Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Simbol Dengke Dalam Perkawinan Adat Batak Toba

"Upacara Perkawinan Adat Batak Toba" 
Febri Sinurat & Kim Young Feel
Cimahi, 14 Mei 2011 | Foto: Lusius Sinurat
3) Dengke

Bersama ulos, dengke [1] (baca: dekke) juga diberikan pada ritus perkawinan (dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki).[2] Dengke dalam adat adalah ihan Batak

Dengke juga berarti kumpulan makanan bersama nasi [3] yang dibawa oleh parboru pada saat pernikahan, atau segala biaya tanggungan dari parboru

Dengke simarudurudur misalnya melambangkan kesuburan wanita (gabe).[4] 

Karena tidak ada lagi dapat ihan Batak, maka untuk memenuhi keperluan adat, dengke diganti dengan ikan mas. 

Ihan Batak ialah ikan yang terdapat di Danau Toba, berwarna putih kehitaman. Dengke yang diberikan hulahula kepada boru-nya yang mengadakan upacara perkawinan atau marulaon adat [5] memiliki persyaratan:
  1. Dengke sitiotio, yakni dengke yang hidup atau diambil dari aek sitiotio (air jernih). Pada zaman dulu dengke yang didapat dari pantai tidak boleh dipakai. Dengke yang diutamakan adalah dengke  yang ditangkap di Danau Toba atau dari kolam sendiri. Karena arti dan tujuan kata sitiotio adalah ikan yang bersih. 
  2. Dengke simudurudur, yakni dengke yang beranak banyak. Kalau dengke yang beranak banyak sudah pasti dengke betina. Dulu, memang tidak dipakai dengke jantan karena ia tidak beranak.
Ketentuan lain adalah dengke yang akan diberikan kepada boru tidak boleh dipotong-potong, melainkan harus utuh satu ekor dan tanpa cacat. 

Adat Dalihan Na Tolu membuat ketentuan mengenai dengke yang diberikan sebagai berikut:
  1. diberikan oleh hulahula, 
  2. harus dalam upacara adat, 
  3. harus sesuai dengan upacara adat itu, dan 
  4. bisa diberikan dengan atau tanpa ulos. 
Fungsi dengke adalah simbol khas untuk perempuan, yang di dalamnya terkandung harapan agar ia mempunyai putera dan puteri sebanyak anak dengke itu. Tentang siapa yang berhak memberi dengke sudah ditentukan dalam ruhut ni adat (ketentuan adat) Dalihan Na Tolu: dalam memberikan dengke harus dilihat jenis, bentuk dan sifat upacara yang diselenggarakan. 

Jadi tidak sembarangan memberi dengke. Terkait dengan siapa yang berhak dan wajib memberi dengke, ketentuan adat (ruhut ni adat Dalihan Na Tolu) mengatakan bahwa Tulang tidak mempunyai hak dan kewajiban memberi dengke pada ulaon berenya, karena dia telah memberikannya pada saat dia berkedudukan sebagai hulahula. 

Jika seorang Tulang hendak memberi dengke kepada berenya harus dalam ulaon keluarga, bukan pada ulaon adat umum. Selain dengke na porngis dalam perkawinan adat juga dikenal dengke saur.

Dalam ritus perkawinan adat Batak Toba dengke merupakan perlambang. Dengke na porngis (ikan yang gemuk) misalnya adalah lambang kelimpahan. Dengan menikmatinya, orang akan dikaruniai umur panjang dan kebahagiaan. Ikan ini diberikan kepada pihak boru. 

Boru diberi dengke oleh hulahula-nya karena dari boru-lah berkat dan kemakmuran itu diharapkan akan muncul.[6]  Ini berarti ritus memberi dengke bertujuan agar boru (sang gadis yang dinikahkan) menjadi subur sehingga kelak, setelah berumah tangga ia akan mempunyai anak. 

Dengke saur (ikan yang dimasak dan dibumbui dengan air limau (aek pangir) dan kunyit (hunik) adalah dengke yang dimakan oleh seluruh hadirin. 
_____

[1] Lih. JC. Vergouwen, op. cit., hlm 107-109. 

[2] Sedangkan dengke tanpa ulos diberikan pada ritus pasahat aek ni utte (air dari jeruk purut), manunuknuruk (melamar), dan ritus pudun saut (pertunangan). Tetapi ada juga ulos tanpa dengke, yakni pada ulaon natuatua (ritus memasuki usia tua), manguhal holi (menggali tulang-belulang orang yang sudah meninggal untuk dipindahkan ke dalam toga atau tugu), panakok saningsaning, dan ulang tahun marga. Perlu diketahui bahwa dengke tidak diberikan kepada boru natuatua (yang sudah tua), karena daripadanya tidak lagi diharapkan anak. Selain pada perkawinan, dengke juga diberikan pada ritus mangingani jabu (memasuki rumah baru), dan pada saat pemberian marga, pelantikan pejabat, dll.. 

[3] Nasi adalah makanan pokok penyangga hidup; lambang kesuburan tanaman dan ternak, lambang kesuburan wanita. (Anicetus B. Sinaga, [2004], hlm. 136). 

[4] Kata hulahula di sini adalah benar hulahula, bukan Tulang. Jika seorang Tulang hendak memberi dengke kepada berenya, bukanlah pada ritus adat, tapi pada pesta keluarga. 

[5] Ibid., hlm 427; bdk. hlm 136: Dengke juga merupakan lambang kelimpahan (dengke na porngis, ikan yang gemuk) dan dengan menikmatinya orang akan dikaruniai umur panjang dan bahagia; lambang kesuburan dan perkembangan hidup (bdk. iktus: lambang Kristus yang bangkit); keseluruhan mahar yang harus disediakan pihal mempelai perempuan melambangkan kesuburannya. 

[6] JC. Vergouwen., op. cit., hlm. 107. 

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter