Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Sensitif Dassa Ham

Sensitif Dassa Ham
Foto: Koleksi Pribadi Lusius Sinurat

Kamu kok sensitif banget sih! Ini terjemahan bebas dari kalimat berbahasa Batak Simalungun di atas. Kata "sensitif" (adjective) berarti cepat menerima rangsangan; peka; atau mudah membangkitkan emosi.

Orang sensitif dengan demikan adalah orang yang begitu mudah mengaitkan setiap peristiwa atau obyek dihadapannya dengan emosinya. Bahasa gaulnya, jenis orang dengan karakter ini digolongkan sebagai "orang sensi".

Banyak ABG atau anak remaja-remaja jaman ini yang sensi. Ya, bukan hanya remaja sih. Semua di semua usia dan lini kehidupan pun makin banyak saja orang sensi. Coba lihat di sekitar Anda: kakak-adik, sahabat dan teman-teman sekitar Anda. Pasti ada saja yang sensi.

Kalimat candaan seperti "Dasar orang jelek!" misalnya, akan ditanggapi si sensi dengan emosi, "Kayak lu udah paling cantik sedunia aje!" atau "Jelek-jelek begini anak orang kaya di kampungku loh. Daripada kamu, udah jelek miskin pula!"

Jawaban-jawaban di atas memang tampak sepele, apalagi hanya terbaca dalam bentuk tulisan. Tetapi bila Anda menyaksikan langsung bagimana ekspresi "si sensi" saat mengatakannya, baru Anda akan dengan mudah menggolongkan dia termasuk orang dengan karakter sensitif atau tidak sensitif.

Terkadang menarik juga punya teman sensitif dalam batas-batas tertentu, apalagi bila si sensi tadi bukan tipe pendendam. Bagaimana tidak, si sensi ini sering menjadi bahan candaan di antara teman-temannya, dan keberadaannya sering mencairkan susasana.

Sebaliknya, akan terasa berbeda bila "si sensi" tadi serta-merta juga memiliki karakter sentimentil alias orang yang mudah terpengaruh oleh perasaan; sangat perasa. Kalau demikian adanya, gelar "si sensi" tadi akan dilengkapi menjadi "si sensi nan alay" atau "si super sensi!"

Percaya atau tidak, semua orang memiliki karakter sensitif atau sentimentil loh. Perbedaannya ada pada 'kuantitas' sensitivitas atau sentimentalitasnya saja. Tak hanya masyarakat umum, para pemimpin pun ada saja yang sensitif, yang bahkan lebih menonjolkan perasaan daripada pikirannya.

Ternyata di dalam pergaulan sosial, di dalam keseharian kita bersama orang lain di lingkungan terdekat kita, sensitivitas dan sentimentalitas ini ternyat perlu diolah alias dikendalikan.

Bila tidak, oleh karena terbawa emosi/perasaan, sebuah kalimat bisa memengaruhi rekat-rengganggnya pertemanan. Minimal orang tak lagi mengatakan ke kita, Sensitif dassa ham!, Lu kok sensi amat sih...

Carpe Diem!
15.02.2015

Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter