Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Speak Up, Please

Speak Up, Please
Waktu SMA, tepatnya di SMA Seminari Menengah Christus Sacerdos kami ada program English Day, tepatnya setiap Hari Rabu. Program ini akarab kami namai English Wednesday.

Begitu sulit awalnya. Pasti. Secara teoretis tampaknya tidak sulit. Buktinya, kami dipaksa oleh guru Bahasa Inggir, JK Nainggolan untuk menghafal 16 Tenses yang ada. Kosakata yang kami hafal pun makin hari makin banyak.

Tapi kok sulit banget rasanya mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Inggris?

"Hadeuh.. Jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesia awak pun masih marpasir-pasir," kata Pusuk Nainggolan saat kutanya mengapa dia selalu diam. Tak hanya Pusuk yang asli Parlilitan, Humbahas itu yang kesulitan. Kebanyakan kami memilih diam daripada harus bicara dalam Bahasa Inggris dengan salah.

Banyak dari kami bahkan selalu berdiri di barisan terdepan saat mentertawakan teman yang berbahasa Inggris dengan logat Batak nan kental itu, apalagi sering "salah sasaran" pula. ha ha ha.

Tentu saja ini semacam pembalasan. Karena teman-teman pun akan mengolok-olok kita bila memaksakan diri berbahasa Inggris.

Pada awalnya, saat English Day berjalan, kami bicara terbata-bata. Kalimat yang keluar dari mulut rasanya seperti rangakaian kata yang kami pelajari saat bayi.

Untung saja segelintir orang, terutama si Pirdot yang doyan bahasa tapi gak suka Matematika itu selalu berani menyapa. "Hi Lusius. What are you doing now? Tell me, please," kata Pirdot lancar.

Lagi-lagi, dengan kalimat terbata-bata, "As you looking, I am reading now," jawabku bercampur rasa takut salah gramatika.

Begitulah pada awalnya kita selalu merasa takut salah saat mengasah kemampuan berbahasa kita, terutama bahasa Inggris. Nilai Bahasa Inggris di Rapor bahkan tak sebanding dengan kemampuan kita berbahasa Inggris. Nilai 7, 8, 9 selalu terlihat jelas di Rapor; tetapi jangan tanya soal kemampuan berbicara bahasa Inggris. Seperti kata urang Sunda, "Lieur euy" (pusing deh).

Ini pengalaman menarik. Suatu ketika, pada tahun 1999 aku didaulat memberi sambutan dalam bahasa Inggris pada sebuah pertemuan internasional Ordo di Bandung. Tau apa yang kulakukan?

Saya menulis sambutannya dalam bahasa Indonesia, lalu kuterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan aku minta dikoreksi seorang frater SSCC asal Flores yang sudah terbiasa berbahasa Inggris di Filipina sana.

Alhasil, saat menyampaikan sambutanku, orang-orang bule itu membuatku grogi. "Sial," pikirku... "mengapa mata bule-bule ini mengarah padaku?" tanyaku dalam hati. Tapi dengan modal keberanian yang dulu dididik di SMA Seminari aku menghalau rasa takut 'salah' tadi. 

Aku pu membacakan lebih dari setengah sambutan tertulis itu, dan selebihnya aku mulai berimprovisasi. Wajahku pun, yang tadi tampak tegang, kini mulai kendur dan tubuh rasanya lebih ringan.

Saat sedang bicara, seorang senior meledekku dari belakang stand mic tempatku berdiri, "Kamu omong apa sih?" katanya dengan ketus. Aku hanya menjawab bangga, "Tapi bule-bule itu kok ngerti ya?" jawabku ketus sambil cuek.

Tahu mengapa aku enggak peduli ledekan senor tadi? Aku hanya fokus pada ekspresi mimik wajah bule-bule di hadapanku. Seakan terhipnotis dengan tepuk tangan bule-bule dari Belanda, Jerman, Amerika, Afrika dan Belgia itu, aku malah tak menghiraukan senior yang 'ngenyek' tadi. Buktinya,  senior yang ngenyek aku tadi sampai kini enggak bisa bahasa Inggris tuh hahaha....

***

Kemampuan berbahasa selalu berangkat dari 'perasaan minoritas': "Rasanya cuma aku yang tidak bisa berbahasa Inggris di tempat ini. Mereka pasti bisa semuanya." Sebaliknya ketika kita merasa sebagai "mayoritas", tepatnya sebagai salah satu dari jutaan pengguna bahasa Inggris, maka kita akan tampak lebih percaya diri.

Efeknya pun berbeda. Ketika merasa minoritas, kita akan takut ditertawakann, diolok-olok atau dianggap bodoh hanya karena bahasa Inggris kita sangat terbatas. Sebaliknya, ketika kita belajar Bahasa Inggris secara terus-menerus, hingga Grammar, Vocabulary, dst semakin dikuasai maka kita akan terbiasa berbahasa Inggris, sebagaimana orang-orang bule tadi terbiasa berbahasa Inggris. 

Enggak usah deh takut kalau kamu dikatain sebagai orang yang "Sok nginggris!" Sebab, biarbagaimana pun bahasa itu tak cukup dipelajari, melainkan harus dipraktekkan. Lewat apa? Ya lewat perbincangan dong..

English Wednesday itu selalu terkesan. Kebiasaan gagap dan grogi saat berbahasa Inggris di jaman SMA dulu selalu mengingatkanku untuk 'tidak pernah takut' belajar bahasa orang/bangsa lain, tak terkecuali bahasa Inggris.

Maka ketika berhadapan dengan orang asing yang juga menjadi mitra bisnisku saat di Semarang, aku tak lagi gagap dan gugup berbicara dengan dia. Bahkan kepada turis-turis Cina dan Jepang aku selalu bertanya, "Can you speak English, Sir?"

Scott Thornbury, ahli bahasa yang diakui secara internasional di bidang English Language Teaching (ELT) pernah mengatakan bahwa, "Begitu pentingnya mempelajari speaking dalam kehidupan sehari-hari. Maka, mau tak mau, orang harus belajar dan menguasai speaking itu. "

"Speaking is so much a part of daily life that we take it for granted. The average person produces tens of thousands of words a day, although some people – like auctioneers and politicians – may produce even more than that. So natural and integral is speaking that we forget how we once struggled to achieve this ability – until, that is, we have to learn how to do it all over again in a foreign language",
kata Thornbury.

Cara ini pulalah yang kuterapkan ketika belahar bahasa Sunda, Jawa, Nias, Papua, Batak Simalungun, Batak Karo, dan seterusnya.

Aku hanya berbicara saja dengan siapa saja yang menggunakan bahasa-bahasa daerah tersebut. Banyak orang mengira kalau aku bisa banyak bahasa. Padahal aku hanya mencoba bercakap-cakap (speaking) dengan orang yang berbeda bahasa dengan saya.

Selain karena mengetahui bahasa lain (diluar bahasa ibu, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan) merupakan sesuatu yang menyenangkan, juga karena lewat bahasa kita selalu bisa belajar kebudayaan baru. Tepatnya kebudayaan dan habitus orang yang berbasa berbeda denganku.

Di titik inilah, Engglish Wednesday, atau istilah kami di asrama dulu "English Day" tadi sangat penting. Penting karena, selain membiasakan juga karena dengan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, kita juga sungguh menyadari bahwa kita memang bukan orang Inggris, tetapi minimla bahasa Inggris kita dapat dimengerti oleh orang orang-orang yang sehari-hari menggunakan Bahasa Inggris.

So, just speak up, man. Ngomong aja lagi, bro/sist! Perkara benar atau salah, itu belakangan. Setuju?

Medan, xiii.iv.mmxvi
Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter