Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Simalungun yang Malungun

SEBULAN mengalami "kebersamaan" dengan masyarakat Simalungun yang beragam etnis ini sungguh asyik.

Di Saribudolok dan sekitarnya (kecamatan Silimakuta) orang akan dengan ramah menyapa Anda dengan bahasa Simalungun logat Toba Simanindo, "Aha do margamu ambia? .... anggo sonai martulang do ham bakku," dst bila yang menyapa dan yang disapa itu sederajat atau teman akrab, juga sapaan ini bsia dipake oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda.

Di ibukota kabupaten, tepatnya di kota kecil Raya orang-orang akan menyapa Anda dengan nada lebih dinamis, "Marga aha do tene ham?", "Sonaha do kabar nasiam, lawei?", "Domma dokah ham paimahon hanami?" dst.

Di daerah Dolok Pardamean, semisal di Sibuntuon, beda lagi. Dialek Toba sangat kental, "Bah, ai marga aha do hamu? Molo songoni bah marnamboru do hamu tu au bah," dst. dst.

Pardagangan dan sekitarnya juga menampilkan diri lewat sapaan dalam bahasa Jawa tetapi dengan logat Batak, "Arap neng ndi, bang?" Tentu logat dan tata bahasa Jawa di Sumatera sangat berbeda dengan orang Jawa yang memang lahir di Jawa. Di Jawa tengah misalnya, kalimat yang sama akan diucapkan dengan "panjenengan saking ting pundi,?"
Tetapi inilah khasnya Pujakesuma (putra/i Jawa kelahiran Sumatera) dengan Pujakejawa (istilah saya sendiri untuk putra jawa kelahiran Jawa hehehe).

Memang belum semua kecamatan, kelurahan dan nagori (desa) yang sudah kami kunjungi. Tentu saja karena keterbatasan waktu dan juga sarana jalan yang menuntut kesabaran kita. Rencana kami, hingga Maret, semua daerah bisa kami kunjungi. Semoga tak ada rintangan berarti untuk mewujudkan niat ini.

* * * * *

Sejak kecil, di nagori kami, Bahtonang, kecamatan Raya Kahean saya sudah akrab dengan bahasa Simalungun, bahasa Toba dan bahasa Jawa khas pujakesuma. Tentu saja hal ini membuat saya nyaris tak pernah mengalami kesulitan masuk ke daerah baru.

Ternyata tak hanya di Bahtonang, hampir di semua desa didiami tiga suku terbesar di Simalungini ini, yakni Jawa, Toba dan Simalungun. Uniknya lagi, hampir semua orang bisa berbasa Jawa, Toba, Simalungun, dan masyarakat Simalungun Atas pada umumnya juga bisa berbahasa Karo.

Ini salah satu keunikan Simalungun.

Masyarakat yang berasal dari berbagai latarbelakang etnis, juga agama yang berbeda bisa hidup berdampingan. satu sama lain bisa melebur tanpa membiarkan identitas mereka kabur.

Antar masyarakat yang satu dengan masyarakat lain begitu mudah berbaur namun tidak serta mereta mereka kehilangan alur.

Antar mereka terjalin relasi penuh tepa selira tanpa kehilangan selera.

Begitulah Simalungun. Masyarakatnya sudah terbiasa hidup dalam keragaman. Sayangnya laju kebersamaan ini tak diikuti oleh laju pembangunan.

Pendeknya, kemeriahan yang tampil ditengah masyarakat Simalungun justru terhenti oleh sepinya pembangunan. "Simalungun" pun kembali "malungun" alias (ke)sepi(an)... dan kini membutuhkan ulurang tangan.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter