Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Kesederhaan vs Kemewahan Natal

Kesederhaan vs Kemewahan Natal
Tampaknya Gereja tak laku lagi sebagai ruang suci untuk merayakan Natal . Ballroom di hotel sekelas Seraton, Hilton, Aston, dan sederet hotel berbintang lima lainnya dipandang sebagai tempat terbaik bagi bayi Yesus yang hanya dibungkus kain lampin.

Mereka yang merayakan Natal di hotel, mall, gedung kesenian, gedung serbaguna (GSG), atau aula perkantoran tentu punya alasan. Kata mereka, "Kami tak tega melihat Yesus lahir di kandang. Boleh dong sesekali Yesus menikmati kemewahan dengan lahir hotel bintang lima toh!"

Orang-orang dengan kategori sukses (lagi-lagi versi mereka sendiri) tersebut sepertinya memang baik. Mereka mengajak "Yesus yang hidup" alias parapengkotbah atau imam yang bertugas untuk sesekali tidur dan makan enak di gedung kelas wahid!

Tapi beneran. Serius! Kenyataan seperti ini sangat aneh bagi kita umat Kristiani. Mengapa tidak, kita menyaksikan ada fenomena di mana orang-orang Kristen tak lagi berminat merayakan Natal di gedung gereja yang kecil atau tampak sederhana.

Buktinya, tak banyak lagi perayaan sederhana pada Natal tahun ini, begitu juga perayaan Natal selama satu dekade terakhir. Tentu, namanya manusia, mereka selalu punya alasan, misalkan:

  • IMB mendirikan gereja sulit hingga mereka tak punya gereja. Fakta ini tampaknya masuk akal karena sering terjadi di negara kita ini gereja terancam disingkirkan.
  • Gedung Gereja kami terlalu sempit dan tak mampu menampung semua umat. Jawaban semacam ini tentu kurang masuk akal, karena pada kenyataannya pada hari-hari minggu biasa gereja lebih sering sepi daripada penuh.
  • Gereja juga harus menyapa mereka yang kaya dan sukses supaya mereka kembali ke gereja, karena mereka juga umat Allah yang membutuhkan pertobatan! Menurut saya statement ini juga benar dan tampaknya seperti masuk akal. Tetapi satu hal aneh ketika 'stipendium' alias amplop-nya terkadang juga berpengaruh untuk si pengkotbah).
Gedung gereja tak lagi aman bagi kami, karena kami takut ada teroris, dan kami harus menyewa polisi yang bertugas mengamankan perayaan Natal. Ini fakta yang tidak tidak masuk akal, soalanya teroris di mana pun bisa beraksi dan bukankah jauh lebih mudah membom manusia pada perayaan suci? 

Persoalannya ide siapa yang mengatakan bahwa teroris selalu membom gereja saat Natal ? Bahwa pernah dibom, ya!). Lanjut Baca!


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter