidak terletak pada kesepakatan.

Benda akan menjadi sebuah simbol apabila ia menunjuk pada dirinya sendiri, sebab simbol berperanserta hanya dalam kenyataan yang menunjuknya.

Simbol adalah benda tanpa membendakan, dan masih masih berupa benda. Simbol itu membawaserta kesatuan dan kesinambungan pada apa yang dijabarkannya, masa lalu dan masa depan menuju masa kini. [1] 

Demikianlah simbol berbeda dari sebuah tanda. Sebuah benda yang merupakan sebuah tanda apabila benda tersebut tidak menunjuk pada dirinya. [2] Akhirnya, benda tertentu akan menjadi sebuah simbol dalam kesadaran pribadi, kelompok/ masyarakat tertentu.

Demikianlah benda tertentu dalam ritus perkawinan adat Batak Toba akan menjadi simbol bagi pribadi, kelompok/masyarakat Batak Toba itu sendiri, sebab bagi mereka, benda-benda atau barang-barang itu pada kenyataannya memiliki arti khusus dan pada waktu khusus pula.[3]

Di sinilah hubungan antara yang obyektif dan subyektif amat penting dan vital, sehingga sebuah simbol dapat menciptakan kesadaran kelompok. 


b) Tindakan Simbolis 

Perbuatan berbeda dari tindakan simbolis. Perbuatan itu murni sebagai transaksi dengan hasil yang nyata. Suatu perbuatan haruslah berguna, sementara tindakan simbolis bukan soal berguna atau tidak berguna, karena tindakan simbolis berada di wilayah makna.

Akan tetapi, tindakan simbolis tertentu bisa saja bermakna ganda, yakni ketika simbol-simbol yang digunakan dikaitkan dengan benda-benda di luar diri kita. Berbeda dengan perbuatan, tindakan simbolis selalu dihubungkan dengan manusia, selalu diangkat dari tindakan-tindakan simbolis manusia. 

Misalnya, tindakan simbolis mangulosi dalam ritus perkawinan adat Batak Toba tak bisa dilepaskan dari makna simbolisnya sebagai lambang cinta, kesetiaan, kebahagiaan, dan panjang umur. 


c) Bahasa Simbolis 

Dalam bahasa, perbedaan antara istilah dan kata-kata [4] sejajar dengan perbedaan antara: tanda dan simbol, atau antara tindakan yang menandakan dan tindakan simbolis.

“Kata-kata” adalah produk buatan yang muncul melalui pendekatan yang angkuh dan terlampau mengatasi/menguasai kenyataan, sedangkan “istilah” itu bersifat kaku, tak bernyawa, hanya memiliki satu arti.

Bahasa simbolis mempunyai fungsi mensejahterakan dan menyangkut persoalan hidup dan mati, Allah, dan manusia. Bahasa simbolis adalah bahasa utama, bukan hanya sekedar bagaimana berbicara; kendati bisa saja terjadi hal yang sebaliknya, di mana bahasa simbolis bisa sungguh berbahaya.

Hal yang sama juga berlaku dalam bahasa simbolis dalam ritus perkawinan, baik ritus perkawinan Gerejawi maupun ritus perkawinan adat Batak Toba.

Adapun simbol-simbol yang digunakan dalam perkawinan adat Batak Toba, sebagaimana telah disinggung dalam postingan sebelumnya, terdiri dari tiga simbol utama, yakni
  1. ulos, indahan (nasi), 
  2. boras si pir ni tondi, 
  3. dengke (ikan), rudang (daun bunga yang wangi), bunga merah (biasanya bunga kembang sepatu), air bersih, telor, sirih.
Dari keseluruhan simbol-simbol perkawinan adat Batak Toba, ulos adalah simbol yang paling menonjol dan dominan. Maka, kiranya tidak salah apabila tulisan ini lebih banyak berbicara tentang simbol ulos dibanding unsur lain, yang juga tidak kalah penting. Unsur atau simbol lain yang dimaksud adalah musik (gondang) dan tari (tortor).
__________

[1] Dalam simbol-simbol, asal dan masa mendatang (dimana kita mengorientasikan diri kita) berjalan dengan yang lain pada masa sekarang (Gerarld Lukken, op. cit., hlm. 90). 

[2] Tanda terletak pada kesepakatan dan selalu melalui referensi, acuan tertentu. Misalnya, tanda lalu lintas, zebra-cross, atau sebuah perjanjian. Ia tidak memiliki akibat dari dirinya, tidak memanggil kita untuk berhenti, merenungkan atau bermeditasi; seakan tak lebih dari sebuah foto orang yang kita cintai. Ia adalah sejenis batu loncatan kepada kenyataan yang lain tanpa memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Ini bukan berarti bahwa sebuah benda lantas memunculkan kedangkalan makna, tetapi dengan cara tertentu ia dapat menjadi simbol. Bahkan, tak jarang hal yang paling sederhana sekalipun dapat menjadi sebuah simbol. (bdk. Paul Tillich, Teologi Kebudayaan: Tendensi, Aplikasi, dan Komparasi (terj.). Yogyakarta: IriSoD, 2002, hlm. 63). 

[3] Misalnya, bagi orang Kristen simbol salib pada akhirnya menjadi bagian dari kebersamaan atau persaudaraan dari persekutuan. Peralihan ke dalam kesadaran itu terjadi, terutama melalui perantaraan 2 (dua) bentuk simbolis, yaitu [1] bentuk simbolis yang bersifat dramatis-visual dan [2] bentuk simbolis yang bersifat verbal dengan akibat dramatis. Kedua bentuk simbolis ini mengambil bentuk dalam kurban dan hukum. Kembali pada contoh salib tadi, maka salib pun bisa dilihat sebagai bentuk kurban sekaligus sebagai pelanggaran hukum, tepatnya menghukum orang yang tidak bersalah. (Gerarld Lukken, loc. cit.). 


[4] Bdk. secara etimologis kata “say” dihubungkan dengan kata “see” yang berarti membiarkan sesuatu menjadi jelas, terlihat. Dalam bahasa simbolis, kata-kata adalah persoalan menyinari melalui, dan persoalan membuat kenyataan menjadi jelas, dan membukakan perspektif mendalam. Kata-kata menampakkan hubungan yang paling alami dari benda. Dalam bahasa simbolis hal itu berbeda. Ketika kata-kata digunakan sebagai ungkapan simbolis, maka mereka membawa seluruh kata-kata. Ini terjadi karena bahasa simbolis selalu membuka horison baru. (Ibid., hlm. 93-94).



Lusius Sinurat
Diberdayakan oleh Blogger.