Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Semua ini Tentang Mimipi (DIVAND)

Semua ini Tentang Mimipi (DIVAND)
Masih teringat jelas di pikiranku pagi itu bulan februari tahun 2012, aku sedang melihat beberapa pengumuman dan poster pertunjukan musik di papan pengumuman kampus. Seorang teman satu angkatan menyapaku dan mengajakku untuk iseng2 nge band.

Mereka bertiga, katanya sudah punya sebuah lagu yang ingin sekali di rekam tetapi belum ada yang menyanyikan. Ya, saat itu aku memang ingin sekali rekaman. Walaupun sebenarnya, untuk memiliki sebuah band yang tetap aku belum berniat.

Singkat cerita, aku mengiyakan tawaran mereka dan berjanji akan nge-jam bareng setelah semua kesibukanku selesai.

Siang itu kami ber-4. Adam, Yohanes, Yoha dan aku berlatih sambil nge-jam beberapa buah lagu kerispatih di studio musik koi-5 untuk mempersiapkan perform di monumen 5 maret, titik nol Jogja.

Ya, saat itu adalah pertama kalinya kami berlatih di studio tanpa ada ikatan apapun kecuali atas nama persahabatan dan teman seangkatan di kampus. Aku masih teringat jelas, saat itu setelah selesai latihan panitia acara dari monumen 5 maret meminta nama group kami yang akan tampil di sana. Saat itu kami belum punya nama, karena memang kami belum tergabung dalam sebuah naungan group atau sejenisnya. 

Ini murni hanya sebuah ikatan persahabatan dan teman seangkatan saja. Namun entah datang darimana tiba2 Adam dan Yohanes menyebutkan nama DIVAN tanpa D di belakangnya. Dan lucunya saat itu setelah nama DIVAN di daftarkan di sana sebagai salah satu pengisi acara, kami tidak jadi main karena aku harus ke Tegal pada tanggal yang sama dengan acara itu berlangsung.

Selang beberapa hari setelah acara di titik nol gagal. Adam menawarkan kepada kami untuk bermain di sebuah acara pameran seni di Universitas Negeri Yogyakarta dengan bayaran saat itu 100 ribu untuk kami berempat. Jadi per orang kami mendapatkan 20 ribu dan sisanya untuk isi bensin. 

Itulah untuk pertama kalinya kami ber-4 atas nama DIVAN perform di depan umum dengan formasi yang kurang lengkap karena belum ada pemain bass. Namun dengan keadaan apapun kami tetap perform dengan semangat. Ya hari itu adalah tanggal 5 Maret 2012, yang sekarang menjadi hari bersejarah bagi kami. Karena tepat pada tanggal itu sebuah group musik yang diawali dari persahabatan telah lahir di kota yang indah ini, Yogyakarta.

Suatu malam Adam mengirim sebuah pesan singkat padaku untuk datang ke kostnya. Segera aku mengayuh sepeda ontel tuaku menuju kos Adam, dan di sana aku menemui mereka berdua dengan Yohanes sedang memainkan lagu yang mereka ciptakan beberapa waktu lalu di Kostan Yoha dan Yohanes pada saat hari raya kurban. 

Sebuah lagu yang berjudul ‘Kepergian Cinta’ yang mereka ciptakan bertiga yaitu; Adam, Yoha dan Yohanes yang mereka berikan padaku beberapa waktu lalu. Lagu itu sudah diaransemen oleh mereka bertiga dan direkam dengan menggunakan hand phone dan Adam sebagai vocalist dadakan.

Di kost Adam, Yohanes memainkan Keyboardnya mengikuti rekaman lagu ‘Kepergian Cinta’ dan Adam memainkan gitarnya mengikuti iramanya. Aku yang masih belum begitu hafal dengan lagu itu juga mencoba untuk menyanyikannya. Dan entah bagaimana aku mulai suka dengan lagu itu dan segera aku pulang ke kos untuk mengambil laptop supaya lagu ini bisa direkam ulang dengan dengan kualitas yang lebih baik dari rekaman hand phone.

Kami bertiga mulai merekam ulang lagu itu dengan Cool Edit Pro di laptop dengan menggunakan micropon dari Head set. Yohanes pertama-tama merekam drum dengan keyboardnya. Ya, suara drum di keyboard kami pakai untuk mengisi suara drum, karena Yoha tidak ada di sana pada malam itu.

Semua ini Tentang Mimipi (DIVAND)
Sebagai sebuah group Band, DIVAND memang murni lahir dari persahabatan dan teman seangkatan di kampus. Yang mana ada mata kuliah yang kami semua akan bertemu dalam satu kelas. Di situlah kami saling mengenal satu sama lain.
Kemudian suara Bass juga di isi dengan keyboard oleh Yohanes. Setelah drum dan bass terekam, Adam mengisi bagian gitarnya dan menyusul Yohanes mengisi Piano dan String. Pada bagian akhir aku mengisi bagianku untuk mengisi vocal. Lagu ‘Kepergian Cinta’ pun telah selesai direkam dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.

Saat itu kami ber-4 sudah sering berkumpul bersama dan berpikir untuk mencari pemain bass. Dan Tuhan mungkin sudah menyediakan jodoh untuk kami. Opick, seorang teman satu angkatan di kampus yang sudah mendengarkan lagu ‘Kepergian Cinta’ bersedia untuk menjadi bassist dan melengkapi kekurangan kami. Sejak saat itu DIVAN sudah mulai berniat untuk menentukan arah dengan formasi yang sudah lengkap.

Kami berlima kemudian memutuskan untuk Recording dan menelurkan singel pertama atas nama DIVAND. Karena menurut Adam nama DIVAN kurang enak dibaca lalu dia menambahkan D di belakang, dan lahirlah nama yang cukup gagah yaitu : DIVAND.

5 Maret 2012 ketika perform pertama di UNY itu kami tetapkan sebagai Hari Lahirnya DIVAND. Namun kami berlima adalah orang yang membentuk DIVAND secara bersama-sama sebagai sebuah band dengan Formasi yang utuh dan siap untuk mewarnai musik Jogja.

DIVAND tidak terbentuk begitu saja. Kami menyebut ini adalah Seleksi alam yang berjalan secara alami dan akhirnya menyatukan kami berlima dalam nama DIVAND. Baiklah aku ceritakan sedikit tentang seleksi alam yang kami maksudkan.

Kami berlima adalah mahasiswa jurusan musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta angkatan 2010. Kami berlima satu angkatan dan akan bertemu dalam kelas Ansambel Pop-Jazz setiap minggunya. Di sinilah kami saling mengenal satu sama lain seiring dengan perjalanan waktu.

Aku, Adam, Yoha, dan Opick pernah bergabung dalam sebuah group band Fetivalan bersama teman seangkatan yaitu; Indra Gitar, Yoga Keyboard dan Addie Bass (yang sekarang menjadi bassist INSTING BLUES, sebuah group musik blues yang sedang berkembang di Yogyakarta). 

Nama group band festivalan kami saat itu adalah 7.30 am, nama ini terinspirasi dari jadwal kuliah kami semua di mata kuliah Ansambel yang tepat pada jam 7.30 Wib. Band ini bubar segera setelah kami tidak lolos festival.

Addie Bass dan Opick juga pernah tergabung dalam satu band dengan nama SUNSHADE Namun band ini juga tidak bertahan lama dan berhasil menelurkan satu singel.

Yohanes dan Opick juga pernah tergabung dalam band GELATO yang juga tidak bertahan lama. Dan masih banyak lagi group-group band yang masing-masing kami masuki yang satu sama lain saling memiliki keterkaitan.

Dan dari semua band yang saling terkait satu sama lain itu, lahirlah DIVAND sebagai suatu proses seleksi alam yang menyatukan kami berlima. Dan teman-teman yang dulu pernah bergabung bersama kita dalam berbagai group kini berkembang di jalannya masing-masing baik sebagai group band maupun sebagai pemain solo. 

Dan sekarang kita semua masih menjalin persahabatan dan saling mendukung satu sama lain. Sampai saat ini mereka adalah pendukung setia DIVAND sebagai sahabat yang mengajari DIVAND banyak hal.

Semua ini Tentang Mimipi (DIVAND)
Singel pertama DIVAND yang berjudul ‘Kepergian Cinta’ kini masuk Dapur Rekaman. Sebuah rumah sederhana dari seorang sahabat kami pilih sebagai tempat rekaman pertama kami. Ini merupakan pengalaman pertama buatku masuk dapur rekaman. Walaupun rumah rekaman sederhana yang biasa disebut orang sebagai Home Recording.






Kami berlima begitu semangat merekam lagu ini. Dan sudah tidak sabar untuk mendengarkan hasil final dari singel pertama kami ini. Dan dengan proses yang cukup melelahkan namun menyenangkan. Singel pertama DIVAND sudah selesai. Dengan pertimbangan yang cukup sulit akhirnya kami mengganti judul singel pertama ini menjadi ‘TAKKAN PERNAH KEMBALI’ yang awalnya berjudul ‘KEPERGIAN CINTA’.

Dalam waktu hanya beberapa hari, Singel pertama DIVAND ‘Takkan Pernah Kembali’ sudah menyebar kemana-mana. Dari Fan Page FB DIVAND kami terus mempromosikan lagu itu kepada sahabat-sahabat kami di dunia maya. Dan dalam waktu yang tidak begitu lama, akhirnya nama DIVAND sudah mulai akrab di telinga teman-teman kami. 

DIVAND sudah mulai jadi perbincangan di kalangan kerabat dekat baik di dunia maya maupun di kampus. Singel pertama yang walaupun dengan kualitas rekaman dan mixing yang kurang maximal berhasil merebut perhatian sahabat-sahabat. Saat itulah kami mulai mantap untuk melangkah dan berkarya mewarnai musik Yogyakarta atas nama DIVAND.

Semua ini Tentang Mimipi (DIVAND)
Setelah singel pertama cukup menarik perhatian dan berhasil untuk membangkitkan kepercayaan diri kami sebagai sebuah group band baru di Yogyakarta, kami mulai merindukan panggung. Kami ingin DIVAND tidak hanya di dengar di rekaman saja. Kami ingin orang-orang bisa mendengar DIVAND secara langsung.




Kami mulai mencari tempat perform di seputara Jogja. Namun saat itu kami tidak tau harus tampil di mana. Karena kami masih sangat buta dengan peta pertunjukan musik dan acara-acara band di Yogyakarta. Dengan modal bertanya ke sana kemari dan dengan bantuan beberapa teman akhirnya kami mendapatkan tempat untuk melampiaskan nafsu kami untuk bermain musik atas nama DIVAND.

Kedai Nusantara di Jl. Nologaten Jogja menjadi tempat pertama bagi kami berlima perform sebagai DIVAND. Ini merupakan pengalaman pertama dan begitu berharga bagi kami.

Waktu terus bergulir, kami semakin semangat untuk mewarnai musik Indie di Yogyakarta. Ke sana kemari kami mencari informasi untuk bisa mengisi acara sekedar untuk mengasah pengalaman dan memperkenalkan nama DIVAND kepada publik Jogja. Ya, kami benar-benar mulai dari nol. Kami mulai mendapat info-info baru untuk bisa main di berbagai kafe. Bermain di KFC dan beberapa panggung besar di Yogyakarta.

Pengalaman satu panggung dengan band Senior dari ISI Jogja, FSTVLST dalam acara A MILD SOUNDVERSITI adalah pengalaman manggung yang sangat berkesan bagi kami. Itu adalah panggung besar pertama yang kami naiki walaupun untuk ukuran pertunjukan musik itu masih merupakan panggung kecil. Saat ini bayaran kami sudah lebih baik dari sebelumnya. Walaupun sebagai Band, kami tidak pernah mempersoalkan bayaran.

Kami pernah tidak di bayar, hanya dapat minum atau hanya dapat makan. Tapi kami tetap semangat. Kami tak pernah mempersoalkan masalah bayaran manggung, karena bagi kami bisa perform dan memperkenalkan nama DIVAND itu sudah lebih dari cukup. Di samping itu kami juga bisa berlatih dan mengasah kemampuan kami sebagi performer dan musisi.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. DIVAND terus melebarkan sayapnya. Kami mulai menelurkan singel-singel terbaru dan respon dari sahabat-sahabat DIVAND semakin baik. Kami mulai menelurkan VIDEO CLIP pertama kami dengan singel ‘Hanya Ingin Kau Mengerti’ menjadi singel andalan kami. Nama DIVAND semakin melambung dan mulai di kenal banyak orang.

Tawaran demi tawaran untuk manggung dan mengisi acara mulai berdatangan. Pengalaman pertama untuk bisa Tampil Live di Jogja TV juga merupakan mimpi yang menjadi kenyataan bagi DIVAND. Saat itu kita ingin sekali bisa masuk TV, dan walaupun tidak tau bagaimana caranya bisa menuju ke sana. 

Kita tetap bermimpi dan percaya DIVAND pasti bisa tampil live di sana. Dan dengan campur tangan Sang Maha Kuasa, mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan. DIVAND masuk TV Jogja dan berhasil menarik perhatian penyelenggara acara sehingga DIVAND berkali-kali dipanggil kembali ke Jogja TV untuk perform secara live di sana.

DIVAND tak mau lengah, kita terus melangkah dan berjuang menaiki tangga menuju puncak. Satu hal yang selalu kami impikan akhirnya menjadi kenyataan. DIVAND mendapat tawaran untuk menjadi bintang tamu di TVRI Jogja. Sebuah kehormatan buat DIVAND. Waktu itu juga merupakan saat pertama bagi DIVAND untuk mendapatkan bayaran tertinggi selama proses karir kami sebagai sebuah band yang sedang berkembang. Sebuah kesempatan dan penghargaan yang sangat kami syukuri.

Beberapa surat kabar di Yogyakarta seperti Harian Jogja dan Koran Merapi juga pernah meliput perjalanan DIVAND sebagai sebuah band yang lahir di Yogyakarta. Live interview di beberapa stasiun radio di Jogja seperti Armasebelas FM dan radia Boswin FM Pati, Jawa Tengah. Satu hal yang cukup untuk membuat kami terharu dan tak henti bersyukur atas semua kesempatan ini.

Semua ini Tentang Mimipi (DIVAND)
DIVAND telah mengajarkan kami banyak hal tentang hidup. Tentang berbagi, tentang setia dan tentang persahabatan. Kami sudah bagaikan satu keluarga, menjadi saudara dalam DIVAND.




Pada bulan November 2013, DIVAND menggelar Konser Tunggal bertajuk “LANGKAH AWAL” di LIQUID Jogja. Dalam konser ini kami membawakan 6 buah lagu karya DIVAND yang dikolaborasikan dengan Kwartet String dan Alto saxophone. 

Konser ini menjadi sejarah bagi DIVAND dalam proses perjalanan karir DIVAND sebagai sebuah band Indie di Yogyakarta. Ini juga merupakan jawaban atas mimpi-mimpi DIVAND yang masih akan terus akan dicapai dengan kerja keras dan perjuangan.

Ini merupakan langkah awal dari sebuah perjalanan yang masih sangat panjang. Kami sudah melangkah sejauh ini dan tidak akan berhenti sedini ini. Masih banyak mimpi-mimpi yang ingin kami capai. Masih banyak harapan-harapan yang ingin kami wujudkan. Satu dari sekian mimpi besar kami adalah bersanding dengan musisi-musisi ternama di panggung musik nasional. Belantika Musik Indonesia. Itu merupakan mimpi yang besar dan butuh usaha yang besar.

Apakah DIVAND akan berhasil mencapai semua mimpi-mimpi itu? Semua ini tidak lepas dari dukungan sahabat-sahabat DIVAND khususnya orang tua dan keluarga kita. Kita sadar mimpi itu tidak mudah untuk digapai. Namun Bung Karno mengajarkan kita untuk berani bermimpi dan Jadilah Sang Pemimpi kata Andrea Hirata.

Kami ini hanyalah Pemimpi Ulung. Dan kalian tau, semua yang kami dapatkan sekarang walaupun masih cukup kecil untuk sebuah pencapaian. Ini semua merupakan mimpi. Ini semua kami dapatkan dengan bermimpi. Mimpi yang berbuah kenyataan. Dengan bantuan dan campur tangan Sang Maha Kuasa.

Pada bulan Februari 2014 yang lalu, DIVAND turut mengisi acara dalam Peresmian atau Grand Opening Bank Papua cabang Yogyakarta. Dalam acara itu turut diundang JIKUSTIK dan EDO KONDOLOGIT sebagai Special Performer. Dan DIVAND sebagai Band Pendamping JIKUSTIK.

Ini merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Kami masih ingat ketika kecil kami begitu mengidolakan JIKUSTIK dengan lagu-lagunya yang banyak menjadi Hits. Namun sekarang kami diberi kesempatan untuk berada di dalam even yang sama dalam panggung yang sama. 

Aku masih ingat betul bagaimana aku tak bisa berkata-kata ketika makan siang bersama para personil JIKUSTIK atau ketika makan malam bersama EDO KONDOLOGIT. Ini merupakan jawaban atas mimpi-mimpi DIVAND.

Aku sempat mengatakan kepada Adam. “Coba lihat nama band kita bersanding bersama Jikustik dan Edo Kondologit di baliho besar itu. Nama yang kita besarkan dari nol kini tercetak tegas di sebuah baliho raksasa dengan idola masa kecil kita”. 

Adam menyahut “Kita patut bersyukur atas semua ini. Namun jangan cepat puas, masih banyak hal yang bisa kita raih jika kita mau terus berusaha dan berjuang”. Aku sangat setuju dengan kata-kata itu.

Bersama DIVAND aku berani bermimpi. Dalam band ini aku merasakan energi yang cukup besar masuk ke dalam tubuhku. Seluruh mimpiku seakan memanggil untuk ditahlukkan. Bersama band ini aku menemukan arti perjuangan yang ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan juga bukan sesuatu yang mustahil jika kita mau berusaha dan tetap mengandalkan bantuan Sang Maha Kuasa.

Kemaren tepat pada 5 Maret 2014, DIVAND genap berusia 2 tahun. Sebuah perjalanan yang panjang dan penuh makna. Sebuah perjalanan yang mengajarkan banyak hal tentang persahabatan. Tentang mimpi dan tentang berjuang.

Divand merupakan satu keluarga yang dibentuk atas dasar persahabatan. 5 orang pemuda pemimpi yang selalu ingin tau akan banyak hal. Sebuah tempat yang tinggi di selatan Jogja. Tempat terjun paralayang di puncak tebing karang di pantai Parangtritis menjadi saksi bisu bagi kami berlima pada ulang tahun kedua DIVAND.

5 Maret 2014 itu kami habiskan bersama di ketinggian tebing itu untuk merefleksikan kembali mimpi-mimpi kami dan memaknai semua perjalanan ini. Kami mencoba untuk mencari makna atas perubahan yang terus terjadi seiring perjalanan waktu.

Waktu begitu terburu-buru. Banyak hal berubah dalam dua tahun perjalanan ini. Banyak perselisihan yang telah mengajarkan kita tentang memahami sesama. Banyak rasa pesimisme yang terkadang mengaburkan mimpi-mimpi bersama. Dan masih banyak hal yang penting untuk kami bicarakan lagi.

Perjalanan itu adalah suatu proses. Dan perubahan akan senantiasa mengikuti arah perjalanan ini. Akan banyak hal-hal yang tidak mengenakkan mungkin terjadi. Entah dia terkadang dirasa terlalu kejam, entah dia terkadang dirasa terlalu terburu-buru, entah dia terkadang dirasa terlalu lamban. Namun itulah hidup. Dia adalah perjalanan yang akan menempamu menjadi pribadi tangguh.

Saat itu kami berlima kembali menyegarkan komitmen-komitmen kami. Dan mencoba untuk memetik hikmah dari semua hal yang terjadi. Dan hari itu menjadi saat-saat yang menegangkan. Ketika kami saling menyalahkan satu sama lain. 

Semua ini Tentang Mimipi (DIVAND)
Ketika kami saling membela diri sendiri. Ketika kami marah, menuduh, merasa diri paling berkorban, merasa diri paling banyak memberi dan masih banyak hal-hal yang membuat suasana semakin mencekam. Namun itu semua membuat kami jadi saling memahami satu sama lain. Ini tak kurang dari hubungan orang berpacaran. Bahkan mungkin lebih. Karena kami sedang menyatukan hati dari 5 orang yang masing-masing berbeda.


2 tahun bukan waktu yang singkat untuk kami saling mengenal. Kami sudah saling mengenal bagaikan saudara. Walaupun terkadang ada hal-hal yang sulit untuk terpecahkan dan sulit dipahami oleh orang lain. Tapi pada dasarnya kami saling memiliki dan saling membutuhkan satu sama lain.

Pada 5 maret itu juga kami mencoba memantabkan kembali komitmen kami sebagai sebuah band dan bertanya pada diri sendiri mau dibawa kemana DIVAND ini.

Kami memutuskan untuk membawa DIVAND menjadi band profesional dan siap bersaing di Industri Musik Indonesia. Dengan berlatih lebih keras dan menjadikan DIVAND sebagai masa depan dan meningkatkan status DIVAND menjadi Bisnis. 

Siap fokus untuk DIVAND dan mengerahkan seluruh pikiran dan waktu kepada DIVAND di samping kuliah yang memang menjadi tanggung jawab utama. Dan setelah kuliah kita berlima fokus untuk DIVAND.

Saat itu Yohanes meminta waktu beberapa hari untuk berpikir dan memutuskan pilihannya. Kita semua tak pernah memaksa siapapun diantara kita berlima untuk mengejar apapun yang kita inginkan. Kita tetap menghargai satu sama lain. Dan akan selalu mendukung apapun pilihan dari sahabat kita. Dan dengan ikhlas dan lapang dada kita mengijinkan Yohanes untuk berpikir tentang pilihannya akan mimpi-mimpinya.

Pada tanggal 7 Maet 2014, dua hari setelah ulang tahun kedua DIVAND. Yohanes memutuskan untuk keluar dari DIVAND. Karena dia masih punya mimpi dan tanggung jawab yang lain. Kita berempat dengan ikhlas tidak menahan Yohanes untuk bertahan walaupun berat hati harus berpisah. Banyak kenangan yang telah kita lalui bersama. 

Tertawa bersama, menangis bersama, bermimpi bersama, berjuang bersama dan banyak hal yang tidak bisa aku lukiskan. Jasamu di DIVAND tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kami hanya bisa mengobati rindu dengan mendengarkan lagu yang telah kita ciptakan bersama. Lagu yang kita lahirkan bersama sebagai sebuah karya. 

Atas nama DIVAND kami berempat sangat merindukanmu. Kapanpun engkau mau kembali kami masih membukakan pintu untukmu. Karena sampai saat ini engkau belum tergantikan.
Selamat mengejar mimpi mu yang lain Sahabat. Semoga engkau sukses di jalanmu dan kami ber-4 akan meneruskan mimpi-mimpi yang telah kita rajut bersama dulu. Kami akan buktikan padamu kalau kita semua bukan hanya sekedar pecundang yang tahluk oleh mimpi sendiri. Kitalah yang akan menahlukkan mimpi-mimpi itu.

*****

DIVAND sekarang kehilangan satu orang organ pentingnya. Namun kami ber empat akan terus berjuang melanjutkan perjalanan ini. Kami akan terus melangkah. Dengan perjuangan yang akan lebih berat. Kami akan mencoba berjaung untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan pemain Keyboard Kami.

Walau kini kami hanya tinggal berempat, kami berjanji akan tetap memberikan yang terbaik dan melahirkan karya-karya terhebat kami untuk semua teman-teman DIVAND – (DIVENDERS).

Atas nama DIVAND, Saya, PLATO GINTING (Vocal), MALIQ ADAM (Gitar), TAUFIK MUHAMMAD (Bass) dan YOHA PRAMUDITA (Drum) akan terus bermimpi dan mengejar mimpi-mimpi kita sampai kami meraih semua mimpi-mimpi itu:
 "Jika suatu saat DIVAND tidak berhasil menggapai mimpi-mimpi ini berarti kami semua adalah para pecundang. Dan kalian semua jadi saksi kegagalan kami. Namun kami akan berjuang untuk tidak jadi pecundang. Doakan kami selalu agar kami tak pesimis atas mimpi kami. Kami tau ini berat, namun kami juga sadar ini tidak mustahil “

Jogja, 10 Maret 2014
Salam,

Plato Ginting Sang Pemimpi
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter