Ad Unit (Iklan) BIG

Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu

Posting Komentar
Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu
Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita seringkali merasa kecewa, bahkan sangat kecewa. Kecewa itu biasanya karena ada sesuatu yang luput dari genggaman atau keinginan kita.

Tentu saja tak semua orang mudah kecewa. Ada saja orang yang beranggapan bahwa tak semua keinginannya sama dengan keinginan Allah, Sang Mahaempunya. Tapi golongan ii sangat sedikit jumlahnya.

Sebab jauh lebih banya orang yang mudah kecewa saat keinginannya tak tercapai dan harapannya jauh dari hasratnya. Tak jarang terjadi mereka menjadi pemarah hingga merusak ketenangan orang di sekitarnya, menggalang kekuatan dengan sesamanya yang juga kecewa. Hari-hari ini kita menyaksikan aksi dari tipe manusia ini.

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan bila keinginan tak tercapai, atau apa yang membuat orang bisa bangkit dari keterpurukannya?

Pertama, setiap orang selalu memiliki setitik cahaya dalam dirinya untuk masuk kedalam keheningan, momentum di mana ia bisa berbicara dengan dirinya sendiri demi menemukan kebenaran. Kekuatan semacam ini sangatlah penting untuk menghantar kita pada ketenteraman jiwa hingga mampu bangkit kembali.

Kedua, setiap orang pasti mengalami hidup bak belantara, saat di mana kita mengejar berbagai keinginan kita hingga tak peduli apapun yang terjadi di sekitar kita. Ini lantas berarti bahwa manusia diciptakan dengan keinginan yang melekat pada dirinya. Ketika keinginan kita tak terwujud maka kita tak perlu menangisinya.

Ketiga, banyak orang yang tidak menyadari bahwa hidup tak melulu berjalan dalam satu hukum yang pasti, bahwa "Aku harus berjaya!", "Aku harus bahagia!", dst. Sebab, bila demikian halnya maka setiap orang sukses akan lupa diri bahwa apa yang ia perolah sejatinya adalah pemberian Yang Mahakuasa. Kesadaran semacam ini menjadi alarm bagi kita untuk tidak jatuh menjadi orang sombong hingga bertindak sewenang-wenang.

*****

Begitu mudah kita menerima kesuksesan sebagai hasil pencapaian kita, namun betapa sulit untuk menerima kegagalan. Tak jarang kita menuduh Allah sebagai biang kegagalan kita, karena ia berpihak dan tak peduli pada kita.

Pandangan ini tentu sangat tak beralasan. Bisa jadi apa yang kita inginkan justru bukan kebutuhan kita alias bukan hak kita, melainkan yang semestinya milik orang lain yang lebih membutuhkannya. Orang beriman (tak selalu sama dengan orang beragama) selalu meyakini bahwa apa yang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rezeki, jabatan, profesi dll adalah melulu rahmat dari Allah.

Konsekuensinya, apa yang bukan milik kita pasti tak akan kita dapatkan, kendati kita mati-matian merengkuhnya. Sebaliknya apa yang menjadi hak kita pasti akan kita dapatkan.

Oleh karena itu kita tidak boleh jatuh dalam duka berlebihan disaat Tuhan tak mengabulkan doa kita; sebaliknya kita tidak boleh terlalu bersuka hingga menjadi sombong dan melupakan Allah yang menganugerahkannya.

Kesadaran ini penting dan kiranya kita jadikan sebagai modal utama dalam mengupayakan secara maksimal apa yang menjadi keinginan kita sebari membiarkan Allah yang menentukannya. Artinya, kenyataan di atas jangan sampai menggiring kita menjadi orang minimalis dan hanya mengandalkan anugerah Sang Pencipta.

Kita tetap harus berjuang keras, bekerja tanpa lelah, namun jangan sampai nestapa jiwa membiarkan kita larut dalam penyesalan bila gagal. Sebaliknya, disaat buah kerja keras kita tergapai, maka kita harus meyakini bahwa hal sungguh kita butuhkan dan akan membahagiakan kita.

Inilah gunanya seseorang beragama, yakni tak akan larut dalam kejatuhan, melainkan bangkit dan menggapainya kembali dengan cara yang baru. Selanjutnya bila jerih npayahnya membuahkan hasil, ia akan menikmatinya sebagai tanda syukur atas berkat Allah.

Inilah esensi dari doa, yakni bersyukur atas pemberian Allah, tetapi tidak menangisi apa yang bukan milik kita.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter