Ad Unit (Iklan) BIG

Pokok Ajaran Yohanes Dari Salib

Posting Komentar
Pokok Ajaran Yohanes Dari Salib
D. POKOK AJARAN 
Membaca karya-karya Yohanes kita menemukan gagasan yang jelas tentang kesempurnaan kristiani dan proses bagaimana jiwa harus berusaha untuk dapat mencapai persatuan dengan Allah. Yohanes menggambarkannya sebagai suatu perjalanan dengan tujuan tertentu.

Hal itu menuntut jiwa untuk melepaskan segala sesuatu yang merintangi dirinya untuk mencapai tujuan'tersebut.

Ajarannya biasanya disingkat dengan "todo y nada' – "segala-galanya dan tanpa suatupun". 

Untuk mendapatkan Allah jiwa harus mengarahkan seluruh cintanya kepada Allah..

Dalam Dia jiwa mendapatkan segala-galanya. Untuk itu jiwa harus bebas dari segala keterikatan kepada hal-hal duniawi maupun yang rohani. 

Ajaran yang demikian itu sering menimbulkan kesan kurang manusiawi. Namun bagi Yohanes "goal" yang ingin dicapai itu jelas :membawa manusia kepada cinta dan persatuan dengan Allah atau membawa kepada cinta Allah yang merubah jiwa menjadi ilahi. 

Untuk mencapai itu Yohanes menunjukkan apa yang merupakan sarana atau metodenya yakni : kelepasan radikal dari segala macam ciptaan, agar jiwa bebas dari segala keterikatan dan terarah kepada Allah (2 MGK 7,4). 

Bila Yohanes mengajarkan tentang kesempurnaan jiwa, dia menggambarkannya secarc keseluruhan. Dia tidak hanya berbicara tentang persatuan dengan Allah kelak, tetapi dia melihatnya dalam persatuan yang lebih mendalam yang dapat diwujudkan dalam hidup di dunia ini. 

Untuk itu jiwa harus memilih jalan yang lurus yang menuntut penyerahan diri yang total, penyangkalan diri, iman yang telanjang, salib. Jika jiwa merindukan bahwa Allah memberikan diriNya seluruhnya kepadanya, maka jiwa sendiri harus memberikan diri secara total tanpa reserve.


1. Tentang Hidup Rohani

Bila berbicara tentang hidup rohani Yohanes tidak melihatnya dalam dikotomi atau menurut distingsi rohani-jasmani, interior-eksterior, kodrati-adikodrati. 

Yohanes cenderung untuk melihat manusia sebagai satu kesatuan satu pribadi dengan pelbagai aspek yang terkandung di dalamnya secara integral. Bagi Yohanes hidup rohani adalah seluruh pribadi manusia yang berserah dan terarah kepada Allah. 

Yohanes sering kali menggunakan ungkapan jiwa dalam tulisannya untuk melukiskan keseluruhan pribadi manusia dalam proses perjalanannya menuju persatuan dengan Allah. Memang bila berbicara tentang hidup rohani orang cenderung mengarahkan perhatian hanya pada aspek rohani pribadi manusia. Akan tetapi hal itu seringkali menimbulkan pandangan yang keliru tentang aspek insani, yang manusiawi. Yang menjadi perhatian adalah keselamatan jiwa manusia. 

Yohanes menghindari pandangan tersebut. Bila die berbicara tentang keselamatan jiwa, maka yang dibicarakan adalah soal persatuan dengan Allah. Itu lebih dari hanya sekedar pengalaman jiwa manusia. 

Pengalaman persatuan dengan Allah adalah pengalaman jiwa yang melibatkan seluruh pribadi manusia. Hal itu tidak sama dengan pengalaman mistik. Yohanes sering berbicara tentang persatuan jiwa dengan Allah, tentang jiwa yang jatuh cinta pada Sang Sabda, Putera.

Allah dan merindukan persatuan denganNya (MR 1,2). Jiwa yang rindu akan persatuan ini berusaha keras untuk bertemu dengan yang dicintainya. Terbakar oleh cinta inilah jiwa menemukan keberanian dan kesediaan untuk meninggalkan segala keingina'nnya (1 MGK 14,2). 

Hidup rohani bagi Yohanes adalah suatu usaha yang terus-menerus mencari persatuan dengan Allah. Mereka yang menghayatinya tidak hanya menemukan Allah tetapi juga menemukan diri sendiri. 

Untuk itu hidup rohani terbuka bagi semua orang. Siapapun saja dipanggil kepada persatuan dengan Allah tanpa kecualian. Karena itu Yohanes berbicara kepada semua orang. Memang sebahagian besar dari orang yang dibimbingnya adalah kaum religius, mereka yang termasuk biarawan-biarawati karmelit. 

Akan tetapi Yohanes juga membimbing orang-orang lain. Ada juga kaum awam, pars bapak dan ibu yang datang kepadanya meminta bimbingan dan nasihat, kepada mereka semua diajarkannya jalan kepada kesempurnaan hidup rohani tersebut. 

Tulisan-tulisannya juga merupakan buah pikiran yang ditujukan bukan saja kepada kaum religius tetapi juga kepada kaum awam."Allah telah memberikan kepada banyak jiwa kemampuan dan rahmat untuk dapat maju dalam hidup rohaninya, karena itu mereka patut merindukan untuk mencapai tingkat persatuan itu" (Prolog MGK, 3).
Persatuan itu merupakan panggilan yang universal. Bagi jiwa hal itu merupakan panggilan untuk melepaskan diri dari keterikatan kepada kebebasan. 

Yohanes menggambarkan jiwa yang rindu akan persatuan itu seolah-olah keluar pada malam hari meninggalkan rumahnya, mencari dia yang dicintainya. Terbakar oleh cinta jiwa terns menerus merindukan Sang Kekasih tanpa gentar oleh kekelaman malam. Pengalaman ini hanya dialami oleh jiwa yang telah mengambil keputusan untuk mengabdikan diri kepadaNya (1 MG 1,1,2). 

Dalam hubungan dengan perkembangan hidup rohani, Yohanes melihatnya sebagai suatu proses yang mengarah kepada pertumbuhan atau bahkan sebaliknya suatu regresi. Yohanes tidak berbicara tentang suatu hidup rohani yang statis atau stationer. Yang menjadi perhatiannya adalah kwalitas yang ada dalam diri seseorang (napsu dan keinginan) yang sifatnya dinamis, mendorong hidup manusia kepada realisasinya. 

Pertumbuhan mengandaikan adanya perkembangan yang integral dari seluruh aspek. Tak mungkin orang mencapai kesempurnaan tanpa menyangkal atau mengabaikan segala hal yang dapat menghalanginya (1 MGK 5,2). 

Jika setiap keinginan dan napsu mencari tujuannya sendiri, usaha manusia menjadi lemah dan terbagi-bagi. Dalam hal ini perkembangan dan pertumbuhan dapat terjadi bila ada konsentrasi dari seluruh perhatian dan kekuatan manusia. 

Yang harus dijaga dan dipertahankan adalah cinta yang tetap terarah kepada Allah. Olehnya jiwa dikuatkan untuk bertumbuh dalam kuasa cinta. Mereka yang ingin menjaga pertumbuhan ini harus menjaga dan meningkatkan segala daya dan kapasitas yang positif serta meluruskan segala kecenderungan dan kelekatan yang menghalanginya (.1 MGK 11,5). 

Perkembanqan dan pertumbuhan hidup rohani. ini baaaikan suatuped-alanan. Jiwa yang mengalami perjalanan itu keluar dari dirinya sendiri, meninggalkan kepastian clan-security yang ada padanya. Jiwa harus berani masuk dalam pengalaman baru berjalan dalam kegelapan malam. 

Perjalanan dalam kegelapan malam ini menuntut kesabaran dan keteguhan jiwa untuk menghadapi segala yang tidak menyenangkan dan tidak membawa kepuasan bagi jiwa. Jiwa harus mengalami penderitaan dan cobaan dari Allah. 

Yohanes menggambarkannya sebagai malam, karena disinilah jiwa mengalami ”kegelapan”. Pada awal perjalanannya jiwa dimurnikan dari keinginannya. Jiwa lalu memilih untuk berjalan menurut iman. Namun - iman sendiri merupakan suatu ' malam -gelap terang - budi (intelek). 

Di sini jalan yang dipakai oleh jiwapun berupa kegelapan. Perjalanan jiwa adalah perjalanan iman. Jiwa dipimpin oleh kegelapan menuju Allah. Dan pada akhirnya jiwa harus mengalami pula malam. Allah yang menjadi tujuan perjalanan jiwapun merupakan suatu malam bagi jiwa (2 MGK 4,5). 

Pada puncak perjalanan, jiwa akan mengalami persatuan dengan Allah. Segala kegelapan yang dialaminya membimbing jiwa kepada persatuan dalam cinta. Jiwa mengalami dirinya dirubah dalam cinta, bagaikan dibakar oleh api dan menjadi satu dalam tiara api cinta (MR 26,2). 

Pengalaman jiwa yang demikian mengangkat jiwa dan membawanya kepada keadaan baru, diilahikan, dan jiwa dikuasai hanya oleh cinta Allah sendiri (NCH 1 rohani akhirnya merupakan suatu usaha yang terns menerus untuk mencari persatuan dengan Allah. 

Itu mengandaikan jiwa harus selalu dalam orientasi dan pilihan yang tetap akan Allah. Dengan demikian dia tidak akan kehilangan jejak karena selalu digerakkan dan diarahkan oleh cinta yang membawa kepada pengalaman baru persatuan pribadi dengan Allah.


2. Tentang Pengalaman Rohani

Pengalaman rohani adalah apa yang dialami seseorang yang sudah masuk dalam perjalanan, hidup rohani. Yohanes berbicara tentang mereka yang telah mengambil keputusan untuk menghayati hidup pengabdian kepada Allah. Perhatiannya terutama ditujukan kepada mereka, orang kristiani yang mau komit untuk hidup bagi Allah. 

Memang ada banyak orang yang ingin mendaki gunung, namun ada yang hanya sekedar untuk sejenak melihat keindahan alam, ada juga yang bertujuan untuk mencapai puncak. Yohanes berbicara tentang kelompok kedua ini yang berniat sungguh ntuk mencapai puncak persatuan dengan Allah. 

Yohanes membedakan pengalaman mereka dalam tiga tahap : tahap awal (inisial), tahap yang telah maju (proficient) dan tahap sempurna (perfect). Setiap tahap mempunyai pengalaman dengan tuntutannya yang berbeda. 

Bagi Yohanes, mereka yang mulai pada tahap awal atau "pemula" adalah mereka yang telah memulai perjalanan –ada usaha mengejar kesempurnaan dan kematangan hidup kristiani. Dalam tahap ini perjuangan yang dialami masih berkisar sekitar dunia indra (sensus). 

Seperti dalam dunia kanak‑kanak, hidup rohani masih dipengaruhi oleh dorongan‑dorongan inc(rawi. Karena itu jika orang tidak ditolong sangat kecilah kemajuan yang dicapai (1 MG 1,3)


(a) Pengalaman Awal

Pengalaman pada tahap awal i.ni masih ditandai dengan cacat cela dan pengaruh dosa.-11. Adalah rasa sombonq dan puas diri terhadap segala yang telah dicapai, tidak toleran terhadap keadaan orang lain yang kurang dari mereka, dan bila mendapat kritikan "cepat-cepat mencari orang lain yang dapat memuji tau menyetujui pendapat mereka'. 

Rasa--malu terhadap kegagalan dan overanxious terhadap pandangan orang lain tentang diri mereka.,. Ada rasa tamak (avarice) rohani yang membuat hatinya terikat dan posesif dengan soal-soal sekitar konseling rohani, mempelajari kata-kata suci, mencari kepuasan lewat segala kegiatan rohani dan doa-doa. 

Pemula juga masih sering dikuasai keinginan mencari kepuasan meskipun itu dalam hal-hal yang rohani, suatu hal yang mengakibatkan "hambarnya rasa cinta akan Allah" (1 MG 4,7). Tidak jarang pada tahap ini orang masih dikuasai rasa march karena kurangnya penghiburan atau karena kekurangan orang lain, ataupun mungkin karena pertumbuhan yang lamban. 

Seringkali hal ini menyebabkan bahwa sebahagian besar waktu mereka lewat dengan mencari kepuasan dan penghiburan rohani. Yang menandai pula pengalaman pada tahap ini adalah adanya rasa iri hati dan malas. 

Mulai dengan merasa tidak puas dengan apa yang ada dan iri hati terhadap kemajuan yang dialami orang lain. Karena terlalu mencari apa yang memuaskan maka tidak jarang mereka tidak suka akan pengorbanan yang dibutuhkan untuk dapat memperoleh kemajuan. Karena kemalasannya "mereka merendahkan jalan menuju kesempurnaan kepada kenikmatan dan kesenangan kehendak mereka" (1 MG 7,3). 

Meskipun masih ditandai dengan cacat cela ada juga hal yang positif dari tahap ini. Pemula sudah mengalami entusiasme dalam penyerahan dirinya kepada Allah, ada rasa senang untuk berdoa dalam waktu yang panjang, suka akan praktek pertobatan dan dihibur dengan percakapan rohani (1 MG 1,3). 

Hidup rohani dengan segala perjuangannya bagi mereka merupakan suatu hal menggiurkan dan menggetarkan hati. Perhatian yang besar pada hidup rohani ini membuat mereka rajin berdoa dan meditasi dalam waktu yang panjang. 

Yohanes berbicara tentang doa dan meditasi pada waktu itu, yang memakai "metode discursive" – dengan menggunakan imaginasi dan gambaran (2 MGK 13,1), yang meskipun belum sempurna sebagai doa namun merupakan pengalaman yang baik dan perlu sebagai persiapan untuk masuk dalam tingkat yang lebih tinggi. 

Selain semangat rohani yang tinggi serta doa dan meditasi suatu hal lain yang positif adalah soal matiraga lahiriah. Yohanes melihatnya sebagai usaha untuk mengikuti teladan Yesus Kristus. 

Dia tidak menganjurkan matiraga lahiriah yang berat tapi harus berusaha tidak menghindari yang sulit. Dia mendesak, mereka untuk mengingkari kesombongan dengan bertindak, berpikir dan berbicara sederhana tentang diri sendiri (1 MGK 13, 9). 

Bagi Yohanes ketiga kharakteristik positif dari tahap ini, semangat, doa dan meditasi serta matiraga merupakan awal yang baik untuk suatu masa depan yang cerah yang dapat membawa kepada tingkat yang lebih tinggi.


(b) Malam Indrawi

Ada dua pengalaman "malam" dalam perjalanan rohani, malam indrawi dan malam rohani. Masing‑masing memiliki dimensi aktif dan pasif – malarn aktif dan malam pasif. 

Yang dimaksud dengan "malam akfif' adalah pengalaman "malam" dimana jiwa mengalami kegelapan dan penderitaan karena dia harus secara aktif melepaskan kecenderungan dan keterikatan dari dirinya, baik secara indra wi maupun secara rohani. 

Sedangkan "malam - pasif' adalah pengalaman dimana jiwa menerima anugerah pemurnian dari Allah sendiri. Kalau dalam malam aktif yang giat adalah jiwa yang berusaha memurnikan dirinya, maka dalam malam pasif - yang bekeda,AOalah kyasa Allah yang memurnikan dan mengangkat jiwa kepada keilahian. 

Malam indrawi adalah saat dimana indra manusia disucikan dan diarahkan kepada roh. Malam ini dapat dialami oleh banyak orang (1 MG 8,1). Malam ini terdiri dari usaha yang aktif dari jiwa sendiri untuk mengarahkan (reedukasi) indra – malam aktif – dan pemurnian (purifikasi) – malam pasif – yang membawa kepada kontemplasi awal. 

Untuk dapat mencapai persatuan dengan Allah indra harus diperbaharui, tidak dihilangkan tetapi dibina dan diarahkan kepada Allah. Malam ini ditandai dengan pemurnian terhadap keinginan dan napsu yang tak teratur yang menghalangi pertumbuhan jiwa. 

Purifikasi aktif ini merupakan tuntutan untuk dapat masuk dalam pengalaman malam yang membahagiakan. Bila indra telah dimurnikan maka akan tiba malam pasif bagi jiwa dalam pengalaman kontemplasi. 

Yohanes menunjukkan beberapa tanpa bahwa jiwa telah masuk dalam malam pasif ini pertama jiwa kehilangan hiburan baik dalam hal-hal duniawi maupun dalam hal-hal rohani yang berhubungan dengan Allah. 

Kedua jiwa mengalami penderitaan karena kekurangannya dalam melayani Tuhan (1 MG 1,3). Ketiga, tidak ada lagi keinginan untuk berdoa atau bermeditasi dengan cara seperti sebelumnya, tapi menemukan kepuasan dalam keaclaan tenanq dan penuh perhatian kepada Allah (2 MGK 13,2-4). 

Bila gejala-gejala ini ada maka jiwa harus meninggalkan meditasi tanpa takut dan mengikuti Roh yang membimbing mereka masuk kedalam kontemplasi .(1 MG 10,1). 

Pengalaman ini membawa penderitaan. Namun jiwa harus tetap berusaha "tinggal kosong" dalam doa, dan memberikan diri kepada Allah, yang membawa mereka masuk dalam malam ini untuk memurnikan indra nya dengan menaklukan semua keinginan dunia ini kepada pimpinan roh melalui kegelapan yang menyebabkan mereka berhenti meditasi seperti dahulu.

Dalam keadaan seperti ini jiwa harus tetap berusaha untuk berdoa dengan cara barn. Akan tetapi kini doa tidak lagi dibawah kontrol jiwa sendiri melainkan dibawah kontrol Allah. Inilah saat jiwa masuk dalam doa kontemplatif. 

Di sini yang berpengaruh adalah pengalaman akan Allah. Jiwa dalam ketenangannya berhubungan dengan Allah lewat suatu pengetahuan dan perhatian penuh cinta (NCH 3,34). Jiwa mengalami penerangan ilahi yang memurnikan dan semuanya itu secara pasif dialami jiwa sesuai dengan cara Allah sendiri, yang memenuhi jiwa dengan kebijaksanaan dan pengetahuan. 

Ini merupakan suatu kontak langsung dengan engan Allah yang dialami jiwa yang hanya dapat dilukiskan dan dialami dalam cinta: Tidak semua mengalami purifikasi pasif ini dengan cara yang sama. Ada cara dan tingkatan yang berbeda sesuai dengan pengalaman dan usaha dalam malam aktif indrawi. Bagi yang dipandang mampu dan kuat untuk menderita Allah memurnikannya lebih intensive dan cepat, sedangkan bagi yang lemah harus mengalami proses pemurnian yang lebih lama (1 MG 14,5). 

Malam pasif ini membawa banyak buah yang menyucikan : - mengenal diri sendiri juga kelemahan dan kekuatanya, mengenal kebesaran Allah yang membawa kepada kerendahan hati, hidup dalam kasih dan kepatuhan kepada bimbingan Allah dalam perjalanannya. 

Jiwa masuk tahap lanjut dalam perjalanan kesempurnaan dan mengalami kemajuan dalam penghayatan keutamaan, lemah lembut erhadap sesama serta mengalami kebebasan rohani dalam mengabdikan diri kepada Allah.

Malam rohani Malam rohani terpusatkan pada pengalaman yang berhubungan dengan kemampuan rohani. Malam ini juga memiliki dimensi aktif dan pasif. Malam aktif terarah pada usaha jiwa untuk memurnikan daya dan kemampuan rohani - akalbudi, ingatan dan kehendak - dari isi serta cara yang keliru dan terbatas untuk mengetahui Allah. 

Keutamaan teologal menyebabkan kekosongan dan kegelapan bagi daya-daya jiwa, iman dalam hal akalbudi, pengharapan dalam hal ingatan dan kasih dalam hal kehendak (2 MGK 6,1). Meskipun makluk ciptaan merupakan sarana untuk mengenal Allah, pengenalan kita akan Allah tidaklah bertambah karena penggunaan akalbudi kita. 

Sebaliknya kita akan semakin dalam mengenal Allah bila kita melepaskan pengenalan yang kodrati ini dan membuka diri kita terhadap apa yang nampak dalam iman. Sebab akalbudi hanya berfungsi dalam hal pengenalan yang bersifat kodrati (2 MGK 3,1). 

Sebab itu jiwa harus berani meler)askan semua konsen dimiliki untuk dapat.-menerima nenerancian iman, meskipun hal ini membawa kegelapan bagi akalbudi. Sebab tidak hanya gambaran indrawi memberi pengertian yang keliru tentang Allah, tetapi juga semua pengetahuan budi yang berhubungan dengan Allah pun demikian hatinya.

Betapapun pengetahuan dan pengalaman seseorang tentang Allah, pengetahuan dan pengalaman itu tidak sama dengan Allah. Demikianpun halnya dengan ingatan. Kita tidak dapat memperoleh gambaran yang benar tentang Allah yang penuh kasih dengan mempertahankan ingatan kita tentang Allah dari masa lampau, sambil berpikir bahwa Allah meninggalkan kita. ingatan harus melepaskan fungsi kodratinya dan mengarah pada harapan akan suatu masa depan yang balk. 

Jiwa harus berusaha mengenal Allah lewat yang bukan Dia dari pada lewat apa yang adalah Dia sebagaimana dikenal. Harapan menolak untuk tetap berpegang pada semua gambaran dan pengalaman Allah dari masa yang lampau. 

Mereka yang tidak memurnikan ingatannya akhirnya akan menyembah Allah yang diciptakan oleh pengalaman masa lampau mereka, yang sangat terbatas dan membutuhkan pemulihan. 

Yohanes memandang perlu pemurnian ingatan ini, karena lebih penting memperoleh kemurnian pikiran dan hati untuk dapat masuk dalam persatuan dengan Allah, dari pada terikat kepada suatu masa lampau (3 MGK 3,4). 

Pemurnian ingatan ini dapat membawa ketenangan bathin, membuka dirinya untuk kebijak‑sanaan ilahi dan membuat mereka patuh kepada pengaruh Roh Kudus (3 MGK 6).

Demikianpun halnya dengan daya rohani yang lain ialah kehendak. Belumlah cukup bila kita hanya memurnikan akalbudi dan ingatan dalam keutamaan iman dan harapan. Perlu bahwa kehendak diarahkan kepada cinta. 

Karena kehendak merupakan daya yang mengarahkan semua kemampuan, keinginan dan napsu dalam diri manusia, maka kehendak pula yang menentukan keutuhan dan perpecahan pribadi manusia. 

Dengan mengontrol semua napsu dan kecenderungan manusia, kehendak dapat menjaga kekuatan dan kemampuan jiwa untuk selalu terarah kepada Allah (3 MGK 16,2). Dengan menyatukan segala kecenderungan dan napsu kepada hal yang berhubungan dengan Allah, keinginan yang beranekaragam dalam hidup ini dapat dijadikan satu dalam kerinduan akan Allah. 

Malam aktif rohani ini berguna untuk memurnikan disintegrasi yang disebabkan oleh kecenderungan untuk mencari kepuasan dalam pelbagai aspek. Bila kehendak mengarahkan semua daya kemampuan, napsu dan keinginan kepada Allah, maka jiwa akan dapat memusatkan tenaganya hanya untuk Allah dan dapat mencintaiNya dengan segala kekuatannya. 

Dengan demikian jiwa akan hanya merindukan apa yang diinginkan Allah dan mencintai apa yang dicintai Allah. Dalam malam aktif ini jiwa berusaha memurnikan pengetahuan, ingatan dan kerinduannya dan mengarahkannya kepada hidup dalam iman, harapan dan kasih.

Namun untuk masuk dalam persatuan dengan Allah jiwa harus dimurnikan dari segala yang bukan Allah. Pemurnian ilahi ini dialami jiwa dalam malam pasif rohani – suatu tahap kontemplasi, yang menerangi dan memurnikan. Kontemplasi ini meniadakan segalanya, mengosongkan dan menghabiskan semua affeksi dan kebiasaan yang tidak sempurna di dalam kehidupan jiwa (2 MG 6,5). 

Kontemplasi yang gelap dalam malam pasif ini membawa kepada pengenalan akan Allah melulu dalam cinta. Jiwa kehilangan segala rasa tenang dan persatuan yang dialami pada tahap sebelumnya. Mereka merasa ditolak Allah dan ini, menyebabkan penderitaan yang mendalarn seperti halnya pengalaman Ayub (2 MG 5,5). 

Selain merasa kosong jiwa juga melihat dosanya dan merasa tidak layak bagi Allah. Dalam keadaan ini jiwa seakan diliputi "kematian rohani". Tak ada hiburan dan merasa ditinggalkan ini menyebabkan mereka merasa kehilangan dan segala berkat bagi mereka seolah telah lenyap untuk selamanya (2 MG 7,9). 

Malam pasif ini berlangsung cukup lama. Mampu berpikir tentang Allah, tidak dapat berdoa bahkan menaruh perhatian pada hal-hal rohani, tidak juga kepada persoalan hidup sehari-hari. Penerangan kontemplasi yang menyebabkan kegelapan ini diserapi dengan cinta, namun cinta yang semakin bertambah itu membawa penderitaan semakin besar, karena jiwa merasa samasekali tak berdaya untuk mengikuti dan bertemu dengan Allah.

Inilah malam yang membawa kepada pengetahuan ekstraordiner tentang Allah, karena ada komunikasi ilahi dalam cinta. Jiwa diliputi dengan cinta yang mendorodia untuk terns mengarah kepada Allah. 

Lewat kegelapan malam pasif rohani ini jiwa yang mencari Allah menerima pemurnian dan penerangan yang mempersiapkannya untuk persatuan dengan Allah.


3. Persatuan dengan Allah

Yohanes mengajarkan banyak hal dalam hubungan dengan kesempurnaan hidup. Jiwa yang mencari Tuhan harus melewati perjalanan dengan banyak pengalaman dan tantangan. Dengan melewati banyak perjuangan dan usaha, jiwa manusia dapat memperoleh apa yang dicita-citakannya. 

Bagi Yohanes persatuan dengan Allah juga merupakan pengalaman jiwa. Itu terjadi pada puncak perjalanan. Adapun tujuan dari perjalanan rohani adalah Allah sendiri, suatu persatuan dengan Allah yang membawa perubahan (transformasi) dari seluruh pribadi. 

Inilah yang merupakan kerinduan jiwa lewat segala perjuangan dalam perjalanannya. Persatuan yang terjadi pada puncak perjalanan itu adalah suatu transformasi adikodrati yang dialami bila "ada konformitas kehendak Allah dan jiwa sehingga tak ada sesuatupun dalam yang satu menolak yang lain" (2 MGK 5,3). 

Karena persatuan ini hanya terjadi melalui kesamaan kehendak, Yohanes menyebutnya "kesatuan kesamaan". Di sini jiwa mengalami bahwa balk akalbudi, kehendak maupun ingatan dipersatukan dengan Allah. Semuanya menjadi ilahi lewat partisipasi di dalam Allah (NCH 2,34). 

Dalam keadaan ini jiwa tidak digerakkan lagi oleh keinginan, napsu dan kecenderungan kodrati karena disatukan dalam kehendak di dalam Allah sendiri. Inilah persatuan dalam cinta. 

Cinta yang memusatkan seluruh pribadi kepada Allah dan dalam konformitas dengan kehendakNya, menemukan puncaknya pada persatuan yang sangat dalam yang disebut Yohanes sebagai "perkawinan rohani" – suatu transformasi total dalam diri Sang Kekasih (MR 22,3).

Tahap ini adalah persatuan tertinggi di mana jiwa secara istimewa mengalami kehadiran Allah dan karya Tritunggal secara nyata di dalam dirinya. Persatuan cinta ini melahirkan kebajikan dalam jiwa dan anugerah untuk menghayatinya secara penuh. Jiwa diliputi oleh rasa bahagia yang mendalarn dan selalu terbuka untuk menerima dan melayani; semuanya dialami dalam cinta dan kehendak untuk menyerahkan diri seluruhnya bagi Allah. “Semuanya saya lakukan dalam cinta, dan bila menderita saya menderita dengan sukacita cinta pula (MR 28,8). 

Keberadaan jiwa dalam tahap ini merupakan anugerah Allah yang kehadiranNya menyucikan, memberi rahmat dan menerangi jiwa, dan membuat jiwa merindukan kepenuhan cinta dalam keabadian. 

Pengalaman cinta pada tahap ini masih dapat bertumbuh lebih mendalarn dalam hal kwalitasnya dan lebih hangat, dengan intensitas yang lebih besar. Jiwa mengalami dirinya secara kuat dirubah dalam Allah, seluruh kegiatannya dikuasai Roh Kudus, karena itu jiwa berdoa agar dia dilepaskan dari kehidupan yang fana ini (NCH 1,1). 

Dimensi lain dari pengalaman cinta yang menyatukan ini adalah kesadaran jiwa akan peranan ketiga Pribadi dalam Tritunggal Mahakudus. Pribadi ilahi merubah jiwa dari kematian kepada kehidupan, memasukan jiwa dalam kehidupan ilahi. 

Jiwa mengalami hidup baru, ikut berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal sendiri. Itulah transformasi ilahi yang dialami jiwa, masuk dalam cinta ilahi Allah sendiri.(NCH 2,1).

Persatuan cinta ini juga menerangi jiwa. Allah mencintai setiap jiwa yang mencarinya dan mengkomunikasikan diriNya kepada jiwa. Allah, menyatakan kodrat ilahiNya melalui sifat-sifatnya yang dialami jiwa secara pribadi seperti cinta, kebijaksanaan, kebaikan, belaskasih dan kekuatan ilahi. Komunikasi ini melahirkan dalam jiwa sifat-sifat ilahi Allah sendiri. 

Inilah suatu partisipasi jiwa dalam keilahian dimana jiwa diperkaya dengan kemampuan-kemampuan baru. Dalam kelimpahan cinta persatuan ini pula jiwa mengalami seluruh ciptaan. Cinta itu membangkitkan kesadaran akan Allah dalam jiwa yang. nampak dalam kelemahlembutan dan cinta yang ditujukan kepada semua ciptaan. 

Di sini jiwa tidak mencintai dengan daya kodrati melainkan dengan kuasa Roh Kudus. Kesatuan ini merupakan karya Allah tertinggi yang dapat dicapai manusia dalam hidup di dunia ini. Ini merupakan tingkat tertinggi kesempurnaan dan "prelude" menjadi prelude untuk hidup abadi. > Baca Selanjutnya!


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter