Ad Unit (Iklan) BIG

Seragam Kor Natal

Posting Komentar
Seragam Kor Natal
Persis satu bulan dari sekarang puncak perayaan Natal akan dirayakan oleh umat Kristiani, entah Katolik entah Protestan (aliran reformis, calivinis bahkan aliran karismatis). Tetapi nuansa Natal sudah mulai terasa.

Gedung Gereja yang biasa hanya difungsikan 1-3 jam setiap hari Minggu kini malah semakin sibuk dengan berbagai hiruk-pikuk latihan, entah itu kor, drama, teater, liturgi, atau latihan lainnya.

Begitulah Natal demi Natal selalu kita lewati dengan cara yang kurang lebih sama. Anak-anak berteriak minta pakaian baru khusus Natal dan Tahun Baru. Istri pun sering ikut-ikutan membujuk suami supaya dibelikan kebaya dan sanggul baru. Belum lagi bila anak dan istri ikut terlibat sebagai petugas perayaan atau peserta kor dan harus menggunakan seragam khusus. Maka kebutuhan akan bertambah lagi.

Tapi biasanya pria Batak sudah mengantisipasi ini dengan meminjam CU. Ha ha ha.

"Baju aha do seragamta annon (ntar baju seragam kita apa?)", kata Ibu Simamora kepada Ibu Siregar cs sesaat setelah mereka selesai latihan koor persiapan Natal bulan depan.

"Songon na biasa i ma tabaen ate. Nabontar ma abit ginjang jala nabirong ma ditoru. Boha eda boru Regar? Boha do hita sude? Baen hamu pandapot muna bah?" tanya ibu Samosir yang memang selalu heboh kalau sudah bicara tema seragam.

Ibu Samosir bertanya tentang usulan warna Putih-hitam (putih untuk kemeja dan hitam untuk rok).

Betapa pentingnya seragam, sehingga ibu-ibu sering saling sikut hingga berdebat kikuk hanya untuk menetapkan jenis warna seragam kor mereka. Belum lagi mereka ikutan saat "Marayat-ayat / Liturgi" (tradisi protestan saat Natal, yakni membacakan petikan ayat-ayat Kitab Suci secara bersambung), maka mereka harus beli beberapa jenis kostum saat perayaan Natal.

Tak jarang juga demi menentukan seragam ini terjadi konflik kecil-kecilan tapi mendalam. Dengarlah curhatnya ibu Silaban ini,

"Eeh, baen ma ito. Hape songoni bagakna puang molo mamakke kabaya warna na rara. Pas muse songon tema las ni roha. Alai alani inang boru Siregar an, las gabe na merajabbu i do saut. Eh tahe. Baen ma nian, ibaen na guru kor i ibana."

Ibu Silaban mengeluh karena kebaya warna merah usulannya tak diterima oleh anggota kor lain. Ia mensinyalir karena pengaruh besar pelatih kor, Ibu Siregar lah penyebabnya, sehingga seragam berwarna pink yang disepakati.

*****
Diluar meriahnya bisnis Natal dan even hari-hari besar keagamaan lainnya, perbincangan mengenai persiapan teknis menyambut ritual Natal ternyata juga tak kalah menarik. Penetapan jenis seragam untuk petugas liturgi dan segala unsur-unsur lain, sebagaimana telah disinggung di atas, ternyata tak kalah menarik, bahkan sering menyita waktu kaum ibu.

Begitula yang sering terjadi. Bukan saja soal kesiapan para petugas tetapi juga mengenai jenis, warna, bahkan bentuk sanggul pun justru sering menarik minat kaum ibu. Maka kalimat yang muncul di akhir latihan persiapan Natal adalah soal seragam: "Boah Seragamnta, eda? (Bagaiman tentang seragam kita, sist?)

Biasanya sih kaum pria tak terlalu peduli dengan tetek bengek pakaian baru dan segala jenis seragam ini. Bukan apa-apa mereka jauh lebih tertarik dengan seragam partai dan baju kotak-kotak pilihan calon gubernurnya.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter