Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Hidup Baik versus Hidup Layak

Gadis dengan Gadget 
Puncak-Bogor, Des 2013
Hari-hari ini ukuran tentang "hidup yang baik" nyaris disamakan dengan "hidup yang serba layak".
Bagi si penganut hidup layak (merasa diri sebagai pemenang), dia memiliki semboyan utama dalam hidupnya:
  • "Aku layak memiliki apa dan siapa saja.Tentu saja aku boleh memperlakukan mereka sesukaku!"
  • "Aku layak menjadikan diri sebagai panutan bagi siapa yang mau !"
  • "Dengan uang aku layak membangun surgaku sendiri !"
  • "Aku layak mengatur waktu berpihak padaku !"
  • "Aku layak menjadikan Tuhan sebagai Tuhannya yang pro-cara hidupku!"

Sementarai orang yang merasa menjadi korban dari tujuan hidup layak dari orang lain sering mengumandangkan kalau dirinya adalah pihak yang kalah. Sebagai pihak yang kalah, ia memiliki semboyan berikut ini :
  • "Aku layak diperlakukan sebagai manusia, bukan benda !"
  • "Aku bukan barang yang bisa kau miiliki dan kau perlakukan sesukamu !"
  • "Sori bos, tak semua hal bisa dihargai dengan uang !"
  • "Waktu tak bisa kau atur untuk keberuntunganmu sendiri !"
  • "Kalau begitu aku hanya bisa kecewa pada Tuhan yang kontra-cara hidupku !"
Akhirnya, bagi mereka yang 'tidak menyiksa orang lain demi hidup layak yang ia impikan" sekaligus juga "tidak mau menjadikan dirinya sebagai korban dari orang lain yang memaksakan kehendak mereka padanya": hidup itu simpel. Ya, sangat sederhana. Baginya hidup itu seni; dan hanya orang cerdas yang mampu tak semena-mena terhadap orang lain. Hanya orang cerdas pula yang bisa bersikap biajk hingga ia akan protes bila hak asasi sesamanya tidak didiperlakukan sebagai

Ketika hidup berjalan di antara :

  • layak vs tidak layak
  • untung vs buntung
  • sejahtera vs tak punya apa-apa
  • nikmat vs laknat...
biarkan saja orang mengatakan tentang apa yang ia miliki, siapa dirinya dan bagaimana ia menjalain hidupnya. Toh itu versi dia sendiri... Lagipula setiap orang punya versi sendiri-sendiri: "Aku sendiri ya tetap begini aja.. aku bisa tuh menikmati hidup seperti biasa!"

Orang yang tidak mau tahu kalau 3 pandangan di atas penting atau tidak penting: Sebab orang terkaya adalah orang yang memiliki banyak tetapi selalu tak merasa belum punya apa-apa. Jadinya nyari terus dan memberi terus, karena hidupnya berkelimpahan. 

Akhirnya, apabila Anda mau jadi kaya atau mau jadi miskin, maka yang perlu diubah adalah lah mindset Anda: hidup bukan sekedar mencari dan mengumpulkan aset, tetapi juga menikmatinya bagi kebahagiaan Anda dan orang di sekitar Anda.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter