Ad Unit (Iklan) BIG

Penggunaan dan Status Kitab Suci Dalam Gereja

Posting Komentar
Penggunaan dan Status Kitab Suci Dalam Gereja




1. Penggunaan Kitab Suci dalam Perspektif Spiritual

Dalam tradisi penggunaan Kitab Suci secara spiritual ternyata mendorong para ahli Kitab Suci golongan spiritual menutup diri pada kenyataan perjalanan historis Kitab Suci. Kaum spiritualis memandang bahwa Kitab Suci merupakan yang diinspirasikan oleh Allah tanpa ada campur tangan manusia dan kultur tertentu.

Mereka melihat bahwa kata-kata yang terdapat dalam Kitab Suci murni dari Allah, manusia hanya alat saja yang berfungsi membantu Allah dalam mendikte tulisan-tulisan suci. Akibatnya Kitab Suci dilihat sebagai norma kebenaran yang multak dan juga norma bagi teologi.

Kitab Suci adalah norma normans non normata, norma akhir dan tidak ada norma yang lain lagi. Ini menjadi standar kebenaran Kristianitas (Roger Haight, ?: 89).

Pandangan ini dapat mengacaukan historisitas Kitab Suci. Jika pandangan ini dipertahankan maka akan memunculkan berbagai macam pertanyaan mendasar bagi status Kitab Suci. Pernyataan bahwa Allah adalah pengarang Kitab Suci mau menunjukan kredibilitas Kitab Suci.

Sabda Allah yang tidak menipu jemaat, dan juga sebagai norma yang tidak dapat sesat atau salah karena ketidaktahuan atau perspektif terbatas dari pengarang manusiawi. Namun pandangan ini memunculkan berbagai pertanyaan sulit.

Bagaimana kita dapat menjelaskan adanya perbedaan dalam tradisi yang tertulis dalam Kitab Suci? Apakah kisah penciptaan dapat dijadikan acuan sejarah ilmiah? Bagaimana dengan adanya kronologi yang berbeda dalam kisah-kisah?

Untuk mencari kebenaran autentik dari inkonsistensi ini diperlukan bermacam-macam interpretasi. Kaum fundamentalis kerap kali memandang rendah bukti sejarah dan ilmu pengetahuan dan mengenakan makna harafiah pada teks, dengan mengatakan bahwa tidak ada inkonsistensi yang sungguh-sungguh, karena Allah dapat saja mengerjakan hal-hal yang mustahil, bilamana perlu (Dianne Bergant, 2002: 14).

Pendekatan lain yang mengatakan bahwa jika terjadi inkonsistensi maka teks-teks Kitab Suciiah harus didekati dengan tafsir alegoris. Metode ini menyesuaikan apa yang tidak sesuai. Yang lain lagi, menyelesaikan dilema tersebut dengan menggunakan metode kebenaran yang ingin disampaikan oleh Kitab Suci. Mereka memisahkan kebenaran historis, kebenaran ilmiah dan pernyataan religius, yang ternyata saling berkaitan.

Metode ini memunculkan banyak pertanyaan. Untuk menentukan mana dalam teks yang benar-benar teologis, para pakar Kitab Suci dengan susah payah berusaha sejujur mungkin menerapkan metode sastrawi dan historis.

Dengan cara ini mereka memberi terang baru pada pertanyaan mengenai kebenaran Kitab Suci. Yang menjadi pertanyaan: apa yang dimaksud “kebenaran?”. Apa dikaitkan dengan integritas? Atau, juga mencakup ketelitian, ketepatan fakta, bebas dari kesalahan? (Dianne Bergant, 2002: 14).

Akan tetapi, perlu kita sadari bahwa metode perspektif spiritualis sudah cukup lama digunakan dalam Gereja. Gereja menjadikan Kitab Suci sebagai norma yang sahih dan universal bagi kehidupan umat beriman dan juga sebagai acuan bagi teologi-teologi Gereja.

Secara khusus metode ini sudah digunakan sejak abad-abad awal Kekristenan hingga Abad Pertengahan akhir.

Menjelang Abad Modern tatkala kemajuan ilmu pengetahuan mulai berkembang metode tafsir a la spiritualis mengalami goncangan yang hebat. Banyak pakar dan ahli mulai mempertanyakan kesahihan Kitab Suciiah.

Mereka mulai menelaah Kitab Suci dari sudut ilmiah. Selain itu berhadapan dengan situasi zaman yang terus berubah dan juga menuntut perlunya menjawab berbagai persoalan yang kompleks, Kitab Suci menjadi seakan-akan tidak lagi relevan bagi zaman ini. Untuk itu kita mau melihat sejenak pendekatan Kitab Suci dari sudut ilmiah.


2. Penggunaan Kitab Suci dalam Perspektif Ilmiah: Metode Kritis Histor

Dalam sejarah Gereja, beberapa unsur metode kritis historis sudah digunakan oleh para komentator sastra Yunani klasik dan, kemudian Bapa-bapa Gereja, seperti: Origenes, Hieronimus, dan Augustinus (KKSK, 2003: 43).

Bentuk yang digunakan belum sangat berkembang, baru kemudian sejak zaman humanisme Renaissans beserta gagasan mereka untuk kembali ke sumber-sumber, bentuk ini mengalami penyempurnaan (KKSK, 2003: 44).

Metode ini lebih menekankan pentingnya telaah atas teks-teks yang mengandung makna historis. Selain itu juga para kritisi membongkar teks dan mencari makna yang ada di belakang teks, seperti: kritik teks, analisa linguistik, kritik literer, kritik tradisi dan kritik redaksi.

Pada taraf yang sangat radikal metode ini hanya membatasi diri pada tugas memotong dan membongkar teks agar dapat mengidentifikasi berbagai sumber.

Metode ini kurang memberi perhatian yang memadai pada bentuk akhir teks dan pada pesan yang terkandung dalam bentuk aktual. Metode ini lebih terlihat sebagai penghancuran teks.

Masalah akan mulai muncul semakin parah ketika, atas pengaruh dari sejarah perbandingan agama-agama seperti terjadi kemudian atau atas dasar ide-ide filosofis tertentu, beberapa ahli tafsir mengungkapkan berbagai penilaian yang sangat negatif terhadap Kitab Suci (KKSK, 2003: 45).

Meskipun demikian metode ini digunakan sebagai salah satu metode tafsir Kitab Suci yang bermanfaat.

Semua ini memungkinkan orang untuk memahami maksud pengarang dan editor Kitab Suci secara lebih persis, dan juga pesan yang ingin mereka sampaikan kepada para pembaca pertama. Pencapaian hasil ini menjadikan metode historis kristis sebagai metode yang sangat penting (KKSK, 2003: 46).


Status Kitab Suci dalam Gereja

Gereja percaya bahwa Kitab Suci diinspirasikan oleh Allah dalam komunitas beriman. Pewahyuan Allah dalam pribadi Yesus menjadi titik sentra untuk Kitab Suci. Dalam diri Yesus Allah mengambil bagian dalam sejarah manusia.

Sejarah manusia menjadi sejarah keselamatan. Pengalaman ini dituliskan dalam Kitab Suci. Maka sangat tidak mengherankan jika Kitab Suci bukanlah semata-mata hasil karya Allah melulu, tapi pengalaman jemaat akan Allah yang menyejarah.

Pewahyuan Allah pertama-tama dialami oleh jemaat. Belum dituliskan. Baru kemudian pengalaman tersebut, karena suatu kebutuhan akan tulisan-tulisan suci, dituliskan oleh orang-orang atau kelompok yang berkompeten.

Namun sangat disayangkan interpretasi ini diselewengkan. Banyak dari para pakar Kitab Suci pada awal-awal Kekristenan, memandang Kitab Suci sebagai yang diinspirasikan oleh Allah semata-mata.

Akibat dari pola pemikiran ini sangat berdampak bagi kehidupan Gereja. Tidak jarang mereka mereduksi peranan manusia atau komunitas dalam membentuk Kitab Suci.

Pada taraf ini Kitab Suci dipandang sebagai norma yang universal, tidak dapat salah, dan juga sebagai patokan untuk berteologi. Penelitian lebih lanjut memperlihatkan kepada kita bahwa pandangan yang hanya melihat Allah sebagai pengarang Kitab Suci dan Kitab Suci merupakan norma universal menghadapkan kita pada persoalan yang besar.

Kita berhadapan dengan berbagai macam masalah yang ada di dalam Kitab Suci itu sendiri. Ada inkonsistensi dalam Kitab Suci. Penelitian baru Kitab Suci memperlihatkan bahwa keuniversalan Kitab Suci bukan pertama-tama karena Kitab Suci itu sendiri universal, tapi karena Kitab Suci mempunyai makna yang universal dalam jemaat yang partikular.

Artinya Kitab Suci lahir dalam situasi, konteks dan budaya tertentu, namun lewat interpretasi dan refleksi mempunyai makna yang universal. Oleh sebab itu, dalam model-model penafsiran yang berbeda satu sama lain, Gereja berhadapan dengan dua kubu yang saling mengklaim diri sebagai yang benar.

Berhadapan dengan dua tegangan ini Gereja selalu berdiri di tengah-tengahnya. Di bawah ini kita akan melihat adanya tegangan antara dua kubu konservatif dan progresif. Gereja hadir sebagai yang merangkul kedua kubu tersebut.

Ada suatu waktu paham Gereja terhadap Kitab Suci sebagai yang diinspirasikan oleh Allah semata-mata. Manusia hanya dipahami sebagai alat bantu Allah yang sedang mendiktekan kata-kata suci. Pada masa ini tafsiran Kitab Suciiah lebih condong pada tafsiran alegoris dan pendekatan sastrawi. Metode ini menjadi ciri khas eksegese patristik (KKSK, 2003: 31).

Kitab Suci dijadikan norma yang tidak dapat salah. Kitab Suci juga dipakai sebagai acuan untuk berteologi. Sampai pada suatu masa dimana modernitas dengan metode ilmiahnya membongkar Kitab Suci dan mempertanyakan kesahihan Kitab Suci sebagai norma yang diinspirasikan oleh Allah.

Berhadapan dengan situasi tersebut Gereja lewat: Paus Leo XIII, dalam Ensiklik Providentissimus Deus, 18 November 1893, yang memberikan beberapa catatan peta eksegetis. Ini berkaitan dengan tumbuhnya metode ilmiah atas penafsiran Kitab Suciiah. Ensiklik ini mau melindungi penafsiran Katolik dari serangan ilmu pengetahuan yang rasionalistik.

Lima puluh tahun kemudian, Paus Pius XII, dalam Ensiklik Divino Afflante Spiritu, 30 September 1943, memberikan dukungan yang sangat positif yang membuat metode-metode modern untuk memahami Kitab Suci bisa memberikan buah. Di sisi lain Ensiklik ini mau membendung desakan dari kaum spiritualis fundamental yang menolak peranan ilmu pengetahuan atas Kitab Suci (KKSK, 2003: 32).

Tahun 1993, lima puluh tahun sesudah Divino Afflante Spiritu, Komisi Kitab Suci Kepausan mengeluarkan dokumen tentang Penafsiran Kitab Suci dalam Gereja. Dokumen ini lebih bersifat terbuka terhadap berbagai bentuk metode dan pendekatan penafsiran. Komisi tidak menekankan suatu metode dan pendekatan yang khas Katolik.

Dikatakan: Dokumen ini berisi suatu tinjauan yang mempunyai dasar amat baik tentang panorama dari metode-metode yang ada sekarang ini dan dengan cara ini menawarkan bagi peneliti suatu orientasi tentang kemungkinan-kemungkinan dan batas-batas dari pendekatan tersebut (KKSK, 2003: 33).

Dengan demikian eksegese Katolik tidak mengklaim suatu metode ilmiah tertentu sebagai miliknya yang khas. Hanya saja yang membedakan adalah eksegese Kitab Suci harus menempatkan diri dalam tradisi Gereja yang hidup, yang perhatian utamanya adalah kesetiaan kepada pewahyuan yang disampaikan dalam Kitab Suci.

Pada masa ini Gereja melihat bahwa status Kitab Suci tidak hanya sebagai norma dan pedoman berteologi, tapi mempunyai cakupan yang lebih luas. Gereja melihat perlunya Kitab Suci sebagai sarana untuk berliturgi, Lectio Divina, karya pastoral, gerakan ekumenis, dsb.


Hal ini mengisyaratkan keterbukaan Gereja saat ini atas penafsiran Kitab Suciiah. Gereja terbuka terhadap segala macam metode dan pendekatan untuk menafsirkan Kitab Suci yang mana akan membantu Gereja untuk dapat semakin menyadari makna asali Kitab Suci dan juga maknanya bagi manusia saat ini. 

Singkatnya bagaimana Kitab Suci dapat berbicara pada manusia maka kini. Lanjut Baca!

1 < 2 < Wahyu, Kitab Suci dan Relevansinya di Masa Kini > 4


Daftar Pustaka
  1. Dianne Bergant, CSA & Robert J. Karris, OFM., Tafsir Kitab Suci Perjanjian Lama, Kanisius, 2002
  2. Dulles, Avery Dulles, Model of Rrevelation, New York, Maryknoll, 1992
  3. Jacobs, Tom Prof., Mistagogi, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Teologi pada Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 13 September 2003
  4. Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Kitab Suci dalam Gereja, Kanisius, 2003.
  5. Raymond E. Brown, dkk.(ed), The New Jerome Biblical Commentary, Great Britain, 1989.
  6. Roger Haight, SJ., Dinamics of Theology, The Status of Scripture in The Churh.
  7. Walsh, John, Evangelization and Justice New Insights forChristian Ministr, New York, Maryknoll, 1982
  8. Yohanes Paulus II,Paus, Surat Ensiklik Fides et Ratio, Yogyakarta, 1999
  9. Yohanes Paulus II,Paus, Evangelii Nutiandi (terj.), Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1990
  10. Yohanes Paulus II, Paus, Ensiklik Redemtoris Missio (terj.), Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1990

    lusius-sinurat
    Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

    Related Posts

    Posting Komentar

    Subscribe Our Newsletter