Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Paradoks Rasa

Ilustrasi Foto GIF "Malu-malu Kucing" oleh Lusius Sinurat
Sungguh aku mengakui bahwa elemen bernama "pandangan subyektif" tak terelakkan dalam menilai seseorang yang spesial dalam hidup kita.

"Aku baca Twitter si gadis itu, tentu lewat twittermu yang sengaja enggak aku follow. Sungguh aku tak ingin cemburu; tapi aku tak kuasa melawan rasa cemburu padamu." 

"Aku lihat Twittermu dan aku pun tak berhasrat untuk berfikir terlalu jauh tentang hubunganmu sama gadis yang sejak setahun terakhir mengganggu pikiran dan perasaanku, tetapi kenyataannya, aku malah berpikir kalau hubungan kalian sudah terlalu jauh." 

"Entahlah... entah mengapa tiap untaian huruf tentang gadis itu selalu membuatku resah, apalagi di saat kamu tak menyebut namaku di sana, otakku lantas memanas dan hatiku bergejolak."

"Begitulah unsur subyektivitas terlalu mendominasi pikiranku tiap ada kata tentangmu dan tentang dia.  Anehnya, aku sering berpura-pura ingin menjauhimu! Entah karena gengsiku, entah karena memang aku merasa aku sanggup mengatasinya sendiri."


Begitulah paradoks rasa selalu menghantui otak dan hatiku saat ini. Emosi ku pun gampang tersulut, kendati aku sunguh tak mau kalut dengan itu semua. 

"Bentangan statusmu di Facebook atau kicauanmu yang kamu untai indah di akun media sosialmu, entah mengapa malahy membuatku berhasrat jadi admin di tiap akunmu yang seabreg itu, lantas ingin menghapus tiap mention, tiap status dan tiap postingan di blogmu yang selalu kubaca itu dan semua huruf yang membentuk nama gadis yang melekat erat denganmu - tentu selain aku hehehe !"
 
"Ah, aku emang pencemburu. Syukurlah, kini aku sedang belajar mengurai rasa cemburuku secara lebih rasional. Hingga aku pun tidak mau bertindak banal seperti dulu. Itulah aku!" 

"Dan..... malam ini aku merasa lega setelah mengungkapkan rasaku tadi padamu, dan rasa yang kupendam begitu lama, rasa yang hanya ingin kuungkapkan kalau aku sudah siap untuk mengutarakannya padamu."

Kendati rasanya, waktu melangkah begitu lamban saat menunggu momentum tadi malam, tetapi aku lega dan aku yakin tidurku akan selelap saat aku masih bersamamu.....


[bersambung] 


Butiran pengantar #NovelParadoksRasa
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter