Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Natal Gerbang Refleksi Kritis Atas Mental Kapitalis

Natal Gerbang Refleksi Kritis Atas Mental Kapitalis
Kini, Natal tak lagi tampil sebagai selebrasi kelahiran bernafaskan harapan akan datangnya Sang Penyelamat Dunia. 

Natal justru dirayakan sebagai luapan kegembiraan yang terbentang dalam semerbaknya wewangi parfum mahal di ruang-ruang ritual, pun gemuruhnya hentakan musik band dengan volume sound-systemnya yang menggoyang ballroom sebuah hotel nan keren. 

Hari-hari ini, Natal juga kerap dipahami sebagai panggung bagi sang pengkotbahnya dengan gaya berorasinya yang keren, dan pribadinya yang mahsyur dan memang jago 'kecap'. 

Lantas siapakah yang bisa menikmati perayaan seperti ini? Semua orang? 

Siapa saja yang sudi datang? Tentu tidak semu orang. Sebab orang yang boleh bergabung adalah hanya mereka yang punya tiket masuk. Tragis!
Sadar atau tidak, perayaan Natal hari-hari ini tampil secara absurd dan abstrak! Tak terlihat lagi bedanya mana kelahiran Yesus Sang Juruselamat atau Yesus yang telah menyelamatkan orang (bdk. perayaan Paskah).

Di televisi swasta tadi siang saya melihat sekelompok orang kristen berjingkrak-jingkrak di panggung dengan lagu rohani (katanya sih rohani) berirama rok dan berteriak "aleluia" sebagai nada sela di setiap bait lagu.

Entah tahu atau tidak apa makna kata "Aleluia" saya pun pun bingung. Tetapi refren yang semestinya ada di perayaan Paskah - kerena Yesus telah menyelamatkan manusia dari dosa, justru didendangkan di perayaan Natal - saat di mana Yesus baru lahir dan belum berubat apa-apa kecuali memberikan harapan dunia akan lebih baik.

Ketika Natal dirayakan sebagai perayaan yang sejajar dengan perayaan perkawinan, syukuran wisuda, pelantikan pejabat atau perayaan besar lainnya, maka pada saat itulah Natal kehilangan maknanya.

Tak ada isitlah lain yang sepadan denga Natal, kecuali kesederhanaan. Kelahiran Yesus yang yang dirayakan sepanjang tahun (hingga 2000 tahun setelah kelahiranNya) pertama-tama adalah perayaan kesederhanaan yang serta-merta di dalamnya termaktub harapan akan keselamatan dunia.

Jadi, Natal bukanlah panggung kesediaan para pengikut Yesus menampilkan prestasi terbaik mereka di ruang-ruang bisnis yang sudah terlanjur dipenuhi oleh wajah-wajah narsis.

Panggung terbaik para pengikut Yesus itu ada di pasar-pasar tradisional, di pinggir jalan, atau di ruang-ruang penginapan rumah sakit, atau ditengah-tengah umat yang membutuhkan harapan. Di sanalah kita memproklamirkan kelahiran Yesus sebagai gerbang melahirkan kembali harapan mereka untuk menjalani hidup mereka.

Semoga masih ada Natal yang dirayakan dengan cara sederhana tetapi sekaligus bermakna, dan bukan perayaan Natal di mana dunia menciptakan simbol-simbol Natal untuk memperkaya dirinya sembari memperolok-olok perayaan suci ini hanya demi sebuah sensasi. Semoga ! Baca Dari Awal!

Selamat Natal!


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter