Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Memasak di Dunia Maya dan Makan di Dunia Nyata

Memasak di Dunia Maya dan Makan di Dunia Nyata
Kata almarhum Oppung-ku, seorang gadis harus terbiasa memasak. Sebab kalau ia tak bisa memasak akan "maol annon lakku" (susah dapat jodoh).

Tak peduli apakah seorang gadis itu terpelajar atau tak berpendidikan tinggi. Juga tak ada pengecualian bagi setiap wanita untuk tidak bisa memasak.

Semua harus bisa memasak. Titik. Nikmata atau tidak nikmat tak jadi soal. Juga tak penting apakah masakannya layak jual atau justru hanya layak dicicipi sendiri.

Yang jelas, seorang gadis harus sering berlatih memasak, agar kelak ketika menjadi istri maka ia akan terampil dan cekatan memasak dan menghidangkan makanan untuk suaminya.

Apakah ini semacam penindasan? Enggak juga tuh.

Nantulang-ku saban pagi hingga tengah malam sibuk melayani customer di toko kelontongnya malah tak pernah lupa memasak untuk Tulang-ku.

Begitu juga ibuku nyaris tak pernah lupa memasak sebelum bepergian berjualan pakaian hingga ke kampung sebelah, atau ketika ia sibuk dengan berbagai kegiatan di gereja. Itu yang kuingat dimasa kecil hingga remajaku.

Lantas, apakah ini semacam penindasan terhadap kaum perempuan?

Tunggu dulu. Aku punya sobat seorang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai bos di perusahaan properti yang ia miliki. Mestinya ia cuku beli makanan di luar atau menyuruh suaminya makan sendiri dan untuk anak-anaknya ia cukup nyuruh pembantu.

Tapi tidak. Ia tetap memasak di pagi hari untuk sarapan dan makan siang... dan setelah pulang kerja di sore hari ia akan memasak untuk makan malam keluarganya.

Makanya, jangan berprasangka buruk dulu dong. Ini bukan soal emansipasi atau soal lelaki yang punya simpati untuk istri.

****

Memasak di Dunia Maya dan Makan di Dunia NyataTradisi "memasak" bagi kaum perempuan justru punya maksud, terutama bagi suaminya. Ini memang hanya praduga. Lagipula ini hanya cerita iseng para pria yang menyukai masakan istrinya di salah satu sudut kota.

Nah, menurut para pria itu, "tradisi istri memasak" ini ternyata membantu mereka dalam memahami sang istri. Ini simpulan mereka:

(1) Wanita itu punya emosi yang relatif labil dari pria. Ini kayaknya fakta. Labilitas emosi ini ternyata bisa terbaca dari hasil masakannya.

Kalau seorang istri berselingkuh, maka ia sering memasak asal-asalan. Tak jarang juga ia malah membeli makanan di warung terdekat atau cukup menuuruh pembantu (bila ada) yang memasak untuk suaminya. Tau kenapa? Karena ia selalu terburu-buru bertemu kekasih gelapnya. ha ha ha.

(2) Wanita itu kondisi fisik yang bersih, karena setiap bulan tubuhnya secara otomatis membersihkan diri. Mayoritas wanita sering merasa periode menstruasi itu menyakitkan.

Nah, ketiak seorang istri sedang periode bulanan alias "Lagi M", maka masakannya cenderung kurang sempurna. Tentu saja, karena ia mengerjakannya sembari menahan rasa sakit di tubuhnya Belum lagi rasa sakit itu memengaruhi psikis dan psikologisnya juga.

(3) Wanita itu punya bakat akuntan secara alami. Mereka cerdas mendistribusikan uang, tetapi serentak mereka juga suka tak terkontrol saat di pasar, supermarket atau di mall.

Seorang wanita itu mudah mendeteksi sedang punya uang atau tidak. Air muka seoarng istri, misalnya, sangat jelas mempertontonkan apakah ia sedang bokek atau malah lagi dapat setoran yang banyak dari suami.

Dalam kaitannya dengan masakan, seorang istri yang hanya diberi uang pas-pasan (sesuai kebutuhan), maka hasil masakannya itu selalu punya rasa yang dominan, seperti terlalu asin, terlalu manis, terlalu pahit, dst.

Hal ini penting bagi mereka. Ini ibarat umpan, kalau suami protse, maka ia sudah punya jawaban, "Makanya, kasih uang belanja itu yang lebih banyak dong."

(4) Akhirnya, disaat sang istri sedang dipenuhi perasaan romantis, entah karena baru dibelikan sesuatu oleh suami, maka ia akan bergegas ke dapaur dan siap meracik masakan terbaiknya. Tak berheti disitu. Biasanya, saat di meja makan, ia selalu siap dengan pertanyaan, "Gimana, sayang. Enak enggak masakanku?" Para suami biasanya tahu kalau hanya "yes" satu-satunya jawaban terbaik. wk wk wk.

*****

Memasak di Dunia Maya dan Makan di Dunia Nyata
Nah, lain dulu lain sekarang.

Kini, para gadis, dan terutama para istri justru menyukai dunia kuliner. Mereka akan muter-muter keliling kota, pun dari kota yang satu ke kota lainnya, hanya untuk memuaskan lidah mereka.

Kalau menurut sang istri makanan itu terasa enak, maka ia akan membawanya ke rumah. Sebaliknya, bila di lidahnya tak enak di lidahnya maka ia cukup mengirimkan pesan via Whatsapp ke suaminya, "Papa makan diluar aja yuk."

Persoalannya, apakah kaum wanita, khususunya kaum ibu masih memasak untuk suaminya?

Faktanya, kaum istri di era kekinian itu super duper kreatif. Tak hanya kuliner dengan alasan belajar memasak makanan terbaik untuk suami dan keluarga, tetapi juga karena mereka bisa memasak hanya di dunia maya.

Ya, mereka para istri era kekinian itu sering lebih suka mengoleksi resep masakan dan membaginya dengan sesama wanita lain. Biasanya dibawah postingan gambar mereka membubuhi kalimat pendek, "Kayaknya enak banget neh kalau gue masak pake resep ini, pyuhhh". Padahal, faktanya lebih suka belanja resep masakan daripada mempraktikkannya.

Itulah dunia era kekinian. Banyak hal berubah, termasuk di dunia masak-memasak yang kon wajib dilakukan para wanita, terutama para istri.

Memasak di Dunia Maya dan Makan di Dunia Nyata
Entahlah. Jangan-jangan karena masakan ala restoran dari para chef pria telah membuat kaum wanita ini minder. Tapi enggak juga sih. Soalnya, kalau melihat postingan mereka di dunia maya, kaum wanita ini justru sangat cekatan menghafal nama-nama resep masakan.

Bisa jadi, kaum wanita sekarang telah berhasil memindahkan dapur dari rumah nyata ke dapuar masakan di dunia maya. Lihatlah, sesama wanita sering berkomentar hanya dengan melihat gambar makanan, "Wow. Enak banget nih" atau "Pasti nikmat banget tuh" atau "Jadi pengen nyobain masak deh".

Hebat bukan? Mereka cukup melihat video tutorial memasak, atau sekedar melihat gambar di Instagram, twitter, fesbuk atau aplikasi media sosial lainnya, lalu bisa merasakan betapa mudahnya memasak atau betapa nikmatnya makanan yang diposting tadi.

Makanya jangan heran ketika kaum wanita sering memposting gambar atau video makanan ternikmat versi lidah mereka. Bagi mereka tak jadi soal apakah ia bisa memasak di dapur rumah atau hanya bisa berbagai posting orang lain saja.

Inilah hebatnya wanita di era kekinian, yang move on dari dapur ke dapur maya di monitor smartphone mereka. Pastinya tak ada yang salah dengan kedua tradisi di atas.

Sebab, memasak atau tidak memasak itu hanyalah soal kesempatan dan mood saja, bukan?

Ha ha ha.....

#SedangMelihatKronologiStatusParaWanitaDiFesbuk



Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter