Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Eksekutor vs Plin-plan

Eksekutor vs Plin-plan
Selain dituduh sebagai boneka asing, Jokowi dituduh oleh segelintir pejabat dan pengamat yang amit-amit begini: "Baru dua tahun menjabat di Solo dia lompat jadi Gubernur DKI, satu setengah tahun menjabat Gubernur DKI dan sekarang malah lompat pengen jadi presiden".

Sepintas, menurut pemikiran orang yang tidak cerdas, tuduhan di atas seakan beralasan. Artinya, karir Jokowi jauh dari urusan komitmen pada tugas dan terkesan haus akan kekuasaan. Tapi, benarkah begitu ?

Dalam sebuah pelatihan seorang komisaris perusahaan bertanya kepada saya tentang keputusannya menaikkan 3 level karir seorang staf di perusahaannya, "Pak, kenapa ya banyak orang tidak bisa terima keputusan saya untuk mempromosikan staf terbaik saya yang kebetulan baru 1,5 tahun bekerja di perusahan saya ke level yang jauh lebih tinggi? Bukankah semua orang di perusahaan tahu bahwa dalam sistem penempatan pegawai itu selalu based on competence?"

Tentu si direktur punya hak dan tindakannya sudah tepat. Toh Tuhan memberikan kita berbagai talenta yang berbeda. Tinggal bagaimana kita melipatgandakan talenta kita: ada yang menggandakan dua kali lipat, 3 kali lipat, 10 kali lipat, bahkan 100 kali lipat.

Salahkan ketika orang yang telah 100% mengembangkan talentanya mendapatkan ganjaran 300%? Jadi, rasanya sah-sah saja bila Jokowi - kalau diibaratkan sebagai staf yang mumpuni di atas - diberi ganjaran berupa jabatan yang jauh lebih tinggi oleh komisaris yang dalam konteks politik adlah rakyat indonesia sendiri. Wajar toh bila Jokowi menerima mandat itu?

Tapi... yang namanya politik, apalagi dalam konteks persaingan mendapatkan kursi empuk kekuasaan, apapun akan di-ulik. Hal yang sama dilakukan oleh lawan-lawn politik Jokowi dan PDIP.
Sebutlah cara curang (black campaign) yang telah dilakukan oleh orang-orang / pihak-pihal yang gerah karena jika Jokowi mencalonakn diri sebagai presdien, maka terkikislah peluang mereka untuk menang. Tampak sekali bahwa si pembuat isu itu tidak cerdas dan berpikir bahwa masyarakat sama bodohnya dengan mereka.

Supir yang biasa mengantarkan tim kami di Medan selama dua minggu ini spontan bilang kepada salah satu capres yang menejelek-jelekkan Jokowi, "Selow lah bos. Macam kau tak layak kali pun jadi presiden! Terima diri saja lah kau." Baca Kembali dari Awal!


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter