Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Sepintas Tentang "Devosi" - 1

Sepintas Tentang Devosi
APA ITU 'DEVOSI ?
'Devosi' berasal dari kata Latin "Devotio" yang berarti kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti. Devosi selalu menunjuk pada sikap hati di mana seorang mengarahkan diri kepada seseorang atau sesuatu yang dijunjung tinggi dan dicintai.

Dalam tradisi Kristen, devosi dipahami sebagai bentuk penghayatan dan pengungkapan iman Kristiani di luar liturgi resmi.

Dalam Liturgi, Gereja mengungkapkan dan melaksanakan dirinya secara resmi. Liturgi sebagai perayaan gereja dipimpin oleh seorang pemimpin resmi, dengan struktur dan tata perayaan yang baku, berlaku umum, mengikat dan resmi.


Devosi merupakan praktek pengungkapan iman umat yang spontan dan lebih bebas. Devosi dapat dibawakan secara pribadi atau pun bersama.

Walaupun bukan merupakan liturgi resmi, devosi diterima dan diakui Gereja. Liturgi resmi sering dialami umat sebagai sesuatu yang rutin, kering, resmi dan kaku. Sebaliknya, devosi justru bisa dihayati umat sebagai sesuatu yang memenuhi kebutuhan afeksi, emosi dan kerinduan hati. Devosi merupakan praktek keagamaan populer yang mudah diterima, dipahami dan dipraktekkan.


MUNCULNYA DEVOSI UMAT
1. Segi Historis Liturgis:
Praktek devosi dalam Gereja Katolik mulai berkembang pada abad pertengahan. Pada abad VIII Liturgi Ritus Romawi dengan bahasa Latinnya diberlakukan di seluruh Eropa. Pada abad XVI, Konsili Trente menyeragamkan Liturgi Gereja Katolik secara tegas dan kaku.  
Umat (awam) semakin merasa terasing dari liturgi resmi gereja. Keterasingan dan ketidakterlibatan umat dalam liturgi menyebabkan kerinduan umat akan bentuk-bentuk pengungkapan iman yang lebih mudah, sederhana dan memuaskan kebutuhan afeksi mereka. Maka, lahirlah berbagai macam praktek devosi.

2. Segi Antropologis:
Doa-doa Liturgi Romawi terkenal padat dan rasional, lebih mengungkapkan konsep teologis daripada pengalaman religius umat. Karena itu, umat mencari cara pengungkapan iman yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.  
Devosi tidak menekankan keindahan rumusan doa-doa teologis, melainkan menekankan unsur perasaan dan emosi yang tergerak berkat kerinduan hati akan Allah.Segi Agama Kerakyatan:

3. Segi Agama Kerakyatan:
Sebagian besar devosi umat Katolik berasal serta dipengaruhi oleh praktek religius umat setempat. Pengalaman religius adalah pengalaman mendasar setiap manusia yang merindukan kebahagiaan sejati yang diyakini sebagai anugerah dari kekuatan yang tertinggi. Bentuk ungkapan pengalaman religius ini berbeda-beda. 
Masyarakat yang belum mengenal Tuhan mungkin mengungkapkan sikap religius mereka melalui upacara kurban kepada dewa-dewi, sementara umat Kristiani mengungkapkan sikap religius mereka melalui devosi lokal. 
Tugas gereja adalah masuk dalam devosi kerakyatan ini dan memurnikan praktek devosi dengan semangat Injil. Gereja tetap mengakui dan menghargai aneka bentuk devosi umat, selama devosi tersebut dihayati dalam "Roh dan Kebenaran" (Yoh 4:23). Baca Selengkapnya!

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter