Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Bermainlah, Tapi Jangan Bermain-main

Foto : Koleksi Pribadi Lusius Sinurat (Papua 2014)
Manusia terlahir sebagai mahluk yang suka bermain (homo luden). Tak hanya sebagai bagian dari kebudayaan di mana ia tinggal.

Secara personal setiap orang pada dasarnya suka bermain: ia menggemari permainan tertentu, memiliki mainan tertent dan punya waktu untuk memainkan permainannya.

Permainan berbeda dengan pertandingan. Bertanding tak selalu simetris dengan bermain.

Tak semua permainan harus dimenangkan, sementara pertandingan selalu berujung pada kemenangan atau kekalahan.

Bisa saja bahwa permainan yang populer akhirnya dipertandingkan agar lebih seru dan punya nilai jugal. Sebaliknya tak mungkin pertandingan dianggapa remeh atau dipermainkan sesuka hati, kecuali Anda hanya ingin kalah.

Terkadang kita harus memandang dan menjalani hidup sebagai sebuah permainan. Benar bahwa ada saja orang yang suka mempermainkan hidupnya, tetapi juga tak kalah banyaknya orang yang sungguh menikmati hidupnya bak orang sedang bermain. Di titik inilah permainan tak terpisahkan dari hidup kita.

Contoh negatif tentang bagaimana orang mempermainkan hidupnya adalah dengan cara menghianati kepercayaan orang lain, menyelingkuhi kekasihnya di depan mata orang yang diselingkuhi, membiasakan diri berbohong demi menutup kesalahan atau kejahatannya di kejauhan sana, dan lain sebagainya.

Sementaraada banyak juga contoh positif tentang bagaimana orang menikmati hubungan dengan pasangan hidupnya sebagai arena bulan madu yang riang gembira dan selalu penuh kejutan yang menambah gairah hidup mereka. Juga ada banyak orang yang menikmati pekerjaan sebagaimana ia memainkan permainan dengan serius, sesuai aturan dan tidak main-main.

Pada akhirnya, entah demi tujuan negatif atau positif, Anda punya hak "mempermainkan" hidup Anda, tentu dengan cara Anda sendiri.

Mempermainkan orang lain juga bisa. Mempermainkan diri sendiri sebagai ajang unjuk gigi juga tidak masalah.

Semuanya pasti bermula dan sebab, berjalan sebagai akibat dan berujung pada kegembiraan atau malah kesedihan dan penyesalan yang dalam. So, Anda yang memilih dan Anda harusnya bertanggungjawab atas pilihan Anda.

Hanya saja... Anda harus ingat, bahwa dalam memainkan pertandingan Anda harus bermain dengan tidak main-main. Anda tak boleh mempermainkan hidup Anda atau kepercayaan orang lain sebuah permainan yang boleh dicurangi.

Bila saja Anda melakukan hal itu, maka siap-siaplah Anda dipermainkan oleh galau-gundahnya hati Anda, entah lewat mimpi, entah lewa ekspresi yang tak lagi murni, entah lewat tangisan penyesalan setelah kehilangan, entah lewat beratnya Anda menjalani hidup Anda. 

Akhirnya, hanya dengan tidak mempermainkan hidup sebagai permainan yang bisa dipermainkanlah hidup Anda akan tampak sangat berharga dan dihargai orang lain.

Mari kita ciptakan permainan imajiner hasil khayal-imaji kita, tetapi dengan terlebih dahulu memilih "permainan" mana yang menyenangkan atau melukai, entah diri Anda sendiri, entah orang yang dekat dengan Anda, sebelum Anda memainkannya.


Selamat bermain!
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter